by editor | Apr 26, 2020 | Renungan
WAKTU itu saya turne ke stasi Sebuak di Paroki Nanga Tayap. Saya singgah di rumah ketua stasi, Pak Agus namanya. Dia buka warung kecil di rumahnya.
Beberapa kali ada pembeli datang ke rumahnya, “Mak, kenapa warungnya tutup, kami mau beli kebutuhan.” Bu Agus menjawab dari dalam rumah, “Maaf ya bu, kami mau sembahyang dulu. Warungnya tutup dulu.”
Saya bertanya kepada Bu Agus, “Kenapa gak dilayani dulu, kan itu rejeki datang.”
Kata Bu Agus, “Ah rejeki bisa dicari Romo. Tetapi sabda Tuhan itu rejeki hidup untuk selamanya.”
Saya menjawab, “Apa gak rugi kalau hari Minggu tutup karena sembahyang ke gereja?” “Tidak Romo, Tuhan sudah memberi rejeki yang lebih berguna untuk hidup kami.” Katanya.
Orang banyak mencari Yesus ke Kapernaum setelah mereka dikenyangkan dengan roti untuk lima ribu orang laki-laki. Yesus mengetahui motivasi mereka.
Ia berkata, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.”
Keluarga sederhana itu mengajari saya untuk mensyukuri apa yang diberikan Tuhan. Untuk apa memperoleh banyak harta tetapi hatinya tidak tentram?
Maka Yesus menasehati orang-orang, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai ke hidup kekal.”
Keluarga itu memberi insight pada saya bahwa Sabda dan Ekaristi jauh lebih penting daripada harta duniawi.
Apakah yang kita kejar selama ini? Harta kekayaan? Kemewahan? Popularitas? Kekuasaan? Semua itu akan musnah, hilang lenyap. Namun sabda Tuhan kekal abadi selamanya.
Marilah kita melakukan pekerjaan yang membawa keselamatan kekal, yakni percaya kepada Yesus Utusan Allah.
Mulut bernyanyi riang tanda sukacita.
Bokong megal megol sambil mencuci panci.
Apalah artinya kita mengejar harta dunia.
Jika kita tidak selamat di akherat nanti.
Cawas, bergoyang-goyang riang…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 24, 2020 | Renungan
KETIKA diberi tugas bermisi ke Ketapang oleh Bapak Uskup, saya hanya bisa mengatakan “Ya saya siap.” Siap karena harus taat pada pimpinan.
Tetapi sesudah keluar kamar beliau, saya bingung karena belum pernah ke Kalimantan, tidak tahu medan pelayanan, tidak kenal orang-orang di sana. Apalagi mendengar cerita-cerita seram di Kalimantan, “Orang di sana makan manusia.”
Setelah menginjakkan kaki di Ketapang, hal-hal yang menakutkan itu langsung hilang. Ada begitu banyak orang yang baik dan murah hati, ramah dan suka menolong. Sejak itu saya merasa di rumah sendiri.
Medan pastoral memang berat tetapi mewartakan Injil harus dijalankan. Ada banyak umat yang merindukan kehadiran imam melayani sakramen-sakramen. Hambatan dan rintangan selalu ada. Tetapi Tuhan selalu memberi jalan mengatasinya.
Hampir sembilan tahun tak terasa. Kalau diberi tugas lagi, saya tidak akan bingung. Saya siap bukan karena taat pimpinan, tetapi karena sadar ini adalah perintah Tuhan.
Hari ini Tuhan Yesus menampakkan Diri dan mengutus para murid, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Perintah agung ini diberikan agar iman para rasul diwariskan kepada semua orang.
Setiap orang juga menyadari tugas perutusan ini. Dimana pun kita berada, kita ini adalah misionaris. Ada banyak cara kita bermisi.
Ada yang pergi ke pelosok-pelosok daerah mewartakan Injil bagi mereka yang belum mengenal Yesus. Ada yang pergi dari keuskupan yang satu ke keuskupan yang lain, diutus untuk bermisi.
Namun ada pula yang bermisi ke dalam secara internal di tengah keluarga kita sendiri dan dalam hati kita masing-masing. Keluarga kita sendiri, hati kita ini juga perlu diberi warta Injil.
Ada areal hati kita ini yang membutuhkan sentuhan sabda Tuhan. Hati yang keras membatu, hati yang angkuh dan sombong, hati yang penuh dengan iri, dengki, dendam dan fitnah. Hati yang tidak mau mengampuni.
Realitas hati seperti itulah yang membutuhkan warta Injil. Keluarga yang baik-baik belum tentu tidak membutuhkan sentuhan Tuhan. Relasi keluarga yang dingin, hampa dan tanpa komunikasi mesra juga merupakan lahan untuk bermisi.
Hidup komunitas yang hambar dan saling mendiamkan, ini juga wilayah bermisi. Dunia yang semakin egois, persaingan dan permusuhan, ini juga membutuhkan warta Injil. Mari kita wartakan Kabar Gembira di mana pun kita berada.
Pergi ke sawah menanam semangka.
Rumput-rumput tumbuh di sampingnya.
Perintah agung diberikan kepada kita.
Wartakan Injil ke seluruh dunia.
Cawas, senja yang indah….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 23, 2020 | Renungan
KAUM ibu itu selalu saja punya aneka macam cara untuk mengolah segala sesuatu. Ketika tugas di Paroki Nanga Tayap, saya kagum dan memuji keterlibatan para ibu yang dengan sukarela mendukung berbagai macam acara: Kursus Persiapan Perkawinan, Musyawarah Paroki, Pertemuan ketua-ketua umat, forum komunikasi antar stasi dan pesta-pesta hari raya selalu diramaikan oleh ibu-ibu.
Mereka menyiapkan masakan di dapur untuk semua peserta. Mereka membawa beras, daun ubi, labu, timun, sayur-sayuran dan ikan salai dengan sukarela. Dari pengalaman, tidak pernah kekurangan, tetapi selalu berlebih. Walaupun pada awalnya tumbuh rasa kawatir dan kebingungan, namun di tangan ibu-ibu semua makan dengan kenyang dan ada sisa yang bisa dibawa pulang.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajar banyak orang dan Dia jatuh belaskasihan karena mereka kelaparan. Para murid-Nya kebingungan menghadapi begitu banyak orang. Mereka hanya mengeluh dan angkat bahu melihat banyaknya orang berkumpul.
“Roti seharga duaratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Andreas melihat ada kemungkinan, “tetapi apalah artinya lima roti dan dua ikan untuk orang sebanyak ini?” Mereka tidak mampu mengatasi masalah. Angkat tangan dan tidak bisa berbuat banyak.
Yesus menyuruh mereka duduk di atas rerumputan. Rumput adalah makanan domba. Yesus sebagai gembala, sedangkan orang banyak itu adalah domba-domba-Nya. Sang Gembala menyediakan makanan untuk domba-domba-Nya.
Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ; demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu sebanyak yang mereka kehendaki. Inilah tndakan ekaristis.
Ketika kita hanya mengeluh tentang kekurangan, kelemahan dan ketidak-mampuan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi ketika yang kecil, sedikit itu disyukuri dan dibagi-bagikan, maka akan menjadi berkelimpahan. Yesus mengubah cara pandang kita. Anak kecil yang tak diperhitungkan, yang hanya sedikit, yang tidak dihargai dan dianggap. Jika disyukuri, maka akan menjadi besar dan berkelimpahan serta bermanfaat banyak.
Mari dengan mata batin yang jeli kita belajar menghargai, memperhitungkan serta memberi tempat bagi mereka yang kecil, lemah, miskin dan sederhana. Mereka akan membuat kita menjadi berkelimpahan penuh berkat.
Berjalan di pematang sawah melihat senja.
Bulan sudah mengintip di atas telaga.
Yesus memilih yang kecil dan hina.
Untuk menumbangkan yang sombong dan perkasa.
Cawas, hati penuh syukur…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 22, 2020 | Renungan
SANG Bima Sena disuruh gurunya mencari Tirta Pawitra Mahening Suci, “ngelmu kasampurnaning dumadi”. Ilmu itu adanya di dasar samudera. Ia harus menceburkan diri di dasar samudra.
Dengan mengalahkan naga di dasar samudera, Bima bertemu dengan Dewa Ruci, Anak bajang yang berpakaian mirip seperti dirinya. Bima diwejang apa artinya “ngelmu kasampurnaning dumadi.”
Kesempurnaan sejati itu hanya akan tercapai bila manusia sudah tidak tergantung pada panca inderanya sendiri. Jika manusia masih menggunakan daya panas matahari, desirnya angin, sejuknya air dan kaki masih berpijak di atas bumi, maka manusia belum bisa mencapai kesempurnaan hidup. Karena manusia berasal dari bumi, maka dia tak mampu mencapai kesempurnaan sejati. Hanya Allah yang Maha Sempurna.
Tirta Pawitra Mahening Suci itu perlambang atau sanepan. Tirta itu artinya air, yang arti luasnya adalah kehidupan. Dimana ada air ada kehidupan. Pawitra berarti bening.
Air yang bening akan memberi kehidupan segala makhluk. Mahening dari kata maha dan ening. Itu artinya ketentraman lahir batin. Suci artinya terhindar dari segala noda dosa.
Dalam kehidupan ini, carilah hidup yang sempurna yang bisa memberi ketentraman lahir dan batin. Jauhilah segala dosa maka hidupmu akan suci. Itulah maknanya Tirta Pawitra Mahening Suci.
Dalam perbincangan dengan Nikodemus, Yesus menjelaskan, siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi.
Manusia belum bisa mencapai kesempurnaan karena kakinya masih berpijak di atas bumi. Yesus datang dari atas dan berasal dari Bapa.
Ia mengatakan apa yang dikehendaki Bapa. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya. Tetapi manusia tidak bisa menerima-Nya.
Kita ini harus terus menerus mengusahakan kesucian agar dapat menerima sabda-Nya. Hanya dengan hati suci kita bisa menerima sabda Yesus. kita diajak percaya pada sabda-Nya.
Dengan percaya pada sabda Yesus, kita akan memperoleh hidup kekal. Nikodemus diajak untuk memehami kehendak Allah yang mengutus Putera Tunggal-Nya.
Ia yang rela mati untuk menebus dosa kita. Betapa besarnya kasih Allah kepada manusia sehingga Ia mengutus Putera-Nya dan mati untuk kita. Agar kita yang berasal dari dunia ini beroleh hidup kekal-Nya di surga.
Thengkleng istimewa menu makan siang.
Disajikan dengan penuh kejutan.
Yesus Kristus Sang Putera Terang.
Turun ke dunia membawa keselamatan.
Cawas, hatiku damai…..
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 21, 2020 | Renungan
DATANG pertama di Camp Tigal disambut dengan musim keriang. Keriang adalah nama binatang semacam belalang. Bentuknya seperti garengpung, tetapi suaranya memekakkan telinga.
Ia datang pada waktu malam, menyerbu cahaya lampu. Jumlahnya bisa ribuan. Orang-orang menangkapnya dan memotong bulu, kaki dan kepalanya, lalu digoreng menjadi lauk lezat. Lain waktu muncul “laron” atau anai-anai.
Sehabis hujan pertama mereka muncul. Binatang ini juga mencari cahaya. Kita siapkan lampu teplok dan tampah. Mereka akan menyerbu dan mengerumuni cahaya.
Kita tinggal “ayak” dengan tangan, semua bulunya rontok. Lalu dicuci dan digoreng dengan telur. Hmmm …. nyaman sekali. Tapi awas, kalau alergi bisa “biduren” atau gatal-gatal.
Binatang-binatang ini datang hanya untuk memberi kehidupan. Mereka mengorbankan dirinya untuk burung, kelelawar, tokek, cicak dan juga manusia.
Sekali muncul sesudah itu mati demi kehidupan yang lain. Mereka senang kepada cahaya karena hidup mereka demi kebaikan.
Mereka keluar dari tanah, terbang mencari terang/cahaya dan kemudian mati demi kehidupan yang lain. Mereka mengorbankan diri demi keselamatan makhluk.
Begitu juga kasih Allah kepada manusia. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Allah mengorbankan Putera Tunggal-Nya untuk keselamatan manusia.
Allah-lah yang lebih dahulu mengasihi manusia. Manusia yang jatuh dalam kegelapan dosa tidak mampu menyelamatkan dirinya. Allah berinisiatif menyelamatkan kita.
Maka Ia mengorbankan Putera Tunggal-Nya untuk kita. Kasih itu terwujud dalam pengorbanan. Keriang dan anai-anai atau “laron” itu mengorbakan hidupnya demi keselamatan yang lain. Yesus mati di salib demi kehidupan kita.
Kita ini “dibela-belain” sampai mati oleh Yesus. Allah membela kita, bukan kita yang membela Allah. Maka marilah hidup dengan kasih dan sukacita.
Marilah kita juga berani berkorban demi orang lain. Kasih yang dibagikan tidak akan hilang, tetapi justru akan makin berkembang. Kasih akan nampak dalam pengorbanan-pengorbanan kita.
Ayam goreng di kulkas sungguh merana.
Dingin membeku tak ada yang membuka.
Kasih Allah kepada manusia begitu nyata.
Yesus dikurbankan dan mati bagi kita.
Cawas, tetap di rumah aja….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by giasinta | Apr 21, 2020 | Renungan
Perayaan Malam Paskah (11/4) terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena diikuti seluruh umat Keuskupan Agung Semarang melalui streaming. Meski demikian, seluruh Umat Kristiani bersukacita menyambut kebangkitan Sang Juruselamat.
Dalam Misa Malam Paskah live streaming di kanal YouTube KOMSOS Keuskupan Agung Semarang yang disiarkan langsung dari Gereja Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengawali homilinya dengan mengucapkan Selamat Paskah kepada seluruh umat. Bapa Uskup juga bertanya pada umat, “Apakah kalian masih setia dan bangga menjadi murid Krisus di tengah situasi seperti ini?”. Menurutnya, kita semua sebagai Umat Katolik sejak tiga hari berturut-turut setia dan semangat mengikuti Perayaan Tri Hari Suci di situasi pandemi Covid-19 ini. Bapa Uskup juga menyampaikan bahwa tidak sedikit yang merasa terharu karena mengalami kasih Tuhan yang luar biasa di saat mengalami kesusahan hidup.
Selama tiga hari ini, banyak umat yang mengirimkan pesan kepada Bapa Uskup untuk mengungkapkan pengalaman iman mereka yang sangat mendalam. Dari sekian banyak pesan, Bapa Uskup menyimpulkan dua ungkapan pengharapan dan kerinduan yang sangat mendalam di antara kita. Pertama, kerinduan untuk mengikuti Perayaan Paskah seperti tahun-tahun silam di mana kita semua merayakan di gereja dan menerima tubuh Kristus. Selain tiu, ada juga harapan kita agar pandemi Covid-19 ini bisa berakhir agar kita semua dapat melakukan aktivitas seperti basa. Apakah Anda juga memiliki kerinduan dan harapan yang sama?
Bapa Uskup juga memberikan pengandaian, “Seandainya pada mala mini pemerintah kita mengumumkan bahwa wabah virus Corona sudah berakhir dan kita semua bisa beraktivitas seperti biasa, apa yang akan kita lakukan?”. Menurutnya, bisa jadi sebagian dari kita akan keluar rumah dan bersuka ria bersama keluarga dan kerabat kita. “Namun, ada beberapa orang juga yang masih khawatir dan waspada. Apakah kabar ini benar?”, ujarnya.
“Inilah juga yang dirasakan oleh para murid Yesus. Mereka sudah beberapa hari mendekam di dalam rumah dengan perasaan tercekam setelah penangkapan dan penyaliban Yesus di Gunung Golgota. Kemudian datanglah dua orang perempuan yaitu Maria Magdalena dan Maria yang lain membawa kabar bahagia setelah ditampaki oleh malaikat yang mengatakan bahwa Yesus telah bangkit dan hidup kembali,” kata Bapa Uskup. Sebagai umat, kita juga dapat membayangkan bahwa para murid bergembira dan melonjak kegirangan. Tetapi menurut Bapa Uskup, ada sebagian murid yang khawatir, bertanya-tanya perihal kebenaran pemberitaan itu dan apakah mereka boleh pergi keluar rumah tanpa ditangkap orang Yahudi?
“Ketakutan itu semua sirna seketika saat mereka berjumpa langsung dengan Yesus. Dia memberikan salam damai dan bersabda, ‘janganlah takut’. Inilah pengalaman Paskah yang menghalau ketakutan dan membawa sukacita, juga semangat untuk keluar rumah dan pergi mewartakan kegembiraan. Seperti itulah pengalaman para murid akan kebangkitan Yesus,” kata Bapa Uskup.
Bapa Uskup juga bertanya, “Lalu, bagaimana dengan kita yang hari ini merayakan Paskah? Apakah ada sukacita?”. Menurutnya, sebagai umat Katolik kita harus bersukacita dan bergembira karena kita semua mengalami pembebasan dari dosa. Tuhan telah menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan.
Sabda Yesus ‘janganlah takut’ bukan hanya ditujukan pada kedua perempuan dan para murid saja, tetapi juga untuk kita semua yang sedang mengalami kecemasan dan ketakutan akan sakit dan kematian. Ada pula yang mengawathirkan hari esok, pekerjaan, kelanjutan studi, keluarga, dan hal lainnya.
“Yesus bersabda seperti itu karena ini adalah saatnya kita membuang rasa takut itu dan mengubahnya menjadi sebuah pengharapan dan keyakinan bahwa Tuhan mendampingi dan menyertai kita. Tuhan selalu membimbing kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan kewaspadaan dan kehati-hatian agar terhindar dari wabah virus Corona,” tambah Bapa Uskup.
Bapa Uskup sungguh-sungguh mencoba untuk memperhatikan keselamatan dan keamanan umat Keuskupan Agung Semarang dengan membuat kebijakan untuk meniadakan berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Bapa Uskup juga melarang para Romo dan Prodiakon untuk berkeliling ke rumah-rumah umat yang rindu akan tubuh Kristus.
Kita semua sebagai umat Katolik diajak untuk tidak takut menghadapi segala situasi kehidupan ini. Kita harus memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Sama halnya dengan kedua perempuan yang diutus Yesus untuk menemui para muridnya agar mereka dapat menjumpai Yesus di Galilea. Kita yang merayakan Paskah juga diutus, diajak Yesus untuk keluar mewartakan kabar sukacita kepada semua orang yang kita jumpai. Pertanyaan yang muncul adalah ‘bagaimana cara mewartakannya di tengah situasi pandemi di mana kita tidak boleh keluar rumah seperti ini?’.
Bapa Uskup pun menjelaskan bahwa kita bisa mewartakan kabar gembira keselamatan itu dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan baik dan nyata, seperti ramah-tamah, menjalin persaudaraan, mempererat solidaritas, dan meningkatkan kepedulian. “Di situasi sekarang ini, tenaga medis, orang-orang yang mengalami kesulitan ekonomi, keluarga kita yang sudah tua, dan di luar sana banyak orang yang membutuhkan perhatian dan dukungan kita. Kita dipanggil untuk memegang erat amanat Yesus dengan semangat dan penuh sukacita,” ujar Bapa Uskup.
Sembari menutup kotbahnya, Bapa Uskup berpesan kepada seluruh umat untuk selalu bahagia dan jangan takut dalam menghadapi setiap peristiwa dalam hidup. “Tuhan akan selalu menyertai kita,” imbuhnya.