by editor | Jan 21, 2022 | Renungan
“Yang Rapuh Dipanggil-Nya”
DALAM retret menjelang pesta perak imamat, saya menggambarkan diri sebagai bejana tanah liat yang mudah retak.
Mengingat kembali ke belakang tentang apa yang telah saya buat sebagai imam, ternyata hanya seperti sebutir pasir di lautan. Sangat kecil dan tidak nampak pengaruhnya dalam karya Tuhan yang maha besar.
Kerapuhan dan kelemahan itulah kenyataan yang dipakai Tuhan untuk menjadi alat-Nya. Sebagai manusia yang lemah sering gagal melaksanakan tugas-tugas. Sebagai pribadi yang rapuh, masih sering mementingkan egoisme pribadi.
Ditunjuk sebagai pastor paroki, kadang bertindak sewenang-wenang; suka sok kuasa, cari hormat, pengin dihargai.
Ditugaskan untuk menjadi gembala, sering meninggalkan domba-domba, suka mencari jalan sendiri, sering mencari alasan meninggalkan tugas.
Ditugaskan untuk menjadi pewarta, sering mewartakan diri sendiri, senang pujian, cari popularitas.
Ditugaskan untuk berdoa dan menguduskan, hidup rohaninya berantakan, doa-doa harian terbengkelai dengan alasan sibuk pelayanan.
Sadar akan kerapuhan dan kelemahan, yang tinggal hanya kesediaan untuk dibentuk dan diubah. Pertobatan terus menerus.
Kasih Tuhan yang memanggil lebih besar daripada kerapuhan diri. Belas kasih Tuhan sungguh nyata karena Dia mau memakai yang lemah untuk tugas perutusan-Nya.
Demikianlah Tuhan memanggil keduabelas rasulnya untuk menyertai Dia, dan diutus-Nya memberitakan Injil.
Mereka-mereka itu adalah orang-orang biasa yang lemah, miskin, sederhana dan belum sempurna.
Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus dan teman-temannya adalah orang-orang sederhana yang dipanggil untuk menyertai Dia. Duabelas rasul ini dibentuk untuk belajar dari Guru Sejati.
Mereka diajak terlibat dalam perjalanan dan karya Yesus menuju Yerusalem. Mereka pun sering gagal, jatuh bangun.
Kendati lemah, rapuh, tidak sempurna namun pada akhirnya mereka menunjukkan kesetiaan total pada Sang Guru.
Kendati Petrus pernah menyangkal Yesus, namun akhirnya dia berani mati di salib seperti Gurunya. Begitu pula rasul yang lain, mereka menjadi martir membela imannya.
Setia kendati lemah. Terus maju kendati jatuh bangun. Berani bangkit kendati pernah gagal. Tetap percaya kendati tidak selalu jelas masa depan.
Tuhan yang memanggil dapat dipercaya. Dia tidak pernah ingkar pada janji-Nya. Kasih Tuhan lebih besar daripada kelemahan kita.
Yesus telah menetapkan kita menjadi murid-Nya untuk setia menyertai Dia. Jangan pernah berhenti dan menoleh ke belakang. Tuhan yang memanggil ada di depan kita.
Tadi siang dapat vaksin yang ketiga.
Bukan moderna tapi astrazeneca.
Kita dipanggil menjadi murid-Nya.
Dia memilih bukan yang sempurna.
Cawas, terus belajar setia…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 19, 2022 | Renungan
Markus 3: 7-12
Kreatif dan Tidak Terlena
KALAU kita melayani umat, kita harus bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi dimana umat berada. Ketika tugas di Kalimantan, kita harus pandai-pandai mengikuti situasi umat yang dilayani. Pandai melihat musim-musim apa yang sedang terjadi.
Kalau musim “Nugal” atau musim nabur benih di ladang, kita bisa mengadakan ekaristi di pinggir ladang dimana mereka bisa berkumpul.
