by editor | Feb 9, 2022 | Renungan
“Silahkan Naik ke Lamin Saya, Pastor”
JANGAN salah sangka kalau ada seorang ibu yang berkata, “Kalau turne, jangan sungkan naik ke lamin saya ya pastor.”
Yang dimaksud lamin atau laman itu pondok atau rumah panggung.
Seorang pastor dari Jawa merah padam mukanya ketika ada ibu yang menawarinya singgah ke rumahnya.
Harap berhati-hati karena ada aturan adat yang tidak membolehkan bertamu jika di rumah itu hanya ada istri atau anak gadis saja.
Seorang pastor pernah dihukum adat karena memboncengkan seorang ibu yang pulang dari ladang. Pastor itu akan pulang ke pastoran dari kunjungan di stasi yang jauh.
Matahari tepat di atas kepala. Panas terik sangat menyengat. Di tengah perjalanan, ada seorang ibu yang memberhentikannya. Ibu itu baru pulang kerja dari ladangnya.
Karena jalan jauh dan panas terik membakar kulit, ia minta ijin membonceng pastor.
Pastor mengijinkannya karena mereka searah perjalanan.
Tentu saja pastor yang berhati baik itu hanya bermaksud menolong. Tidak tega melihat perempuan jalan di tengah panas terik matahari.
Pastor itu mengantar si ibu sampai di rumahnya. Tetapi suami si ibu ini tidak terima pastor memboncengkan istrinya. Sang Pastor dihukum adat.
Pastor itu menerima dengan bijak dan hanya berkata, “Dimana bumi dipijak, langit dijunjung.”
Sifat munafik sering ditunjukkan kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka lebih menekankan adat istiadat bikinan manusia daripada hukum Allah.
Membasuh tangan, membersihkan badan, mencuci cawan, kendi dan perkakas lainnya adalah contoh adat tradisi yang dibikin manusia.
Tidak melakukan ritual itu dipandang najis, kotor, tidak suci, berdosa. Mereka mudah mengadili orang lain.
Ketika melihat murid-murid makan dengan tidak mencuci tangan, mereka langsung teriak, “Najis, najis, najis.”
Yesus mengutip perkataan Nabi Yesaya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadat kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
Bibirnya “komat-kamit” berdoa, mulutnya teriak-teriak memuji Allah, tetapi hatinya menyimpan iri dan benci, pikirannya suka mengadili orang lain, perilakunya jauh menyimpang dari ajaran Allah.
Yesus mengukur kesalehan bukan dari segi lahiriah. Kesalehan adalah ketaatan pada aturan Allah yang menyelaraskan antara kata dan tindakan.
Kaum Farisi jatuh pada kemunafikan karena mereka terlalu menekankan ketaatan hukum bikinan manusia, namun tidak mempraktekkannya.
Sabda Yesus itu juga ditujukan pada kita. Janganlah kita bersikap munafik dan suka mengadili orang lain.
Lihatlah dirimu sendiri sebelum menghakimi sesamamu.
Pergi ke sawah melihat para petani,
Senda gurau sambil memotong padi.
Lebih baik kita merendahkan diri,
Daripada kita suka menghakimi.
Cawas, menunggu matahari…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 9, 2022 | Renungan
Kepercayaan Tumbuh dari Pelayanan yang Tulus.
“CEKAKIPUN yen sampun disuntik kalih Suster mesti mantun.” (Pokoknya kalau sudah disuntik oleh Suster pasti sembuh) demikian komentar banyak umat di Stasi Ngaliyan, Paroki Sukoreja, ketika kami turne bersama Romo Paroki dan tim kesehatan dari Poliklinik Suster SND di Sukorejo.
Waktu itu saya sebagai frater membantu di Sukorejo. Kami melayani umat stasi-stasi bersama.
Romo Wiharjono SJ, saya dan suster-suster SND dengan beberapa perawat naik mobil Taft ke Ngaliyan, Pilangsari dan Gemuh.
Umat di stasi sudah menunggu sejak siang. Mereka yang sakit dilayani para perawat.
Saya mengajar agama anak-anak, melatih koor mudika dan Romo Wiharjono kunjungan keluarga.
Malam harinya ditutup dengan ekaristi di kapel. Kami sampai di pastoran biasanya sudah tengah malam.
Banyak umat percaya kalau diberi obat atau disuntik oleh suster perawat dari gereja pasti sembuh.
Mereka diobati dengan gratis. Tetapi ada juga yang memberi beras, kelapa, jagung, ketela atau sayur hasil kebun mereka.
Tidak hanya umat katolik, tetapi umat yang lain juga ikut dilayani.
Karya Yesus dikenal banyak orang di wilayah Danau Genesaret. Dimana Yesus berada, orang berbondong-bondong datang ingin disembuhkan dari berbagai penyakit.
Dimana Yesus pergi, orang selalu mengerumuni. Mereka meletakkan orang-orang sakit di jalan, di pasar agar ketika Yesus lewat mereka bisa menjamah jumbai jubah-Nya.
Kepercayaan kepada Yesus membuat mereka disembuhkan. Dengan menyentuh jumbai jubah-Nya saja, orang sembuh dari penyakitnya.
Iman memberi daya kekuatan yang luar biasa.
Pengajaran dan pelayanan kesehatan itu terus dilanjutkan oleh Gereja sampai sekarang.
Yang harus dibangun adalah trust atau kepercayaan. Kalau ada kepercayaan maka orang-orang pasti akan datang.
Kepercayaan itu dibangun melalui pelayanan yang baik, kasih tanpa pamrih, tidak membeda-bedakan, menghargai yang kecil dan menderita.
Siapa pun diterima oleh Yesus. mereka yang dari desa, kota atau kampung, semua dilayani dengan penuh kasih, tidak pilih kasih.
Pelayanan Yesus mengutamakan keselamatan manusia. Ia tidak mencari keuntungan atau popularitas diri.
Hati-hati bila pelayanan kita sudah dikuasai semangat untung rugi. Dunia kapitalis sudah merasuki prinsip pelayanan kristiani.
Tidak ada uang tidak ada pelayanan. Orang kecil tidak dilayani. Yang didahulukan orang-orang kaya. Uang bisa menghancurkan kepercayaan.
Mari kita konsisten dalam pelayanan seperti Yesus. Martabat manusia harus menjadi prioritas utama.
Melayani demi keselamatan orang, bukan demi uang.
Piknik ke Girpasang naik gondola,
Berfoto di tengah jurang menganga.
Orang percaya karena pelayanan prima,
Mereka akan datang dengan sendirinya.
Cawas, melayani dengan hati….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 9, 2022 | Renungan
“Ke Tempat Yang Dalam”
DI belakang rumah kami ada sungai cukup besar. Dulu ada banyak ikannya. Kami sering mancing atau menjaring di sungai untuk cari lauk.
Kalau di tempat yang dangkal, airnya hanya setinggi tumit, cuma ikan-ikan kecil yang ada. Misalnya udang, cethul, wader, beyes anak yuyu (kepiting). Kita bisa menangkap dengan tangan saja.
Waktu itu kita pakai “jenu” atau racun dari akar pohon yang ditumbuk untuk membuat ikan mabuk. Akar pohon itu ditumbuk sampai keluar air racun dan kemudian dibuang di sungai.
Maka ikan-ikan di sepanjang sungai itu akan “klenggekan” atau mabuk dan muncul di permukaan.
Kalau kita masuk ke tempat yang dalam, kita akan mendapat ikan yang besar-besar. Kita harus membawa jaring atau tangguk. Ada juga yang pakai tampah untuk menangkap ikan.
Ada ikan lele, tawes, jabresan, mujahir, nila, gabus dan belut besar yang ada telinganya.
Suasana sangat menyenangkan. Riuh rendah kalau saling berebut menangkap ikan yang lari sana lari sini.
Kalau mau mendapat ikan yang besar, ya harus berani terjun ke tempat yang dalam.
Yesus memerintahkan Simon untuk menangkap ikan. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”
Simon dan teman-temannya adalah nelayan yang penghidupannya mencari ikan. Mereka sudah piawai dengan pekerjaan rutin itu.
Namun Simon sudah berusaha semalam suntuk. Kerja keras mereka tanpa hasil.
“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi karena perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga.”
Akhirnya mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka hampir koyak.
Ketika kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita tidak menghasilkan apa-apa. Hanya lelah dan putus asa.
Namun ketika kita mendengarkan suara Tuhan dan melaksanakannya, kita mendapat hasil yang melimpah. Tuhan mahatahu tentang potensi diri kita.
Makanya Tuhan mengajak kita bertolak ke tempat yang dalam. Potensi diri anda bukan tempat yang “cethek-cethek” saja.
Kita hanya bisa tersungkur dan bersyukur pada Tuhan. Seperti Simon tidak menduga dengan hasil tangkapan yang mentakjubkan.
Ia tersungkur di depan Yesus. “Tuhan tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdosa.”
Apakah anda menyadari bahwa Tuhan turut bekerja dalam jerih payah anda berjuang sepanjang hari?
Apakah kita berani ambil resiko pergi ke tempat yang dalam mengikuti suara Tuhan?
Cuaca hari ini sering berubah-ubah,
Pagi cerah namun hujan sampai malam.
Kehendak Tuhan sering tidak mudah,
Menantang kita masuk ke tempat yang dalam.
Cawas, berani ambil resiko ….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 5, 2022 | Renungan
Biara Trapist; Oase Keheningan.
ANDA ingin mencari keheningan yang menyuburkan hidup dan jiwa? Pergilah ke Biara Trapist di Rawaseneng.
Terletak di lereng Gunung Sumbing, tempatnya di desa Rawaseneng, Temanggung yang jauh dari kebisingan kota.
Udara sejuk dan hawa yang dingin serta nyanyian-nyanyian doa dari para rahib membikin hati menjadi damai dan tenang.
Para rahib itu hidup dalam doa, keheningan dan kesederhanaan. Bahkan makan bersama pun dilakukan dalam hening disertai dengan bacaan-bacaan rohani.
Kerja dan doa menyatu dalam hidup mereka. Ora et labora.
Keheningan dan doa adalah sumber kekuatan dalam karya. Anda pasti pernah mendengar atau mencoba hasil karya mereka. Ada Trapist Cookies, Trapist Milk, Trapist Chocolate, Trapist kopi.
Anda bisa buka di toko online. Tetapi lebih baik anda pergi ke sana langsung merasakan keheningan yang menenteramkan jiwa.
Hening bukan berarti nganggur. Hening adalah mata air yang subur untuk jadi berguna bagi sesama. Hening adalah kebutuhan jiwa yang letih.
Masuk ke tempat sunyi untuk mengumpulkan kembali energi. Hidup disegarkan kembali lewat keheningan.
Itulah yang dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya setelah mereka diutus pergi berdua-dua. “Marilah kita pergi ke tempat sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak.”
Maka pergilah mereka mengasingkan diri ke tempat sunyi.
Kita membutuhkan waktu dan tempat sunyi, tempat untuk sendiri, waktu dimana kita bisa berdialog dengan Tuhan.
Kesibukan dan persaingan membuat badan dan jiwa menjadi letih. Keletihan dan beban yang berat menyebabkan jiwa menjadi kering. Kekeringan seperti tanah gersang mengakibatkan kita tidak bisa menghasilkan apa-apa.
Ketika Yesus dan para murid memasuki keheningan, mereka punya tenaga baru untuk melayani banyak orang. Ketika mendarat, Yesus melihat jumlah orang yang begitu banyak. Lalu Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Kita membutuhkan keheningan untuk menyegarkan kembali tenaga dan pikiran, sehingga kita bisa berkarya lebih fresh lagi.
Jangan takut memasuki keheningan. Kadang ada orang yang bingung dan takut sendiri dalam keheningan.
Kita terlalu sibuk dengan dunia luar. Kita kurang memberi waktu untuk sendiri. Maka ketika orang sendiri dalam sunyi, orang mengalami ketakutan.
Kalau anda pergi ke Rawaseneng, anda tidak akan takut keheningan. Di sana di dalam keheningan anda akan berjumpa dengan Tuhan.
Dari keheningan itu hidup anda akan menjadi tanah yang subur, yang berbuah berkat.
Selamat menikmati keheningan bersama Tuhan.
Memandang matahari di ufuk timur,
Ada rona sinar di langit yang cerah.
Hati yang hening adalah tanah subur,
Menghasilkan banyak berkat melimpah.
Cawas, heningkan diri dalam sunyi…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 4, 2022 | Renungan
Managemen Risleting
TAHUN delapanpuluhan saya jadi seminaris di Mertoyudan. Kalau sore saya suka ambulasi (jalan-jalan) ngisi waktu luang ke luar seminari.
Di depan asrama kami, ada baliho besar, iklan risleting merk YKK. Kami membuat plesetan singkatan YKK yaitu Yang Kawin Keluar.
Ya memang begitulah, karena penghuni asrama adalah mereka yang ingin menjadi imam, maka yang mau kawin silahkan untuk keluar.
Selama manusia masih hidup, masalah cinta percintaan, kawin perkawinan tak akan pernah mati. Cinta tidak mengenal perbedaan dan pembatasan. Tua-muda, kaya-miskin, besar-kecil, awam-biarawan, orang biasa atau berstatus tinggi semua bisa dilanda cinta.
Para lelaki juga termasuk kaum rohaniwan harus pinter memanage risletingnya sendiri. Begitu pun sebaliknya, kaum perempuan juga harus pandai-pandai memanage tali G-stringnya.
Kurang pandai memanage risleting bisa bikin gempar dan menelan korban. Itulah yang terjadi dengan Herodes-Herodias. Percintaan mereka yang dilarang harus menelan korban yakni Yohanes Pembaptis.
Yohanes memperingatkan gaya hidup Herodes dan Herodias yang tidak sesuai hukum Taurat. “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu.”
Herodes tidak berani berbuat apa-apa karena Yohanes banyak pengikutnya.
Peringatan ini justru menimbulkan kebencian Herodias kepada Yohanes. Ia merayu Herodes agar Yohanes dipenjara. Herodias menyimpan dendam dan rasa benci yang membuncah.
Saatnya tiba. Ketika perayaan ulangtahun raja, Salome, anak Herodias menari dengan gemulainya, menyukakan semua tamu yang hadir.
Herodes sangat gembira, hingga ia tanpa sadar menjanjikan sesuatu, “Mintalah dari padaku apa saja yang kau ingini, maka aku akan memberikan kepadamu. Apa saja yang kau minta akan kuberikan, sekalipun itu setengah dari kerajaanku.”
Salome, gadis polos itu lari menuju ibunya.
Inilah saat yang tepat untuk balas dendam. Ia tidak tertarik pada setengah kerajaan. Yang tersimpan lama dalam pikirannya, hanyalah dendam dan dendam.
Tidak ada sungkan dan malu sedikit pun di hadapan para tamu kehormatan, Herodias berbisik tanpa ragu pada Salome, “Kepala Yohanes Pembaptis bawa kemari di atas talam.”
Herodias adalah tipe seorang ibu yang memanfaatkan anak demi keuntungan pribadi. Ia tidak mengajarkan moral kepada anaknya. Yang penting balas dendam terlampiaskan demi kelanggengan nafsu birahinya.
Musuh yang mengganggu harus disingkirkan. Apapun caranya Yohanes harus mati.
Jamuan terakhir dari pesta ulangtahun raja adalah kepala Yohanes dalam sebuah talam. Bukan kepala babi atau kepala kerbau. Tetapi kepala Yohanes Pembaptis.
Pesta yang tadinya penuh gelak tawa, kini diam mencekam.
Herodes hanya bersedih tetapi tidak menyesal. Ia lebih memilih kemolekan tubuh istrinya daripada mengikuti suara hatinya. Herodes adalah tipe suami lemah yang berada di bawah ketiak istri.
Ia terjepit antara sumpahnya sendiri dan kerling mata kemenangan istrinya.
Suara kebenaran dibungkam oleh nafsu birahi dan kekuasaan. Ketidakmampuan memanage risleting membuat Herodes lepas kendali.
Begitupun Herodias, perempuan yang suka mengumbar tali G-stringnya, dibutakan oleh dendam kesumat sehingga menutup mata pada kebenaran. Yohanes Pembaptis, Suara Kebenaran dikorbankan.
Kita diingatkan oleh iklan di depan asrama Seminari, YKK. Kalau risleting anda rusak, lebih baik ke toko beli yang baru saja.
Mari kita pinter-pinter memanage risleting kita.
Berjalan menyusuri pantai Pangandaran,
Para pedagang ramai jual buah tangan.
Suara kebenaran harus dikumandangkan,
Kendati menghadapi banyak tantangan.
Cawas, menjaga suara hati…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 2, 2022 | Renungan
Peregrinasi; Hanya Mengandalkan Tuhan.
KETIKA masih menjadi frater, kami pernah diminta untuk mengadakan peregrinasi atau mengembara. Kami diutus pergi berdua-dua dan tidak boleh membawa bekal apa-apa.
Hanya bawa KTP dan baju yang melekat di badan saja. Tidak boleh mengaku frater atau menunjukkan identitas diri.
Kalau mau makan harus mengemis atau meminta kepada orang.
Ketika sampai di Ambarawa, perut kami sudah kelaparan dan kaki mulai pegal. Perjalanan di bawah terik matahari membuat cepat lelah dan haus.
Saya memberanikan diri ngemis di sebuah warung. Ibu yang punya warung berkata, “Mas, nanti tak kasih makan, tapi bantu cuci-cuci di belakang mau?”
Tanpa pikir panjang, karena sudah lapar, kami menuju ke dapur tempat piring gelas dan perabotan kotor.
Kami diupah dengan sepiring nasi, sayur oseng daun pepaya dan seekor lele goreng. Ada sisa potongan kepala lele juga diberikan kepada kami. Waktu itu makan sungguh nikmat rasanya.
Kebaikan Tuhan ada dimana-mana lewat banyak orang.
Peregrinasi adalah sebuah formatio yang bertujuan untuk merasakan kasih Tuhan dan hanya mengandalkan kebaikan-Nya saja.
Dalam segala situasi kita diajak percaya pada pemeliharaan Tuhan. Saya ingat pesan kakek, “Yen gelem obah mesti mamah.” (Kalau mau kerja, pasti bisa makan).
Yesus mengutus murid-Nya pergi berdua-dua. Mereka diberi pesan untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; roti pun tidak boleh dibawa, demikian pula bekal dan uang dalam ikat pinggang.
Mereka diutus memberitakan pertobatan dan menyembuhkan orang sakit. Mereka harus mau menolong sesama yang menderita.
Mereka diminta tidak membawa apa-apa. Hal ini dimaksudkan agar mereka percaya kepada Yang Mengutus. Dengan jalan apa pun Tuhan akan memelihara mereka.
Tuhan menolong kami melalui ibu yang punya warung. Kami diminta membantu kerepotan ibu itu dengan mencuci piring, gelas, sendok dan alat-alat makan lainnya.
Dengan itu Tuhan memelihara hidup kami. Tuhan yang mengutus, Tuhan pula yang akan mengurus segalanya.
Dari pengalaman peregrinasi itu, kami makin percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Memang tidak semua mulus. Ada pula teman-teman kami yang ditolak, diusir dan tidak diterima.
Pengalaman itu pun bisa diberi makna. Tuhan sendiri juga ditolak dan disalibkan.
Namun perutusan Tuhan bagi kita untuk mewartakan Kabar Gembira harus terus dijalankan. Ditolak atau diterima itu bukan urusan kita. Tuhanlah yang akan menyelesaikan semuanya.
Kita semua diutus untuk pergi. Kita semua sedang dalam perjalanan. Kita semua di dunia ini adalah pengembara, musafir.
Mengandalkan Tuhan itulah satu-satunya sikap batin yang benar. Percaya pada penyelenggaraan-Nya, bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita, itulah pegangan penting bagi kita semua.
Naik sepeda berkeliling-keliling kota.
Singgah sebentar membeli kacamata.
Tuhan pasti memelihara hidup kita.
Jangan meragukan belaskasih-Nya.
Cawas, Yesus andalanku….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr