Mengenal Tradisi Masa Adven

Oleh: Polycarpus

Memperingati peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, Gereja dan seluruh umatnya tentu harus melakukan persiapan. Persiapan inilah yang kita kenal dengan Masa Adven. Kata ‘Adven’ berasal dari bahasa Latin ‘Adventus’ yang artinya ‘Datang’. Ada dua pengertian kata ‘Adven’. Pertama, menantikan kedatangan Yesus yang dirayakan pada Hari Raya Natal. Kedua, menantikan kedatangan Yesus yang ke dua (parousia) pada akhir zaman. Pengertian ini menandakan Gereja yang berziarah menuju kepenuhannya pada akhir zaman pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

Masa Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas (Rasul) pada setiap 30 November. Masa Adven ini berlangsung selama empat minggu persiapan dan empat hari Minggu. Namun, biasanya minggu terakhir Adven terpotong dengan tibanya Masa Raya Natal. Sulit menentukan awal mula adanya Masa Adven.

Ilustrasi Kelahiran Yesus. Sumber: bmvkatedralbogor.org

 

Sejarah Penentuan Masa Adven

Pada abad ke-4, bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja dengan penekanan pada doa dan puasa selama tiga minggu. Kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Sedangkan di Roma Masa Adven belum ada hingga abad keenam. Paus St Gelasius I (wafat tahun 496) merupakan Paus pertama yang menerapkan Liturgi Adven selama 5 hari Minggu. Kemudian pada tahun 1073-1085, Paus St Gregorius VII mengubah jumlah hari minggu dalam Masa Adven menjadi empat hari minggu hingga sekarang. Sekitar abad ke-9, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan liturgi Gereja.

Memang sejarah Adven kurang bisa dijelaskan secara rinci, namun makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus. Pada masa ini, Kristus sangat-sangat dinantikan kedatangan-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Maka, kata ‘Adven’ harus kita maknai sungguh, yakni ‘dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang’.

 

Asal Usul Lingkaran Adven

Selama Masa Adven, kita sering melihat di dekat altar terdapat ‘Lingkaran Adven’ yang terdiri dari empat lilin, yaitu tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven. Setiap minggu, sebatang lilin Adven dinyalakan.

Pemilihan warna-warna lilin ini bukan tanpa alasan. Lilin ungu melambangkan pertobatan. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu ‘Gaudete’ (dalam bahasa Latin berarti sukacita). Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu).

Ilustrasi Lilin Adven. Sumber: ikatolik.com

Pada Hari Natal, keempat lilin digantikan dengan lilin-lilin putih. Lingkaran Adven atau Adven wreath biasanya dibuat dari daun-daun segar berwarna hijau. Hal ini diadaptasi dari kebiasaan orang Jerman sebelum Kekristenan berkembang. Sering beberapa dari kita bertanya-tanya, “Mengapa berbentuk lingkaran?”. Jawabannya adalah karena bentuk lingkaran tidak memiliki awal dan akhir. Lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

 

Makna Setiap Minggu dalam Masa Adven

Setiap minggu dalam Masa Adven, memiliki arti khusus. Sebagai umat Kristiani, kita diajak untuk merenung dengan tema dan ujub tertentu. Minggu Adven I ditandai dengan sebatang lilin ungu yang memiliki arti tidak hanya pertobatan namun juga berarti harapan. Umat menantikan Yesus Kristus dengan penuh harapan dan sukacita. Lilin pertama yang dinyalakan disebut Lilin Nabi yang mengingatkan bahwa para nabi mewartakan kedatangan Yesus sebagai Mesias.

Minggu Adven II mempunyai arti kesetiaan dan cinta. Ini mengingatkan kita untuk tetap setia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Lilin kedua disebut Lilin Betlehem yang berarti Yesus Kristus Sang Juru Selamat akan lahir di dalam hati kita. Minggu Adven III memiliki arti sukacita yang ditandai dengan dua lilin ungu dan satu lilin merah jambu. Kita bersukacita untuk menyambut kelahiran Yesus. Lilin ketiga disebut Lilin Gembala karena kabar sukacita kelahiran Yesus pertama kali diberitahukan kepada orang-orang yang rendah hati dan tulus.

Minggu Adven IV ditandai dengan tiga lilin ungu dan satu lilin merah muda. Minggu keempat memiliki arti perdamaian. Lilin keempat disebut Lilin Para Malaikat yang melambangkan kebahagiaan dan sukacita menyambut kedatangan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat.

Dari semua yang kita ketahui tentang persiapan menyambut lahirnya Yesus Kristus Sang Juru Selamat atau Masa Adven, sudah sepatutnya kita mempersiapkannya dengan sungguh dan dengan sepenuh hati. Pertobatan dan penyesalan yang kita lakukan sebelum memasuki Masa Adven akan membuat hati kita siap dan layak untuk menerima rahmat keselamatan dari Tuhan.

 

 

Sumber:

Katolisitas.org <https://www.katolisitas.org/seputar-adven-dan-natal/>

PGI.or.id <https://pgi.or.id/asal-mula-masa-adven/>

Katolikpedia.id <https://katolikpedia.id/masa-adven-agama-katolik/>

Beato Carlo Acutis, Sang Pewarta Masa Kini

Reporter: Maria Fransiska

Dalam Gereja Katolik, beatifikasi (dari bahasa Latin “beatus”, yang berbahagia) adalah suatu pengakuan atau pernyataan yang diberikan oleh Gereja terhadap orang yang telah meninggal bahwa orang tersebut adalah orang yang berbahagia. Beatifikasi diberikan kepada orang yang dianggap telah bekerja sangat keras untuk kebaikan atau memiliki keistimewaan secara spiritual. Seseorang yang mendapat beatifikasi diberi gelar beato untuk laki-laki dan beata untuk perempuan. Proses ini merupakan tahap ketiga dari empat tahapan dalam proses kanonisasi yang biasanya dilakukan setelah mendapat gelar venerabilis (yang pantas dihormati) sebelum mendapat gelar santo atau santa.

Carlo Acutis tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Katolik. Acutis yang diberi gelar Beato pada 10 Oktober ini tercatat sebagai remaja yang memberikan pengabdian besar dalam Ekaristi dan menjadi milenial pertama yang diberkati dengan gelar Beato. Dilansir dari Kompas.com, Carlo Acutis dikenal juga sebagai “Santo Pelindung Internet” meskipun sebelumnya sudah ada satu, akademisi abad ke-7, Isidore de Seville. Mari kita mengenali lebih dalam tentang sosok Carlo Acutis.

Hidup Ekaristis

Acutis lahir pada tanggal 3 Mei 1991, di London, Inggris, tempat orang tuanya bekerja. Beberapa bulan kemudian, orang tuanya, Andrea Acutis dan Antonia Salzano, memutuskan untuk pindah ke Milan saat ia berusia 5 bulan. Acutis yang  dibaptis ketika bayi ini belum pernah diajarkan iman Katolik oleh keluarganya. Walaupun begitu, saat masih balita dan belum bersekolah  Acutis sudah menunjukan cintanya kepada gereja. Ibu Acutis bercerita bahwa sejak kecil, setiap melewati gedung-gedung gereja di Milan, Acutis akan meminta ibunya untuk masuk  melihat Yesus dan meminta ibunya meletakan bunga di bawah kaki Bunda Maria. Disinilah awal di mana Acutis menyentuh hati ibunya untuk kembali mempelajari iman katolik dengan mengikuti kursus teologi.

Beato Carlo Acutis. Sumber: Kompas.com

Pada usianya yang ke-7 tahun, Acutis menerima Komuni Pertama di Biara St. Ambrogio ad Nemus. Sejak saat itu, Acutis berusaha menghadiri setiap misa di gereja. Acutis tidak hanya mengikuti misa hari Minggu, tetapi ia juga tidak pernah absen mengikuti misa harian. Ia juga rajin melakukan pengakuan dosa setiap minggunya. Tindakan Acutis yang rajin mengikuti ekaristi membuat hati keluarganya tergerak untuk kembali ke gereja dan rajin mengikuti misa harian. Antonia Salzano, Ibu Acutis terus terang berkata bahwa sebelum Acutis mempengaruhinya untuk mencintai Ekaristi, ia hanya misa tiga kali, yaitu pada saat dilahirkan, saat mendapat komuni pertama, dan saat menikah. Acutis rajin mengikuti Ekaristi bukan berasal dari desakan keluarganya melainkan keinginan dirinya sendiri.

Kekuatan Acutis berasal dari Ekaristi dan Bunda Maria. Sejak remaja, Acutis rutin berdoa Rosario setiap hari dan di samping devosi ke santo-santa. Ia sering menghabiskan waktu di ruang adorasi. Ia pernah berkata, “Ketika kita sering terpapar matahari kulit kita akan menjadi coklat. Ketika kita menempatkan diri di depan Ekaristi, kita akan menjadi orang suci,”.

Internet sebagai Sarana Pewartaan

Acutis dikenang sebagai anak yang periang dan suka membela teman-temannya yang di-bully, terutama anak-anak disabilitas. Ketika orang tua seorang temannya akan bercerai, Acutis juga melakukan upaya khusus yaitu membawa temannya itu ke dalam keluarganya. Layaknya anak remaja lain, Acutis juga suka bermain sepak bola dan video games. Walaupun ia senang bermain play station tetapi ia bisa mengontrol diri untuk bermain hanya satu jam di setiap pekan. Acutis juga menunjukan kegemarannya dalam hal membaca dan mempelajari ilmu komputer. Pada saat usianya yang ke-8 tahun, Acutis sudah memiliki bakat besar sebagai programmer. Hal yang menarik di sini bukanlah dari talentanya saja, tetapi juga perjalanannya menggunakan talenta tersebut sebagai sarana menjadi misionaris internet.

Acutis prihatin melihat umat Kristiani yang makin menjauh dari Gereja dan sakramen. Ia ingin merangkul mereka kembali, menemukan iman dan keperayaan mereka terhadap Gereja Katolik. Acutis lalu membuat riset mendalam tentang mukjizat Ekaristi di seluruh dunia sejak awal kekristenan sampai masa sekarang dan mendokumentasikannya sejak usia 11 tahun. Hasil dari riset tersebut kemudian diterbitkan di website-nya yang mulai dirintis pada usianya ke-14 tahun. Ia menyatakan di website-nya “Semakin kita sering menerima Ekaristi, semakin kita menyerupai Yesus, sehingga kita akan mengecap rasa surga di bumi ini.”. Acutis juga pernah mempopulerkan istilah “Ekaristi adalah jalan tol ke surga.”.

Menghayati Penderitaan

Ketika ia tidak sedang menulis program komputer atau bermain sepak bola, Acutis dikenal di lingkungannya karena kebaikannya terhadap mereka yang hidup di pinggiran. Ia menjadi sukarelawan di dapur umum di Milan. Ibunya juga berkata “Dengan tabungannya, ia membeli kantong tidur untuk para tunawisma dan di malam hari ia membawakan mereka minuman panas.”

Beato Carlo Acutis. Sumber: Twitter Infobae America

Saat usianya yang ke-15, Acutis didiagnosis menderita leukemia. Ia mempersembahkan penderitaannya untuk Paus Benediktus XVI dan Gereja di mana ia mengatakan “Aku mempersembahkan semua penderitaan yang harus aku derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja.” Carlo Acutis menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 12 Oktober 2006 dan dimakamkan di Assisi sesuai permintaannya.

Ditetapkan sebagai Beato, Teladan bagi Milenial

Proses Acutis untuk mendapat gelar suci dimulai pada tahun 2013. Ia ditetapkan sebagai “Yang Mulia” pada tahun 2018. Untuk diterima sebagai Beato, diperlukan suatu mukjizat yang terjadi dan diakui resmi oleh Vatikan. Mukjizat yang mengantar Acutis menjadi Beato adalah mukjizat penyembuhan seorang anak kecil di Brazil yang menderita penyakit kanker pankreas yang jarang terjadi di dunia pada tahun 2013. Pada 14 November 2019, Dewan Medis yang memproses kanonisasi menyimpulkan memang benar terjadi mukjizat penyembuhan lewat perantaraan doa Acutis.

Setelah memenuhi syarat menjadi Beato, akhirnya pada tanggal 10 Oktober 2020 Carlo Acutis dinobatkan sebagai Beato atau yang berbahagia. Paus Fransiskus menjadikan Acutis sebagai teladan bagi para milenial dengan menulis bahwa Acutis mampu menggunakan internet dan teknologi untuk menyebarkan injil. “Memang benar bahwa dunia digital dapat membuat Anda menghadapi risiko ketergantungan, apatis, dan (hanya) kesenangan sesaat. Namun, jangan lupa bahwa ada anak muda, bahkan ada yang menunjukkan kreativitas bahkan jenius. Itulah yang terjadi pada Beato Carlo Acutis,” tulis Paus pada tahun 2018.

Paus melanjutkan, “Carlo sangat menyadari bahwa seluruh perangkat komunikasi, periklanan, dan jejaring sosial dapat digunakan untuk membuai kita, membuat kita kecanduan konsumerisme dan membeli barang terbaru di pasar, terobsesi dengan waktu luang, terjebak dalam hal-hal negatif. Namun, dia tahu bagaimana menggunakan teknologi komunikasi baru untuk menyebarkan Injil, untuk mengomunikasikan nilai-nilai dan keindahan.”

Pesan untuk Kaum Muda

Kita pun sebagai umat Kristiani dapat belajar dari keteladanan hidup Beato Carlo Acutis. Di tengah pengaruh dunia yang begitu mengikat ternyata roh kudus masih bekerja di dalam diri kita jika kita membuka hati untuk kehadiran-Nya dan taat menjalankan ajaran-Nya. Beato Carlo Acutis menjadi bukti nyata bahwa di era sekarang masih ada anak muda yang tekun menjalankan ajaran Yesus dan menggunakan kemajuan teknologi untuk memberitakan injil. Harapannya, generasi muda Katolik juga semakin semangat mengikuti kristus serta berusaha menggunakan teknologi dengan bijak dan menjadikannya sebagai sarana untuk berbagi kebaikan.

Referensi:

Wikipedia
Kompas.com

Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Mensyukuri Peristiwa Iman yang Luar Biasa

Oleh: Giasinta Berlianti

Pada Minggu (14/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr. Romo yang akrab disapa dengan Romo Tri ini ketika homili mengungkapkan bahwa biasanya pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, anak-anak di Paroki Babarsari menerima komuni pertama. “Tetapi karena pandemi, penerimaan komuni pertama belum dapat dilaksanakan. Kita semua berharap supaya pandemi ini segera berakhir agar semua umat, bukan hanya yang menerima komuni pertama, dapat hadir untuk menyambut Tubuh Kristus,” ujarnya.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Tuhan Yesus bersabda “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum daarah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:53-58). Romo Tri mengatakan bahwa jika kita mendengarkan kutipan injil tersebut, berarti kita diundang untuk makan dan minum darah-Nya. “Rasanya memang ngeri ya, kayak film horor. Tetapi, makna sesungguhnya adalah bagaimana kita semua memahami peristiwa ini sebagai iman yang luar biasa sebagai murid Kristus,” lanjut Romo Tri.

Ketika misa berlangsung, umat biasanya mempersembahkan uang, hasil bumi, dan lainnya untuk gereja. “Tetapi sebenarnya, seharusnya kita mempersembahkan semua, baik suka, duka, maupun pengharapan. Semua itu disatukan dengan kurban salib di altar-Nya yang kudus,” kata Romo Tri. Menurutnya, pada saat itulah terjadi peristiwa iman yang luar biasa. “Dalam konsekrasi, roti dan anggur yang dipersembahkan akan berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus,” lanjutnya. Peristiwa itu memberikan makna bagaimana korban Kristus dihadirkan ulang, supaya roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. “Roti itu sejatinya Tubuh Kristus sungguhan. Ketika minum anggur, karena konsekrasi itu berubah menjadi Darah Kristus,” tegas Romo Tri.

Romo Tri juga mengungkapkan bahwa setiap kita sebagai manusia disucikan dan mengalami keselamatan. Ekaristi menjadi perayaan keselamatan bagi setiap manusia yang percaya pada Kristus. “Maka, kita semua diundang untuk mensyukuri ekaristi yang bisa kita rayakan setiap hari, meskipun secara streaming atau virtual,” ujarnya. Menurutnya, setiap umat di masa pandemi pasti berharap bahwa meski secara virtual, esesnsi ekaristi tidak berkurang. “Tuhan memberikan kita kehidupan kekal, membangkitkan kita di akhir zaman, dan melindungi hidup kita,” tambah Romo Tri.

Sebagai manusia, kita semua diundang untuk menyadari pula bahwa ekaristi bukanlah makanan biasa. “Ekaristi adalah pengorbanan Kristus untuk mengalami keselamatan. Oleh karena itu, baiklah kita bersehati dengan Yesus,” ujar Romo Tri. Romo Tri mengatakan bahwa buah ekaristi sama dengan hidup baru. “Maka, aneh rasanya bila orang beriman tidak mau bersatu dengan gerejanya,” tambahnya. Terakhir, Romo Tri mengajak semua umat untuk merayakan ekaristi di masa pandemi ini dengan iman dan penuh rasa syukur.

Sakramen Rekonsiliasi Melalui Video Call, Mungkinkah?

Wawancara dengan Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Oleh: Florence Elisabeth

Sakramen rekonsiliasi merupakan nama lain dari sakramen tobat. Dalam Kanon 959 tertulis bahwa dalam sakramen tobat umat beriman mengakukan dosa-dosanya kepada pelayan yang legitim atau sah, menyesalinya serta berniat memperbaiki diri, lewat absolusi yang diberikan oleh pelayan itu, memperoleh ampun dari Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sesudah baptis, dan sekaligus diperdamaikan kembali dengan Gereja yang mereka lukai dengan berdosa. Bapa Uskup menegaskan bahwa Sakramen tobat adalah sakramen dengan peniten (orang yang bertobat) mengaku dosa yang sudah dilakukan kepada pelayan yang legitim atau sah, yakni kepada imam yang telah ditahbiskan secara sah dan telah mendapatkan fakultas/kewenangan dari Uskup Diosesan untuk mendengarkan pengakuan dosa.

Dalam Kanon 959 tertulis bahwa pengampunan Tuhan melalui sakramen tobat hanya akan diberikan jika kita melakukan penyesalan yang serius yakni sikap untuk bertobat meninggalkan dosa dan memperbaiki diri lagi supaya kita lebih dekat dengan Tuhan. Harus ada tekad dan niat untuk mau memperbaiki diri. “Jika kita tidak mengalami penyesalan maka pengampunan itu tidak akan diberikan kepada kita,” kata Bapa Uskup.

Lalu apa yang kita terima setelah mengaku dosa? Menurut Bapa Uskup, melalui absolusi, kita sebagai yang mengaku dosa menerima pengampunan Allah dari semua dosa yang pernah dilakukannya sesudah dibaptis dan belum dilakukan. Dengan demikian, kita akan mengalami pendamaian kembali dengan Allah. Pendamaian ini membawa serta pemulihan  atas semua hak dan kewajibannya sebagai anggota gereja, termasuk menyambut komuni kudus.

“Ini adalah konteks sakramen tobat termasuk rahmat yang terima dalam pengakuan dosa ini,” ujarnya. Lalu bagaimana perayaannya? Dalam Kanon 960 ditegaskan bahwa pengakuan pribadi dan utuh serta absolusi merupakan cara biasa satu-satunya dengan orang beriman yang sadar akan dosa beratnya diperdamaikan kembali dengan Allah dan Gereja; hanya ketidakmungkinan fisik atau moril saja membebaskannya dari pengakuan semacam itu, dalam hal rekonsiliasi dapat diperoleh juga dengan cara lain. Bapa Uskup mengajarkan bahwa pengakuan dosa umum yang dianjurkan gereja adalah datang pada Imam dan mengaku dosa disertai penyesalan yang mendalam. Kemudian, Imam memberikan absolusi dan penitensi atas dosa kita. Dengan cara seperti itu jelas tandanya bahwa kita telah diampuni dan dibebaskan kembali dari dosa. “Terdapat pengecualian jika tidak mungkin dilakukan karena kondisi tertentu dimungkinkan mendapat pengampunan dosa dengan cara lain,” kata Bapa Uskup.

Menurutnya, dalam Surat Edaran Uskup tanggal 16 Maret 2020 yaitu mengenai pengakuan dosa melalui absolusi umum yakni pengakuan dosa secara massal, romo memberikan abosuli atau pengampunan secara umum tanpa didahului pengakuan dosa secara pribadi. Absolusi umum hanya dapat diberikan sejauh tuntutan Kanon 962 terpenuhi, yakni pertama-tama ada penyesalan atas semua dosa sehingga masing-masing berdisposisi atau memiliki  kondisi batin yang layak. Kedua, secara personal membangun semanagat total yang sejati dengan memperbaiki diri dengan tidak mengulang perbuatan dosanya. Ketiga, berniat untuk sesegera mungkin mengakukan dosa-dosa berat satu per satu pada saatnya yang tepat setelahnya.

Lalu, bagaimana jika kita tidak mungkin lagi untuk mengaku dosa dan menerima absolusi umum dalam keadaan pandemi Covid-19 dan diharuskan untuk jaga jarak? Mungkinkah kita menerima pengampunan dari Tuhan secara langsung? “Dalam tradisi Gereja sangat dimungkinkan kita menerima pengampunan dalam kondisi seperti ini, yaitu dengan tobat batin,” kata Bapa Uskup.

Tobat batin adalah penyesalan yang sungguh-sungguh serius dan mendalam atas semua dosa yang telah dilakukan merupakan salah satu langkah konkret untuk mendapatkan pengampunan Tuhan (lih. KGK 1431). Bapa Uskup mengatakan bahwa pertama, tobat batin sempurna mengandaikan adanya penyesalan yang sungguh-sungguh. Kedua, tekad dan kehendak serius untuk memperbaiki diri. Ketiga, tekad dan kehendak untuk sesegera mungkin menghadap seorang imam dan mengakukan dosa-dosanya.

Ketika kita tidak bertemu dengan romo untuk menerima sakramen tobat secara pribadi dan ada kemungkinan menerima absolusi umum, inilah saatnya kita datang langsung kepada Allah. Berbicara langsung kepada Allah Bapa di surga dan mohon pengampunan. Bapa Uskup menyatakan bahwa dalam tobat batin harus ada penyeselan yang mendalam dengan berbagai cara. Pertama, ibadat pribadi atau bersama di tengah keluarga dengan ada katakesete tertentu sehingga ada penyesalan dan tekad yang serius untuk berbaik kepada Allah. Kedua, mengaku dosa dengan mendoakan doa tobat, membuat penitensi secara bersama-sama, misalnya Doa Rosario, Doa Bapa Kami, dan Doa Salam Maria. Ketiga, mohon pengampunan Tuhan.

Lalu, untuk OMK, bolehkah kita mengaku dosa dengan telepon atau video call? “Secara prinsip mengaku dosa dengan telepon atau video call tidak boleh karena pertama, pengakuan dosa mengandaikan kehadiran fisik guna menampakkan sisi sakramentalilas. Kedua, kewajiban menjaga rahasia sakramental pengakuan dosa sebagaimana diatur dalam Kanon 983 dilanggar yaitu segala sesuatu, termasuk pengakuan dosa yang sudah diunggah di jaringan media sosial  tetapakan tersimpan disana dan dapat diunduh atau diakses oleh siapapun yang mampu. Dengan cara ini kerahasiaan sakramental (sigillum sacramenti) tidak  terjamin dan dapat menimbulkan masalah pastoral dan sosial,” jelas Bapa Uskup.

“Apakah kerahasiaanya terjamin jika kita mengaku dosa kepada romo?” ujar salah satu OMK. Bapa Uskup mejawab bahwa setiap romo yang mempunyai informasi dari pengaku dosa itu tidak boleh membawa rahasia tersebut keluar atau memberitahu ke semua orang. Bahkan, jika romo membocorkan rahasia  pengakuan dosa tersebut maka terdapat hukuman yaitu ekskomunikasi. Dengan demikian, tidak hanya seorang romo yang menjaga rahasia pengakuan dosa. Umat juga harus menjaga rahasia pengakuan dosa yang secara tidak sengaja terdengar dari seseorang yang mengaku dosa. Maka, kita harus benar-benar menjaga kerahasiaan dosa kita.

Bapa Uskup mengajak kita semua untuk membangun sesal tobat yang serius dan sejati. Kemudian jika memungkinkan, hendaknya kita datang kepada romo, mengaku dosa secara langsung. Namun, jika tidak memungkinkan, kita dapat memperoleh absolusi umum dengan datang langsung kepada Allah Bapa dan mohon pengampunan-Nya. Ini persis yang dianjurkan oleh Paus Fransiskus dalam homilinya pada 20 Maret 2020, “Datanglah, bicara langsung dan Allah Bapa akan mengampuni dengan sentuhan,”. Terakhir, Bapa Uskup juga mengimbau agar kita semua harus tetap ceria, tetap gembira, dan jangan lupa untuk selalu bahagia (Flo/Gia).

Misa Kok Online?

Wawancara KOMSOS KAS Bersama Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko,

Uskup Keuskupan Agung Semarang

Wabah virus corona yang terjadi semenjak akhir tahun 2019 hingga saat ini, mengubah banyak ritme kehidupan masyarakat tak terkecuali tata cara peribadatan seluruh agama di dunia. Kecepatan penyebaran virus yang mengerikan, membuat semua orang harus mulai memperhatikan jarak pada saat berinteraksi dengan orang lain agar mata rantai penyebaran virus dapat dihentikan. Gereja, sebagai bagian dari masyarakat dunia yang sedang bersama-sama melawan penyebaran virus corona ini, harus membuat kebijakan yang sangat memberatkan hati seluruh umat katolik di dunia yaitu dengan meniadakan misa di gereja dan menggantikannya dengan misa yang diadakan secara streaming melalui jaringan internet.

Pada 23 Maret 2020 Keuskupan Agung Semarang secara resmi melarang segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan liturgi maupun non-liturgi di lingkungan gereja, demi keselamatan segenap umat di Keuskupan Agung Semarang. Keputusan tersebut tentunya membuat banyak hati seluruh umat merasa sedih, karena keputusan tersebut membuat harapan merayakan semarak Paskah tahun ini di gereja masing-masing, menjadi kandas.

Setelah hampir satu setengah bulan berlalu semenjak keputusan tersebut, umat pun mulai merasakan betapa rindunya melaksanakan ekaristi secara langsung dan menerima tubuh dan darah Kristus. Tetapi, dalam wawancara yang dilakukan oleh KOMSOS KAS dengan Bapa Uskup, beliau meminta agar umat tetap bersabar dan terus berdoa agar wabah ini cepat berlalu sehingga umat dapat kembali ke gereja mengikuti ekaristi secara langsung.

Misa online yang dilakukan oleh umat saat ini, diselenggarakan demi mengobati kerinduan umat untuk bertemu dengan Tuhan lewat sakramen ekaristi dan lewat sabda yang kita dengarkan, meskipun sakramen ekaristi saat ini hanya diberikan secara spiritual. Meskipun secara online dan bisa dilakukan dimana saja, tidak berarti umat dapat mengikuti misa online dengan tidak serius. Justru karena ekaristi tersebut dapat diikuti bersama-sama lewat tempat masing-masing, umat diminta untuk secara serius, aktif dari awal sampai akhir mengikuti perayaan ekaristi.

Dalam wanwancara tersebut, Bapa Uskup juga menyampaikan bahwa begitu banyak umat yang memberikan sharing pengalaman iman mereka dalam mengikuti perayaan ekaristi online. “Saya sungguh terenyuh karena begitu banyak pengalaman iman yang meneguhkan dan bahkan saya juga ikut diteguhkan,”. Begitulah yang dikatakan oleh Bapa Uskup dalam salah satu khotbah yang dikatakan beliau dengan sedikit emosional. Dalam sharing umat yang dibaca oleh Bapa Uskup, umat juga menyampaikan bahwa dengan misa online ini, mereka dapat lebih merasakan kehadiran Tuhan di dalam kebersamaan keluarga, dan dengan kondisi yang seperti ini pula, umat akhirnya merasakan bahwa ekaristi yang diterima secara langsung merupakan suatu hal yang sangat berharga dan bernilai.

Terakhir, Bapa Uskup mengajak segenap umat untuk selalu menjaga kesehatan dan saling memperhatikan sesama yang sedang kesulitan ditengah wabah virus corona ini (Tripleway/Gia).