Kalau musim “Nuba” atau musim nangkap ikan di sungai, kita bisa melayani mereka di pinggir sungai.
Kalau musim “Nyandau” atau musim mungut buah durian jatuh, kita bisa misa di pondok-pondok mereka di hutan.
Kalau bulan November, kita bisa misa di makam-makam kampung untuk mendoakan arwah.
Meja altar dibikin seadanya. Bahkan ketika tidak ada meja, kami hanya menggelar selembar kain. Kami semua duduk di tanah, merayakan ekaristi seadanya. Salib dibuat dari batang kayu yang dipalangkan dan diikat tali.
Yang penting umat tetap dilayani. Situasi dan kondisi apapun tidak menghalangi agar Tuhan dimuliakan dan iman dapat dirayakan.
Yesus sangat kreatif dalam melayani orang banyak. Saking banyaknya orang berhimpit-himpitan, Dia menyuruh para murid menyediakan sebuah perahu untuk-Nya, agar Dia bisa melayani dan mengajar orang banyak.
Yesus tidak terbelenggu pada keharusan ini itu. Aturan-aturan hanya dipakai sejauh membantu untuk melayani orang banyak.
Bahkan pada hari Sabat pun, Yesus tetap mengajar dan menyembuhkan mereka.
Banyak orang berhimpitan dan berdesak-desakan untuk menjamah jubah-Nya. Mereka yang sakit mencari Dia untuk disembuhkan.
Bahkan roh-roh jahat pun mengenali Dia. Mereka berteriak-teriak menyebut Dia sebagai Anak Allah. Yesus justru dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.
Banyak orang hebat jatuh karena terlena oleh popularitas. Ketika semua orang memuja dan mengelu-elukan, banyak yang terbuai dan akhirnya tersandung.
Banyak orang-orang top tersandung karena popularitas.
Kendati banyak orang datang dari mana-mana, mereka berhimpit memuja-Nya, mereka ingin menjamah jubah-Nya, dan bahkan setan-setan pun takluk kepada-Nya, namun Yesus hanya fokus untuk pelayanan bagi mereka yang menderita.
Yesus tidak tergoda oleh popularitas dan kuasa. Ia melarang roh-roh jahat menyebarkan nama-Nya. Ia hanya memusatkan perhatian bagi perutusan-Nya yakni membawa keselamatan manusia.
Ketika kita sudah di puncak, kita tidak boleh terlena. Di puncak, bahaya justru makin besar. Tiupan angin makin kuat, kita harus berhati-hati menjaga komitmen dan konsistensi cita-cita.
Tetap fokus pada tujuan semula dan jangan tergoda oleh pujian dan kesuksesan sementara.
Bagaimana Yesus tetap fokus pada tugas perutusan, dan tetap kreatif dalam pelayanan dapat menjadi cara bagi kita untuk mengikuti-Nya.
Ke Muntilan beli tape ketan
Dibawa naik bus ke Ambarawa
Popularitas itu bisa jadi godaan
Jangan mudah terlena dibuatnya
Cawas, fokus pada cita-cita….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 19, 2022 | Renungan
Pekan Doa Seduania
Markus 3: 1-6
Kebencian Dimulai Dari Kedegilan.
HAKIM bertanya kepada pembunuh Presiden Mesir, Anwar Sadat; “Kenapa kamu bunuh Sadat?”
Pembunuh itu menjawab; “Sebab dia sekuler.” Hakim bertanya lagi; “Apa kamu tahu arti sekuler? Apa maksudnya sekuler?”
Si pembunuh menjawab; “Tidak tahu.”
Ada lagi kasus percobaan pembunuhan oleh seorang teroris kepada Naguib Mahfoud, penulis Novel The Children of Our Neighbourhood.
Hakim bertanya; “Kenapa kamu menikam Mahfoud?”
Teroris itu menjawab; “Karena tulisan di novelnya.”
Hakim bertanya lagi; “Apakah kamu sudah membaca isi novelnya?”
Teroris itu menjawab; “Belum.”
Kasus yang sama menimpa Faraj Fouda, seorang penulis di Mesir.
Hakim bertanya kepada pembunuh Fouda, “Kenapa kamu membunuh Faraj Fouda?”
Teroris itu menjawab, “Sebab dia pengkhianat.”
“Dari mana kamu tahu bahwa dia pengkhianat?”
“Dari buku-buku yang dia tulis,” Jawabnya.
Hakim bertanya, “Buku dia yang mana yang membuat kamu bisa menarik kesimpulan bahwa Fouda adalah pengkhianat?”
Teroris itu menjawab, “Saya belum pernah membaca buku-bukunya.”
“Kenapa?” cecar sang hakim.
Teroris itu berkata, “Saya buta huruf.”
Apa pelajaran dari kisah-kisah di atas? Kebencian tidak pernah tersebar lewat ilmu pengetahuan. Kebencian selalu tersebar lewat kedegilan, kedunguan, kebodohan.
Orang yang punya akal sehat tidak mudah ditipu atau dibodohi.
Yesus mewartakan kebaikan. Ia menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat.
Orang-orang Farisi ada di situ dan mengamat-amati Dia. Yesus bertanya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?”
Mereka diam saja. Yesus jengkel karena kedegilan hati mereka.
Kaum Farisi itu belajar hukum tetapi tidak menerapkannya. Hukum hanya dipakai untuk menyalahkan orang lain dan membenarkan dirinya sendiri.
Kedegilan inilah yang membuat mereka membenci Yesus.
Karena kedegilan hati itu, mereka bersekongkol, memprovokasi orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus.
Mereka mengipas-ipasi bara panas untuk mengobarkan permusuhan.
Hukum agama yang seharusnya membuat orang menjadi lebih baik, lebih bersaudara, lebih sabar, lebih rendah hati, lebih damai, tetapi justru dipakai untuk membunuh, menghancurkan, memusuhi dan menyengsarakan.
Jangan mudah dibohongi oleh kedegilan yang mengatasnamakan agama.
Jangan mudah ditipu oleh mimpi-mimpi yang meninabobokan. Jangan mudah dibodohi dan diprovokasi.
Gunakan akal sehat, karena dengan akal sehat hidup kita akan selamat.
Pagi-pagi sudah turun hujan
Mendung tebal terlihat di angkasa
Apa artinya mencintai Tuhan
Kalau tidak bisa mengasihi sesama
Cawas, mari semakin bersaudara….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 18, 2022 | Renungan
Pembukaan Pekan Doa Sedunia
Markus 2: 23-28
Aturan Hari Sabat
KAUM Farisi sangat ketat dalam menerapkan hukum Taurat. Mereka ingin menjaga agar hukum dijalankan dengan baik.
Berhadapan dengan kekafiran yang disebarkan dalam budaya Romawi, mereka harus menjaga penerapan hukum dijamin seratus persen.
Sayangnya mereka kemudian jatuh pada legal formal atau penerapan hukum yang kaku tidak pandang bulu.
Melihat para murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat, sinyal “warning” mereka langsung berdiri.
Mereka tidak bisa menerima hukum Sabat dilanggar dengan seenaknya. Mereka menerapkan apa yang tertulis dalam Kitab Keluaran 20: 8-11 bahwa tidak diperkenankan orang melakukan sesuatu pada hari Sabat.
Dasar mereka jelas dan pasti. Mereka dibenarkan untuk mengingatkan orang agar jangan melanggar aturan.
Menghadapi situasi ini, Yesus menjawab dengan mengambil referensi dari peristiwa Raja Daud dalam Kitab 1Sam 21: 1-6.
“Belum pernahkan kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengiringnya kekurangan dan kelaparan? Tidakkah ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai imam agung lalu makan roti sajian – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberikannya juga kepada pengikut-pengikutnya?”
Kita diajak untuk tidak mudah menghakimi atau menyalahkan orang lain dengan menerapkan hukum yang kaku.
Kaum Farisi menjadi kelompok yang suka menuduh dan menyalahkan orang. Mereka bertindak sebagai hakim yang paling berkuasa. Lalu muncul tindakan opresif yang menyengsarakan orang lain.
Yesus menghendaki agar hukum tidak membuat manusia menjadi lebih sulit dan menderita, tetapi untuk membantunya menjadi lebih baik dan bermartabat.
Dalam diskusi ini Yesus lebih berpihak untuk membela manusia daripada hukum yang membelenggu. Ia lebih menekankan ajaran kasih dan pengampunan daripada ketaatan pada hukum yang buta.
Kita belajar untuk tidak menghakimi orang hanya berdasarkan hukum tertulis yang kaku.
Manusia harus ditempatkan di atas hukum. Maka Yesus mengatakan, “Anak Manusia adalah Tuhan, juga atas hari Sabat.”
Peri kemanusiaan semestinya dijunjung lebih tinggi dari aturan legal formal. Hukum dibuat untuk kesejahteraan manusia bukan untuk menindas dan membelenggunya.
Sikap Yesus ini semoga bisa menjadi model bagi kita bagaimana memperjuangkan kemanusiaan di tengah kehidupan bersama.
Bunga mawar bunga melati.
Ditanam rapi di pinggir kali.
Mari kita lebih mengasihi.
Daripada kita menghakimi.
Cawas, kasihilah sesamamu…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 16, 2022 | Renungan
Markus 2: 18-22
Beda Zaman, Beda Generasi.
Beda Wadah, Beda Isi.
ALEXIS Abramson, seorang ahli dalam pengelompokan generasi, mengatakan, perbedaan waktu kelahiran menghasilkan karakteristik generasi yang berbeda.
“Kapan Anda lahir memengaruhi sikap Anda, persepsi Anda, nilai-nilai yang Anda yakini, dan perilaku Anda,” kata Abramson.
Generasi manusia modern dibagi menjadi: generasi baby boomer, Gen X, Gen Y atau milenial, Gen Z dan Gen Alpha.
Mereka dikelompokan berdasarkan tahun kelahiran. Generasi Baby Boomer lahir setelah perang dunia II sampai tahun 1964.
Mereka adalah generasi yang mandiri, kompetitif dan komitmen tinggi. Rasa bersaingnya sangat besar agar mendapat tempat di masyarakat.
Generasi X lahir tahun 1965-1980. Mereka tumbuh ketika teknologi berkembang pesat namun belum secanggih sekarang ini.
Mereka hidup diantara teknologi digital dan non digital. Mereka memahami pentingnya dua hal itu.
Generasi Y atau milenial lahir antara tahun 1980-1996. Sering digambarkan sebagai generasi “pemalas” yang lebih suka menghamburkan uang untuk beli es kopi susu daripada ditabung untuk beli rumah.
Setiap generasi punya karakteritik yang berbeda. Tidak mungkin generasi baby boomers dimasukkan ke generasi milenial. Tidak akan cocok dan bisa stress semuanya.
Banyak orang bertanya kepada Yesus, kenapa murid-murid-Mu tidak berpuasa? Sedang murid-murid Yohanes dan para Farisi berpuasa.
Yesus menjawab ada saatnya orang berpuasa yakni ketika pengantin diambil dari mereka. Ketika pengantin ada, mereka bersuka cita, dan tidak berpuasa.
Masing-masing ada waktu dan tempatnya. Tidak bisa dicampur adukkan begitu saja.
Sama seperti menambal baju yang sudah tua dengan kain yang baru. Atau tidak mungkin mengisikan anggur baru ke dalam kantong yang sudah tua. Kantong itu akan koyak dan anggurnya akan terbuang sia-sia.
Yesus datang membawa nilai-nilai baru. Bukan hanya soal-soal lahiriah semata tetapi makna terdalam dari aturan-aturan itu yang perlu dipahami.
Kalau kita melakukan sesuatu hanya asal meniru, namun tidak memahami makna terdalamnya, kita hanya melakukan sesuatu sia-sia saja.
Yesus mengajak kita bersikap kritis terhadap segala aturan, tradisi dan kebiasaan. Jangan hanya asal melakukan tetapi tidak mengerti makna yang paling dalam.
Mari kita melakukan sesuatu dan sadar tentang apa yang kita lakukan itu.
Kita tidak akan latah semaunya memasukkan anggur baru ke kantong yang sudah tua.
Anggur baru ada di kantong baru.
Baju tua mudah sobek kainnya
Yesus membawa hukum yang baru.
Mengasihi sesama manusia.
Cawas, semoga anda bahagia…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Aug 20, 2021 | Renungan
“Mengajarkan Tetapi Tidak Melakukan”
MASIH ingat nama model judi zaman dulu? Zaman orde lama ada Nalo (Nasional Lotre) atau sering disebut Lotre Buntut. Orang hanya menebak dua angka dari deretan 4 angka. Hadiahnya lumayan mulai 10.000 – 500.000 waktu itu.
Judi pernah dilegalkan zaman Ali Sadikin menjadi Gubernur Jakarta. Zaman Orde Baru bahkan beredar secara nasional.
Namanya SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah), lalu ada lagi Porkas (Pekan Olahraga dan Ketangkasan), judi di ranah olahraga.
Dulu banyak orang “pinter” yang bisa menebak angka. Orang menyebut “dukun.” Orang pinter atau dukun itu sering didatangi orang untuk bertanya, nomor berapa yang akan muncul di undian SDSB.
Dukun juga bisa menafsir mimpi atau peristiwa yang dihubungkan dengan undian.
Pernah ada kecelakaan bus, orang bertanya kepada dukun untuk “utak-atik” angka nomor kendaraannya. Angka itu dipasang di undian. Berharap semoga tembus…
Kadang saya heran, kalau dukun itu tahu nomor yang akan keluar, kenapa dia tidak membeli sendiri supaya dia bisa tembus dan kaya?
Muncul pertanyaan ngelantur bagi para pencetak teroris; kenapa mereka harus mencari “pengantin” untuk melakukan bunuh diri kalau tahu dengan cara itu pasti masuk surga dan ketemu bidadari?
Mereka adalah orang-orang pinter, yang bisa mengajarkan tetapi tidak berani ambil tindakan untuk masuk surga.
Dalam Injil, Yesus memperingatkan kepada para murid tentang ragi orang Farisi. “Mereka itu mengajarkan tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang. mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang.”
Kemunafikan itulah yang terpampang pada pemimpin orang-orang Farisi. Semua serba permukaan.
Kesucian artifisial yang dipamerkan kepada khalayak. Senang disebut “Rabi” atau Yang Mulia. Senang disanjung dan dipuja-puja. Baju kebesaran serba putih bersih walau kedodoran tidak risih. Yang penting dihormati sih.
Dari sikap-sikap seperti itu Yesus mengajarkan kepada kita, “Siapapun yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barang siapa meninggikan diri, akan direndahkan, dan barang siapa merendahkan diri, akan ditinggikan.”
Yesus memberi teladan sikap merendahkan diri. Kendati Ia adalah Putera Allah, sudi menjadi manusia. Ia yang adalah guru, mau membasuh kaki murid-Nya. Ia yang tidak berdosa, mau hidup menyatu dengan para pendosa.
Marilah merendahkan diri dan melayani karena demikianlah Tuhan memberi teladan kepada kita semua.
Mendung tiada sinar matahari.
Menunggu hujan tak berhenti.
Jangan meniru perilaku kaum Farisi .
Hanya cari pujian dan harga diri.
Cawas, tetap semangat ….
Rm. Alex. J. Purwanto, P