by editor | Oct 3, 2019 | Renungan
FRANSISKUS lahir dari keluarga bangsawan yang kaya raya di Asisi taggal 5 Juli 1182. Namun akhirnya ia meninggalkan segala kekayaan warisan keluarga untuk hidup miskin demi Kerajaan Allah.
Cara hidupnya sangat berlawanan dan bahkan melawan arus umum. Ia menghayati cara hidup Yesus yang miskin dan tidak tergantung dari hal-hal duniawi. Tetapi justru banyak orang tertarik dan mengikutinya.
Dalam sebuah peziarahan ke Roma, ia mendapatkan visiun/penglihatan. Yesus menyuruhnya untuk membangun gerejaNya. Awalnya ia tidak mengerti maksud penglihatan itu. Dipikirnya disuruh membangun fisik gereja.
Akhirnya ia mendapatkan pencerahan bahwa gereja yang dimaksud Tuhan adalah jemaatNya. Bersama pengikutnya, ia minta ijin Paus untuk mendirikan ordo.
Dengan ordonya Fransiskus membangun jemaat dengan melayani orang-orang miskin dan berkotbah mewartakan Injil membawa perdamaian.
Fransiskus menjadi inspirasi banyak orang untuk mewartakan perdamaian, toleransi, mencintai lingkungan hidup dan segala makhluk.
Hari ini Yesus berkata, “Barangsiapa mendengarkan kalian, ia mendengarkan Daku; dan barangsiapa menolak kalian, ia menolak Aku, dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”
Belajar dari pengalaman Fransiskus, dia tidak menolak panggilan Tuhan, kendati panggilan itu berlawanan dengan keluarga dan masyarakat. Ia mendengarkan suara Tuhan. Maka ia juga diterima oleh banyak kalangan.
Bahkan yang berlainan keyakinan sekalipun. Ia menghayati kemiskinan untuk bisa merangkul semua orang. Bagi mereka yang menerima pewartaan Fransiskus, akan mengalami damai, ketenangan hidup, sukacita, persaudaraan dan Allah akan memberkatinya. Mereka yang mendengarkan kalian, mereka juga mendengarkan Daku.
Mari kita berani mengandalkan Allah semata-mata. Hidup miskin berarti hanya menggantungkan hidup kepada Allah saja. Segala usaha kita hanya Allah jaminannya.
Dari Imogiri naik ke Puncak Becici
Menikmati hutan pinus yang rindang daunnya
Marilah meneladan Fransiskus Asisi
Berani miskin demi mengasihi Allah dan sesama
Cawas, love of my life
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Oct 3, 2019 | Renungan
SETIAP kali ada tahbisan imam di Kentungan, ada beberapa imam atau frater dikirim bermisi ke luar Jawa.
Bapak Uskup membekali para imamnya itu dengan salib kecil. Bapak uskup berpesan bahwa para imam diutus untuk mewartakan Injil.
Tugas ini tidak mudah. Telah menghadang medan yang sulit. Daerah baru yang belum dikenal. Adat dan tradisi budaya yang belum diketahui. Bahasa dan pribadi-pribadi yang serba asing.
Bekal satu-satunya yang diberikan oleh uskup hanyalah salib. “Jika romo mengalami kesulitan, kesusahan, kesepian, penderitaan, pandanglah salib Tuhan. Berdoalah selalu kepadaNya. Percayalah Dia yang telah mengutus pasti akan menolong.” Begitu pesan uskup dengan yakin.
Hari ini Yesus mengutus tujuhpuluh murid untuk pergi berdua-dua masuk ke pelosok desa dan kota untuk mewartakan Injil.
Mereka tidak diperkenankan membawa pundi-pundi, bekal atau kasut. Mereka diingatkan akan bahaya dan kesulitan yang menghadang.
Mereka diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala. Jangan memberi salam kepada siapapun di tengah jalan. Maksudnya supaya fokus mewartakan Injil tidak terselamur dengan urusan-urusan lain.
Kalau masuk ke rumah harus memberi salam damai sejahtera. Warta Injil adalah warta tentang damai dan kesejahteraan.
Injil bukan warta sedih, susah dan menakutkan, tetapi membawa damai dan bahagia, sejahtera lahir dan batin.
Seringkali kekawatiran itu lebih besar daripada kenyataan yang sesungguhnya. Ketika dijalani, apa yang kita kawatirkan sering tidak terjadi. Bahkan malah sebaliknya.
Ketika kita dikuasai kekawatiran, kita tidak berani berbuat apa-apa. Ketika kita takut pada air, kita tak akan bisa berenang. Namun kalau kita beraini mencebur ke air, dengan sendirinya kita akan mempertahakan diri untuk berenang.
Kita tidak perlu takut dan kawatir. Salib Tuhan menjadi kekuatan kita. kita bisa mengandalkan salibNya. Tuhan sudah mengalahkan maut. Kita juga bisa mengalahkan rasa takut.
Habis hujan badan “klebus”
Berteduh di teras rumah tetangga
Kita semua dibaptis dan diutus.
Jangan takut, Salib Yesus andalan kita
Cawas, suatu hari yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 29, 2019 | Renungan
SEORANG anak TK berlari-lari dengan sukacita kepada ibunya. “Mami..mami… aku ikut main drama di sekolah.”
Ibunya dengan sukacita memeluk anaknya. “Ya .. sayang, kamu memang luar biasa. Adek jadi pemeran utamanya?” tanyanya penuh harapan.
“Bukan mami, adik terpilih menjadi tukang tepuk tangan (Cheerleader).” Anak itu menjawabnya dengan bangga.
Ibunya menutupi kekecewaannya sambil mengelus kepala anaknya. “Oh.. ya bagus itu.” Ibunya berharap anaknya menjadi pemeran utama dalam drama di sekolah. Pikiran orang dewasa sangat berbeda dengan pikiran anak kecil.
Hari ini dalam Injil timbul pertengkaran di antara para murid Yesus memperebutkan posisi siapa yang terbesar di antara mereka.
Para murid itu ingin menjadi yang terdepan, paling utama, yang terbesar di antara mereka. Mereka bertengkar untuk itu. Namun Yesus menasehati mereka.
“Barangsiapa menerima anak ini demi namaKu, dia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku. Sebab yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.”
Seorang anak kecil berpikir polos, jujur, bahagia. Dia tidak berpikir menjadi pemeran utama atau pemeran pengganti. Ia merasa bahagia dengan posisinya.
Orang dewasa berpikir kedudukan, gengsi, kekuasaan, yang paling hebat. Mereka bahkan berani menggunakan segala cara untuk meraihnya.
Orang dewasa merasa cemburu kalau ada orang lain berhasil, sukses. Seperti para murid tidak suka, ada orang lain di luar kelompok mereka mengusir setan. Mereka sangat tertutup dan tidak ingin orang lain menjadi sukses.
Yesus mengingatkan kita supaya bersikap seperti anak kecil yang jujur, polos dan terbuka. Siapa yang menerima seorang anak kecil, dia menerima Yesus.
Jadi Yesus ada di pihak anak kecil itu. Marilah kita belajar rendah hati dan jujur pada diri kita sediri.
Pemain ronggeng namanya Srintil
Sehari-hari pergi ke pasar jualan bubur
Belajarlah kepada anak-anak kecil
Mereka polos, sukacita, enjoy dan jujur
Cawas, pagi yang sederhana
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 29, 2019 | Renungan
SUATU sore yang cerah saya berada di Tigal. Saya mengunjungi suatu stasi di pedalaman. Stasi ini berada di kawasan hutan.
Sore itu saya melihat di langit ribuan kelelawar terbang melintasi langit yang cerah. Mereka seperti berarak-arak migrasi dari suatu tempat, untuk mencari makan di malam hari.
Saya mengagumi pola hidup binatang ini. Pola hidupnya serba terbalik. Mereka bekejra mencari makan di malam hari.
Berbeda dengan makhluk hidup lainnya yang mencari makan di siang hari. Kelelawar tidur di siang hari. Cara tidurnya juga terbalik, tidak seperti binatang lain.
Mereka menggatungkan diri dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Semua serba terbalik. Tapi paniki atau kelelawar ini nyam nyam rasanya.
Dalam bacaan Injil hari ini, Lukas menjelaskan situasi terbalik antara sorga dan dunia. Yesus memberikan perumpamaan tentang orang kaya dan orang miskin.
Ketika mereka hidup di dunia, orang kaya menikmati kebahagiaan, orang miskin menderita sengsara. Ketika di alam baka, situasinya terbalik. orang miskin mengalami kebahagiaan dan orang kaya mengalami kesengsaraan.
Lasarus yang miskin hidup bahagia di pangkuan Abraham. Sedang orang kaya menderita sengsara dalam siksa neraka.
Pederitaa itu bukan karea tidak ada pemberitahua tetapi rag kaya itu tidak mau percaya kepada Mesias. Mereka ada Kitab Taurat Musa, tapi tidak diamalka.
Walaupu ada rag bagkit dari mati, tetapi kalau dasar ima mereka tidak percaya, ya tidak ada guaya.
Perwujudan iman itu harus sampai pada hal yang kongkret. Ketika ada orang miskin yang harus ditolong, ya harus berbagi untuk menolong.
Kalau iman tidak diwujudkan ya keselamatan tidak terjadi. Kesalahan si kaya adalah membiarkan si miskin hidup dalam penderitaannya.
Dia tidak tergerak untuk membantunya. Di alam sana pun orang miskin itu tak mampu membantunya.
Mumpung kita masih bisa membantu, marilah gunakan hidup kita untuk membantu sesama yang menderita. Mereka ada di sekitar kita.
Kelelawar keluar di waktu senja
Buah-buah yang segar adalah makanannya
Apalah artinya bergelimang harta
Jika tidak bisa selamat sampai di surga
Kerep, di suatu pagi yag cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 29, 2019 | Renungan
JAYABAYA pernah meramalkan tentang Pulau Jawa. Isi ramalannya antara lain:
“Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran. Tanah Jawa kalungan wesi. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang. Kali ilang kedhunge. Pasar ilang kumandhange. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak. Bumi saya suwe saya mengkeret.”
( Nanti kalau ada kereta tanpa kuda. Tanah Jawa berkalung besi. Perahu berjalan di angkasa. Sungai kehilangan sumbernya. Pasar kehilangan keramaiannya. Bumi makin hari makin mengecil).
Ramalan itu kini sudah menjadi nyata. Kita melihat kereta tanpa kuda yaitu kereta api. Tanah Jawa berkalung besi, itu adalah rel kereta api yang melintasi Jawa dari ujung barat sampai ke ujung timur, dari Serang ke Banyuwangi.
Perahu berjalan di awang-awang, yaitu pesawat terbang. Sungai sudah kehilangan sumber airnya. Sumber air sudah dibeli perusahaan air mineral.
Pasar kehilangan keramaiannya, pasar swalayan serba otomatis tanpa harus tawar menawar.
Semua transaksi memakai kartu bayar. Bumi makin mengecil. Kejadian di belahan bumi sana, dalam waktu yang bersamaan bisa diketahui di tempat lain. Dunia makin kecil seperti kampung saja.
Dalam Injil hari ini Yesus menubuatkan diriNya. “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Para murid waktu mendengar itu belum memahami dan mengerti maknanya.
Apa yang dimaksudkan Yesus itu. Mereka tidak tahu tapi segan bertanya kepadaNya.
Baru setelah peristiwa kebangkitan, mereka mengerti dan memahami apa yang dikatakan Yesus itu.
Diserahkan ke dalam tangan manusia berarti menderita di kayu salib. Yesus harus mengalami kematian di salib sebagai jalan keselamatan dunia.
Iman itu sebuah misteri Tuhan. Akal budi kita tak mampu memahami secara keseluruhan. Sedikit demi sedikit harus diungkapkan. Itulah pewahyuan.
Dari pihak Allah, Dia mewahyukan diriNya dalam Yesus. Dari pihak manusia yang menanggapi pewahyuan Allah disebut iman.
Yesus mewahyukan diriNya kepada manusia bahwa Ia berasal dari Allah. Manusia menanggapi itu dengan iman kepercayaannya.
Yesus memberitahukan kepada para muridNya bahwa Dia harus menderita sengsara, disalibkan dan mati. Namun pada hari ketiga dibangkitkan oleh Allah.
Marilah kita belajar memahami pewahyuan Tuhan dalam kehidupan kita. misteri Tuhan itu kadang belum kita mengerti sekarang. Tetapi iman tetap harus berjalan.
Buka kulkas baunya tak sedap
Ternyata kaos kaki masuk di dalamnya
Walaupun iman kadang terasa gelap
Namun Tuhan tak pernah jauh dari kita
Cawas, suatu siang yag cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 26, 2019 | Renungan
Menurutmu, siapakah Aku ini? Pertanyaan Yesus kepada para murid itu sekarang juga ditujukan kepada kita. kalau kita ditanya siapakah Yesus bagi kita, apa pendapat kita?
Kalau Petrus bisa merumuskan secara pribadi, “Engkaulah Kristus dari Allah? Lalu menurut kita siapakah Yesus itu?
Petrus memberi gelar atau sebutan Yesus sebagai Kristus atau Mesias pasti karena mempunyai pengalaman pribadi dengan Yesus.
Kalau hanya mengikuti orang banyak, dia bisa menyebut, “Yohanes Pembaptis yang bangkit, Elia yang hidup kembali atau salah seorang nabi dari zaman dahulu.”
Petrus tinggal copy paste saja. Tetapi dia menyebut lain dari pendapat orang banyak.
Keyakinan yang kokoh itu didasari oleh hubungan pribadi yang mendalam. Petrus melihat karya dan sabda Yesus sebagai perwujudan Mesias yang sudah hadir di dunia.
Lukas menempatkan pengakuan iman Petrus ini ada di tengah Injilnya. Apa yang sudah disampaikan oleh Malaikat Gabriel di awal, bahwa Maria akan mengandung Sang Mesias, kini sudah diakui kehadiranNya oleh para murid, khususnya Petrus.
Pengakuan Petrus ini nanti akan ditegaskan lagi di akhir Injilnya oleh Yesus sendiri ketika Dia berkata kepada dua orang murid yang pulang ke Emaus,
“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.”
Lukas mengajak pembacanya untuk berproses seperti Petrus, berani menyimpulkan secara pribadi siapakah Yesus bagi hidup kita.
Kalau iman kita kuat seperti Petrus, maka kendati menghadapi kesulitan dan tantangan seberat apapun, tidak akan goyah.
Iman Petrus Sang Batu Karang sungguh kuat, maka Yesus mempercayakan jemaatNya dibangun di atasnya.
Sekuat apakah iman kita? apakah kita bisa merumuskan sendiri siapakah Yesus bagi diri kita?
Ke Banyuaeng lewat Pokoh
Untuk melihat bunga yang sedang merekah
Kalau kita mempunyai iman yang kokoh
Badai apapun tak bikin goyah
Cawas, suatu malam yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr