by editor | Jan 29, 2021 | Renungan
Ukuran Seorang Tukang Jahit
SEORANG penjahit terkenal, Roshan Melwani sering diminta untuk membuatkan pakaian orang-orang top. Ia mengukur dengan teliti desain dan polanya. Apa yang dihasilkannya sangat disukai banyak orang. Pelanggannya bukan orang biasa, tetapi orang-orang hebat, mulai dari artis top sampai presiden.
Dia punya sebuah trik atau prinsip dalam menggeluti pekerjaannya. “Berikan apa yang konsumen inginkan.” Ukurannya bukan apa yang dia suka, tetapi apa yang dimaui konsumennya. Ia ingin memuaskan pelanggannya.
Ia membuat ukuran demi kepuasan pelanggan. Karena dia sangat menghargai konsumennya, maka hasil karyanya disukai banyak orang dan dihargai tinggi. Ia mengukur bukan berdasarkan penilaiannya sendiri, melainkan apa yang diingini kustomernya.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya dalam pengajaran-Nya, “Camkanlah apa yang kamu dengar. Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan dikenakan pula padamu, malah akan ditambah lagi.”
Kalau kita menilai atau mengukur orang lain dari segi kedisiplinannya, ukuran disiplin itu juga akan diukurkan atau diterapkan pada kita, bahkan mereka bisa menuntut lebih. Begitu pula kalau kita menuntut orang lain jujur, maka nilai kejujuran itu akan dituntut dari kita juga.
Prinsip moralnya adalah apa yang kamu kehendaki orang lain perbuat bagimu, perbuatlah juga demikian untukmu. Jangan sampai kita hanya seperti “tong kosong berbunyi nyaring.” Banyak ngomong menuntut orang lain berbuat demikian, tetapi kita tak pernah melakukannya.
Seperti Roshan itu, kalau kita ingin dihargai, maka hargailah keinginan atau harapan pelangganmu. Ukuran apa yang kita cantolkan kepada seseorang, begitu pun ukuran itu akan dipakaikan kepada kita.
Taplak meja berbentuk segitiga.
Gambarnya aneka jenis bunga.
Kalau kita mengukur dan menilai sesama.
Nilai itu akan diterapkan pada kita.
Cawas, bunga mekar….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 26, 2021 | Renungan
AWAL-AWAL tugas di Nanga Tayap, saya diajak oleh OMK untuk mendampingi camping. Jangan membayangkan sebuah tempat wisata dengan tenda-tenda yang siap dengan segala peralatan serba enak. Mereka memilih sebuah tempat lapang di pinggir Sungai Tigal, di tengah kawasan hutan.
Pak Lengkeng, Juki dan OMK dewasa mendirikan tenda dari terpal, begitu pun alasnya. Apa pun yang ada di hutan dipakai untuk membuat tempat berteduh.
Ketika mau misa pembukaan, Juki punya ide kreatif. Karena tanah datarnya sempit, mereka duduk di pinggir sungai. Juki dan Lengkeng membuat altar di sungai yang dangkal. Mereka menumpuk batu-batu dan di atasnya diberi papan. Bu Dora dan Asih mengalasi altar dengan kain. Ada yang memotong kayu, dibuat salib dan ditancapkan di samping altar. Sangat eksotik.
Para OMK duduk tanpa alas di tanah yang datar. Saya memimpin misa di pinggir sungai yang dangkal. Airnya jernih mengalir deras setinggi mata kaki.
Setelah misa kami berpesta makan buah nangka, hasil buruan Pak Lengkeng di tengah hutan. Buahnya besar-besar dan sangat manis. Mungkin sisa-sisa para monyet di hutan.
Yesus mengajar di tepi danau Galilea. Datanglah orang yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia. Para murid yang nelayan itu punya ide kreatif. Yesus disuruh duduk di sebuah perahu dan orang-orang ada di pinggir danau. Yesus leluasa mengajar banyak hal tanpa didesak-desak orang banyak.
Yesus berbicara dengan perumpamaan. Kali ini seorang penabur menaburkan benih. Ada yang jatuh di pinggir jalan, ada yang di tanah berbatu, ada yang di semak berduri, dan sebagian di tanah yang subur.
Benih itu adalah sabda Allah. Tanah itu adalah para pendengarnya. Tanah yang baik akan menghasilkan buah berlipat-lipat. Tanah yang tidak baik tidak menghasilkan secara maksimal.
Kalau kita ini diumpamakan sebagai tanah, lalu tanah macam apakah kita ini? Berbatu-batu atau penuh semak duri, atau tanah yang subur? Jika tanah subur, seberapa besarkah hasilnya? Jika belum menghasilkan buah, apa yang harus kita lakukan?
Silahkan direnungkan sendiri.
Kain sutera bersegita ungu.
Menghiasi di atas meja rapat.
Tuhan menaburkan benih baru.
Berharap hasilnya berlipat-lipat.
Cawas, bermain double….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 25, 2021 | Renungan
“Dwi Tunggal”
KITA mempunyai uang kertas paling tinggi nilainya, yaitu seratus ribu rupiah. Di situ ada gambar dua orang paling berjasa bagi Indonesia yakni Sukarno dan Mohamad Hatta. Nama keduanya tak bisa dipisahkan. Dalam naskah proklamasi kedua nama itu tertera mewakili seluruh rakyat Indonesia menjadi bangsa merdeka.
Keduanya berjuang demi Indonesia merdeka. Nama keduanya tertulis dalam tinta emas sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama dari bangsa yang masih muda.
Sayang dwi tunggal itu bubar setelah sepuluh tahun Indonesia merdeka. Hatta mundur karena tidak setuju dengan ide politik Sukarno yang mengusulkan pemerintahan dengan sistem demokrasi terpimpin. Model seperti itu hanya akan melahirkan diktator.
Hari ini kita memperingati dalam gereja tokoh dwitunggal yakni Timotius dan Titus. Keduanya adalah murid St. Paulus. Timotius memimpin jemaat di Efesus.Titus menjadi uskup di Kreta. Timotius sering menjadi teman Paulus dalam perjalanan mewartakan Injil. Titus sering diutus memperdamaikan pertikaian di antara jemaat. Timotius wafat sebagai martir seperti Paulus. Titus menjaga jemaat sampai akhir hayat dengan setia.
Pada saat ini pun Tuhan membutuhkan pekerja yang berani menjaga domba-domba-Nya. Tuhan membutuhkan pekerja-pekerja. “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”
Siapkah kita menjadi pekerja Tuhan, diutus masuk seperti domba di tengah-tengah serigala? Memang tidak mudah menjadi pekerja. Kadang tidak diterima, tidak dipercaya, dibenci, digosipin dan tidak dianggap.
Jika kita benar-benar diutus, kita tidak boleh mundur dan putus asa.
Tugas kita adalah mewartakan kabar gembira dan Tuhanlah yang akan bekerja menyelesaikannya.
Mari kita tekun dan setia seperti St. Timotius dan Titus. Ketekunan akan membuahkan hasil yang berlimpah pada saatnya.
Naik kuda keluar masuk kota.
Jangan lupa memakai kacamata.
Kita diutus wartakan kabar gembira.
Mari kita jalani dengan sukacita.
Cawas, jangan lupa bahagia….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 24, 2021 | Renungan
“Aswatama Tidak Percaya”
ASWATAMA diusir dari istana Hastinapura karena menuduh Prabu Salya berbuat licik hingga menyebabkan Karna gugur. Ia lari ke hutan sampai perang Baratayuda selesai.
Ketika tahu para ksatria Kurawa sudah habis, ia berniat membalas sakit hati dan maju berperang menghabisi para Pandawa dan keturunannya.
Waktu itu Parikesit, anak Abimanyu sudah lahir. Dialah pewaris tahta Hastinapura setelah kerajaan dikuasai para Pandawa. Aswatama ingin membunuh Parikesit. Tapi dia bingung bagaimana caranya menuju ke Keputren Wirata.
Bathari Wilutama, ibunya datang membantu. Aswatama disuruh membuat “luweng” atau lorong bawah tanah menuju Keputren. Lorong itu sangat gelap.
Untuk memberi terang di lorong yang gelap itu, Bathari Wilutama mau membantu tetapi ada syaratnya. “Anakku Aswatama, aku akan berjalan di belakangmu memberi cahaya agar jalanmu terang benderang, tetapi engkau tidak boleh menoleh ke belakang, apakah kamu sanggup?” Aswatama menyanggupi.
Lorong yang gelap itu seketika terang benderang seperti disinari matahari. Aswatama dengan mudah menyusurinya.
Lama kelamaan dia curiga dan tidak percaya, seorang perempuan bisa membawa cahaya yang begitu terang. Ia menoleh ingin melihat apa sebenarnya cahaya itu. Dia terperangah, karena cahaya itu berasal dari matahari kembar dari dada Bethari Wilutama.
Sang Bethari terkejut ketika Aswatama menoleh ke belakang, seketika itu juga dia hilang dan kegelapan melingkupi Aswatama.
Terdengar suara Wilutama, “Heh.. Aswatama, anak tak tahu diuntung. Karena kamu mengingkari janjimu, kamu nanti akan mati oleh bayi yang sedang menyusui.” Benarlah, Aswatama mati di tangan Parikesit. Karena tidak percaya dan melanggar janjinya, ia dihukum.
Hari ini Gereja merayakan pertobatan St. Paulus. Ia percaya seyakin-yakinnya bahwa Yesuslah Putera Allah. Paulus kemudian mewartakan Injil Yesus ke segala penjuru dunia. Ia rasul bagi segala bangsa.
Yesus memberi perintah agung bagi murid-murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”
Aswatama tidak percaya dan melanggar perintah ibunya, Bethari Wilutama. Ia dihukum. Niatnya untuk membalas dendam tidak tercapai. Bahkan dia sendiri dibunuh oleh seorang bayi yang masih menyusui, yakni Parikesit.
Mari kita percaya kepada Injil, dan memberitakannya kepada semua orang. Teladan hidup baik itulah cara kita membawa Injil kepada semua orang.
Kalau kita terserang virus corona.
Salah satu gejalanya adalah batuk-batuk.
Perintah agung diberikan kepada kita.
Wartakan Injil kepada segala makhluk.
Cawas, baju batik Bali…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 23, 2021 | Renungan
“Misteri Panggilan Tuhan”
BEBERAPA tahun lalu kami berkunjung ke rumah Romo Supriyatno MSF di wilayah Gemolong, Sragen. Kunjungan keluarga para imam Rayon Sleman waktu itu. Rombongan kami diterima dengan sukacita. Sedang ngobrol asyik sambil makan sajian yang dihidangkan keluarga, ayah Romo Supri pamit, “Ngapunten para romo, kula badhe nimbali tiyang sembahyang Zuhur.” (Maaf para romo, saya akan memanggil orang sembahyang Zuhur).
Saya sungguh kagum dengan ayah Rm. Supri. Ia seorang muazin yang saleh dan taat. Ia selalu berdoa di mushola persis depan rumahnya. Ia bertugas memanggil orang-orang untuk rajin berdoa, memuji Yang Mahakuasa.
Tidak heran kalau anaknya, Romo Supriyatno juga dipanggil untuk melayani Tuhan. Ayahnya menjadi imam di mushola, anaknya menjadi imam di gereja. Sama-sama mengabdi Tuhan yang esa.
Panggilan Tuhan itu memang sebuah misteri. Ini juga dialami oleh Robertus Belarminus Asiyanto SVD, imam katolik yang ditahbiskan 2015 yang lalu di Ledalero, Maumere. Ibunya, Siti Asiyah, membesarkan Asiyanto seorang diri. Ketika anaknya minta ijin masuk Seminari, Mama Asiyah berkata, “Kamu ikuti panggilan hati kamu.”
Yesus datang mewartakan Injil Kerajaan Allah. “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Ia kemudian memanggil murid-murid-Nya.
Simon dan Andreas yang sedang menebarkan jala dipanggil mengikuti-Nya. “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Begitu pula Yakobus dan Yohanes dipanggil mengikuti-Nya.
Kita semua dipanggil untuk mengikuti-Nya. Ada yang dipanggil khusus menjadi imam, bruder suster. Tetapi menjadi awam pun juga dipanggil kepada kekudusan.
Menjadi apa itu tidak penting, tetapi menjadi kudus itulah yang paling penting. Mari kita setia pada panggilan kita masing-masing.
Gunung Merapi nampak di kejauhan.
Indah tetapi juga mengkawatirkan.
Semua orang dipanggil oleh Tuhan.
Untuk kebahagiaan dan kekudusan.
Cawas, bahagia itu…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Jan 22, 2021 | Renungan
SEORANG ibu mengeluhkan anaknya yang tak pernah lepas dari HP. “Kalau anak sudah pegang HP miring, dah gak ingat apa-apa lagi. Disuruh makan susah, disuruh mandi malas. Waktunya habis untuk game.” Keluh seorang ibu.
“Anak saya marah dan berteriak-teriak kalau HPnya diambil papanya. Mereka jadi malas belajar,” ibu lain menimpali. “Mereka itu kalau sudah main game tidak kenal waktu, bahkan sampai larut malam pun dilakoni. Mereka sudah kecanduan game.”
“Uang saku yang harusnya untuk jajan, malah untuk beli kuota demi bisa main game. Gak peduli perut lapar, tidak makan seharian. Bermain game tidak bisa diputus barang sejenak.” Begitu keluhan banyak orangtua.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah memasukkan kecanduan main game sebagai gangguan kejiwaan. Gangguan itu digolongkan sebagai Gaming Disorder. Karena kecanduan game, orang bisa lupa belajar, sekolah kacau, kuliah DO atau dipecat dari pekerjaannya. Kecanduan itu sudah menjadi penyakit. Orang sudah tidak waras lagi. Tak mampu berpikir rasional.
Dalam Injil hari ini, sanak kerabat mengkawatirkan Yesus sebagai “workaholic.” Yesus melayani begitu bayak orang sakit yang butuh disembuhkan. Mulai dari pagi siang malam, Yesus terus bekerja. Bahkan makan pun tidak sempat saking banyaknya orang.
Sanak kerabat-Nya menuduh Yesus, “Ia tidak waras lagi.” Ini harus dihentikan. Yesus gila kerja, melayani orang sedemikian sampai makan pun tidak ada waktu. Itulah totalitas pelayanan. Tetapi bagi orang lain bisa dianggap “tidak waras.”
Beranikah kita melayani Tuhan dengan total sampai tuntas? Ataukah waktu kita habis untuk hobby atau kesenangan pribadi?
Ke hutan mencari akar-akar bajakah.
Ternyata hanya dapat batang lengkuas.
Melayani Tuhan tidak boleh setengah-setengah.
Yesus memberi teladan tentang totalitas.
Cawas, piknik tertunda….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
*Pesan* *Sponsor* :
Para sahabat yg blm ngelike IG wwmeindonesia. Mohon bantu di-like ya. ???
https://www.instagram.com/p/CJqLzgTFly1/?igshid=gmqnrljqw0xp.
Ditunggu sampai 31 Januari 2021.
Beli tahu rasa bacem.
Matur tengkyu berkah dalem.