Puncta 21.04.20 Yohanes 3:7-15 / “Golekana Galihing Kangkung”

 

DALAM sastra Jawa ada ”tembung sanepan.” Sanepan adalah bentuk komunikasi dengan menyebut tanda-tanda atau bahasa kiasan agar kita bisa menemukan makna yang paling dalam bagi kehidupan kita. Kadangkala komunikasi ini bisa menjadi sarana sharing pengalaman yang mendalam.

Misalnya, sanepan-sanepan yang sering kita dengar adalah, “Golekana galihing kangkung” (Carilah inti dalamnya batang kangkung), “Golekana tapaking kuntul nglayang.” (Carilah bekas tapak kaki burung bangau yang terbang), “Golekana Kayu Gung Susuhing Angin.” Dan masih banyak contoh sanepan lainnya.

Inti dalamnya batang kangkung itu hanya hampa, angin belaka. Kita manusia itu bisa hidup karena ada nafas, angin yang ditiukpan ke dalam diri kita. Kita berasal dari kehampaan dan akan kembali kepada yang mengisi kehidupan kita. “Golekana tapaking kuntul nglayang.”

Secara iman Katolik, itu berarti Yesus sendiri. Kuntul itu burung bangau putih. Putih itu lambang kesucian. Ia terbang, berarti naik ke atas, surga. Siapakah yang telah naik ke surga kalau bukan Dia yang berasal dari surga?

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.”

Bekas tapak kuntul yang melayang, apa dan siapakah itu? Orang-orang yang telah dibaptis dan menjadi pengikut Yesus itulah tanda kelihatan dari Yesus yang naik ke surga.

Kita ini adalah tanda dari kehadiran Kristus sendiri. Orang-orang katolik yang melaksanakan ajaran Kristus adalah tanda dari kehadiran Kristus. Mereka itulah “tapaking kuntul nglayang.”

Pembicaraan Yesus dengan Nikodemus itu memakai perlambang-perlambang tinggi dan dalam. Orang harus dilahirkan kembali dalam air dan roh. Kalimat itu tidak boleh hanya ditangkap secara lahiriah semata.

Kalau hanya diartikan secara letterlijck, maka sulit terjadi. Bagaimana kalau orang sudah tua harus lahir kembali dari rahim ibunya? Begitu cara pikir Nekodemus.

Pembaptisan itulah kelahiran kembali. Orang yang dibaptis, dilahirkan kembali menjadi manusia baru, menjadi Anak Allah. Dengan menjadi Anak Allah ia akan beroleh hidup kekal dalam kerajaan Allah.

Syarat untuk memperoleh hidup kekal adalah percaya kepada Anak Manusia dengan pembaptisan. Dengan demikian orang dilahirkan kembali.

Sarang angin ada dimana?
Di ufuk saat mentari datang.
Kristus Yesus junjungan kita.
Sudah bangkit dan menang.

Cawas, menanti bulan purnama…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 20.04.20 Yohanes 3: 1-8 / Rama Nitis

 

KISAH wayang ini menggambarkan bagaimana Prabu Ramawijaya di Pancawati lahir kembali dalam diri Prabu Batara Kresna. Sejarah Sang Hyang Wisnu, pemelihara alam semesta mangejawantah dalam diri pribadi-pribadi yang membawa keselamatan.

Pertama menjelma dalam diri dalang Kandhabuwana, Kedua lahir dalam diri Prabu Harjuna Sasrabahu Raja Maespati, Ketiga menjelma dalam diri Raksasa Wisnungkara di Lokapala, keempat lahir dalam diri Prabu Ramawijaya, kelima dalam diri Batara Kresna di Dwarawati.

Keenam manjalma dalam diri Sri Aji Jayabaya di Pamenang, ketujuh dalam diri Prabu Anglingdarma di Malawapati Bojanagara, ketujuh dalam diri Prabu Brawijaya terakhir di Majapahit. Setelah itu Wisnu kembali ke Kahyangan.

Pembicaraan antara Yesus dengan Nikodemus berkisar tentang kelahiran kembali. Nikodemus berpikir lahir kembali secara lahiriah.

“Bagaimana mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali?”

Namun Yesus berbicara bahwa kelahiran kembali itu terjadi dalam air dan Roh. Dalam diri manusia ada daging dan Roh. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari roh adalah roh.

Orang yang dilahirkan dari Roh akan hidup secara baru. Ia melihat bukan hanya apa yang nampak di mata. Ia bisa melihat apa yang tidak terlihat.

Seperti orang bisa merasakan desiran angin. Ia mendengar bunyinya, namun ia tidak bisa mengira dari mana angin datang dan kemana dia pergi.

Dunia ini bukan hanya badan “wadhag” atau benda-benda lahiriah semata, ada Roh yang tak kelihatan memimpin kehidupan kita. itulah Roh Kudus yang menerangi dan menuntun langkah kehidupan kita.

Lahir dalam Roh berarti mengikuti kehendak Allah yang menciptakan kita. orang yang lahir dalam Roh berarti dipimpin oleh kehendak Allah. Ia membawa keselamatan, kebaikan, keselarasan, harmoni kehidupan dengan alam semesta.

Pembaptisan berarti kita lahir dalam Roh yang membawa kita menjadi anak-anak Allah. Dengan dibaptis, kita dilahirkan kembali. Kehidupan lama berubah menjadi hidup yang baru.

Roh Kuduslah yang menuntun kita mengarah kepada Bapa. Apakah kita sadar bahwa dengan pembaptisan, hidup kita sudah diperbaharui dalam Roh Kudus? Ataukah kita masih hidup dengan cara lama?

Rumput hijau tak muncul di pagi hari.
Ia layu karena panas terik matahari.
Dalam pembaptisan kita lahir kembali.
Dibimbing menjadi anak Allah yang sejati.

Cawas, selalu berdoa dan berharap….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 19.04.20 Minggu Paskah II. Pesta Kerahiman Ilahi Yohanes 20:19-31 Mukidi dan Taik Ayam

 

MUKIDI pergi ke gereja naik sepeda. Di tengah jalan ban sepedanya melindas paku tajam, “bleesssss….” Ban sepeda kempes. Mukidi turun tidak percaya. Ia pencet ban sepedanya. “Woow.. kempes.”

Ia tuntun sepedanya beberapa ratus meter. Tali sandal yang dia pakai putus. Sandal dia buang. Dengan kaki telanjang dia berjalan sambil menuntun sepeda.

Tanpa sengaja kakinya menginjak “telek lencung”. Ia tidak percaya. Tangannya meraba kaki yang menginjak benda sedikit lembek. Ia membaui tangannya. “Wow.. taik ayam.”

Kita ini punya rasa ingin tahu, tidak mudah percaya, ingin melihat bukti nyata. Sifat-sifat itu melekat dalam diri kita.

Sudah diminta untuk diam di rumah supaya bisa menyetop penyebaran virus corona, tetapi orang masih tetap berkumpul di kafe atau warung-warung. Rasa ingin tahu dan tidak mudah percaya itulah yang sering mendorong orang berbuat sesuatu.

Sesudah Yesus bangkit, beberapa kali Dia menampakkan diri kepada para murid. Ia memberi salam kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu.” Dia datang bukan membawa ketakutan, tetapi membawa damai sejahtera.

Tomas atau Didimus adalah salah satu murid yang belum pernah melihat Tuhan. Maka dia tidak percaya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Tidak percaya dan ingin membuktikan sendiri itulah niatnya Tomas.

Seperti Mukidi, sudah tahu dia menginjak taik ayam, namun jarinya masih tetap ingin membuktikan bahwa benar itu taik ayam, bahkan belum puas jika belum menciumnya sendiri.

Tomas sudah mendengar dari cerita beberapa murid, juga para wanita bahwa Yesus bangkit. Tetapi dia ingin membuktikan sendiri bahwa Yesus sungguh bangkit.

Yesus memberi waktu dan tempat khusus kepada Tomas. Ia menampakkan diri saat murid-murid berkumpul bersama Tomas. Akhirnya dia mengakui, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Itulah pengakuan iman yang tulus. Di hadapan Yesus, kita mengakui, Dialah Tuhan dan Allah kita. Tuhan menghibur kita semua, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”

Kita tidak mungkin melihat Yesus yang bangkit. Tetapi kendati demikian, kita percaya bahwa Yesus hidup di tengah-tengah kita. Mari kita hidupi iman kita ini dengan saling mengasihi.

Malam-malam pasang property.
Lihat film dengan kacamata.
Yesus bangkit dari mati.
Dia tinggal di tengah kita.

Cawas, bulan di atas telaga…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 18.04.20 Sabtu Oktaf Paskah Markus 16:9-15 / Duta; “Pergilah Ke Seluruh Dunia…”

 

TIGA KALI para Pandawa mengirim utusan untuk minta dikembalikannya Kerajaan Indraprasta ke tangan mereka. Namun Kurawa bersikukuh tidak mau mengembalikannya.

Yang pertama menjadi utusan adalah Kunti, ibu para Pandawa. Pandawa berpikir, karena seorang ibu, Kunti pasti dihormati oleh Kurawa. Namun ternyata sebaliknya. Kurawa mencemooh dan menolak Kunti.

Posisi Kunti sebagai seorang wanita tidak diakui. Suara Kunti tidak didengarkan oleh Kurawa. Mereka menganggap urusan politik adalah urusan laki-laki. Suara perempuan tidak ada gunanya. Kunti ditolak mentah-mentah oleh Kurawa.

Utusan kedua, Prabu Drupada juga gagal. Duta ketiga adalah Prabu Kresna. Semua gagal dan perang Baratayuda tak terhindarkan.

Dalam bacaan Injil hari ini menggambarkan bahwa posisi perempuan itu lemah. Suara mereka tidak dipercaya. Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena.

Lalu Yesus menyuruh Maria untuk memberitahukan kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus. Tetapi ketika mereka mendengar cerita Maria bahwa Yesus hidup, mereka tidak percaya.

Perempuan dalam tradisi Yahudi tidak diperhitungkan. Kita masih ingat di perikope yang lain, waktu Yesus menggandakan roti. Berapa orang yang ikut makan? Limaribu orang laki-laki. Perempuan tidak dihitung.

Hal itu menunjukkan bahwa posisi perempuan sangat lemah, tidak diperhitungkan. Begitu juga dalam perikope ini. Maria Magdalena adalah orang pertama yang dijumpai Yesus yang bangkit. Tetapi omongannya tidak dipercaya oleh murid-murid lain. Yang notabene adalah laki-laki.

Akhirnya Yesus menampakkan diri kepada mereka. Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Memang kaum laki-laki lebih banyak berpikir pakai otaknya. Harus ada penjelasan logis dan bisa dicerna otak. Baru mereka akan percaya. Perempuan lebih instinctif menggunakan perasaan dan hati.

Namun tugas penting di sini disampaikan oleh Yesus, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Tuhan menggunakan aneka cara agar mereka percaya bahwa Dia hidup dan mengutus murid-murid menjadi duta.

Baik laki-laki maupun perempuan sama diutus menjadi duta. Kita diutus menjadi saksi kebaikan Tuhan. Mari kita wartakan….

Pagi-pagi berjemur di mentari.
Lihat rumput hijau tumbuh subur.
Kita semua dipanggil menjadi saksi.
Mewartakan kasih Allah mahaluhur.

Cawas, wouw……
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.04.20 Jumat Oktaf Paskah Yohanes 21:1-14 / Think Out of The Box

 

FILM berjudul “Manjhi, The Mountain Man” diambil dari kisah nyata seorang pria tua bernama Dasrath Manjhi. Ia membelah gunung seorang diri selama 22 tahun.

Waktu itu ia membawa istrinya, Falguni ke rumah sakit. Ia harus menempuh jarak 70 km dari Gehlaur ke Wazirgang. Karena jarak yang jauh itu istrinya tak terselamatkan. Ia bertekad menembus gunung.

Orang desa menyebut dia gila. Ia butuh waktu 22 tahun untuk memperpendak jarak dari desanya ke rumah sakit.

Setelah gunung itu terbelah, orang-orang desa hanya menempuh jalan satu kilometer menuju rumah sakit. Itu semua berkat seorang tua Dasrath Manjhi yang berani berpikir out of the box.

Para murid kembali ke pekerjaan awal mereka menjadi nelayan. “Aku pergi menangkap ikan,” kata Petrus. “kami pergi juga dengan engkau.” Kata mereka.

Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Hampir tiga tahun mereka mengikuti Yesus pergi kemana-mana. Tidak pernah menangkap ikan lagi.

Kini mereka kembali menjadi nelayan. Mungkin mereka sudah tidak terampil seperti dulu lagi. Mereka memakai cara-cara lama yang sudah usang dan hasilnya nonsense.

Yesus menampakkan diri di pinggir pantai. Yesus membawa cara baru yang berbeda dengan kebiasaan lama. “”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.”

Orang menebarkan jala pada umumnya ke sebelah kiri. Sekarang Yesus menyuruh mereka menebarkan jala ke sebelah kanan. Itulah model Think Out of The Box. Keluar dari tradisi lama. Berani meninggalkan kebiasaan lama.

Atau kalau lebih nyaman menebarkan jala ke kiri, perahunyalah yang harus dibalikkan arahnya. Arah perahunya diubah dari posisi lama ke posisi yang baru. Yang penting berani berubah.

Ketika mereka berani mengubah cara/tradisi maka mereka berhasil. Paskah berarti berani berubah, bertransformasi. Bagaimana kita bisa mempunyai cara pikir out of the box?

Pertama, berhentilah menyalahkan, tetapi berani ambil tanggungjawab. Umumnya orang hanya pandai menyalahkan situasi. Kedua, berhentilah selalu komplain, mengeluh, tetapi cari cara menyelesaikannya. Kita ini dikit-dikit ngeluh, protes, cuma demo-demo di jalan.

Ketiga, berhenti mempertahankan diri, defensif, tetapi mulailah proaktif. Bertahan berarti tidak berani keluar dari zona nyaman.

Keempat, buka wawasan baru dan kembangkan rasa ingin tahu. Jangan hanya berpikiran sempit, hanya untuk diri sendiri. Mari jadilah umat Katolik yang transformatif…

Memasak lodeh dengan terong ungu.
Ditambah daun melinjo dan santan.
Berpikirlah dengan cara yang baru.
Agar tidak ketinggalan zaman.

Cawas, belajar masak sendiri….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 16.04.20 Kamis Oktaf Paskah Lukas 24:35-48 / Hantu Di Kamar

 

KISAH kursi hijau di Seminari; pada awal penerimaan jubah di seminari, semua frater sangat senang. Baru pertama kali memakai jubah putih.

Seorang frater malam-malam menggantung jubahnya di balik pintu. Lampu dimatikan mau tidur. Ketika terbangun mau ke kamar mandi, ia membuka mata dan kaget.

Ada putih-putih berdiri di pintu. Ia “kucek-kucek” matanya, benda itu tidak hilang. Ia mulai ketakutan. Ia membuat tanda salib dan berdoa Bapa Kami. Tidak hilang juga. Ia melihat benda putih itu tidak menapak di tanah.

Hantu dalam pikirnya. Makin gemetaran. Ia berdoa lebih khusuk lagi. Mulai keringat dingin bercucuran. Hantu itu tak mau pergi. Mau menyalakan lampu takut, karena saklar listrik ada di dekat sang hantu.

Karena gugup dan bingung, ia mengambil sandal dan melemparkannya ke arah hantu itu. “Glodhag…” suara sandal mengenai pintu. Ia baru tersadar hantu putih itu ternyata jubahnya sendiri yang tergantung di balik pintu. Ia tergeletak di tempat tidur lagi. Hhallaahhhh….

Dengan berbagai cara Yesus membuktikan diri-Nya bahwa Ia bangkit dan hidup. Cerita-cerita penampakan itu masih seperti dongeng belaka bagi mereka. Ketika Yesus hadir di tengah-tengah mereka, mereka tidak percaya.

Yesus berkata, “Damai sejahtera bagimu.” Mereka terkejut dan takut, karena mengangka bahwa mereka melihat hantu. Mereka masih ragu-ragu.

Maka Yesus minta kepada mereka untuk meraba tangan dan kaki-Nya. Hantu tidak punya tulang dan daging. Mereka tercengang, tidak percaya.

Mereka belum yakin. Yesus minta makanan.mereka memberi ikan goreng. Ia memakan-Nya di depan mata mereka. Hantu tidak akan makan ikan atau roti. Hantu makan bunga tujuh warna.

Dengan berbagai cara Yesus membuktikan bahwa Ia hidup. Para murid pelan-pelan menjadi sadar bahwa Yesus Tuhan mengalahkan kematian. Ia sungguh bangkit.

Yesus memberi tugas kepada mereka untuk memberi kesaksian. “Dalam Nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalan saksi dari semuanya ini.”

Marilah kita jadi saksi warta sukacita Paskah ini. Dengan cara dan kapasitas kita masing-masing. Kita bisa membawa kegembiraan dan sukacita kepada semua orang.

Apalagi dalam situasi pandemi korona ini, kita harus mampu membawa harapan dan kegembiraan kepada semua orang. Mari kita wartakan….

Pagi-pagi melihat sawah
Di ufuk timur matahari bersinar terang
Kita wartakan sukacita Paskah
Beri harapan dan sukacita bagi semua orang

Cawas, property disiapkan….
Rm. A. Joko Purwanto Pr