Puncta Jum’at, 09.08.19 Matius 16: 24-28 / Berani Memanggul Salib

 

“Dadi wong Katolik iku ora gampang” kata mBah Bayan sambil minum teh panas di kapel Paulus. Setelah misa pagi kami masih ngobrol-ngobrol di gereja.

“Mengapa tidak mudah mBah? Saya bertanya. “Kita ini kecil, harus bisa menjadi contoh teladan di tengah masyarakat supaya diterima dan diakui. Untuk bisa jadi teladan harus mau berkorban, tidak memikirkan diri sendiri dan berani menghadapi kesulitan.”

Begitu ceritanya. Beliau sebenarnya sudah tua, ingin melepaskan tugas sebagai pelayan masyarakat. Tetapi rakyat masih menghendaki beliau menjadi tokoh panutan yang bisa menyatukan seluruh warga.

“Dalam melayani masyarakat, saya berdiri di atas semua warga. Saya tidak memamerkan identitas agama saya. Saya ini milik semua. Itulah penyangkalan diri saya.” Kata mBah Bayan sambil nyeruput teh panas.

Hari ini Yesus memberikan syarat bagi para pengikutNya. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.”

Ada banyak peluang dan kesempatan untuk mengikuti Yesus. Tetapi memang tidak mudah menjadi muridNya. Ada banyak kesulitan dan tantangan.

Padahal zaman ini orang lebih suka mencari yang mudah, cepat, serba instan, sukses, berhasil, tak perlu susah-susah berjuang. Hal-hal yang berbau “sosial”, relawan, kerja bakti, dengan mudah dihindari.

Menyangkal diri mengandung arti mau mengorbankan diri, tidak mencari popularitas, melayani dengan dedikasi tanpa menuntut pamrih. Memanggul salib berarti mau menderita dan berjuang dengan sabar.

Mengikuti Yesus berarti mau hidup seperti Dia. Menjadi Alter Christus. Semua tingkah laku, tutur kata, pola pikir dan gerak langkah mengikuti Yesus sendiri. Yesus yang menjadi pola langkah kita.

Memang tidak mudah. Tetapi tidak ada yang mustahil. Ada banyak contoh-contoh di sekitar kita, orang-orang yang dengan tekun dan sabar memanggul salib dan mengikutiNya.

Kalau kita yakin, kita pasti bisa. Beranikah anda memanggul salib dan mengikutiNya?

Ke Kaliurang membeli jadah
Jangan lupa dengan tempe bacemnya
Mengikuti Yesus tidak mudah
Harus menyangkal diri dan memanggul salibNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta Kamis, 08.08.19 Matius 16:13-23 / Suster Ludgardis

 

SAYA mempunyai guru agama di sekolah, namanya Sr. Ludgardis OSU. Saya pernah mendapat hadiah sebuah gambar foto pemandangan dengan tulisan “life is beautiful.”

Gambar itu saya jadikan sekat buku dan menjadi penyemangat belajar saya. Hidup itu indah. Hadiah itu saya terima karena ulangan agama saya baik.

Suster itu memberi tugas kepada kami untuk membuat karangan yang judulnya cita-citaku. Entah kenapa, saya menuliskan di kertas tugas itu dan bercerita bahwa saya ingin menjadi imam.

Suster itu memberi komentar di bawah karangan saya, “Joko, kamu pasti bisa. Doaku selalu.” Suster itu sekarang sudah di surga.

Ketika saya masih di Seminari, saya mendengar berita bahwa Sr. Ludgardis mengalami kecelakaan dengan anak-anak asramanya di Flores. Saya yakin dia masih tetap mendoakan saya di surga sampai saat ini.

Dalam bacaan Injil hari ini, Simon menjawab pertanyaan Yesus dengan tepat. Yesus bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

Maka jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Karena jawaban itu, Simon mendapatkan reward dari Yesus,

“Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaatKu, dan alam maut tak akan menguasainya.”

Iman itu bertumbuh. Begitu juga panggilan. Ketika para murid ditanya Yesus tentang kata orang, mereka mudah menjawabnya. Maka nyerocos mereka menjawab pertanyaan itu.

Ada yang menyebut ini kek, itu kek, siapalah, yang begitulah, yang inilah. Pokoknya mereka fasih mengulang jawaban orang.

Tetapi ketika ditanya menurutmu sendiri, siapakah Aku ini? Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang berisi pengalaman pribadi.

“Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” adalah pengalaman iman yang personal antara Petrus dengan Yesus.

Saya alami panggilan menjadi imam muncul karena dorongan eksternal. Tetapi panggilan itu berkembang menjadi pengalaman personal karena merasa dicintai Allah dan ketika mengalaminya adalah sesuatu yang indah.

Life is beautiful memang benar-benar indah. Seperti menikmati langit berwarna keemasan di waktu senja.

Petrus bertumbuh imannya karena berjumpa dengan Yesus. Ia yang seorang nelayan kampung menjadi batu karang kuat dimana Gereja hidup sampai sekarang. Apakah iman anda juga bertumbuh ketika berjumpa dengan Yesus?

Menikmati senja di ufuk barat
Dari sore sampai pukul enam seperempat
Iman akan tumbuh menjadi kuat
Kalau kita berpegang pada Yesus Sang Juru Selamat

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta Rabu 07.08.19 Matius 15:21-28 / Kunti Merintih dan Memohon

 

KETIKA tahu bahwa perang Baratayuda pasti terjadi, Kunti sangat sedih. Ia tahu akan terjadi perang antar saudara kandung yakni antara Adipati Karna dan adik-adiknya, para Pandawa.

Karna adalah anak sulung Kunti yang dibuang karena lahir sebelum dia menikah dengan Pandu. Maka Kunti datang kepada Karna supaya dia kembali kepada Pandawa.

Ia merengek dan memohon kepada Karna agar tidak berperang melawan adik-adiknya. Karna menolak. Hati Kunti merintih sedih hancur berkeping-keping.

Ia berlutut di bawah kaki anaknya sendiri untuk mengabulkan permintaannya. Akhirnya Karna membuka rahasianya. Ia akan kalah melawan Arjuna.

Para Pandawalah yang akan jadi pemenang. Ia akan mengurbankan jiwa raganya demi kemuliaan adik-adiknya. Pandawa tetap utuh lima jumlahnya.

Tak ada seorang ibu yang menghendaki anaknya menderita sengsara. Dengan segala cara ibu akan berjuang, bahkan mengorbankan diri demi kebahagiaan anak-anaknya.

Itulah yang dilakukan seorang wanita Kanaan. Anaknya kerasukan setan dan sangat menderita. Ia datang kepada Yesus mohon disembuhkan.

Murid-muridNya merasa terganggu karena dia terus mengikutiNya sambil berteriak-teriak, “Kasihanilah aku ya Tuhan, Anak Daud, anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

Yesus tidak langsung mengabulkan. Bahkan dengan halus menolaknya, “Aku diutus hanya kepada domba-domba umat Israel yang hilang.”

Wanita Kanaan itu tidak termasuk umat Israel. Tetapi wanita itu tidak mundur sedikit pun. “Tuhan, tolonglah aku.”

Sekali lagi Yesus menolak dengan sindiran tajam. “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Perasaan perempuan pasti tajam. Ia disamakan dengan anjing. Tetapi dia tetap sabar dan tegar. Ia masih memohon kepada Yesus. Betapa besar keyakinannya.

Yesus mengabulkan dan berkata, “Hai ibu, sungguh besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.

Usaha keras dan keyakinan kepada Tuhan adalah syarat agar niat kita dikabulkan. Wanita Kanaan itu mengajarkan kepada kita untuk terus menerus dan tidak putus-putus datang kepada Tuhan.

Jangan pernah berhenti berharap kepada Tuhan. Sabar dan tegar itulah sikap benar di hadapan Tuhan. Apakah kita masih tetap tegar ketika harapan masih gelap?

Nonton Misbar di rerumputan
Cantik dan ganteng bintang filmnya
Kasih ibu sepanjang jalan
Terus berkorban demi cinta buah hatinya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta selasa, 06.08.19 Pesta Yesus Menampakkan KemuiiaanNya Lukas 9: 28b-36 / Indahnya Gunung Merapi Purba

 

ORANG-ORANG zaman sekarang senang mengadakan reuni. Dalam reuni sering muncul kisah-kisah mengesankan terpatri sebagai pengalaman indah.

Bahkan peristiwa konyol pun bisa menjadi kenangan indah. Orang akan bercerita tentang pengalaman-pengalaman indah, menggembirakan, memberi semangat dan lucu tak terlupakan.

Pengalaman mendaki gunung bareng teman-teman, camping bersama, piknik, lulus ujian, “menembak pacar baru” atau mendapat pekerjaan bisa menjadi pengalaman penuh kesan yang indah.

Saya pernah naik Gunung Merbabu hanya berdua dengan Rm. Budi Haryana. Pernah juga terjebak badai pasir di daerah “Pasar Bubrah” dekat puncak Merapi.

Pernah salah jalan bersama rombongan di Merbabu. Pernah juga seminggu naik dua gunung bersama Rm. Magniz Suseno yakni Sumbing dan Sindoro.

Namun ketika sudah berada di puncak gunung, segala kelelahan, badan letih terasa hilang karena melihat pemandangan indah di puncak. Lupa segala penderitaan karena terpesona keindahan alam.

Tuhan begitu dekat. Kuasa Tuhan begitu hebat. Manusia hanya satu titik kecil di bentangan alam semesta.

Pengalaman “tremendum et fascinosum” itulah yang dialami ketiga murid, Petrus, Yohanes dan Yakobus ketika diajak Yesus naik ke sebuah gunung.

Mereka mengalami peristiwa yang luar biasa. Yesus berubah rupa dalam kemuliaan. PakaianNya berubah putih berkilauan. Ada Musa dan Elia berbicara dengan Yesus.

Para murid itu sangat terpesona dengan pengalaman indah itu. Petrus mengungkapkan kekagumannya, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

Mereka sampai lupa membangun kemah untuk dirinya sendiri. Memang saking bahagianya, orang bisa lupa diri.

Lupa diri bisa membelokkan arah dan tujuan awal. Yesus tidak ingin tetap tinggal dalam kemuliaan di atas gunung.

Bukan Gunung Tabor tujuan akhirnya, melainkan fokus menuju Gunung Golgota. Para murid diajak kembali ke dunia nyata. Mereka diajak memanggul salib menuju ke Golgota.

Peristiwa transfigurasi itu semacam “icip-icip” mencoba merasakan kemuliaan yang kelak akan diterima jika orang setia memanggul salibnya.

Pengalaman puncak di atas gunung menjadi harapan untuk setia mengikuti Yesus.

Sindoro Sumbing sangat indah dari kejauhan
Awan Merapi terlihat menjulang tinggi
Salib hidup kita adalah jalan panggilan
Hidup bahagia bersama Yesus adalah kepenuhan janji

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta Senin 05.08.19 Matius 14:13-21 / Terlibat Membagi Berkat

 

IBU-IBU Paroki Tayap yang bertugas memasak di dapur selalu heran dan kagum. Setiap kali mengadakan kegiatan, konsumsi selalu berlimpah dan ada kelebihan.

Mereka yang memasak di dapur selalu ada bahan-bahan makanan yang tersedia. Peristiwa penggandaan roti itu selalu berulang sampai sekarang. Umat sangat murah hati.

Ketika ada Kursus Persiapan Perkawinan, para peserta membawa sayur, labu, ikan asin, beras sejimpit dua jimpit. Ketika ada Forkas (Forum Komunikasi Antar Stasi) para ketua umat yang hadir membawa hasil ladang mereka.

Ibu-ibu Paroki mengolahnya untuk dinikmati bersama. Dan selalu ada kelebihan. Makan bersama seadanya namun kalau dinikmati bareng-bareng makin menambah guyub dan rukun persaudaraan di paroki.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak para murid untuk terlibat atas persoalan hidup bersama. Orang banyak mengikuti Yesus berhari-hari. Mereka lelah dan lapar.

Para murid awalnya ingin lepas tangan. “Suruhlah orang banyak ini pergi supaya dapat membeli makanan di desa-desa.” Mereka mau menghindar.

Tetapi Yesus menantang mereka, “Kalian saja memberi makan mereka.” Murid-murid masih punya alasan untuk lari dari tanggungjawab, “Pada kami hanya ada lima roti dan dua ekor ikan.”

Kita sering menghindar bahkan lari dari tanggungjawab, ketika disuruh menjadi Prodiakon, ketua lingkungan, pengurus dewan pastoral paroki.

Kita mencari alasan, “saya tidak mampu, saya tidak punya waktu, yang lain saja, saya tidak pantas, saya tidak sempurna.” Seribu satu alasan diungkapkan untuk lari dari tugas menggereja. Yesus tetap meminta kita, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Para murid mulai terlibat. Mereka ikut mengatur orang banyak duduk di rumput. Mereka ikut membagi-bagikan roti dan ikan kepada orang banyak.

Mereka menjamin orang banyak makan sampai kenyang. Tidak ada yang kekurangan. Mereka masih mengumpulkan potongan roti yang tersisa sampai duabelas bakul penuh.

(Kalau ada ibu-ibu pasti tidak ada sisa karena mereka membawanya pulang dengan tas plastik masing-masing). Semua dimanfaatkan.

Yesus mengajak kita semua terlibat dalam karya penggembalaanNya. Kita tidak perlu menunggu sempurna.

Sampai mati kita tidak akan sempurna. Lalu kita tidak akan berbuat apa-apa bagi gereja. Hilang kesempatan kita kalau menunggu menjadi sempurna.

Walaupun hanya punya lima roti dan dua ikan, tetapi kalau diserahkan kepada Yesus, akan mencukupi semuanya. Mari kita mulai berbagi dan melayani.

Anak kodok namanya precil
Suaranya nyaring ke pelosok desa
Walau hanya memberi sedikit dan kecil
Akan sangat berguna bagi karya Tuhan dan sesama

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 04.08.19 Hari Minggu Biasa XVIII Lukas 12: 13-21 / Lonceng Kematian

 

SEDANG beredar di WAG tentang berita kematian. Tulisan di bawah foto seseorang itu berbunyi: “Pengingat hidup. Berita kematian Denni Permadi Gautama, CTO Traveloka di usia 39 tahun menghenyakkan saya.

Betapa tidak. Ia sedang berada di puncak hidupnya. Usia muda. Jabatan tertinggi di perusahaan yang dirintis kemudian jadi terbesar. Apalagi yang tidak?

Tadinya, kantong obat berisi penekan asam lambung, penenang dari kecemasan, aneka vitamin, overdosis cafein yang tidak bisa direhabilitasi, adalah hal biasa.

Temen2 saya juga mengalami hal yang sama seperti saya. Kalau lagi cerita ttg betapa kami stress terjepit antara menghadapi milenials dan tuntutan investor biar segera sukses, kami tertawa dalam sendawa merayakan gas lambung yang naik.

Tapi pagi ini, semesta serius. Jangan bercanda dalam stress. Kamu bukan superman. Tubuhmu ada batasnya. Akhir Juli 2019.”

Inilah yang dihadapi kaum milenials, memburu prestasi dan kesuksesan tertinggi. Tak kenal lelah merintis sebuah perusahaan, menuju puncak karier menjanjikan.

Tuntutan pekerjaan harus mengurbankan private time, relasi keluarga, bahkan kesehatan tak terjaga.

Akhirnya limbung juga oleh keterbatasan tubuh yang ringkih. Mati dalam usia muda dan produktif.

Siapa tidak kenal Steve Jobs pendiri Apple Com, NeTX, dan Pixar Studio yang menghasilkan milyaran dollar. Berada di puncak kesuksesan, kekayaan melimpah ruah.

Kerja sangat keras tak kenal waktu sejak umur 20an. Namun kanker pankreas menggerogoti tubuhnya. Ia wafat di usia 56 tahun.

Nasehatnya menjelang kematiannya sangat bagus, “Waktu hidup anda terbatas. Jangan sia-siakan menjalani hidup dengan orang-orang terdekat yang anda cintai.” Popularitas, kekayaan, kesuksesan bukan segala-galanya.

Hari ini Yesus mengingatkan kepada kita semua, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.”

Uang dan harta memang diperlukan untuk hidup di dunia ini. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhanlah penyelenggara hidup kita. Kaya di hadapan Allah tidak dihitung dari jumlah hartanya di dunia, tapi seberapa besar harta digunakan untuk menolong sesama yang miskin dan menderita.

Sekali lagi Yesus menegaskan, “Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Mutiara yang paling indah adalah keluarga

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr