Puncta 28.10.20 / PW. St. Simon dan Yudas,Rasul / Lukas 6:12-19

 

“Ende dan Pancasila”

SELAMA empat tahun (1934-1938) Sukarno diasingkan di Pulau Ende. Ia dipisahkan dari sahabat dan para pendukungnya. Ia diisolasi dan dijauhkan dari politik. Ia tidak bisa berhubungan dengan para pejuang di Jawa. Tetapi dia punya dua teman diskusi yakni Pastor Johanes Bouma SVD dan Pastor Gerardus Huijtink SVD. Mereka menjalin persahabatan yang erat.

Karena itu Sukarno sering keluar masuk biara dan perpustakaan Nusa Indah untuk membaca buku. Di tempat yang hening dan tenang itu, Sukarno banyak merenung tentang ideologi bangsa. Buah-buah pikirannya didiskusikan dengan dua pastor itu. Kita bisa menggali kisah Sukarno ini dalam Buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara.

Dalam keheningan biara di Flores, dengan berdiskusi bersama para rohaniwan, dan diasingkan dari dunia luar, Sukarno merumuskan mutiara yang indah untuk Indonesia yakni Pancasila yang kita warisi sekarang ini.

Dikisahkan dalam Injil, Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Lalu keesokan harinya, Ia memilih duabelas murid yang dipanggil untuk menjadi rasul.

Yesus pergi dari keramaian. Ia mendaki bukit. Ia mencari keheningan untuk berdoa, berdialog dengan Allah. Pasti Ia berdiskusi dengan Bapa-Nya tentang perutusan-Nya ke depan. Yesus mengasingkan diri mencari tempat sunyi dan berdialog dengan Tuhan.

Sukarno itu diasingkan ke tempat sunyi, jauh dari hiruk pikuknya politik. Tetapi di tempat sunyi itu ia berjumpa, berdiskusi, berdialog dengan para pastor sahabatnya. Dari situ butir-butir Pancasila itu lahir.

Hasil dari diskusi Yesus dengan Bapa-Nya di tempat sunyi adalah duabelas rasul. inilah cikal bakal Gereja, Israel Baru, umat Allah yang berziarah yakni kita sekarang ini.

Begitu pun kita. Untuk memutuskan hal-hal penting demi masa depan, kita perlu mencari tempat sunyi untuk berdoa. Doa dalam hening, sendiri bersama Allah itu penting supaya kita dengan hati jernih bisa membuat keputusan yang benar.

Sesekali waktu anda perlu mengasingkan diri, mengambil jarak dari keramaian dan kesibukan sehari-hari untuk hening berdoa. Kita sering menyebutnya “retret”, kalwat atau rekoleksi supaya kita bisa menemukan mutiara-mutiara indah dalam hidup kita.

Pelangi warnanya hijau kuning merah.
Terbayang-bayang menyanyi salah.
Dalam hening kita bertemu Allah.
Percayalah, pasti ada mutiara yang indah.

Cawas, tertawa renyah sepanjang hari…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 27.10.20 / Lukas 13:18-21 / Petani Itu Adalah Bapakku

 

BAPAK saya adalah pegawai Kementrian Pertanian yang paling rendah yakni petani dusun. Tidak digaji oleh pemerintah, tapi oleh Tuhan sendiri. Pekerjaan itu diturunkan dari kakek nenek saya. Musim-musim dulu masih teratur. Para petani tahu kapan harus mulai bercocok tanam. Ada siklus yang terus menerus dikerjakan secara rutin. Dulu ada upacara “wiwit” untuk bersyukur atas panenan dan mulai memetik padi yang bernas untuk dijadikan bibit padi baru. Upacara wiwit itu sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak karena akan rebutan mendapat makanan yang enak.

Bibit padi yang akan dijadikan benih mesti direndam dulu selama 3-4 hari. Air rendaman itu diberi garam yang cukup sehingga bisa melihat benih yang jatuh di dasar air, benih yang melayang di tengah atau “kampul-kampul” di atas. Yang dipilih adalah benih yang jatuh di dasar karena itulah yang paling bernas.

Sambil menunggu benih muncul akarnya, bapak menyiapkan “ler-leran” atau lahan persemaian. Dicari area yang subur, cukup pengairannya. Tanah dibuat lembut, kerikil atau akar-akaran yang ada dibuang. Benih yang sudah direndam tadi kemudian ditaburkan di lahan tempat persemaian. Selalu dipantau agar air tersedia untuk pertumbuhan bibit. Kira-kira 25-30 hari bibit itu sudah siap ditanam di sawah.

Ketekunan dan kesabaran itulah falsafah para petani. Bapak selalu bilang, “bekerja dengan tekun dan berdoa dengan rajin itulah yang terus dilakukan sebagai seorang petani. Tentang hasil, kalau kita bekerja dengan baik dan tekun, semuanya kita serahkan kepada Tuhan. Pasti akan berlimpah.”

“Bapak ini tidak hanya menaburkan benih padi, tetapi juga benih panggilan,” katanya. “Aku bangga dengan umat di daerah Pasang Surut Palembang, sekarang mulai memetik panenan panggilan, ada yang jadi romo, bruder atau suster.” Kata bapak mengenang perjuangannya di daerah transmigrasi Pasang Surut. Ya, buah ketekunan dan kesabaran bapak itu menghasilkan dua imam di keluarga kami.

Tuhan Yesus memberi perumpamaan Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di kebun, dan tumbuh menjadi pohon dan burung-burung bersarang di rantingnya. Juga diumpamakan seperti ragi yang dicampur ke dalam tepung terigu dan membuat tepung itu mengembang.

Allah bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. Manusia menjadi benih yang ditaburkan. Dengan kemampuan atau talenta kita masing-masing benih itu akan tumbuh berkembang menghasilkan buah. Sebagai benih semoga kita jatuh di tempat yang subur. Kita jaga benih hidup ini dengan baik, terbebas dari kekeringan, hama dan musim yang jelek.

Tekun, sabar dan percaya kepada pemeliharaan Tuhan, itulah yang kita lakukan.

Di malam penuh bintang bertaburan.
Kita nikmati dengan penuh canda tawa.
Kasih dan kebaikan ditanam oleh Tuhan.
Kita diajak menjaga dan memeliharanya.

Cawas, Alleluia versi pelangi pelangi…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 26.10.20 / Lukas 13:10-17 / Prioritaskan Ambulance

 

“INILAH kalau dari warga yang tidak ada kesadaran untuk mendahulukan mobil ambulance. Pasien yang kami kawal telah berpulang ke rumah khalik. Buat keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan. Percayalah pasien sudah sehat dan tidak merasakan kesakitan lagi,” bunyi caption yang diunggah oleh @escorting-ambulance Medan.

Sebuah mobil ambulance sedang membawa pasien untuk berobat malah dihalangi pengguna jalan. Mereka tidak diprioritaskan supaya bisa sampai rumah sakit dengan cepat. Sirene sudah dibunyikan keras, tetapi mobil-mobil tetap di jalur mereka. Akhirnya pasien itu meninggal sebelum sampai di rumah sakit.

Agustus lalu Damis Sutendi mengantarkan bocah yang koma menuju rumah sakit di Garut dengan ambulan. “Pas sampai di kawasan Pasir Bajing, Kecamatan Banyuresmi, ada satu mobil kijang yang ada di depan tidak mau memberikan jalan,” kata Damis. Akhirnya sampai di ruang gawat darurat, tetapi terlambat, anak itu tak bisa diselamatkan.

Waktu Yesus sedang mengajar di rumah ibadat, ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuki roh. Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri dengan tegak.

“Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Kata Yesus. Ia menumpangkan tangan atas wanita itu dan seketika dapat berdiri tegak. Hari itu adalah hari sabat. Pengurus rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari yang dilarang oleh Taurat.

“Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan tetapi jangan pada hari Sabat.”

Tetapi Yesus tidak menghiraukan teguran itu. Ia menjawab, “Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum?

Ada hal yang urgent dan mendesak yang harus diprioritaskan. Aturan adalah bentuk kesepakatan bersama. Namun menyelamatkan nyawa orang harus lebih diutamakan dari kesepakatan itu. Kita wajib memberi prioritas kepada ambulance yang membawa pasien, mobil pemadam kebakaran, presiden atau tamu negara.

Yesus mengajarkan kita untuk mengedepankan mana yang penting, urgent dan mendesak yang harus dilakukan demi menyelamatkan orang. Mari belajar tertib di jalan raya. Memberi jalan kepada ambulance yang bertugas adalah bentuk kepedulian kita kepada yang sedang menderita.

Ada rumah baru warnanya pelangi.
Merah kuning hijau siapa gerangan.
Kalau ada ambulance yang berbunyi.
Berilah jalan agar pasien diselamatkan.

Cawas, malam penuh gelak tawa…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 25.10.20 / Minggu Biasa XXX / Matius 22:34-40

 

“Empati, Gerbang Menuju Aturan Emas”

MENGAPA sebuah dompet yang jatuh di kereta api cepat, Shinkansen di Jepang kemungkinan besar akan kembali kepada pemiliknya? Karena orang Jepang berpikir, kalau dompet ini saya ambil, jangan-jangan pemilik dompet ini tidak punya uang lagi. Dia pasti kebingungan bayar hutang, bayar listrik, bingung beli makan. Dia akan dimarahi oleh istri dan anak-anaknya. Mereka bisa mati oleh perbuatan jahat saya ini.

Orang Jepang punya empati yang sangat tinggi. Maka negaranya aman dan sangat maju karena warganya dididik sejak kecil punya empati. Empati adalah sikap “memposisikan diri saya sebagai dia.” Andaikan saya adalah dia yang sedang kebingungan, kesulitan atau mengalami kesedihan. Itulah empati.

Orangtua, pimpinan atau tokoh yang dihormati memberi contoh kongkret kepada masyarakat. Misalnya, pimpinan yang ketahuan korupsi bunuh diri karena malu. Pejabat yang gagal akan mundur karena dia memakai cermin rakyatnya. Wanita pulang malam terjamin keselamatannya, karena para pria berpikir, gimana kalau dia itu adik, anak atau istri saya. Orang selalu menempatkan diri jika saya ada di pihaknya. Dengan begitu rasa empati akan tumbuh.

The Golden Rule atau Aturan Emas atau Etika Timbal Balik adalah suatu bentuk empati. “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Itulah perintah agung yang diajarkan Yesus.

Ajakan Yesus itu melampaui rumusan negatif yang diajarkan sebelumnya. Jangan melukai kalau kamu tidak ingin dilukai. Yesus merumuskan secara positif dan aktif menjadi suatu tindakan kongkret kepada orang yang butuh pertolongan. Ia membuat contoh tentang orang Samaria yang baik hati.

Kepada ahli Taurat yang bertanya, Yesus berkata, “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Yesus menekankan tindakan positif yang membawa manfaat bagi sesama, bukan sekedar menahan diri dari tindakan negatif yang merugikan orang lain.

Para supporter Jepang membersihkan sampah di stadion Rusia saat usai pertandingan piala dunia 2018. Bukan hanya tim Jepang yang menang atas Kolombia, tetapi supporternya menarik simpati masyarakat dunia dengan tindakan bersih-bersih sampah itu.

Kegiatan seperti itu sudah dimulai sejak tim Jepang masuk ke Piala Dunia Perancis 1998. Pasti mereka sudah punya habitus hidup bersih di negaranya. Tidak salah jika Jepang dianggap negara yang bersih dan disiplinnya tinggi.

Beda dengan di Indonesia, setiap kali demo, sampah berserakan di mana-mana, taman kota rusak, pos polisi dibakar, halte bus dan fasilitas publik hancur.
Mereka itu belum bisa membangun saja sudah pandai merusak. Tidak ada empati. Maka Walikota Surabaya marah-marah kepada pendemo.

“Kenapa kamu rusak kotaku, kenapa kamu gak rusak kotamu sendiri. Aku belain wargaku setengah mati,” seru Risma dengan suara bergetar kepada pendemo yang berasal dari luar kota.

Hal itu terjadi karena kita tidak punya empati dan “rasa handarbeni” sebagai warga bangsa. Mari kita belajar berempati dan miliki “rasa pangrasa handarbeni.”

Ada lubang di cendela.
Bisa untuk mengintip matahari.
Kasih kepada sesama,
Adalah wujud kasih pada diri sendiri.

Cawas, La Puerta de Burgos….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 23.10.20 / Lukas 12:54-59 / Lembaga Survey

 

BIASANYA menjelang pilpres atau pilkada bermunculan lembaga-lembaga survey. Ada lembaga survey (LS) independen tetapi juga ada yang pesanan. Semestinya LS bersifat ilmiah, netral, independent, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. LS yang pesanan biasanya dipakai untuk kepentingan kelompok tertentu sesuai dengan keinginan sang pemesan.

Dulu ada dua kubu LS yang saling mengklaim kemenangan capresnya. Sebelum KPU mengumumkan secara resmi, mereka dengan quickcount sudah mengumumkan capresnyalah yang menang. Tetapi setelah KPU resmi mengumumkan hasil penghitungan suara manual, rakyat bisa menilai dan terbuka matanya, mana LS yang pesanan alias abal-abal dan mana yang asli dan kredibel. LS yang kredibel bahkan siap diaudit oleh Persepsi (Perhimpunan Survey Opini Publik Indonesia). Sedang yang abal-abal takut diaudit karena tidak bisa memenuhi standar sebagai lembaga survey yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

LS itu menjadi salah satu alat untuk memprediksi, menganalisa dan membantu mengambil kesimpulan atas gejala dan fenomena yang terjadi di lapangan. LS harus mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, tidak asal-asalan saja, agar bisa mempunyai variabel kemungkinan yang bisa ditarik sebagai kesimpulan yang akurat dan kredibel. Tanda-tanda atau gejala-gejala zaman sekarang dapat diketahui melalui lembaga survey.

Zaman dahulu belum ada lembaga survey. Orang mengandalkan gejala atau tanda-tanda alam. Maka Yesus berkata kepada orang banyak, “Apabila kalian melihat awan naik di sebelah barat, segera kalian berkata, ’akan datang hujan.’ Dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kalian melihat angin selatan bertiup, kalian berkata, ‘Hari akan panas terik.’ Dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?”

Sekarang ini ada banyak alat, cara dan kemungkinan untuk menilai sesuatu itu benar atau salah. Namun orang sering tertutup hatinya dan berpikir sempit. Yang penting kelompokku, ideologiku, golonganku walaupun salah tetap dibela mati-matian. Muncullah Front Pembela Kristus, Alumni Padepokan Wiro Sableng, Barisan Sito Gendheng. Suara hati sudah tumpul. Tidak mau melihat tanda-tanda zaman. Orang atau bangsa tidak akan maju karena terkurung oleh tempurungnya sendiri. Tidak mau terbuka melihat gelagat tanda-tanda zaman. Orang modern yang tidak mau membaca survey akan mudah keliru dan jatuh pada lubang yang sama. Mari kita membuka hati dan pikiran untuk melihat realitas kehidupan.

Malam hari ada bulan purnama.
Melintas diantara dua kartika.
Jika hati dan pikiran kita terbuka.
Kita akan melihat indahnya dunia.

Cawas, senandung malam….
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr

Puncta 22.10.20 / Lukas 12:49-53 / Sepercik Daya Api

 

KALAU orang tidak mempunyai api akan mengalami kesulitan. Ia tidak bisa masak memasak. Api juga bisa menjadi pelita yang menerangi di malam yang gelap. Kalau sedang musim dingin, api digunakan untuk memberi kehangatan.

Waktu masih kecil, kami sering berkumpul di sekitar “keren” atau tungku untuk menghangatkan badan di kala dingin. Sambil membakar ubi yang dibenamkan di dalam bara api, kami ngobrol penuh kehangatan. Kalau ubi sudah mulai “gosong-gosong” kami cungkil-cungkil dan dikupas sambil ditiup-tiup karena panas.

“Mas, pinjam korek apinya.” Teman yang lupa tidak membawa korek api tidak bisa menyalakan rokoknya. Hidup jadi kurang nikmat.

Api yang kecil bisa sangat bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang banyak. Tetapi kalau api yang besar bisa membahayakan. Ia bisa membakar dan menghancurkan kompleks perumahan. Api besar yang tak terkendali bisa membakar hutan yang luas. Kadang hanya karena kecerobohan orang membuang puntung rokok sembarangan, bisa menghanguskan ribuan hektar lahan.

Kami pernah melewati daerah Pelang – Indotani menuju Tembelina, ratusan hektar lahan terbakar – apa sengaja dibakar ya? Asap tebal menyesakkan dada dan menghalangi pandangan. Mata terasa pedas. Jelas tidak sehat untuk pernafasan. Panasnya menyengat terasa sekali di kulit. Api yang sangat besar itu tak mudah dikendalikan dan sangat berbahaya. Bisa menghancurkan semuanya.

Maka ada nasehat, “Jangan suka bermain api.”

Tuhan Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala. Aku harus menerima baptisan dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung.”

Api itu lambang daya kekuatan yang terus menyala dan mengobarkan. Baptisan adalah pengangkatan Yesus sebagai Anak Allah. Ketika Yesus dibaptis, terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Puncak baptisan Yesus adalah salib-Nya. Dengan salib,Ia diangkat secara sempurna sebagai Anak Allah.

Kehadiran Yesus yang membawa api, daya kekuatan Roh Kudus memang menimbulkan pertentangan. Bagi mereka yang berada di bawah kuasa gelap, api Yesus adalah ancaman. Kuasa kegelapan akan melawan terang api. Tetapi bagi mereka yang hidup jujur, bersih, suci, api adalah daya yang memberi semangat hidup. Apakah kita mau memilih hidup di bawah kuasa kegelapan atau mengikuti kuasa terang yakni Yesus sendiri?

Pilihan itu akan menimbulkan pertentangan. Itulah konsekwensi mengikuti Yesus.

Punya mimpi pada suatu hari.
Bisa ziarah ke Tanah Suci.
Yesus datang membawa api.
Agar kita selamat sampai akherat nanti.

Cawas, pesanan puncta terus mengalir….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr