Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Mensyukuri Peristiwa Iman yang Luar Biasa

Oleh: Giasinta Berlianti

Pada Minggu (14/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr. Romo yang akrab disapa dengan Romo Tri ini ketika homili mengungkapkan bahwa biasanya pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, anak-anak di Paroki Babarsari menerima komuni pertama. “Tetapi karena pandemi, penerimaan komuni pertama belum dapat dilaksanakan. Kita semua berharap supaya pandemi ini segera berakhir agar semua umat, bukan hanya yang menerima komuni pertama, dapat hadir untuk menyambut Tubuh Kristus,” ujarnya.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Tuhan Yesus bersabda “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum daarah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:53-58). Romo Tri mengatakan bahwa jika kita mendengarkan kutipan injil tersebut, berarti kita diundang untuk makan dan minum darah-Nya. “Rasanya memang ngeri ya, kayak film horor. Tetapi, makna sesungguhnya adalah bagaimana kita semua memahami peristiwa ini sebagai iman yang luar biasa sebagai murid Kristus,” lanjut Romo Tri.

Ketika misa berlangsung, umat biasanya mempersembahkan uang, hasil bumi, dan lainnya untuk gereja. “Tetapi sebenarnya, seharusnya kita mempersembahkan semua, baik suka, duka, maupun pengharapan. Semua itu disatukan dengan kurban salib di altar-Nya yang kudus,” kata Romo Tri. Menurutnya, pada saat itulah terjadi peristiwa iman yang luar biasa. “Dalam konsekrasi, roti dan anggur yang dipersembahkan akan berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus,” lanjutnya. Peristiwa itu memberikan makna bagaimana korban Kristus dihadirkan ulang, supaya roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. “Roti itu sejatinya Tubuh Kristus sungguhan. Ketika minum anggur, karena konsekrasi itu berubah menjadi Darah Kristus,” tegas Romo Tri.

Romo Tri juga mengungkapkan bahwa setiap kita sebagai manusia disucikan dan mengalami keselamatan. Ekaristi menjadi perayaan keselamatan bagi setiap manusia yang percaya pada Kristus. “Maka, kita semua diundang untuk mensyukuri ekaristi yang bisa kita rayakan setiap hari, meskipun secara streaming atau virtual,” ujarnya. Menurutnya, setiap umat di masa pandemi pasti berharap bahwa meski secara virtual, esesnsi ekaristi tidak berkurang. “Tuhan memberikan kita kehidupan kekal, membangkitkan kita di akhir zaman, dan melindungi hidup kita,” tambah Romo Tri.

Sebagai manusia, kita semua diundang untuk menyadari pula bahwa ekaristi bukanlah makanan biasa. “Ekaristi adalah pengorbanan Kristus untuk mengalami keselamatan. Oleh karena itu, baiklah kita bersehati dengan Yesus,” ujar Romo Tri. Romo Tri mengatakan bahwa buah ekaristi sama dengan hidup baru. “Maka, aneh rasanya bila orang beriman tidak mau bersatu dengan gerejanya,” tambahnya. Terakhir, Romo Tri mengajak semua umat untuk merayakan ekaristi di masa pandemi ini dengan iman dan penuh rasa syukur.

Sakramen Rekonsiliasi Melalui Video Call, Mungkinkah?

Wawancara dengan Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Oleh: Florence Elisabeth

Sakramen rekonsiliasi merupakan nama lain dari sakramen tobat. Dalam Kanon 959 tertulis bahwa dalam sakramen tobat umat beriman mengakukan dosa-dosanya kepada pelayan yang legitim atau sah, menyesalinya serta berniat memperbaiki diri, lewat absolusi yang diberikan oleh pelayan itu, memperoleh ampun dari Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sesudah baptis, dan sekaligus diperdamaikan kembali dengan Gereja yang mereka lukai dengan berdosa. Bapa Uskup menegaskan bahwa Sakramen tobat adalah sakramen dengan peniten (orang yang bertobat) mengaku dosa yang sudah dilakukan kepada pelayan yang legitim atau sah, yakni kepada imam yang telah ditahbiskan secara sah dan telah mendapatkan fakultas/kewenangan dari Uskup Diosesan untuk mendengarkan pengakuan dosa.

Dalam Kanon 959 tertulis bahwa pengampunan Tuhan melalui sakramen tobat hanya akan diberikan jika kita melakukan penyesalan yang serius yakni sikap untuk bertobat meninggalkan dosa dan memperbaiki diri lagi supaya kita lebih dekat dengan Tuhan. Harus ada tekad dan niat untuk mau memperbaiki diri. “Jika kita tidak mengalami penyesalan maka pengampunan itu tidak akan diberikan kepada kita,” kata Bapa Uskup.

Lalu apa yang kita terima setelah mengaku dosa? Menurut Bapa Uskup, melalui absolusi, kita sebagai yang mengaku dosa menerima pengampunan Allah dari semua dosa yang pernah dilakukannya sesudah dibaptis dan belum dilakukan. Dengan demikian, kita akan mengalami pendamaian kembali dengan Allah. Pendamaian ini membawa serta pemulihan  atas semua hak dan kewajibannya sebagai anggota gereja, termasuk menyambut komuni kudus.

“Ini adalah konteks sakramen tobat termasuk rahmat yang terima dalam pengakuan dosa ini,” ujarnya. Lalu bagaimana perayaannya? Dalam Kanon 960 ditegaskan bahwa pengakuan pribadi dan utuh serta absolusi merupakan cara biasa satu-satunya dengan orang beriman yang sadar akan dosa beratnya diperdamaikan kembali dengan Allah dan Gereja; hanya ketidakmungkinan fisik atau moril saja membebaskannya dari pengakuan semacam itu, dalam hal rekonsiliasi dapat diperoleh juga dengan cara lain. Bapa Uskup mengajarkan bahwa pengakuan dosa umum yang dianjurkan gereja adalah datang pada Imam dan mengaku dosa disertai penyesalan yang mendalam. Kemudian, Imam memberikan absolusi dan penitensi atas dosa kita. Dengan cara seperti itu jelas tandanya bahwa kita telah diampuni dan dibebaskan kembali dari dosa. “Terdapat pengecualian jika tidak mungkin dilakukan karena kondisi tertentu dimungkinkan mendapat pengampunan dosa dengan cara lain,” kata Bapa Uskup.

Menurutnya, dalam Surat Edaran Uskup tanggal 16 Maret 2020 yaitu mengenai pengakuan dosa melalui absolusi umum yakni pengakuan dosa secara massal, romo memberikan abosuli atau pengampunan secara umum tanpa didahului pengakuan dosa secara pribadi. Absolusi umum hanya dapat diberikan sejauh tuntutan Kanon 962 terpenuhi, yakni pertama-tama ada penyesalan atas semua dosa sehingga masing-masing berdisposisi atau memiliki  kondisi batin yang layak. Kedua, secara personal membangun semanagat total yang sejati dengan memperbaiki diri dengan tidak mengulang perbuatan dosanya. Ketiga, berniat untuk sesegera mungkin mengakukan dosa-dosa berat satu per satu pada saatnya yang tepat setelahnya.

Lalu, bagaimana jika kita tidak mungkin lagi untuk mengaku dosa dan menerima absolusi umum dalam keadaan pandemi Covid-19 dan diharuskan untuk jaga jarak? Mungkinkah kita menerima pengampunan dari Tuhan secara langsung? “Dalam tradisi Gereja sangat dimungkinkan kita menerima pengampunan dalam kondisi seperti ini, yaitu dengan tobat batin,” kata Bapa Uskup.

Tobat batin adalah penyesalan yang sungguh-sungguh serius dan mendalam atas semua dosa yang telah dilakukan merupakan salah satu langkah konkret untuk mendapatkan pengampunan Tuhan (lih. KGK 1431). Bapa Uskup mengatakan bahwa pertama, tobat batin sempurna mengandaikan adanya penyesalan yang sungguh-sungguh. Kedua, tekad dan kehendak serius untuk memperbaiki diri. Ketiga, tekad dan kehendak untuk sesegera mungkin menghadap seorang imam dan mengakukan dosa-dosanya.

Ketika kita tidak bertemu dengan romo untuk menerima sakramen tobat secara pribadi dan ada kemungkinan menerima absolusi umum, inilah saatnya kita datang langsung kepada Allah. Berbicara langsung kepada Allah Bapa di surga dan mohon pengampunan. Bapa Uskup menyatakan bahwa dalam tobat batin harus ada penyeselan yang mendalam dengan berbagai cara. Pertama, ibadat pribadi atau bersama di tengah keluarga dengan ada katakesete tertentu sehingga ada penyesalan dan tekad yang serius untuk berbaik kepada Allah. Kedua, mengaku dosa dengan mendoakan doa tobat, membuat penitensi secara bersama-sama, misalnya Doa Rosario, Doa Bapa Kami, dan Doa Salam Maria. Ketiga, mohon pengampunan Tuhan.

Lalu, untuk OMK, bolehkah kita mengaku dosa dengan telepon atau video call? “Secara prinsip mengaku dosa dengan telepon atau video call tidak boleh karena pertama, pengakuan dosa mengandaikan kehadiran fisik guna menampakkan sisi sakramentalilas. Kedua, kewajiban menjaga rahasia sakramental pengakuan dosa sebagaimana diatur dalam Kanon 983 dilanggar yaitu segala sesuatu, termasuk pengakuan dosa yang sudah diunggah di jaringan media sosial  tetapakan tersimpan disana dan dapat diunduh atau diakses oleh siapapun yang mampu. Dengan cara ini kerahasiaan sakramental (sigillum sacramenti) tidak  terjamin dan dapat menimbulkan masalah pastoral dan sosial,” jelas Bapa Uskup.

“Apakah kerahasiaanya terjamin jika kita mengaku dosa kepada romo?” ujar salah satu OMK. Bapa Uskup mejawab bahwa setiap romo yang mempunyai informasi dari pengaku dosa itu tidak boleh membawa rahasia tersebut keluar atau memberitahu ke semua orang. Bahkan, jika romo membocorkan rahasia  pengakuan dosa tersebut maka terdapat hukuman yaitu ekskomunikasi. Dengan demikian, tidak hanya seorang romo yang menjaga rahasia pengakuan dosa. Umat juga harus menjaga rahasia pengakuan dosa yang secara tidak sengaja terdengar dari seseorang yang mengaku dosa. Maka, kita harus benar-benar menjaga kerahasiaan dosa kita.

Bapa Uskup mengajak kita semua untuk membangun sesal tobat yang serius dan sejati. Kemudian jika memungkinkan, hendaknya kita datang kepada romo, mengaku dosa secara langsung. Namun, jika tidak memungkinkan, kita dapat memperoleh absolusi umum dengan datang langsung kepada Allah Bapa dan mohon pengampunan-Nya. Ini persis yang dianjurkan oleh Paus Fransiskus dalam homilinya pada 20 Maret 2020, “Datanglah, bicara langsung dan Allah Bapa akan mengampuni dengan sentuhan,”. Terakhir, Bapa Uskup juga mengimbau agar kita semua harus tetap ceria, tetap gembira, dan jangan lupa untuk selalu bahagia (Flo/Gia).

Misa Kok Online?

Wawancara KOMSOS KAS Bersama Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko,

Uskup Keuskupan Agung Semarang

Wabah virus corona yang terjadi semenjak akhir tahun 2019 hingga saat ini, mengubah banyak ritme kehidupan masyarakat tak terkecuali tata cara peribadatan seluruh agama di dunia. Kecepatan penyebaran virus yang mengerikan, membuat semua orang harus mulai memperhatikan jarak pada saat berinteraksi dengan orang lain agar mata rantai penyebaran virus dapat dihentikan. Gereja, sebagai bagian dari masyarakat dunia yang sedang bersama-sama melawan penyebaran virus corona ini, harus membuat kebijakan yang sangat memberatkan hati seluruh umat katolik di dunia yaitu dengan meniadakan misa di gereja dan menggantikannya dengan misa yang diadakan secara streaming melalui jaringan internet.

Pada 23 Maret 2020 Keuskupan Agung Semarang secara resmi melarang segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan liturgi maupun non-liturgi di lingkungan gereja, demi keselamatan segenap umat di Keuskupan Agung Semarang. Keputusan tersebut tentunya membuat banyak hati seluruh umat merasa sedih, karena keputusan tersebut membuat harapan merayakan semarak Paskah tahun ini di gereja masing-masing, menjadi kandas.

Setelah hampir satu setengah bulan berlalu semenjak keputusan tersebut, umat pun mulai merasakan betapa rindunya melaksanakan ekaristi secara langsung dan menerima tubuh dan darah Kristus. Tetapi, dalam wawancara yang dilakukan oleh KOMSOS KAS dengan Bapa Uskup, beliau meminta agar umat tetap bersabar dan terus berdoa agar wabah ini cepat berlalu sehingga umat dapat kembali ke gereja mengikuti ekaristi secara langsung.

Misa online yang dilakukan oleh umat saat ini, diselenggarakan demi mengobati kerinduan umat untuk bertemu dengan Tuhan lewat sakramen ekaristi dan lewat sabda yang kita dengarkan, meskipun sakramen ekaristi saat ini hanya diberikan secara spiritual. Meskipun secara online dan bisa dilakukan dimana saja, tidak berarti umat dapat mengikuti misa online dengan tidak serius. Justru karena ekaristi tersebut dapat diikuti bersama-sama lewat tempat masing-masing, umat diminta untuk secara serius, aktif dari awal sampai akhir mengikuti perayaan ekaristi.

Dalam wanwancara tersebut, Bapa Uskup juga menyampaikan bahwa begitu banyak umat yang memberikan sharing pengalaman iman mereka dalam mengikuti perayaan ekaristi online. “Saya sungguh terenyuh karena begitu banyak pengalaman iman yang meneguhkan dan bahkan saya juga ikut diteguhkan,”. Begitulah yang dikatakan oleh Bapa Uskup dalam salah satu khotbah yang dikatakan beliau dengan sedikit emosional. Dalam sharing umat yang dibaca oleh Bapa Uskup, umat juga menyampaikan bahwa dengan misa online ini, mereka dapat lebih merasakan kehadiran Tuhan di dalam kebersamaan keluarga, dan dengan kondisi yang seperti ini pula, umat akhirnya merasakan bahwa ekaristi yang diterima secara langsung merupakan suatu hal yang sangat berharga dan bernilai.

Terakhir, Bapa Uskup mengajak segenap umat untuk selalu menjaga kesehatan dan saling memperhatikan sesama yang sedang kesulitan ditengah wabah virus corona ini (Tripleway/Gia).

Homili Malam Paskah, Bapa Uskup: Jangan Takut! Tuhan Beserta Kita

Perayaan Malam Paskah (11/4) terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena diikuti seluruh umat Keuskupan Agung Semarang melalui streaming. Meski demikian, seluruh Umat Kristiani bersukacita menyambut kebangkitan Sang Juruselamat.

Dalam Misa Malam Paskah live streaming di kanal YouTube KOMSOS Keuskupan Agung Semarang yang disiarkan langsung dari Gereja Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengawali homilinya dengan mengucapkan Selamat Paskah kepada seluruh umat. Bapa Uskup juga bertanya pada umat, “Apakah kalian masih setia dan bangga menjadi murid Krisus di tengah situasi seperti ini?”. Menurutnya, kita semua sebagai Umat Katolik sejak tiga hari berturut-turut setia dan semangat mengikuti Perayaan Tri Hari Suci di situasi pandemi Covid-19 ini. Bapa Uskup juga menyampaikan bahwa tidak sedikit yang merasa terharu karena mengalami kasih Tuhan yang luar biasa di saat mengalami kesusahan hidup.

Selama tiga hari ini, banyak umat yang mengirimkan pesan kepada Bapa Uskup untuk mengungkapkan pengalaman iman mereka yang sangat mendalam. Dari sekian banyak pesan, Bapa Uskup menyimpulkan dua ungkapan pengharapan dan kerinduan yang sangat mendalam di antara kita. Pertama, kerinduan untuk mengikuti Perayaan Paskah seperti tahun-tahun silam di mana kita semua merayakan di gereja dan menerima tubuh Kristus. Selain tiu, ada juga harapan kita agar pandemi Covid-19 ini bisa berakhir agar kita semua dapat melakukan aktivitas seperti basa. Apakah Anda juga memiliki kerinduan dan harapan yang sama?

Bapa Uskup juga memberikan pengandaian, “Seandainya pada mala mini pemerintah kita mengumumkan bahwa wabah virus Corona sudah berakhir dan kita semua bisa beraktivitas seperti biasa, apa yang akan kita lakukan?”. Menurutnya, bisa jadi sebagian dari kita akan keluar rumah dan bersuka ria bersama keluarga dan kerabat kita. “Namun, ada beberapa orang juga yang masih khawatir dan waspada. Apakah kabar ini benar?”, ujarnya.

“Inilah juga yang dirasakan oleh para murid Yesus. Mereka sudah beberapa hari mendekam di dalam rumah dengan perasaan tercekam setelah penangkapan dan penyaliban Yesus di Gunung Golgota. Kemudian datanglah dua orang perempuan yaitu Maria Magdalena dan Maria yang lain membawa kabar bahagia setelah ditampaki oleh malaikat yang mengatakan bahwa Yesus telah bangkit dan hidup kembali,” kata Bapa Uskup. Sebagai umat, kita juga dapat membayangkan bahwa para murid bergembira dan melonjak kegirangan. Tetapi menurut Bapa Uskup, ada sebagian murid yang khawatir, bertanya-tanya perihal kebenaran pemberitaan itu dan apakah mereka boleh pergi keluar rumah tanpa ditangkap orang Yahudi?

“Ketakutan itu semua sirna seketika saat mereka berjumpa langsung dengan Yesus. Dia memberikan salam damai dan bersabda, ‘janganlah takut’. Inilah pengalaman Paskah yang menghalau ketakutan dan membawa sukacita, juga semangat untuk keluar rumah dan pergi mewartakan kegembiraan. Seperti itulah pengalaman para murid akan kebangkitan Yesus,” kata Bapa Uskup.

Bapa Uskup juga bertanya, “Lalu, bagaimana dengan kita yang hari ini merayakan Paskah? Apakah ada sukacita?”. Menurutnya, sebagai umat Katolik kita harus bersukacita dan bergembira karena kita semua mengalami pembebasan dari dosa. Tuhan telah menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan.

Sabda Yesus ‘janganlah takut’ bukan hanya ditujukan pada kedua perempuan dan para murid saja, tetapi juga untuk kita semua yang sedang mengalami kecemasan dan ketakutan akan sakit dan kematian. Ada pula yang mengawathirkan hari esok, pekerjaan, kelanjutan studi, keluarga, dan hal lainnya.

“Yesus bersabda seperti itu karena ini adalah saatnya kita membuang rasa takut itu dan mengubahnya menjadi sebuah pengharapan dan keyakinan bahwa Tuhan mendampingi dan menyertai kita. Tuhan selalu membimbing kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan kewaspadaan dan kehati-hatian agar terhindar dari wabah virus Corona,” tambah Bapa Uskup.

Bapa Uskup sungguh-sungguh mencoba untuk memperhatikan keselamatan dan keamanan umat Keuskupan Agung Semarang dengan membuat kebijakan untuk meniadakan berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Bapa Uskup juga melarang para Romo dan Prodiakon untuk berkeliling ke rumah-rumah umat yang rindu akan tubuh Kristus.

Kita semua sebagai umat Katolik diajak untuk tidak takut menghadapi segala situasi kehidupan ini. Kita harus memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Sama halnya dengan kedua perempuan yang diutus Yesus untuk menemui para muridnya agar mereka dapat menjumpai Yesus di Galilea. Kita yang merayakan Paskah juga diutus, diajak Yesus untuk keluar mewartakan kabar sukacita kepada semua orang yang kita jumpai. Pertanyaan yang muncul adalah ‘bagaimana cara mewartakannya di tengah situasi pandemi di mana kita tidak boleh keluar rumah seperti ini?’.

Bapa Uskup pun menjelaskan bahwa kita bisa mewartakan kabar gembira keselamatan itu dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan baik dan nyata, seperti ramah-tamah, menjalin persaudaraan, mempererat solidaritas, dan meningkatkan kepedulian. “Di situasi sekarang ini, tenaga medis, orang-orang yang mengalami kesulitan ekonomi, keluarga kita yang sudah tua, dan di luar sana banyak orang yang membutuhkan perhatian dan dukungan kita. Kita dipanggil untuk memegang erat amanat Yesus dengan semangat dan penuh sukacita,” ujar Bapa Uskup.

Sembari menutup kotbahnya, Bapa Uskup berpesan kepada seluruh umat untuk selalu bahagia dan jangan takut dalam menghadapi setiap peristiwa dalam hidup. “Tuhan akan selalu menyertai kita,” imbuhnya.