Puncta 03.11.20 / Lukas 14:15-24 / Pusak-Pusak

 

ADA kebiasaan atau tata krama di Dayak, kalau kita bertamu, tuan rumah akan manawari kita makan atau minum. Sekali kita menolak, mereka tidak akan menawari lagi. Mereka tidak perlu berbasa-basi. Jika ya maka akan disediakan, jika tidak mau berarti tidak akan ada tawaran kedua atau ketiga.

Adat mereka untuk menolak suatu tawaran makan atau minum adalah dengan “pusak-pusak.” Tindakan ini berarti menolak dengan sopan. Caranya kita menyentuh barang-barang makanan atau minuman yang disediakan dengan tangan, kemudian menempelkannya di mulut lalu kita mengucapkan permintaan maaf tidak bisa menikmati hidangan tersebut.

Percaya atau tidak, kalau kita tidak melakukan “pusak-pusak”, kita akan mengalami “kampunan”, petaka atau sial.

Saya sudah mengalami sendiri. Suatu kali saya singgah di rumah ketua umat. saya ditawari untuk makan. Karena masih kenyang dan terburu hendak pulang, saya tidak melakukan “pusak-pusak”. Di tengah perjalanan, ban motor saya bocor. Saya tidak percaya. Tetapi hal itu bisa terjadi. Tiba-tiba kena hujan, padahal sebelumnya tidak ada mendung. “Pusak-pusak” adalah tindakan menolak dengan hormat dan tidak mengecewakan si tuan rumah.

Dalam Injil Yesus memberi perumpamaan tentang orang-orang yang menolak undangan pesta dengan tidak hormat. Ada sikap dari kaum Farisi bahwa merekalah yang berhak menikmati perjamuan Allah itu. Maka muncul pernyataan dari seorang Farisi, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.”

Lalu Yesus memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih atas undangan Allah itu. Ada yang menolak undangan dengan alasan baru saja membeli ladang. Yang kedua menolak karena baru saja membeli lima pasang lembu, dan akan mencobanya. Yang ketiga menolak dengan alasan baru saja menikah.

Yesus sedang menyindir kaum Farisi. Merekalah sebetulnya yang diundang ke pesta. Mereka adalah bangsa terpilih, terundang masuk ke perjamuan. Tetapi mereka justru menolak dan tidak mau menanggapi undangan itu.

Maka undangan itu dialihkan kepada bangsa-bangsa lain. Siapa pun yang berada di simpang jalan dipanggil masuk ke perjamuan Tuhan. Kita semua, orang berdosa ini diundang masuk ke pesta-Nya. Siapkah kita ikut masuk ke rumah-Nya?

Malam-malam merindukan bulan.
Sayang tertutup oleh kabut dan mega.
Perjamuan Tuhan adalah undangan.
Kita diajak siap untuk menanggapinya.

Cawas, menanti senja….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.11.20 / Peringatan Arwah Semua Orang Beriman / Yohanes 6:37-40

 

“Jangan Ada Yang Hilang”

“SELESAIKAN dulu tugasmu, baru kamu akan dibayar. Ada 28 murid di sini. Saat saya kembali saya ingin tak satu pun murid pergi dari sekolah ini. Apabila saat saya pulang nanti semua murid saya masih ada, kamu boleh meminta 50 Yuan pada Kepala Desa,” kata Pak Guru Gao.

Itulah pesan yang disampaikan Pak Guru Gao kepada gadis kecil Wei Minzhi yang akan menggantikannya sementara menjadi guru anak-anak sekolah miskin di pedalaman. Dengan segala keterbatasan, ia menjalankan tugas yang diberikan Pak Gao. Tidak boleh satu murid pun pergi atau hilang dari sekolah.

Guru Wei menolak ketika ada pencari bakat datang ke sekolah untuk mengambil seorang murid yang pandai lari. Ia akan dibawa ke kota untuk sekolah atlet. Guru Wei menyembunyikan anak ini. Tetapi kepala desa menyuap seorang anak agar menunjukkan dimana tempat persembunyian. Anak ini dibawa ke kota dengan mobil. Guru kecil Wei mengejarnya tetapi sia-sia.

Suatu kali seorang anak “minggat” dari sekolah karena mencari kerja di kota. Zang Hui khe namanya. Ayahnya meninggal, ibunya terjerat hutang. Ia ingin bekerja untuk membantu ibunya.

Guru kecil itu ingat pesan Pak Gao, “Tidak boleh satu murid pun pergi dari sekolah”. Dengan segala daya ia pergi ke kota mencari murid yang hilang ini. Perjuangan mencari murid yang hilang di kota besar itu sungguh mengharukan. Uang sakunya habis, tidur di emperan stasiun dengan perut kelaparan.

Dengan usaha yang tak kenal lelah, ia beruntung berjumpa dengan wartawan televisi. Ketika diwawancarai, ia tak bisa berkata-kata. Dengan meneteskan air mata, ia berpesan kepada muridnya, yang entah ada dimana, “Zang Hui Khe, kembalilah ke sekolah, aku dan teman-teman merindukanmu.”

Zang Hui Khe menjadi gelandangan. Ia mengemis di warung makan. Pemilik warung kebetulan menonton siaran televisi. Ia mengenali wajah Zang Hui Khe. Anak itu memandang wajah gurunya di televisi. Ia meneteskan air mata.

Zang Hui Khe, anak yang hilang itu ditemukan. Ia kembali ke sekolah bersama Guru kecil. Dengan membawa banyak alat tulis bantuan para donatur, mereka disambut sukacita oleh anak-anak yang lain.

Yesus berkata, “Barangsiapa datang kepada-Ku tidak akan Kubuang….Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.”

Yesus menjamin siapa pun yang datang kepada-Nya akan selalu dijaga. Tidak akan dibuang. Ia juga menjamin keselamatan kita sampai akhir zaman. Kita akan dibangkitkan bersama-Nya. Mengapa kita masih ragu mengikuti-Nya?

Kita berdoa bagi semua arwah orang beriman, agar diselamatkan oleh Yesus Sang Guru Sejati Kehidupan.

Menuju Jakarta membawa kendaraan.
Bawa kunci di tas ikat pinggang biru.
Tuhan Yesus selamatkan orang beriman.
Bawalah mereka ke dalam kerajaan-Mu.

Cawas, pray for Nice…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 01.11.20 / HR. Semua orang Kudus / Matius 5:1-12a

 

“Berbahagialah yang Suci Hatinya”

Terkejut mendengar berita pembunuhan di Basilika Notre Dame di Nice, Perancis. Oktober tahun lalu, tepatnya 14 Oktober 2019 kami rombongan ziarah merayakan misa di salah satu kapel di basilika ini. Saya diantar menuju sakristi oleh koster yang ramah dan murah senyum ini. Perawakannya tinggi gagah. Ia memakai jas warna gelap dan sangat rapi. Ia menyiapkan peralatan misa dengan cekatan. Saya bertanya nama Bapa Uskup yang harus didoakan dalam Doa Syukur Agung. Dia menunjukkan foto beliau di meja sakristi berdampingan dengan foto Raja Monaco.

Simpati dan belarasa mengalir deras untuk Vincent Loques, koster di Basilika Notre Dame di Nice, Perancis yang dibunuh oleh seorang teroris Tunisia Brahim Aaoussaoui dengan teriakan takbir. Tidak hanya Vincent yang sedang bertugas pagi itu, tetapi seorang ibu tua yang sedang berdoa di gereja itu digorok oleh sang terorist. Simone Bareto Silva, perempuan paruh baya sedianya ingin berdoa. Dia pun ditusuk berkali-kali oleh pemuda beringas itu.

Ia sempat lari namun akhirnya rubuh di kafe samping basilika. Ia merintih meregang nyawa. Ia sempat berucap lirih, “Tell my children, I love them.”. Pesan kasih penuh kelembutan kepada anak-anaknya dan kepada kita semua. Ia tidak menyumpahi dan melaknat pembunuhnya. Ia hanya menyampaikan pesan kasih kepada orang lain.

Kamis 29 Oktober 2020 adalah Kamis kelabu bagi warga kota Nice yang tenang, damai. Kota yang tentram dan indah, dengan pemandangan eksotik di pinggir pantai. Ketenangan itu terusik oleh kebiadaban orang tak bertuhan walaupun ia berteriak menyebut nama Allah dengan lantang.

Hari ini kita merayakan arwah semua orang kudus. Saya yakin dan percaya Vincent dan dua ibu yang di bunuh di dalam gereja adalah orang-orang suci. Mereka sedang berdoa dan bertugas di dalam rumah Allah.

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Mutiara akan tetap cemerlang kemilau walau harus berada di tempat kotor. Kasih tetap bersinar indah walau berhadapan dengan kekerasan dan kebencian. Vincent dan Simone itu menjadi teladan kasih bagi kita. Mereka menjadi mutiara Gereja. Mereka menjadi barisan orang yang berbahagia di surga. Sabda bahagia Yesus itu sungguh nyata bagi mereka.

Tuhan, ampunilah mereka yang menebar teror dan kebencian. Ajarilah mereka bahasa kasih-Mu yang memaafkan. Semoga Vincent dan dua ibu itu damai abadi di surga.

Bunga melati bertebaran di mana-mana.
Menyambut martir suci hamba Gereja.
Vincent Loques dan Simone Bareto Silva.
Merekalah orang suci yang berbahagia.

Cawas, menyambut hari baru…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 31.10.20 / Lukas 14:1.7-11 / Abimanyu dan Buta Cakil

 

PEPATAH tong kosong nyaring bunyinya mau mengatakan bahwa tong yang bunyinya nyaring, keras dan lantang biasanya tidak ada isi sama sekali. Ibarat orang yang banyak omong tetapi tidak ada isinya. Orang menyombongkan dirinya tetapi ternyata kosong tidak sesuai dengan kenyataannya.

Pernah melihat adegan perang kembang dalam pewayangan? Disitu diceritakan seorang ksatria menghadapi Buta Cakil. Ksatria itu tenang, diam, tak banyak bicara, menguasai diri. Tetapi Buta Cakil itu “pethakilan” banyak tingkah, banyak bicara, menyombongkan dirinya. Ketika perang, yang banyak tingkah, ”pethakilan” yang sombong itu dengan mudah dikalahkan oleh ketenangan ksatria.

Orang sombong, omongannya tinggi-tinggi, muluk-muluk, mengaku anak pejabat atau orang kaya, ngaku punya barang mewah, mahal bermerek, cerita sering bepergian ke luar negeri, tetapi kalau diajak iuran, keluar sepeser pun tidak. Suka reuni ngumpulin teman-teman di rumah makan, tapi waktunya membayar di kasir, dia ngumpet ke WC alasannya sakit perut.

Kesombongan diri sebetulnya hanya akan merendahkan dirinya sendiri. Terlalu banyak bicara tetapi tidak ada kenyataannya hanyalah tong kosong. Lebih baik berbicara sesuai dengan faktanya. Itu akan membuat seseorang dipercaya. Tetapi terlalu banyak bicara yang tidak ada kenyataannya, justru tidak akan dipercaya dan orang lain tidak akan menghargainya.

Yesus membuat perumpamaan untuk orang-orang yang suka mengejar penghormatan diri. “Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin ada undangan yang lebih terhormat daripadamu.”

Orang mengira kalau berada di depan itu akan dihormati. Kalau tampil di muka dan banyak bicara itu akan dihargai. Bukan penampilan dan banyaknya kata-kata, tetapi justru tindakan nyata tanpa banyak kata-kata itulah yang akan membuat kita dihormati.

Jadi bukan apa yang nampak – penampilan lahiriah itu sering menipu – yang menumbuhkan harga diri. Tindakan nyata itulah yang paling penting.

Yesus menasehatkan supaya kita merendahkan diri. “Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Orang yang merendahkan diri di hadapan teman-temannya justru akan disegani dan dihormati. Tetapi orang yang suka menyombongkan diri justru tidak akan dipercaya dan dijauhi.

Jalan pagi memakai topi.
Biar tidak hitam kulitnya.
Marilah kita merendahkan diri.
Supaya kita banyak temannya.

Cawas, berkah melimpah..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 30.10.20 / Lukas 14:1-6 / Titanic, Penyelamatan Yang Dilematis

 

TENTU kita masih ingat kisah Titanic yang romantis itu. Di balik tragedi itu ada kisah-kisah yang luar biasa. Cinta dan kesetiaan, perjuangan dan pengorbanan. Menyelamatkan diri atau setia sehidup semati dengan pasangan. Ada dilema kehidupan yang harus dihadapi.

Rosalie Ida Straus dan Isidor Straus, suaminya baru saja menikmati liburan musim dingin di Cape Martin, Perancis selatan. Ia berencana kembali ke New York tempat bisnisnya dengan menumpang kapal super mewah RMS Titanic.

Tragedi datang ketika Titanic menabrak gunung es di tengah samudera. Kepanikan dan ketakutan terjadi. Perempuan dan anak-anak diselamatkan lebih dulu dengan sekoci. Ida Straus mendapat bagian di sekoci 8. Isidor sebagai orang kaya ditawari bangku istimewa di sisi istrinya. Tetapi dia berkata, “Tidak, aku tidak akan pergi dulu dari pria-pria lain ini.” Isidor tetap tinggal di dek bersama para lelaki.

Rosalie dibimbing masuk ke sekoci. Sekejap ada kebimbangan di hatinya. Masuk sekoci, selamat namun sendirian atau tetap bersama suami menghadang kematian. Secepat kilat ia berbalik dan memeluk suaminya. Ia dibujuk oleh petugas agar masuk ke sekoci. Tetapi ia justru memberikan bangkunya kepada pembantunya, Ellen Bird dan memberikan jaket mantelnya yang mahal. Ia tak mau berpisah dengan pria yang dicintainya. Ia tidak mau naik sekoci kendati menyelamatkan. Ia tidak ingin selamat sendiri.

“Aku tidak akan berpisah dengan suamiku. Hidup atau mati kami akan bersama-sama.” Kata Rosalie Ida Straus yang terlihat terakhir di dek kapal sedang bergandengan tangan dengan suaminya.

Yesus menghadapi sebuah dilema bersama orang-orang Farisi. Ia sedang makan di rumah orang Farisi. Datanglah seorang yang sakit busung air. Hari itu adalah hari sabat. Yesus bertanya, “Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka semua diam saja. Mereka bingung tidak bisa menjawab karena masalah yang dilematis.

Orang Farisi taat pada hukum Taurat. Pada hari Sabat tidak boleh bekerja. Di lain pihak ada orang sakit yang harus diselamatkan. Yesus makin mempertajam masalah dengan berkata, “Siapakah di antara kalian yang anak atau lembunya terperosok ke dalam sumur, tidak segera menariknya keluar, meski pada hari Sabat?”

Bagi Yesus nyawa orang lebih penting daripada taat hukum namun membiarkan orang menderita. Keselamatan orang di atas segalanya. Bagaimana sikap anda jika harus menghadapi masalah dilematis seperti itu? Pilihan mana yang akan anda ambil?

Malam-malam gelap gulita.
Sulit sekali memejamkan mata.
Jangan bingung menghadapi dilema.
Keselamatan orang adalah yang utama.

Cawas, Jumat berkat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 29.10.20 / Lukas 13:31-35 / The Burning Season, Perjuangan Tanpa Kekerasan

 

KEPALA kambing yang baru dipenggal itu tergantung di depan pintu rumah Wilson Pinheiro, pimpinan serikat pekerja di Chacoeira. Wilson dan teman-temannya menentang program pemerintah dan investor yang menebang hutan hujan Amazon, Brasil. Kepala kambing itu adalah teror, peringatan bagi Wilson dan serikat pekerja agar menghentikan perlawanan. Benar saja, ketika sedang mandi di biliknya yang sederhana, Wilson ditembak oleh orang tak dikenal.

Francisco Alves Mendes Filho Cena, atau yang lebih dikenal sebagai Chico Mendes di dilahirkan di Chacoeira, Brasil pada tanggal 15 Desember 1944. Dialah yang melanjutkan perjuangan Wilson dan kaum pekerja dari penindasan pejabat korup dan pengusaha tamak, Darly Alves da Silva. Intimidasi, teror dan ancaman pembunuhan juga dialami oleh Chico Mendes tetapi dia terus berjuang tanpa kekerasan. Chico Mendes pernah diingatkan oleh seorang wartawan, sahabatnya agar pergi meninggalkan desanya, karena anak buah Darly Alves mengincar nyawanya.

“…Hanya satu hal yang saya inginkan, kematian saya akan menghentikan impunitas terhadap para pembunuh yang dilindungi oleh polisi Acre…Seperti saya, para tokoh penyadap karet telah bekerja menyelamatkan hutan hujan Amazon, dan membuktikan, kemajuan tanpa penghancuran adalah mungkin”, katanya.

Chico Mendes hanya mengandalkan kata-kata, ide gagasan, pikiran jernih dan loby-loby sebagai senjata melawan penindasan terhadap petani karet. Ia terus berjuang di Chacoeira melawan penguasa korup dan pengusaha licik, kendati nyawa Chico Mendes menjadi taruhannya. Pada akhirnya Ia ditembak oleh preman Darly Alves. Namun perjuangannya terus menggema seantero Amerika selatan. Namanya diabadikan menjadi nama Taman Nasional Hutan Amazon di Brasil.

Yesus diperingatkan orang akan munculnya ancaman, teror dan intimidasi oleh penguasa.”Pergilah, tinggalkan tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Namun Yesus tak gentar dengan ancaman itu. Dia menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu, Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan esok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.”

Herodes digambarkan sebagai serigala, karena binatang itu kejam, rakus dan menakutkan. Serigala membunuh mangsa tanpa ampun.

Yesus tidak melawan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih dan kebaikan. Pejuang kemanusiaan memang harus menghadapi resiko kematian. Nyawanya sendiri menjadi taruhan. Begitulah Yesus berjuang sampai mati di salib. Perjuangan-Nya menjadi inspirasi bagi Chico Mendes, Martin Luther King, Munir, Marsinah.

Makan tengkleng isinya balungan.
Yang paling enak otak isi kepala.
Mari kita berjuang tanpa kekerasan.
Itulah ajaran Yesus kepada kita.

Cawas, mau beli tabernakel…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr