Puncta 09.08.20 / Minggu Biasa XIX / Matius 14:22-33

 

“Quo Vadis Domine?”

NOVEL klasik karya Henryk Sienkiewicz berkisah tentang jemaat Kristen awal yang dibangun Rasul Petrus sekitar tahun 60-70 di Roma. Ada banyak orang Roma yang mulai percaya kepada Kristus antara lain Petronius,

Marcus Vinicius seorang bangsawan yang menjadi pejabat militer di bahwa Kaisar Nero. Vinicius ini ingin mengambil Lygia, seorang gadis yang telah menjadi Kristen. Karena Lygia, Vinicius justru bertemu dengan Rasul Petrus dan diantar menjadi pengikut Kristus.

Nero adalah kaisar yang bengis, kejam, sadis, penuh nafsu brutal dan sinting. Demi ambisi kekuasaan, Nero membakar kota Roma untuk dibangun sesuai dengan keinginannya sendiri.

Orang Kristen dipersalahkan dan dijadikan “tumbal.” Maka banyak pengikut Kristus ditangkap, disiksa, dibunuh di tangan algojo, disalib, dibakar, diumpankan kepada hewan buas. Itu semua menjadi tontonan bengis yang memuaskan Nero.

Jemaat yang sudah lama dibangun Petrus dimusnahkan dalam sekejap. Petrus ingin melarikan diri keluar kota Roma. Tetapi di tengah jalan dia melihat cahaya yang menyilaukan. Ia berjumpa dengan Yesus dan bertanya, “Quo Vadis, Domine?” yang artinya mau kemanakah Engkau, Tuhan?

“Karena kini kau meninggalkan umat-Ku, Aku akan pergi ke Roma, untuk disalibkan yang kedua kalinya” Jawab Yesus (hlm. 513). Sebuah tamparan bagi Petrus yang langsung membalikkan langkahnya kembali ke Roma….

Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana jemaat (perahu) mengarungi kehidupan. Di tengah perjalanan ada badai topan, angin sakal. Jemaat perdana di Roma menghadapi badai keganasan Kaisar Nero.

Petrus bimbang dan mau lari keluar Roma. Petrus ingin meninggalkan perahu. Petrus takut dan mulai tenggelam, “Tuhan, tolonglah aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan dan mengajak Petrus masuk kembali ke dalam perahu. Angin badai reda dan semua orang mengakui Yesus sungguh Anak Allah.

Petrus disadarkan untuk kembali masuk ke Roma. Roma adalah perahu atau jemaat yang dibimbing oleh Kristus. Jika Kristus menyertai gereja (perahu) maka jemaat dengan tenang mengarungi zaman.

Kekuasaan dunia (Nero) hancur dan musnah. Tetapi Gereja melaju sepanjang zaman bersama Kristus sampai kini.

Dalam mengarungi kehidupan, kita pun tidak terlepas oleh badai dan topan. Tetapi jika kita mempersilahkan Kristus masuk dalam perahu, kita akan menang dan sampai ke tujuan yakni keselamatan kekal.

Bulan purnama mengintip di perbukitan.
Menjelajahi malam-malam yang panjang.
Jika badai menghadang kita di jalan.
Berpeganglah pada Kristus Sang Pemenang.

Cawas, menemani guru….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 08.08.20 / PW. St Dominikus, Imam / Matius 17:14-20

 

“Jendral Nobunaga”

NOBUNAGA adalah seorang jendral perang yang pandai membakar motivasi anak buahnya. Dalam sebuah pertempuran yang berat, Nobunaga mampu meyakinkan prajuritnya.

Ia tahu jumlah prajuritnya kalah besar dengan musuh. Ia harus bisa meyakinkan anak buahnya. Nobunaga tahu anak buahnya taat pada agama Shinto. Ia menuju kuil untuk sembahyang. Ia keluar dari kuil dan berkata kepada prajuritnya, “Kita ditakdirkan untuk menang.”

Ia melemparkan sekeping mata uang ke udara. “Jika yang keluar gambar kepala, itu tanda kita menang. Jika yang keluar gambar ekor, kita kalah.”
Kita tahu, uang logam itu terdiri dari dua sisi. Yang satu gambar kepala, yang lain gambar ekor.

Nobunaga membuka tangannya. Ia berteriak, “Gambar kepala.” Ia memimpin prajuritnya maju berperang melawan musuh yang besar jumlahnya. Benarlah mereka mampu mengalahkan musuh.

Apa rahasia kemenangan Nobunaga? Ia pandai membuat prajuritnya percaya kepadanya. Ia mampu memotivasi anak buahnya sehingga mereka yakin bisa mengalahkan musuh.

Pada ajudannya, Nobunaga membuka rahasia. Ia mengakui bahwa uang yang dilempar dua sisinya bergambar “kepala”

Ada seorang meminta Yesus menyembuhkan anaknya yang sakit ayan. Sebelumnya ia minta kepada murid-murid-Nya, namun mereka tidak mampu. “Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.”

Akhirnya para murid bertanya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Yesus menjawab, “Karena kalian kurang percaya. Sungguh, sekiranya kalian mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kalian dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari sini ke sana,” maka gunung ini akan pindah.”

Para murid kurang percaya maka mereka tidak bisa mengusir setan. Prajurit Nobunaga itu percaya, maka mereka mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat dari jumlah mereka. Ini terjadi karena percaya.

Percaya adalah kekuatan yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.

Tanamkan rasa percaya diri yang tinggi. Anda akan bisa mengubah hidup anda. Itulah yang dikatakan Yesus, “Jika kalian mempunyai iman sebesar bisi sesawi saja, kalian bisa memindahkan gunung.” Percayakah anda?

Pelajaran pertama singkat sekali.
Bu guru hanya diam duduk di meja.
Jika kita punya rasa percaya diri tinggi.
Kita bisa menaklukkan seluruh dunia.

Cawas, mulai tatap muka….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 07.08.20 / Matius 16:24-28

 

“Akeh Durung Mesti Cukup, Sethithik Durung Mesti Kurang.”

PEPATAH itu berarti banyak belum tentu mencukupi, sedikit juga belum pasti kurang. Semua itu tergantung bagaimana kita mensyukuri dan mengelola kehidupan kita.

Apa sih kurangnya seorang Raja Pop seperti Michael Jackson? Harta melimpah, popularitas melangit. Tetapi kenapa harus mengakhiri hidupnya dengan over dosis minum obat-obatan yang berlebihan?

Steve Jobs milyader termasuk orang terkaya di dunia. Tetapi hari-hari akhirnya dihinggapi rasa kesepian dan butuh kedekatan bersama orang-orang yang mencintai yakni keluarga.

Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya bagi seseorang jika ia memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Kekayaan atau harta dunia itu hanya sarana bukan tujuan hidup. Yang menjadi tujuan hidup adalah keselamatan kekal.”

Anak Manusia nanti akan datang dalam kemuliaan-Nya. Ia akan mengadili setiap orang setimpal dengan perbuatannya. Yang akan menyelamatkan adalah perbuatan manusia.

Perbuatan yang mana? Perbuatan mau kehilangan nyawa demi Yesus. orang itu mau mengorbankan hidupnya demi mengikuti Yesus. Dia akan memperoleh kebahagiaan hidup kekal.

Orang tidak dilarang mengumpulkan harta. Harta itu perlu, tetapi bukan itu yang menentukan. Jangan sampai kita terikat oleh harta. Jangan mau diperbudak olehnya.

Harta itu hanya titipan Yang Mahakuasa. Yesus menunjukkan jalan keselamatan, yakni dengan berani menyangkal diri, memikul salib kita setiap hari dan mengikuti-Nya.

Kalau kita punya harta yang lebih, kita ingat akan saudara-saudara kita yang miskin dan kekurangan. Kita mau berbagi dan menyangkal diri. Kita ikut berbelarasa bersama memanggul salib dengan mereka yang menderita.

Itulah menyangkal diri dan memikul salib. Anak Manusia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya. Perbuatan kita yang mau menolong sesama itulah kunci penghakiman nanti.

Di tengah-tengah pandemi ini ada banyak orang mengalami kesusahan dan derita. Apa yang dapat kita buat untuk mereka? Inilah kesempatan untuk menyangkal diri dan memikul salib bersama.

Ada banyak dokter dan tenaga medis kehilangan nyawa untuk menolong mereka yang sakit. Kita pun juga bisa menolong dengan cara kita masing-masing.

Kita yang punya banyak akan sangat cukup kalau kita mau berbagi. Kita yang punya sedikit tidak akan kekurangan kalau kita mau bersyukur. Mari bersyukur dan berbagi.

Mentari di pagi hari bersinar indah sekali.
Banyak harus dibagi, sedikit harus disyukuri.

Cawas, pelajaran pertama…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 06.08.20 / Matius 17:1-9 / Naik Gunung Merbabu

 

SETELAH mengadakan camping di Plantungan, Kendal, kami berencana langsung naik gunung Merbabu. Waktu itu ada beberapa teman mendaftar. Tetapi pada hari H-nya mereka mengundurkan diri.

Tinggal aku dan Fr. Budiharyana (Sekarang Romo Vikep Solo).
“Bagaimana Bud, tinggal berdua nih, jadi gak?” tanyaku mencari penegasan.
“Ayo, berani gak kita berdua naik Merbabu besuk?” dia malah menantang.

Akhirnya hanya berdua saja kami sampai di Puncak Merbabu pagi-pagi masih gelap. Dalam keheningan pagi, dingin menusuk tulang, kami menikmati matahari terbit.

Ada pengalaman bahagia yang tak bisa dilukiskan. Langit biru membentang dan semburat jingga mengubah gelap menjadi terang. Perubahan rupa itu adalah moment sangat luar biasa.

Tetapi pendaki gunung yang sukses itu bukan ketika berada di puncak, namun ketika dia bisa turun gunung dengan selamat. Ada banyak pendaki Himalaya mati saat mereka berusaha turun. Ada yang kelelahan, kelaparan, kedinginan membeku, jatuh dari tebing.

Pengalaman luar biasa dialami ketiga murid, Petrus, Yakobus dan Yohanes, ketika mereka diajak naik gunung oleh Yesus. Mereka melihat Yesus berubah rupa di atas gunung. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Ini pengalaman rohani yang luar biasa, konsolasi.

Pengalaman kebahagiaan yang membuat lupa diri. Petrus berkata, “Tuhan betapa bahagianya kami di tempat ini.” Ia ingin tetap tinggal dengan membuat tiga kemah, padahal mereka berenam.

Pengalaman itu dimahkotai dengan penegasan akan perutusan Yesus sebagai anak Allah. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Dengarkanlah dia.” Petrus ingin tetap tinggal dalam pengalaman rohani yang menakjubkan itu.

Tetapi Yesus mengajak mereka turun, menuju pada pengalaman hidup yang biasa dan sederhana. Maka retret atau mengasingkan diri itu penting, supaya kita mengalami konsolasi, dan mengambil jarak dengan kehidupan riil. Dengan semangat baru kita menjalani kehidupan nyata dengan gembira.

Sebagaimana para pendaki itu harus turun ke dunia nyata, begitu pula kita diajak mencintai panggilan kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita dikuatkan bahwa Yesus senantiasa menyertai kita dari zaman dulu, sekarang dan di masa depan.

Tuhan menemani kita. Ia turun ke dunia nyata. Renungkan pengalaman konsolasi yang membuat anda bersemangat dalam menjalani hidup ini bersama Tuhan.

Pagi-pagi jalan ke embung.
Sambil menikmati hangatnya mentari.
Pengalaman indah di atas gunung.
Membakar gairah jalani hidup sehari-hari.

Cawas, tetap semangat….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 05.08.20 / Matius 15:21-28 / Tersinggung

 

ANDA pernah tersinggung? Saya yakin anda pernah merasakannya. Saya pernah mengalami. Waktu itu saya ikut rombongan naik ke menara Eiffel di Paris. Banyak pengunjung yang antri naik lift karena jam kunjungan turis. Kami naik sampai di lantai dua tempat yang bagus memandang keindahan kota Paris. Di situ juga ada toko souvenir yang ramai dikunjungi turis. Saya memilih beberapa gantungan kunci, patung menara Eiffel dan kaos untuk oleh-oleh. Pada waktu bayar di kasir, saya tidak dilayani karena jam 12.00 adalah jam istirahat padahal banyak yang antri mau bayar. Saya tetap berdiri di depan mesin kasir. “Please miss, hurry up. I’ll be late” kata saya mendesak karena dikejar-kejar rombongan yang harus segera pergi. Perempuan itu mukanya masam merasa terganggu. “You’re impolite” katanya menggerutu. Dikatakan tidak sopan, saya merasa tersinggung. Akhirnya dengan wajah ditekuk dan mulut terkatup dia melayani juga.Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kalau di tempat kita, ada orang banyak mau bayar itu malah senang, artinya rejeki mengalir. Gak mikir waktu istirahat. Di Barat, orang tidak mau diganggu saat sedang istirahat, walau itu mendatangkan untung sekalipun. Saya tersinggung tetapi saya cuek saja. Yang penting apa yang saya mau sudah kudapat.

Dalam bacaan Injil hari ini, wanita Kanaan itu datang kepada Yesus, mohon supaya anaknya yang kerasukan setan disembuhkan. Tetapi Yesus tidak menjawab. Wanita itu terus mengikuti-Nya sambil teriak-teriak mohon belaskasihan. Para murid mungkin sampai risih terganggu, “Suruhlah wanita itu pergi, sebab ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.”

Sekali lagi Yesus menolak dengan halus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba umat Israel yang hilang.” Ia menyebut orang Israel sebagai domba-domba. Tetapi wanita itu mendekat dan menyembah. Dia tidak berhenti memohon. Yesus berkata dengan keras, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Wanita itu disamakan dengan anjing. Tetapi ia tidak tersinggung. Ia menjawab, “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Imannya yang teguh itu membuat hati Yesus luluh. “Hai ibu, sungguh besar imanmu. Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki.”

Jangan mudah tersinggung tetapi teguhkan dan kuatkan hati, pasti Tuhan akan berbelas kasih. Tersinggung akan merugikan diri sendiri dan hanya akan menambah beban di hati. Hadapilah semua dengan senyum.

Kepala pusing belum terima bayaran.
Perut mual-mual ternyata kelaparan.
Orang yang penuh dengan pengharapan.
Akan dimudahkan semua jalan.

Cawas, menunggu jadwal….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 04.08.20 / Matius 15:1-2.10-14 / Netilat Yadayim – Ritual Mencuci Tangan

 

KARENA virus corona yang menyebar kemana-mana, kini membasuh tangan menjadi aturan wajib dilakukan dimana-mana. Selain pakai masker dan jaga jarak, orang harus sesering mungkin mencuci tangan. Ini dilakukan demi kesehatan.

Dahulu kala membasuh tangan sudah biasa dilakukan karena itu adalah aturan hidup dan ibadah. Cuci tangan bukan soal higienis tetapi sudah menjadi ritual keagamaan untuk mencucikan diri. Tidak mencuci tangan berarti najis. Seperti halnya kalau orang mau berdoa harus mencuci anggota badan supaya suci bersih. Kebersihan dan kesucian dituntut bagi orang yang beribadah kepada Allah. Dalam Kitab Talmud Yahudi bahkan dikatakan orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan disamakan dengan orang yang berzinah dengan pelacur.

Membasuh tangan juga menjadi tanda “tidak bersalah” (Ulangan 21.6). Hal ini juga dibuat oleh Pontius Pilatus yang merasa tidak bersalah dengan kematian Yesus. Ia membasuh tangannya di tengah orang banyak. Dalam tradisi Yahudi, pembasuhan tangan tidak sekedar untuk kesehatan (higienis) tetapi sudah menjadi ritual aturan yang mengikat perilaku orang.

Dari dasar tersebut, orang-orang Farisi mempersoalkan kepada Tuhan Yesus Kristus, mereka mempertanyakan murid-murid-Nya yang melangkahi tradisi orang-orang Yahudi dengan tidak mencuci tangan mereka sebelum makan. Yang dimaksudkan bukanlah pencucian tangan biasa dengan tujuan higienis melainkan sesuatu yang bersifat ritual. Sebab, orang-orang Farisi dan semua orang Yahudi tidak makan sebelum mencuci tangan mereka sampai ke siku.

Pandangan Yesus berbeda dengan orang Farisi. “Dengarkan dan camkanlah, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Bukan tindakan lahiriah atau yang nampak dari luar yang bisa menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya. Pikiran kotor, niat jahat, tutur kata yang buruk dan perilaku yang tidak baik kepada sesama itulah yang bisa menajiskan orang. Bukan karena tidak cuci tangan, basuh kaki, cuci muka lalu orang jadi najis.

Ibarat orang buta membimbing orang buta, Orang Farisi merasa paling benar. Maka mereka memprotes murid-murid Yesus yang tidak melakukan adat hukum Taurat. Padahal mereka sendiri hanya bisa mengajarkan tidak mau melaksanakannya.

Orang datang memberi kwitansi.
Kita sepakat tanda sudah jadi.
Jadi orang jangan senang menghakimi.
Nanti kamu hanya meniru orang Farisi.

Cawas, pelajaran matematika…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr