by editor | May 24, 2020 | Renungan
KALIMAT atau kata-kata kiasan adalah ungkapan untuk membandingkan atau mengibaratkan. Kata Kata kiasan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai ibarat atau perbandingan.
Sedangkan makna kias artinya sebuah arti atau makna dari ungkapan atau kata yang mengandung pengibaratan atau pengandaian. Contoh kata-kata kiasan misalnya; kecil hati, muka dua, buah bibir, buah tangan, meja hijau, muka masam, empat mata, mata duitan dan lain-lain.
Yang dimaksud dengan kecil hati bukan hatinya kecil tetapi penakut. Muka masam berarti sedang cemberut atau tidak suka. Empat mata berarti bicara berdua saja.
Yesus sering mengajar dengan perumpamaan atau perbandingan kepada orang banyak. Misalnya, Kerajaan surga itu seumpama pukat, atau ragi. Kerajaan surga digambarkan seperti seorang yang mengadakan pesta perjamuan atau seorang penabur yang keluar menaburkan benih.
Kadang Dia menggambarkan Diri-Nya sebagai Gembala yang baik atau pokok anggur. Allah yang penuh kerahiman digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang. Banyak sekali gambaran perumpamaan, perbandingan atau kiasan yang dipakai oleh Yesus untuk mengajar tentang Allah.
Ketika tiba saatnya Yesus berpisah dengan murid-murid-Nya, Ia tidak lagi berbicara dengan kiasan. Ia berterus terang menyatakan siapa Diri-Nya. Para murid mulai mengenal Dia. Mereka percaya bahwa Yesus berasal dari Allah.
Dia datang diutus oleh Allah untuk mewahyukan siapakah Allah itu. “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” kata para murid.
Semakin dekat relasi seseorang, komunikasinya makin terbuka dan percaya. Dia akan membuka dirinya dengan terus terang dan percaya bahwa sahabatnya akan menerima apa adanya. Yesus membuka diri-Nya bahwa Mesias harus mati dan ditolak oleh penatua, ahli kitab dan orang Yahudi.
Namun bagi Yesus, itu adalah jalan untuk mengalahkan dunia. Para murid diajak untuk tidak takut mengalami derita dan penganiayaan di dunia. Menjadi murid harus berani meneladan gurunya.
Kita sekarang diajak meneruskan karya Yesus, mewartakan kebenaran dan kasih Allah kepada dunia. Kita akan mengalami kesulitan dan penderitaan. Tetapi Yesus meneguhkan kita, “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Bersepeda mengejar senja.
Dia tenggelam di balik awan.
Kita diutus menjadi saksi-Nya.
Wartakan kasih dan kebenaran.
Cawas, sendiri ….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | May 22, 2020 | Renungan
SAYA adalah cucu kesayangan “simbah” di dusun Gondangan. Simbah itu kakek-nenek. Sejak kecil saya ikut simbah sampai masuk sekolah dasar. Setiap pagi saya ikut menyapu halaman yang luas dengan dua pohon mangga yang besar.
Habis nyapu biasanya saya dibelikan nasi “gudhangan” atau nasi urap. Apa pun yang saya minta diberikan oleh simbah karena rajin membantunya. Kalau di keluarga ada istilah “anak kesayangan.”
Di kelas juga ada sebutan murid kesayangan. Entah anak, murid atau cucu kesayangan menunjukkan relasi dekat di antara keduanya. Antara guru dan murid atau orangtua dan anak ada hubungan yang istimewa. Apa yang diminta akan diberikannya.
Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”
Sabda itu menjelaskan bagaimana Dia mempunyai hubungan istimewa dengan Bapa-Nya. Apa saja yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya akan diberikan-Nya kepada kita. Karena kedekatan Yesus kepada Bapa, maka apa pun akan diberikan.
Jika kita yang berdosa saja bisa memberi hal yang baik kepada anak-anak kita, apalagi Bapa yang di surga, Ia akan memberikan yang terbaik untuk kita semua.
Yesus adalah Anak kesayangan Bapa. Yesus punya relasi mesra dengan Bapa-Nya. Bapa berkenan pada Yesus putra-Nya. Kematian Yesus menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Bapa. Maka Bapa berkenan membangkitkan Dia dari mati.
Kalau Bapa mengasihi Dia, Bapa juga akan mengasihi kita dalam nama Anak-Nya.Yesus menegaskan kepada kita bahwa Bapa juga mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya.
Yesus berkata, “Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; kini Aku meninggalkan dunia lagi dan pergi kepada Bapa.”
Jangan segan untuk minta kepada Bapa, melalui Yesus,Putera-Nya. Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Allah. Dalam doa itulah kita membangun relasi mesra dengan Allah, sebagaimana Yesus selalu berdoa kepada Bapa-Nya.
Marilah kita khususkan waktu untuk Tuhan. Yesus sudah membukakan ruang Bapa untuk kita, mari kita masuk ke hadirat-Nya.
Isap rokok tembakaunya kuat.
Asapnya memenuhi udara.
Jika hidup kita terasa berat.
Jangan lupa langsung berdoa.
Cawas, sehari tujuh kali…..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | May 22, 2020 | Renungan
DEWARUCI bersabda, “Heh ngger, Bratasena, sira mlebua ana ing guwagarba ulun. Sira bakal ngawruhi sing jenenge kasampurnaning dumadi.” (Hai, anakku Bratasena, masuklah kamu ke rahimku. Kamu akan menemukan apa itu hidup yang sempurna).
KETIKA Werkudara atau Bratasena masuk ke tubuh Dewaruci, ia merasakan “urip sajroning pati, mati sajroning urip.” Bima merasa tenang dan damai, tentram, bahagia dan sukacita tiada taranya.
Kedamaian sejati itu didapat jika titah atau ciptaan bersatu dengan Sang Penciptanya. Bratasena ingin tetap tinggal selamanya di rahim Sang Dewaruci.
Tetapi belum diijinkan karena dia harus mendarmabaktikan hidupnya sebagai ksatria. Ksatria itu tugasnya menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia.
Ketika seorang bayi lahir, ia menangis menjerit-jerit “njempling-jempling” sejadinya, mengapa? Karena ia dipisahkan dari rahim ibunya. Rahim adalah surga bagi si bayi. Ia menangis menjerit seorang diri, tetapi semua orang di sekitarnya tertawa bahagia.
Ia harus terpisah dari surga yang damai, aman, tentram bahagia. Itulah dukacitanya seorang bayi. Tangisan sang bayi adalah bahagianya seorang ibu. Ia melupakan segala penderitaan ketika akan melahirkan. Perjuangan melahirkan itu adalah perjuangan hidup dan mati. Seorang ibu rela berkorban agar anaknya hidup.
Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus menggambarkan perpisahan dengan murid-murid itu seperti pengalaman seorang ibu yang melahirkan.
Para murid seperti bayi yang baru saja lahir. Ia menangis, sedih dan berdukacita karena lepas dari rahim ibunya. Tetapi mereka nanti akan bersukacita karena Roh Kudus diberikan Yesus pada hari Pantekosta.
Yesus naik ke surga. Tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus-Nya, agar kita tidak berjalan sendiri. Roh Kudus itu akan menuntun kita kembali ke rumah Bapa di surga. Roh Kudus akan membimbing kita kembali ke rahim Allah.
Kita nanti akan bersatu kembali dengan Allah. Seperti Bratasena yang harus menjalankan darma hidupnya, kita pun diajak berjuang menegakkan kasih dan damai Allah. Bersama dengan Roh Yesus, mari kita menjalankan darma bakti kita.
Sore-sore makan pisang rebus.
Sambil menyeruput kopi robusta.
Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus.
Agar kita berjuang sampai ke rumah Bapa.
Cawas, tetap di rumah aja….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | May 20, 2020 | Renungan
ANOMAN diutus Rama pergi ke Alengka. Ia diutus untuk memastikan bahwa Sinta masih hidup dan tetap setia kepadanya.
Maka diberikan kepada Anoman cincin perkawinan Rama. Jika cincin itu cocok dipakai di jari manis Sinta maka itu tanda kesetiaan Sinta kepadanya.
Anoman berangkat melaksanakan titah Rama. Ia menyelinap masuk di Taman Argasoka dimana Sinta ditawan oleh Dasamuka. Ia mempersembahkan cincin pemberian Rama kepada Sinta. Cincin itu pas dipakai Sinta.
Ketika Anoman pamit pulang, ia diberi “cunduk” oleh Sinta dengan pesan kepada Rama bahwa dia menanti kedatangan Rama untuk membawanya pulang ke Ayodya.
Cincin dan “cunduk” menjadi tanda Anoman sebagai duta yang membawa pesan khusus. Barang itu juga tanda resmi dari yang mengutusnya.
Empatpuluh hari setelah Yesus bangkit, Ia mengajak para murid-Nya naik ke sebuah bukit di luar Yerusalem, yakni di Bukit Zaitus (Mount Olive). Di sana Ia terangkat ke surga dan duduk di sisi Bapa.
Selama empatpuluh hari Yesus meyakinkan para murid bahwa Ia hidup. Ia menampakkan diri dan menyiapkan murid-murid-Nya untuk suatu perutusan baru. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”
Selama empatpuluh tahun, Israel mengembara di padang gurun dan diajar Tuhan untuk menjadi suatu bangsa baru. Selama empatpuluh hari Yesus membangun dasar Israel baru di atas iman para rasul.
Gereja adalah Israel baru. Gereja adalah kita semua. Tugas mewartakan Injil itu diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi sampai kita di zaman ini. Kita semua punya tugas untuk memberitakan Injil ke segala penjuru dunia.
Murid-murid Kristus adalah duta atau utusan. Kita semua menerima perutusan agung Tuhan, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”
Baptisan kita adalah tanda bahwa kita ini mendapat tugas perutusan. Sakramen baptis juga menjadi tanda bahwa Kristus menyertai kita selamanya. Mari kita melaksanakan tugas perutusan ini dimana pun kita berada.
Masuk hutan belantara.
Hanya bawa tongkat semata.
Kita semua adalah pewarta.
Yang membawa Kabar Sukacita.
Cawas, semangat diutus…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | May 19, 2020 | Renungan
“UNTUNGLAH kita lewat jalan ini, kalau tidak, kita tidak selamat.” komentar teman ketika tahu jalan yang maunya kita lewati tadi ternyata longsor. “Tujune Gusti mberkahi kita”. “Nah benar kan? Untung kita lakukan yang ini, kalau tidak, hancur kita.”
Komentar-komentar seperti itu muncul setelah kejadian dimana kita barusan diselamatkan. Penilaian itu bersifat post factum. Kita terhindar dari mala petaka atau kita berhasil melewati masa-masa kritis.
Kemampuan nalar kita itu terbatas. Ketika kita sedang di dalam situasi kritis, kita tidak menyadari campur tangan Tuhan. Setelah kita terbebas dari situasi sulit itu, kita baru sadar ini semua berkat pertolongan Tuhan. Atau sejak awal mula Tuhan sudah mendampingi kita.
Ada banyak hal di dunia ini yang kita tidak mampu menyelaminya. “Jembar-jembaring jagad sing gumelar, isih luwih jembar jagad sing ora gumelar.”
(Betapa luasnya dunia ini, tetapi masih lebih luas alam semesta di luar dunia yang kita lihat). Di atas langit masih ada langit. Begitu pepatah mengatakan bahwa kemampuan kita ini sangat terbatas.
Yesus berkata, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.”
Masih ada banyak hal yang kita belum bisa memahaminya. Kita membutuhkan kehadiran Roh yang membimbing kita untuk memahami semua ini.
Roh itu adalah Roh Kebenaran yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. “Ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Kata Yesus.
Pandemi sekarang ini mengajari kita banyak hal. Kehadiran virus yang tidak kelihatan ini membuka mata kita dan mengubah berbagai hal dalam kehidupan kita. Ternyata ada banyak perkara yang tidak dapat kita pahami semuanya.
Hal-hal yang sudah mapan, kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah berjalan dibongkar lagi karena datangnya virus corona. Semua sisi kehidupan harus diperbaharui.
Di Inggris hari ini menurut BBC, 70% masyarakat sudah beralih dari transportasi publik ke penggunaan sepeda gowes. Virus ini akan terus ada. Kita harus bisa beradaptasi dengan gaya hidup sehat, lebih hormat pada sesama dan cara-cara hidup baru.
Roh Kebenaran akan membimbing kita memahami situasi pandemi ini dan mengajak kita semua kembali kepada kebenaran Allah.
Kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri. Kita membutuhkan Roh yang memimpin kita. Syukur kepada Yesus karena Dia mengaruniakan Roh-Nya.
Virus corona tidak mungkin cepat binasa.
Kita harus beradaptasi untuk menyikapinya.
Kebijaksanaan Allah terlalu tinggi bagi pikiran kita.
Kita membutuhkan Roh yang menuntun ke sana.
Cawas, tetap jaga diri….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | May 18, 2020 | Renungan
Pamitan
(Gesang)
LILANANA pamit mulih (Ijinkanlah aku pergi)
Mesti kula yen dede jodhone (jika aku bukanlah jodohnya)
Muga enggal antuk sulih (Moga cepat dapat pengganti)
Wong sing bisa ngladeni slirane (orang yang pantas mendampinginya)
Pancen abot jroning ati (memang berat dalam hati)
Ninggal ndika wong sing tak tresnani (melepasmu orang yang kucintai)
Nanging badhe kados pundi (namun harus bagaimana lagi)
Wong kawula sak drema nglampahi (karena aku hanya sebatas menjalani)
Lagu ini benar-benar lagu pamitan bagi Broery Pesolima. Tidak lama setelah menyanyikan lagu ini versi Indonesianya, Broery pergi untuk selama-lamanya. Begitu pula sang penciptanya, yang juga pecipta lagu Bengawan Solo, menyusul pergi menghadap Sang Pencipta.
Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan datang kepadamu; sebaliknya jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Penghibur itu datang, Ia akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”
Yesus pamit kepada para murid. Tetapi Dia berjanji akan ada pengganti-Nya yakni Roh Kudus, Roh-Nya sendiri yang akan membimbing dan mendampingi para murid-Nya.
Yesus tidak tega membiarkan kita mengarungi kehidupan sendiri. Ia pergi meninggalkan kita. tetapi ia mengutus Roh Kudus mendampingi kita dalam peziarahan di dunia ini.
Dalam Kisah Para Rasul, sangat jelas bagaimana Roh Kudus membimbing mereka untuk bersaksi mewartakan Injil kemana-mana. Sejak peristiwa Pantekosta, Yesus mencurahkan Roh-Nya kepada murid-murid untuk bersaksi.
Gereja tersebar dimana-mana dan kuasa Roh Kudus menaungi mereka. Kita tidak perlu bersedih karena Yesus pergi, karena ada Roh Kudus yang menemani. Dengan begitu Yesus selalu menyertai kita sampai akhir zaman.
Bunga kamboja bukan bunga melati.
Lebih harum bunga arum ndalu.
Yesus tidak tega kita berjalan sendiri.
Roh Kudus diutus menjaga kita selalu.
Cawas, tidak pernah putus berharap….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr