Puncta 04.05.20 Yohanes 10:11-18 / Menjadi Shaolin Sejati

 

HOU JIE adalah panglima perang yang baik. Ia meninggalkan dunia kemiliteran yang penuh dengan intrik persaingan, peperangan, pembunuhan, kekejaman.

Ia ingin menebus dosanya dan menjadi murid di Kuil Shaolin. Ia dibantu oleh Biksu Wudao yang bertugas sebagai koki di kuil. Ia mulai memahami jalan hidup Shaolin dalam keheningan dan ketenangan batin.

Chao Man menggantikan posisinya menjadi panglima perang yang kejam. Ia mendengar bahwa Hou Jie masih hidup. Ia mencari dan mengejar untuk membunuhnya. Ia kerahkan pasukan untuk mengepung biara Shaolin.

Hou Jie dan para biarawan berusaha mempertahankan biara Shaolin. Wudao memimpin anak-anak dan perempuan mengungsi. Hou Jie menumpahkan darahnya untuk keselamatan warga Shaolin.

Bahkan dia menolong Chao Man musuhnya, dari reruntuhan pilar kuil. Hou Jie terlontar dan jatuh di pangkuan Budha. Ia mati dalam damai demi kelangsungan generasi Shaolin selanjutnya.

Dengan diiringi lagu yang mengalun pilu berjudul Wu, Wudao dan teman-temannya memandangi asap reruntuhan kuil mereka.

Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Gembala yang baik bertanggungjawa bagi keselamatan domba-dombanya dari berbagai bahaya.

Ia tidak lari ketika serigala datang. Ia menjaga dombanya supaya aman dan mendapatkan rumput segar. Yesus adalah gembala yang baik, yang mengenal domba-domba-Nya.

Paus Fransiskus mengajak para imam agar menjadi gembala berbau domba. Gembala yang hidup dekat dengan domba-dombanya, bukan yang jauh dan tidak mengenal dombanya.

Ajakan itu kiranya dipengaruhi oleh situasi zaman sekarang ini yang menjauhkan kita dari semangat pelayanan, pengabdian, pengorbanan. Istilah Jawanya, “ora wani nggetih.” Tidak berani total, habis-habisan.

Seperti Hou Jie, ia meninggalkan dunia militer dengan segala gemerlapnya dan fokus menjadi rahib sampai mati membela teman-temannya di biara Shaolin.

Yesus adalah panutan kita. Ia menjadi gembala yang mati untuk keselamatan domba-domba-Nya. Pengorbanan total seperti Yesus itulah yang perlu kita teladani dalam melayani domba-domba-Nya.

Mendapat untaian mawar dua.
Ditaruh cantik di pot bunga.
Mari ikuti Sang Gembala utama.
Yang hidup dekat dengan domba-domba.

Cawas, berdoa dan berdoa…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.05.20 PW St. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja Yohanes 6:60-69 / Perkataan Keras

 

WAKTU menanggapi kedatangan Kresna sebagai duta Pandawa, terjadi perdebatan sengit di antara para penasehat Kurawa. Karna menuduh dengan keras bahwa di tengah-tengah para penasehat ada mata-mata.

Tuduhan itu membuat telinga Prabu Salya merah padam. Ia marah dituduh sebagai mata-mata. Kata-kata yang terlontar makin keras dan panas bagai api berkobar membakar sejuta hutan.

Di balairung itu yang terjadi bukan bersatu menghadapi duta Pandawa, tetapi justru saling permusuhan yang makin tajam. Akhirnya Salya menantang Karna.

Namun terdesak oleh kedatangan Kresna, Adipati Karna mundur diam-diam menghindari kemarahan Salya. Karna mundur karena kata-kata Salya yang keras. Ia baru menampakkan diri lagi di istana ketika perang Baratayuda sudah menewaskan banyak senapati Kurawa.

Yesus berbicara tentang roti hidup. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.”

Ia menegaskan,”Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

Sabda ini bagi banyak orang dianggap keras dan tajam kalau tidak mau dikatakan kasar. Mungkin juga ada orang merasa terhina karena harus makan daging dan minum darah manusia. Maka banyak orang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus.

Dalam situasi kritis seperti itu, Yesus menggunakan kesempatan untuk menantang para murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Yesus ingin mendapat ketegasan posisi para murid. Maju atau mundur.

Simon Petrus mewakili teman-temannya berkata, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Kita juga pernah mengalamai situasi kritis seperti itu. Harus berani mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti Yesus atau mundur.

Mengikuti Dia berarti berani menanggung segala resiko ditolak dan siap di jalan salib. Memang berat tantangan Yesus. konsekwensinya adalah salib. Apakah kita mau maju atau mundur teratur?

Ke warung beli rujak cingur.
Dinikmati dengan peyek usus.
Milih maju atau milih mundur.
Tanggung resiko kalau ikut Yesus.

Cawas, diam dan tepekur….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.05.20 Jum’at Pertama Yohanes 6:52-59 / Darah Lambang Kehidupan

 

Darah simbol cinta dan persahabatan. Memang terdengar mengerikan, tapi darah juga sering diceritakan sebagai salah satu simbol cinta yang paling kuat.

Pada jaman dahulu, banyak orang mengadakan ritual untuk “menyatukan darah” dengan orang lain yang dianggap berjasa bagi hidup mereka.

Hal ini dilakukan untuk menunjukkan rasa persaudaraan dan loyalitas yang sangat kuat, tidak akan terpisahkan hingga maut menjemput.

Darah juga sering dianggap sebagai simbol pengorbanan bagi orang yang dikasihinya. Pengorbanan tulus ini kerap berakhir dengan kematian dan tragedi.

Namun banyak orang percaya bahwa cinta sepasang kekasih yang mati karena berkorban untuk pasangannya akan selalu hidup abadi di surga. Ingat kisah-kisah cerita Romeo-Juliet, Sam Pek-Ing Tay, Rose-Jack, Roro Mendut-Pranacitra?

Yesus menumpahkan darah-Nya untuk manusia yang dikasihi-Nya. Dia mati di salib demi cinta-Nya kepada manusia.

Yesus berkata, ”Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.”

Darah melambangkan kehidupan. Orang yang berani menumpahkan darah menunjukkan cintanya yang total. Menumpahkan darah menjadi simbol menyatukan jiwa dan raga demi orang yang dikasihinya.

Kata Yesus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

Kita pantas bersyukur karena Kristus mengasihi kita sedemikian rupa sampai Ia menumpahkan darah-Nya. Kita bersyukur boleh mengenangkan cinta-Nya dalam Ekaristi dimana Dia memberikan tubuh dan darah-Nya.

Kita sungguh berharga di mata-Nya kendati kita ini orang berdosa. Mari kita hidup sebagai orang yang pantas dikasihi-Nya.

Pohung kuning rasanya gurih gempi.
Dioles-oles dengan madu dan mentega.
Darah Kristus tanda cinta sejati.
Memberi hidup kekal bagi kita semua.

Cawas, mimpi ke dunia lain…
Rm. A. JokoPurwanto Pr

Puncta 30.04.20 Yohanes 6:44-51 / Panis Angelicus

 

KENDATI belum pernah menikmati langsung suara Luciano Pavarroti atau Andrea Bocelli menyanyikan Lagu Panis Angelicus, setidak-tidaknya saya pernah tergetar dan merinding saat teman seangkatan di Mertoyudan menyanyikan lagu itu waktu Misa Paskah.

Romo Marjono kini sudah menikmati Panis Angelicus di surga. Syair yang diciptakan oleh Santo Thomas Aquinas itu menggambarkan dalam istilah Jawa “manunggaling kawula Gusti.” Roti para malaikat telah menjadi roti manusia. Roti surgawi telah diberikan.

Oh hal yang luar biasa; orang miskin, budak dan orang sederhana dipersatukan dengan Tuhan. Manusia yang berdosa ditebus oleh Allah. Manusia hina diijinkan bersatu dengan Yang Ilahi karena Yesus Kristus.

Sabda Yesus hari ini sungguh luar biasa, “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga. Barangsiapa makan daripadanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Tidak ada tempat paling nyata sebagai persatuan Allah dan manusia kecuali dalam Ekaristi kudus. Dalam Ekaristi, Yesus memberikan Diri-Nya menjadi santapan kita. ia menumpahkan Darah-Nya untuk kehidupan kita.

Kita semua baik yang kaya dan miskin, presiden dan rakyat jelata, orang hebat dan sederhana, semua sama di hadapan Tuhan. Kita semua diundang oleh Tuhan menyambut Tubuh-Nya. Yesus Kristus diberikan untuk dunia. Ekaristi menjadi tanda “manunggaling kawula Gusti.”

Kalau manna di padang gurun membuat Bangsa Israel mati, Roti yang dari surga ini memberikan hidup kekal. Seorang yang makan dari roti ini akan hidup selama-lamanya.

Barangsiapa percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. Kita belum bisa bersatu dengan Sang Roti hidup sekarang. Tetapi pada saatnya nanti marilah sesering mungkin menerima Tubuh Kristus yang akan membawa kita pada kehidupan abadi.

Tidur nyenyak diiring suara merdu.
Mimpi bercanda ria di taman bunga.
Tuhan Yesus datanglah segera kepadaku.
Engkaulah Roti hidup yang turun dari surga.

Cawas, teriring suara merdu…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.04.20 PW St. Katharina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja. Yohanes 6:35-40 / Naik Kereta Api

 

SAYA ingat Rm. Tom Jacob, dosen Kitab Suci di Fakultas Teologi Wedhabakti. Suaranya lantang dan lucu gaya bicaranya. Maklum Rama Landa.

Saya masih ingat ketika beliau bicara tentang keselamatan. Kita ini seperti naik kereta api dan masinisnya adalah Kristus. Namanya teologi “ndompleng” keselamatan.

Kalau kita tidak masuk gerbong Kristus, kita tidak diselamatkan-Nya. Kita tidak bisa ikut menuju ke kerajaan Bapa. Kristus membawa kita kepada keselamatan yakni Kerajaan Bapa.

Seperti naik kereta api, kalau kita mau ke Jakarta, maka kita naik kereta yang masinisnya membawa kereta ke Jakarta.

Kalau kita mau selamat sampai ke rumah Bapa, maka kita harus ikut masinis yang membawa kita ke rumah Bapa. Siapa yang berasal dari Bapa? Yesus Kristus.

Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan Kubuang.”

Kita diundang untuk datang kepada Yesus. Masuk di gerbong Yesus. Jangan di gerbong lain yang belum tentu membawa kita kepada keselamatan.

Yesus berkata, “Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Inilah jaminannya. Yesus berasal dari Bapa.

Kita sebagai pengikut Kristus percaya bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah Kristus sendiri. Dialah yang memberi kita hidup kekal.

Sebagaimana kita hidup memerlukan makanan, begitulah Yesus menjadi Roti Kehidupan kita. Supaya kita tidak mati dan binasa, maka kita butuh makan. Agar kita memperoleh kehidupan kekal, maka Yesus menjadi makanan kita. “Akulah roti hidup.”

Jadi ada dua gerak bersamaan. Yesus masuk ke dalam hidup kita menjadi makanan dan kita masuk ke gerbong Kristus menjadi penumpang. Kita menyatu di dalam Kristus, agar memperoleh hidup kekal dan keselamatan sampai akhir zaman.

Sudahkah kita berusaha menyesuaikan hidup seturut teladan Kristus? Mau berkurban dan memberikan diri-Nya untuk keselamatan orang lain?

Di masa pandemi ini maukah kita berbagi dan berkurban demi tetangga kita yang paling dekat? Keselamatan itu bukan hanya untuk kita sendiri, tetapi juga harus dibagi untuk sesama kita.

Selimut biru bawa berkat.
Waktu naik pesawat Etihad.
Ikut Yesus pasti selamat.
Di dunia kini sampai akhirat.

Cawas, cerah bersinar….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 28.04.20 Yohanes 6:30-35 / Roti Hidup

 

WARUNG bakmi Bu Slamet itu hampir tutup. Masa pandemi ini memaksa orang tinggal di rumah. Ketika Pak Slamet mau menutup pintu, sebuah sepeda motor ojol datang,

“Pak warungnya dah mau tutup? Aduh tolong pak, ini saya ada satu pesanan. Nyuwun tulung sanget pak.” Mas Ojol itu memohon. “Seharian ini tak ada yang pesen online Pak. Saya pulang tidak bawa hasil apa-apa ini nanti.”

Dia mengiba. Pak Slamet menatap Bu Slamet dengan wajah cemberut. Tapi Bu Slamet langsung menyalakan kompor dan mulai memasak pesanan Mas Ojol.

Tak lama Bu Slamet membuat nasi goreng pesanan. Ia menghampiri Mas Ojol dan menyerahkan dua bungkus. “Lho hanya satu kok bu pesanan saya.” Mas Ojol heran diberi dua. “Yang satu untuk Mas dan keluarga untuk makan di rumah.”

Mas Ojol itu menitikkan airmata. Sepanjang hari dia belum makan. Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada Bu Slamet. “Terimakasih ibu, Tuhan membalas yang berlimpah untuk ibu.” Katanya sambil berlalu untuk menghantar satu-satunya pesanannya.

Makan adalah kebutuhan pokok manusia. Kelaparan bisa menimbulkan pertengkaran. Perang bisa timbul karena rebutan lahan subur yang menghasilkan bahan pokok makanan.

Roti adalah kebutuhan hidup orang Israel. Ketika di padang gurun, mereka diberi roti oleh Yahwe melalui Musa hamba-Nya. Mereka berteriak-teriak kepada Musa karena bangsa itu kelaparan dan hampir mati di tengah gurun yang gersang.

Yesus mengatakan kepada orang banyak bahwa Dialah roti hidup yang turun dari surga. “Akulah roti hidup. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Yesus memberi hidup kepada dunia. Ia juga bersabda, “Yang makan Tubuh-Ku dan minum darah-Ku, ia akan memperoleh hidup kekal.”

Yesus memberikan Diri-Nya untuk kehidupan manusia. Yesus mengurbankan diri menjadi makanan bagi kita agar semua orang hidup. Dalam Ekaristi Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.

Ekaristi menjadi kebutuhan rohani kita. kita pantas bersyukur karena Ekaristi – kendati sekarang kita belum bisa mengikutinya – Yesus menyediakan makanan rohani untuk kehidupan kekal.

Semoga Roti Hidup itu juga membuat kita mampu memberi hidup kepada orang lain, seperti Bu Slamet tadi.

Oneng dan Bajuri buka-buka warung.
Mereka juga siapkan thermogun.
Di masa pandemi ini kita jangan bingung.
Mari kita saling menolong seperti juragan.

Cawas, punya thermogun……
Rm. A. Joko Purwanto Pr