by editor | Feb 14, 2022 | Renungan
Tanda Agama yang Baik.
LEONARDO BOFF, seorang teolog dari kelompok “The Teology of Freedom” dari Amerika Latin bertanya pada Dalai Lama, pemimpin umat Budha dari Tibet, “Yang Mulia, apakah agama yang paling baik itu?”
Boff menduga bahwa Dalai Lama akan menjawab, “Agama Budha dari Tibet.”
Ternyata sambil tersenyum, Dalai lama menjawab, “Agama terbaik yaitu agama yang membuat anda menjadi orang yang lebih baik.”
Sambil menutupi rasa malu karena punya dugaan yang egoistik, Boff bertanya lagi, “Apakah tanda agama yang membuat kita menjadi lebih baik?”
Pemimpin yang bijak itu menjawab, “Agama apapun yang membuat anda lebih welas asih, lebih berpikiran sehat, lebih obyektif dan adil, lebih menyayangi, lebih manusiawi, lebih punya rasa tanggungjawab, lebih ber-etika.
Agama yang punya kualitas seperti di atas adalah agama terbaik.”
Leonardo terdiam sejenak dan terkagum-kagum atas jawaban yang luhur dan bijak dari seorang Dalai Lama.
Pemimpin umat Budha itu melanjutkan, “Tidak penting bagiku, apa agamamu, tidak peduli anda beragama atau tidak, yang betul-betul penting bagi saya adalah perilaku anda di depan kawan-kawan, di tengah keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat dunia.”
Orang Farisi ingin mencobai Yesus. Mereka meminta kepada-Nya tanda dari surga. Mereka ingin minta bukti atau tanda bahwa Yesus utusan dari surga.
Yesus mengeluhkan sikap batin mereka. Percaya pada yang kelihatan saja mereka tidak bisa, bagaimana mungkin bisa paham tanda dari surga.
Yesus telah menyembuhkan banyak orang sakit; orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang bisu berbicara, orang mati dibangkitkan, orang lumpuh berjalan, orang berdosa diampuni, orang miskin mendengar kabar gembira.
Itu semua adalah tanda kehadiran Allah. Namun mereka tidak melihat tanda-tanda itu. Bagaimana mungkin mereka masih meminta tanda dari surga?
Dalai Lama bisa melihat tanda-tanda agama yang baik adalah agama yang terwujud dalam tingkah laku pemeluknya; welas asih, berpikir sehat, obyektif dan adil, kasih sayang, tanggungjawab, manusiawi dan ber-etika.
Orang-orang seperti itu dituntun oleh ajaran agama yang baik dan benar.
Sebaliknya kaum Farisi tidak bisa melihat apa yang dikerjakan Yesus sebagai tanda-Nya bahwa Dia adalah utusan dari surga. Karena kedegilan hati mereka, Yesus tidak memberi tanda.
Orang yang tidak percaya, sekalipun diberi tanda dan dijelaskan, mereka tetap “maido” (meragukan), tidak mau terbuka dan percaya.
Apakah anda juga tidak percaya dan meragukan kasih-Nya yang rela mati untuk anda?
Jika Yesus boleh bertanya kepada anda, “Apa tanda atau bukti bahwa engkau mengasihi-Ku? Apa balasan cintamu pada-Ku?
Lalu apa jawaban anda?
Sepanjang hari menikmati hujan,
Mendung tebal menutupi angkasa.
Tandanya kasih adalah pengorbanan,
Bukan di mulut tetapi di tindakan nyata.
Cawas, masih butuh bukti……?
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 14, 2022 | Renungan
Flexing; Pameran Kekayaan.
ISTILAH ini sekarang makin populer. Flexing artinya suka pamer kekayaan, suka menonjolkan harta benda bermerk terkenal. Orang merasa bangga disebut sebagai “sultan” atau “the crazy rich” karena kekayaannya.
Orang yang “flexing” cenderung suka pamer kekayaan, rumah serba mewah bak istana, mobil bermerk berderet-deret, sering piknik ke luar negeri, kuliner di tempat luxury.
Padahal sesungguhnya jauh dari kenyataan. Istilah kerennya “too good to be true.”
Flexing juga diartikan sebagai palsu, suka memalsukan atau memaksakan gaya hidup agar diterima dalam pergaulan. Punya mobil mewah tapi gak punya garasi atau rumahnya masih sewa.
Ada orang yang menggunakan flexing untuk marketing.
Kita masih ingat dengan kasus agen tour yang pemiliknya suka foto di rumahnya yang super mewah, jalan-jalan ke luar negri, suka pameran mode di Paris untuk menawarkan produk demi memancing keberuntungan?
Dan betul, akhirnya banyak orang tertipu.
Orang kaya beneran biasanya tidak ingin diketahui atau dikenal. Ia menjaga privacynya. Ia mementingkan quality and comfort.
Orang yang pura-pura kaya karena flexing beli barang untuk dipamerkan. Mereka seperti iklan berjalan.
Mereka bergaya dengan tas, sepatu, kacamata, jaket, mobil bermerk terkenal dan mahal. Flexing identik dengan pencitraan.
Baru nanti ketika terjerat masalah akan terbongkar semua. Mereka dikejar dirjen pajak, dituntut dan dilaporkan ke polisi karena penipuan.
Akhirnya harus meringkuk untuk menanggung perbuatannya. Hati-hatilah dengan flexing.
Jangan kita mudah terkecoh atau tertipu karena foto-foto di medsos bisa menjebak.
Yesus mengingatkan kepada mereka yang suka flexing. “Celakalah kamu hai orang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan.
Celakalah kamu yang kini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu yang kini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara itu pula nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”
Kasihan orang kaya yang suka pamer dan menyombongkan kekayaannya, karena mereka akan dikejar-kejar tukang pajak.
Kasihan orang yang kenyang dan suka pamer kuliner di tempat-tempat mewah, suka memposting makanan-makanan enak dan mahal, karena meraka nanti akan kehabisan modal dan kelaparan.
Kasihan kamu yang foya-foya dan tertawa-tawa; sering pergi ke luar negeri dengan jet pribadi, karena suatu saat kamu akan berdukacita dan menangis karena kehilangan semuanya.
Kasihan kamu yang suka cari pujian dengan flexing karena sebetulnya mereka itu adalah nabi-nabi palsu. Mereka hanya bergaya biar dikira orang hebat.
Yesus memuji mereka yang miskin dan lapar karena mereka hanya bisa percaya dan mengandalkan Allah semata. Allah akan memperhatikan mereka yang menangis karena derita. Hiburan-Nya akan diberikan kepada mereka.
Berbahagialah mereka yang berjuang demi kebenaran, kendati dikucilkan, dibenci dan ditolak, namun Kerajaan Surga menanti orang-orang benar.
Apakah anda juga tergiur untuk Flexing di medsos yang semu?
Memetik kangkung dimasak plencing,
Dimakan dengan sambal teri dan ikan.
Waspadalah dengan gaya hidup Flexing,
Jangan tertipu karena hanya pencitraan.
Cawas, jangan menipu diri sendiri….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 11, 2022 | Renungan
Bersyukur dan Berbagi
DALAM pertemuan bina lanjut Komunitas ME di Cawas akhir Januari kemarin, panitia kecil berpikir keras bagaimana menjamu para peserta.
Saya mengusulkan agar kita menggunakan model “lima roti dua ikan.” Artinya apa yang ada pada kita, mari kita kumpulkan, biar Tuhan yang melengkapinya. Akhirnya semua setuju.
Setelah acara pembinaan selesai, semua diundang untuk makan bersama. Semua menikmati dengan sukacita.
Sambil makan bersama, para bapak ngobrol berkelompok sambil sharing-sharing kecil. Mereka bercerita tentang buah-buah weekend yang mereka alami sungguh luar biasa.
Semangat berbagi nampak dari aneka hidangan yang tersaji. Ada yang bawa salad. Ada yang bawa tengkleng, ada yang bawa sop ayam, ada yang bawa nasi, ada yang bawa buah. Semua dinikmati bersama.
Bahkan masih ada sisa. Mereka pulang masih membawa berkat masing-masing.
Ketika kita mau bersyukur dan berbagi, Tuhan pasti mencukupi, bahkan berlimpah.
Yesus peduli pada orang-orang yang mengikuti-Nya. Sepanjang hari mereka mendengarkan pengajaran-Nya. Pasti mereka butuh makan.
Para murid tidak bisa mencari solusi dan balik bertanya, “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?”
Yesus mengetuk hati mereka untuk berbagi. “Berapa roti yang ada padamu?”
Mereka memiliki tujuh roti dan beberapa ikan saja.
Tuhan mahakuasa. Apa yang menurut manusia tidak mungkin, bagi Tuhan tak ada yang mustahil.
Ia mengambil tujuh roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada para murid untuk dibagi-bagikan.
Apa yang ada disyukuri dan dibagikan. Ternyata semua bisa makan kenyang dan bahkan ada sisanya. Dari tujuh roti menjadi sisa tujuh bakul.
Kita diajak untuk bersyukur dan berbagi. Berbagi tidak harus menunggu kita punya banyak. Sekecil apapun jika kita mampu mensyukuri dan berani berbagi, maka akan menjadi berkelimpahan.
Semangat bersyukur memungkinkan kita tidak pernah merasa kekurangan.
Bisakah anda mensyukuri apa yang ada dan ikhlas berbagi dengan mereka yang berkekurangan?
Tuhan akan memberkati anda dengan cara yang tidak terduga.
Beli bubur lethok di jalan Panjaitan.
Beli jadah tempe bacem di Kaliurang.
Syukur akan membawa kelimpahan.
“Ngaya” bikin kita selalu merasa kurang.
Cawas, selalu bersyukur….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 10, 2022 | Renungan
Tuhan Menjadikan Segalanya Baik
MANDY Harvey menggetarkan panggung AGT (America Got Talent). Sejak kecil Mandy ingin jadi penyanyi. Ia telah belajar sejak usia 4 tahun.
Tetapi pada umur 18 tahun ia kehilangan pendengaran alias tuli. Dokter mendiagnosis Mandy kehilangan jaringan ikat. Ia divonis tuli seumur hidup.
Hancur dan pupus sudah impiannya jadi musisi. Ia merasa dunia terasa sunyi dan sepi. Ia merasa hancur dan sedih.
Dengan ingatan yang kuat akan musik, Mandy belajar lebih giat. Ia dibantu penterjemah dengan bahasa isyarat.
Ia menemukan caranya sendiri untuk merasakan getaran musik, yakni dengan kakinya. Dengan kaki telanjang dia bisa merasakan ritme musik pengiringnya.
Setelah sepuluh tahun belajar, ia memberanikan diri tampil di ajang AGT. Dengan ukulele ia menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, “TRY.”
Lagu ini berkisah tentang perjuangannya bangkit dari keterpurukan. “I will try, I will try. Aku harus terus mencoba dan mencoba,” katanya.
“Aku tidak membutuhkan penterjemah untuk memberikan ini.” kata Simon Cowel sambil memencet Golden Buzzer.
“Saya merasa kita akan melihat lebih banyak hal hebat dari penyanyi super berbakat ini.” kata Simon memuji Mandy.
Tepuk tangan gemuruh penonton tidak bisa dia dengarkan, tetapi reaksi penonton yang memberi apresiasi dengan standing ovation serta pelukan hangat Simon Cowel membuat dunia Mandy bersinar kembali.
Ia merasakan impiannya datang lagi. Masa depan dan cita-citanya terbuka kembali.
Yesus datang untuk segala bangsa. Ada orang sakit tuli dan gagap dari Dekapolis, wilayah bangsa kafir.
Yesus berkata, ”Efata” dan orang itu bisa mendengar dan berbicara.
Semua orang takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik. Yang tuli dijadikannya mendengar, yang bisu dijadikannya berbicara.”
Orang yang mau membuka diri terhadap Allah, ia akan melihat hal-hal yang baik. Orang kafir dari Dekapolis ini mau percaya pada Yesus.
Hasilnya, ia bisa mendengarkan sabda Tuhan dan berbicara tentang kebaikan Allah.
Mari kita terbuka pada kasih Allah. Siapapun kita tidak terkecuali diundang membuka diri pada rencana Allah.
Jika demikian, kita akan melihat bahwa Tuhan menjadikan segala-galanya baik pada kita.
Kebaikan Tuhan yang kita alami itu mestinya membuat kita berani memberitakannya kepada seluruh dunia.
Seruan “Efata” yang kita alami juga membangkitkan kita untuk bersaksi tentang kebaikan Tuhan.
Naik kereta menuju kota Tasik.
Singgah sebentar di Purwakarta.
Tuhan selalu punya rencana baik.
Mari kita terbuka pada kehendak-Nya.
Cawas, semua-baik-baik saja….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 9, 2022 | Renungan
Never Give Up…!!!
APA kendaraan yang anda pakai sekarang? Honda? Toyota? Suzuki? Yamaha? Kawasaki? Mitsubishi? Subaru?
Tahukah anda bahwa merk-merk itu adalah nama dari para pendirinya yang telah sukses menciptakan sarana transportasi global?
Kesuksesan mereka tidak dicapai dengan mudah. Mereka mengalami banyak kesulitan dan tantangan.
Honda yang nama lengkapnya Soichiro Honda memulai kariernya dengan menjadi petugas cleaning service dan pengasuh anak majikan di sebuah bengkel.
Ia baru menjadi mekanik di bengkel setelah 6 tahun bekerja.
Ia berhasil menciptakan ring piston, tetapi karena perang dunia meletus, pabriknya hancur oleh bom dan gempa bumi. Ia bangkrut dan jatuh miskin.
Ia harus mulai dari nol lagi. Ia tidak menyerah. Ia tidak putus asa.
Ia punya mimpi suatu saat bisa menciptakan motor yang mendunia. Dari berbagai kegagalan, ia terus belajar dan mencoba.
Akhirnya tahun 1946 ia mendirikan pabrik Honda sebagai brand merknya. Dua tahun berselang ia berhasil menciptakan motor yang jadi impiannya, the dream of motorcycle.
Soichiro Honda tidak pernah menyerah. Kendati berkali-kali gagal dan jatuh, namun ia terus mencoba dan mencoba.
Kini namanya dikenal di seluruh dunia, terpatri menyatu dengan semua orang. One Heart Honda.
Perempuan Siro-Fenisia itu tidak pernah menyerah. Yang menjadi satu impiannya hanyalah anaknya sembuh. Ia menerobos kerumunan banyak orang dan tersungkur di kaki Yesus.
Kendati dia sadar, dia bukan orang Israel, Bangsa pilihan, namun ia percaya Yesus bisa menolongnya.
Tanggapan Yesus ternyata negatif, bahkan mungkin sangat merendahkannya.
Ia disamakan dengan anjing. “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
Ia direndahkan sehina-hinanya. Namun ia tidak putus asa. Dengan berani dia menjawab, ”Benar Tuhan, tetapi anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
Melihat semangat pantang menyerah dari ibu itu, Yesus luluh hati-Nya. “Pulanglah, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”
Anak ibu yang gigih dari Siro Fenisia itu sembuh.
Kita bisa belajar dari semangat ibu yang tak pernah putus asa ini. Ia terus mencoba sampai berhasil.
Seperti kata Honda, “When you fail, you also learn how not to fail.”
Kegagalan membuat kita instrospeksi diri, belajar dari pengalaman untuk tidak gagal lagi.
Kegagalan adalah kesempatan lebih giat untuk belajar.
Ibu Siro-Fenisia itu tetap punya harapan kendati terpuruk di tempat paling bawah. Tetap punya harapan kendati sedang gagal.
“Hope makes you forget all the difficult times.” Jangan menyerah, tetaplah punya harapan.
Lampu padam malam tiba-tiba gelap.
Di kejauhan nampak ada sinar secercah.
Keberhasilan tidak dicapai dalam sekejap,
Ia butuh berjuang tanpa kenal menyerah.
Cawas, never give up…..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 9, 2022 | Renungan
“Don’t Open Your Milk Factory in Kuta Beach”
KALAU kita berwisata di Pulau Dewata, dan berjalan-jalan di pinggir pantai, kita sering melihat turis-turis berjemur dengan berbikini ria.
Saking bebasnya orang buka-buka baju di Pantai Kuta, Joger, si Pabrik Kata-Kata memberi peringatan lucu, kreatif dan menggelikan dengan tulisan di temboknya, “Don’t Open Your Milk Factory in Kuta Beach.”
Kendati orang bebas buka-bukaan, kita jarang mendengar berita pemerkosaan atau pelecehan sexual di Bali.
Namun akhir tahun kemarin kita dikejutkan dengan berita seorang pengasuh Yayasan yang memiliki bording school di Bandung yang memperkosa siswinya sampai 12 anak.
Bahkan dari mereka telah lahir 7 bayi dan masih ada dua anak lagi yang mengandung hasil kebejatan moral sang guru.
Kita yang awam ini heran dan bertanya-tanya. Para siswi ini kan berbaju agamis tertutup dan sopan. Tidak mungkin menggoda syahwat dan birahi lelaki. Beda dengan turis di pantai Kuta.
Tapi kok bisa ya seorang guru, yang mestinya “digugu lan ditiru” (dicontoh dan diteladani) bertindak asusila dan bejat?
Yesus membantu menjawab pertanyaan itu dengan berkata, “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya. Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”
Banyak orang melihat pabrik susu di Pantai Kuta, toh tidak ada niat jahat untuk memperkosa mereka. Namun kalau hati dan pikiran udah kotor, melihat siswi yang berbaju tertutup dari ujung kepala sampai ke ujung kaki pun bisa timbul niat jahat dan menggagahinya.
Yesus menegaskan lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan. Sebab dari dalam hati orang timbul pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat itu timbul dari dalam dan menajiskan orang.”
Tidak ada gunanya membuat banyak aturan yang membatasi perempuan, kalau hati dan pikiran kaum lelaki tetap “ngeres dan jenes.”
Apa yang dari luar itu tidak menajiskan. Apa yang ada di dalam hati dan pikiran itulah yang bisa merusak dan membuat dosa.
Banyak larangan dan aturan tidak membantu jika hati manusia tidak diperbaiki.
Dalam budaya Jawa ada istilah bagus untuk membetengi hati yakni “Tepa Selira.”
Tepa selira artinya dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau menyakiti sesama atau dapat meringankan beban orang lain.
Ada tenggang rasa; toleransi: kita harus mempunyai rasa “tepaselira” terhadap sesuatu yang dirasakan dan diderita orang lain. Kita bisa menempatkan diri di pihak mereka.
Mengapa wanita di Jepang bisa bebas dan aman beraktivitas di malam hari? Karena orang akan berpikir seandainya perempuan itu istriku, saudariku, atau anakku, pasti akan menderita jika mengalami musibah. Itulah bentuk nyata sikap “tepaselira.”
Marilah kita dasari hati kita dengan benar. Karena apa yang keluar dari hati itulah yang akan menentukan. Hati baik menghasilkan perilaku baik. Hati jahat akan membuahkan tindakan jahat.
Matahari sedang menjauhi bumi,
Hawanya dingin menusuk tulang pipi.
Tebarkan kebaikan di dalam sanubari,
buahnya menyebar ke sudut-sudut hati.
Cawas, menjaga hati….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr