by editor | Nov 8, 2020 | Renungan
“Self Driving Mentality”
PROFESOR Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia menulis buku dengan tema “Change.” Kali ini judulnya “Self Driving.” Beliau ingin mengubah mental bangsa ini agar berpikir merdeka, mandiri dan terbuka. Ini sejalan dengan gagasan Jokowi dengan revolusi mentalnya. Salah satu contohnya adalah terciptanya Omnibus Law.
“Masa depan itu milik orang muda. Mental mereka harus dibimbing dari mental “passenger” menjadi “self driver.” katanya. “Kemampuan mengelola diri sendiri itu penting agar kita tumbuh menjadi bangsa yang besar dan maju.”
Rhenald ingin mendobrak passanger mentality yang melekat dalam diri kita, menjadi driver mentality. Jangan hanya menjadi pendompleng yang ikut ke sana kemari. Jadilah driver yang mampu mengendalikan diri dengan tujuan jelas. Kita ini sudah terlalu lama menjadi bangsa yang dijajah. Mental budak itu masih menghantui kita. Kita harus menjadi bangsa yang merdeka, mampu menentukan nasib sendiri. Itulah revolusi mental.
Di Bait Suci Yerusalem,Yesus melakukan tindakan kenabian. Bait Suci tidak lagi menjadi pusat doa, tetapi pusat bisnis. Yesus ingin membuat “change” mentalitas orang-orang di situ. Jangan ada orang-orang yang mendompleng demi kepentingan sendiri, mencari keuntungan di Bait Suci.
Tidak seperti Rhenald Kasali yang membuat kuliah di kelas, Yesus langsung frontal mengusir pedagang lembu, kambing domba, merpati, para penukar uang. Pasti calo-calo dan preman-preman serta “penumpang” yang diuntungkan adanya Bait Suci meradang. Pundi-pundi pungli mereka hilang karena tindakan Yesus.
Bisa dimaklumi demo berjilid-jilid atas UU Omnibus Law yang ditandatangani Jokowi masih terjadi karena jalur perijinan dipangkas, preman kehilangan lahan, pungli dan korupsi dibabat habis. Pasti ada pihak-pihak yang dirugikan.
Orang-orang yang punya kepentingan itu menantang Yesus, “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Mereka tidak terima karena Yesus ingin memperbaharui mental mereka yang mulai bergeser tentang Bait Suci.
Mengubah mental memang sulit. Revolusi mental membutuhkan waktu. Tetapi harus dimulai. Kalau tidak, kita tidak akan pernah maju. Mari kita sejalan seirama dengan Yesus membangun mental demi Kerajaan Allah.
Pemanasan datang terlambat
Tak terasa jalannya terjal-terjal
Kita harus membangun sikap tobat
Sebagai dasar revolusi mental
Cawas, before and After….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Nov 8, 2020 | Renungan
“Yu Yuan, Gadis Kecil Yang Bijaksana”
SEORANG laki-laki miskin menemukan bayi mungil dibuang di rerumputan dingin pada 30 November 1996. Bayi itu dipelihara dengan cinta dan diberi nama Yu Yuan. Laki-laki itu hanya bisa memberi tajin karena tak punya uang untuk beli susu. Yu Yuan tumbuh sebagai gadis lemah dan sakit-sakitan. Yu Yuan mulai mimisan Mei 2005. Ia divonis kena leukimia ganas. Biaya operasi sumsum tulang belakang diperkirakan $ 300.000. Ayah angkatnya sedih sekali karena tak punya biaya.
Karena tak punya uang, Yu Yuan menandatangani surat pelepasan perawatan dari RS. Anak umur 8 tahun itu juga membuat surat wasiat untuk mengatur segala hal berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Pulang dari RS, Yu Yuan minta baju baru dan difoto.
“Setelah saya tidak ada nanti, kalau papa merindukan saya, papa bisa melihat foto saya,” demikian pesannya.
Kebetulan ada wartawan yang menulis berita gadis kecil yang membuat wasiat untuk pemakamannya sendiri. Banyak orang tergugah. Sepuluh hari terkumpul dana $560.000. Operasi bisa dilakukan. Tetapi efek dari obat-obatan sangat berbahaya bagi penderita leukimia. Gadis itu berkata kepada wartawan Fu, “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?” Fu menjawab, “Karena mereka adalah orang baik.” Yu Yuan berkata, “Saya juga ingin menjadi orang baik.”
Lalu ia menulis surat wasiat, sambil menunggu ajal datang, bahwa ia ingin sisa dana pengobatan disumbangkan kepada anak-anak miskin penderita leukimia seperti dia. Mereka adalah Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Ji, Gao Jian, Wang Jie. Yu Yuan meninggal dengan tenang pada 22 Agustus 2005.
Hidupnya yang singkat telah memberi warna bagi sesama. Hati yang penuh kasih dan bijak telah ditanam bagi kesuburan dunia.
Yesus memberi perumpamaan tentang lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana yang menyongsong mempelai laki-laki. Kita ini ibarat orang yang menyongsong Mempelai yaitu Kristus yang akan mengadili semua pada akhir zaman.
Yu Yuan, gadis kecil itu telah mengajarkan kebijaksanaan kepada kita. Hidupnya yang pendek telah diisi dengan kebaikan dan welas asih. Bagaimanakah kita mengisi hidup ini?
Waktu itu kita bareng naik Etihad.
Dibagi-bagi selimut warna biru tua.
Hidup kita semua sangat singkat.
Mari kita isi dengan bijaksana.
Cawas, masih menanti senja…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Nov 6, 2020 | Renungan
SENANG nonton film bergenre action, adventure, fantasy berlatar belakarng sejarah? Coba tonton The Mummy Return. Di situ ada tokoh penjilat bernama Benny. Orang ini mengikuti siapa saja yang menguntungkannya. Awalnya ia mengikuti Rick berpetualang. Lalu ganti ikut pencari harta karun dari Amerika. Karena dia tersesat di kota terpendam Hamunadbra, Benny bertemu dengan Mummy Inhotep yang telah bangkit. Supaya dia tidak dibunuh, ia mau menjadi budak mummy yang jahat itu. Benny diminta menunjukkan dimana Rick dan Ivy berada. Inhotep akan membunuh mereka untuk dijadikan “tumbal” agar bisa kembali menjadi manusia normal untuk menguasai Mesir.
Sementara mereka berkelahi, Benny tersesat di ruangan harta karun, dimana banyak emas terpendam di situ. Dasar orang serakah, dia mengambil harta semau-maunya. Tidak sengaja ia membuka tuas pintu yang membuat bangunan runtuh. Ia terkubur dan mati dimakan serangga pemakan daging di sana.
Benny menjadi tokoh yang mengabdi dua tuan. Siapa yang menjanjikan keuntungan, harta dan hidup enak, dia siap melayaninya. Tak peduli harus mengorbankan teman sendiri, yang penting dia hidup nyaman, kaya dan nikmat. Karena keserakahannya, dia mati tertimbun harta karun yang tak pernah dinikmatinya.
Tuhan Yesus memperingatkan kepada murid-murid-Nya, “Jika kalian tidak setia mengurus mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu? Seorang hamba tidak mungkin mengabdi dua tuan.
Kita diminta untuk jujur mengurusi harta, mamon. Kalau tidak, kita tidak akan dipercaya oleh orang lain. Kalau mengurus diri sendiri saja kita tidak bisa, apakah ada orang yang mau percaya kepada kita untuk menguruskan miliknya?
Kita mesti tahu kepada siapa kita harus percaya. Siapakah yang akan menjadi tuan kita. Apakah kita akan mengabdi kepada harta atau mengabdi kepada Tuhan? Tidak mungkin mengabdi dua-duanya. “Jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain,” kata Yesus.
Sekarang, renungkanlah, kepada siapakah anda selama ini mengabdi?
Menanti mekarnya kelopak bunga.
Tampak indah dipandang mata.
Jangan mengabdi kepada harta.
Karena tak mampu menyelamatkan kita.
Cawas, pesawat ulang ulik….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Nov 5, 2020 | Renungan
SERING terlihat di tempat pengisian bahan bakar, petugas menawari kwitansi kosong kepada sopir di depan antrianku. Ketika sampai giliranku, dia pun bertanya hal yang sama. Aku bertanya kepadanya, “kenapa mas nawarin kwitansi kosong tadi?”
“Ah kita semua sudah tahu mas, orang sering minta kwitansi kosong. Kan bisa ditukarkan ke kantor. Ngisi 200 ribu nanti nulis sendiri di kwitansi 300 ribu. Gitu mas caranya cari tambahan.”
Pernah juga saya diajak acara dinas di rumah makan. Pegawai yang mentraktir kami itu minta kwitansi kosong kepada petugas kasir setelah dia membayar semua makanan yang dipesan. Selidik punya selidik, kwitansi itu bisa dilipatgandakan jumlahnya untuk dimintakan ganti ke kantornya. Mereka bisa mengatakan ada tamu dinas atau service tamu dari pusat. Nominalnya bisa membengkak dari yang sebenarnya.
Saya jadi berpikir, apakah ada hubungannya ya, kita dulu sering diberi dongeng tentang Kancil Mencuri timun oleh kakek nenek kita. ada banyak kisah tentang binatang kancil yang licik, tidak jujur, pandai menipu dan memanipulasi. Dongeng itu membekas dalam ingatan, kemudian terinternalisasi dalam perilaku menjadi kebiasaan. Tindakan tidak jujur itu lalu diamini di tengah masyarakat. Pembiaran seperti itu menjadi bencana akut di masyarakat kita. jangan heran kalau kita sulit mengatasi korupsi, walau KPK sudah bekerja keras.
Dalam Injil, bendahara yang tidak jujur itu dipuji tuannya, karena ia bertindak cerdik. Bukan ketidakjujurannya yang dipuji, tetapi kecerdikannya. Ia cerdik memanfaatkan tugasnya untuk menyelamatkan dirinya di masa depan. Ia menabur kebaikan kepada orang lain, agar kelak dia diterima dan dibantu oleh orang-orang yang berhutang budi padanya.
Meniru apa yang dikatakan Bu Tejo, “Jadi orang itu mbok yang solutip.” Bendahara itu mencari solusi bagi hidupnya, agar kelak ketika dipecat, ia tidak sengsara. Ia berpikir ke depan supaya tidak MADESU (Masa Depan Suram) tetapi MADECE (Masa Depan Cerah).
Kecerdikan seperti itu mestinya juga kita pakai untuk keselamatan kekal, bukan hanya kebaikan di dunia ini. Yesus berkata, ”Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”
Mari kita sebagai anak-anak terang juga bisa cerdik menempuh jalan kebaikan demi keselamatan di masa depan.
Ayolah cepat-cepat mudik,
Jangan lama-lama di perantauan.
Jadilah orang yang cerdik.
Supaya kita boleh diselamatkan.
Cawas, 4 x dapat reward…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Nov 4, 2020 | Renungan
ADEGAN sangat mengharukan dari Film Not One Less adalah ketika guru kecil Wei menangis di depan sorot kamera. Ia mengungkapkan kesedihan sekaligus kerinduannya untuk menemukan muridnya yang hilang yaitu Zhang Huike. Murid nakal ini pergi dari sekolah dengan maksud mencari kerja di kota. Tetapi karena masih kecil dan tidak punya skill apa-apa, ia justru menjadi gelandangan di jalan-jalan. Secara kebetulan ia sedang mengemis di warung makan. Ia melihat siaran televisi, dimana gurunya menangis mencarinya dengan susah payah.
Zhang Huike telah ditemukan. Mereka pulang ke desa dengan sukacita. Banyak bantuan untuk sekolah dibawanya juga. Murid-murid di sekolah itu bersukacita menyambut kembalinya Guru Wei bersama anak yang hilang, Zhang Huike itu.
Anak-anak itu mengungkapkan sukacitanya dengan menulis di papan dengan kapur warna warni. Baru kali itu mereka melihat ada kapur beraneka warna. Satu per satu mereka maju menuliskan satu kata: Langit; Kebahagiaan; Air; Nama; Ketekunan.
Li Meyling murid paling kecil, dengan dibopong Guru Wei menulis di papan, “bunga”. Sedang Zhang Huike dengan penuh gembira menuliskan perasaannya, “Bu Guru Wei”. Semua anak bersukacita karena murid yang hilang telah diketemukan.
Menghadapi kegundahan kaum Farisi yang bersungut-sungut karena Yesus bergaul dengan para pendosa dan makan bersama dengan mereka, Ia menceritakan perumpamaan tentang seekor domba yang hilang dan diketemukan lagi.
Ia mengungkapkan bagaimana perasaan seluruh isi surga bersukacita karena satu orang berdosa bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.
Kadang kita ini mudah irihati jika melihat keberuntungan orang lain. Kita menilai diri paling pantas. Kita senang melihat orang lain celaka. Kita berharap kalau ada orang berdosa itu ya sengsara hidupnya. Sebaliknya,Yesus justru senang melihat orang berdosa bertobat, kembali menjadi orang baik.
Bisa gak kita ini seperasaan dengan Yesus? Bersukacita melihat orang lain bertobat. Senang melihat orang lain berhasil bangkit. Ikut bergembira jika orang lain makin baik dan beruntung hidupnya. Jangan galau dan bersungut-sungut seperti orang Farisi.
Cuci mata di sepanjang jalan Braga.
Beli celana jean di jalan Cihampelas.
Bergembira melihat orang lain bahagia.
Kita sehati dengan Tuhan yang berbelas.
Cawas, dulu sobat ambyaar, kini sobat ngebyaar. Selamat jalan Dalang Seno….
Rm. Alexandre Joko Purwanto
by editor | Nov 4, 2020 | Renungan
“Hamba-elang Yang Merana”
BANGSA Indonesia hampir memiliki Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang. Namun apa lacur, KPK keburu mengendus adanya dugaan korupsi yang dilakukan menteri olahraga dan ketua salah satu partai pada era pemerintahan SBY. Akibatnya bangunan megah di atas bukit itu sekarang mangkrak tak terpelihara. Malang dan merana.
Bangunan yang mangkrak itu ditutupi dengan pagar seng warna putih. Banyak rumput-rumput liar tumbuh dimana-mana. Seperti rumah hantu, tidak ada aktivitas apa pun di daerah itu. Semua alat berat yang biasa beraktivitas di situ sudah ditarik bersih. Audit BPK menyebutkan kerugian negara sebesar 243,66 milyar dikorupsi secara berjamaah untuk kepentingan tertentu.
Kesalahan kebijakan dan penyalahgunaan kekuasaan menyebabkan rencana pembangunan proyek itu gagal total. Hamba Elang yang mangkrak malang. Bangunan megah yang jadi beban sejarah.
Yesus berkata, “Siapakah di antaramu, yang mau membangun sebuah menara, tidak duduk membuat anggaran belanja dahulu, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Jangan-jangan sesudah meletakkan dasar ia tidak dapat menyelesaikannya. Lalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata, ”Orang itu mulai membangun, tetapi tidak dapat menyelesaikannya.” Orang Jawa bilang, “Kakehan empyak kurang cagak.”
Mengikuti Yesus juga harus ada hitung-hitungannya. Jangan asal mau tetapi tidak dapat mewujudkannya. Berani gak kita meninggalkan bapa-ibu, suami-istri, anak-anak, saudara-saudari, bahkan nyawanya sendiri?
Tuntutan mengikuti Yesus itu adalah berani memanggul salib. Orang harus bisa menghitung, merencanakan, mempertimbangkan segala resiko yang harus dihadapi dan dihidupi, jika mau mengikuti Yesus.
Jangan sampai di tengah jalan menyesal; kenapa berat ya memanggul salib? Kenapa banyak kesulitan ya jadi murid Yesus? Setelah dibaptis, ikut Yesus kok usahaku tidak mulus ya? Aku kok gak bisa naik pangkat ya? Jadi orang Katolik kok diejek, difitnah, dipersulit ya?
Di tengah jalan kita lalu mangkrak seperti proyek Hambalang itu. Karena tidak berani memanggul salib, kita tidak jadi membangun rumah Tuhan, malah jadi rumah hantu.
Yesus sudah memperingatkan kita sejak awal, “Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Silahkan berhitung, siapkan anda tetap berani maju menjadi murid-Nya?
Setiap pagi muncul bintang Venus.
Menyambut mentari di cakrawala.
Kalau kita berani ikut Yesus.
Jangan ragu-ragu memanggul salib-Nya.
Cawas, sejenak melihat bintang…
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr