Puncta 16.05.20 Yohanes 15:18-21 / Jean Valjean dalam Novel “Les Miserables”
KOLONEL Javert membenci dan terus mencari kesalahan-kesalahan Jean Valjean. Kendati Valjean telah berubah menjadi manusia baru dan hidup menurut ajaran kasih Yesus.
Namun bagi Javert, pada dasarnya manusia tidak bisa berubah. Sekali berdosa, orang tetap berdosa. Sementara itu Valjean yang merasa sudah ditebus dan dikasihi Tuhan, berusaha terus menebarkan kasih itu kepada sesama.
Ia bahkan mencintai pelacur yang mempunyai anak di luar nikah. Ia mengasihi tanpa pamrih. Ia membagi makanan kepada orang-orang miskin di Paris. Ia membangun kota Vigau menjadi makmur.
Namun bagi Javert, itu hanyalah kedok untuk menutupi keburukannya. Baginya manusia itu buruk. Perubahan itu hanyalah fantasi. Bagi Javert, dunia ini dibagi menjadi hitam dan putih.
Sementara Valjean menilai bahwa kasih Allah itu terwujud dalam mengasihi sesama. Kasih itu mengampuni. Javert dihantui rasa bersalahnya dan ia menembak dirinya di tepi sungai Seine di samping Katedral Notre Dame Paris.
Kasih mengalahkan kebencian. Pengampunan pada akhirnya menang. Begitulah akhir dari Novel “Les Miserables” karangan Victor Hugo.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,”Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kamu dari dunia, maka dunia membenci kamu.”
Orang yang mengikuti Yesus pasti akan dibenci oleh dunia. Karena ajaran kasih Yesus itu berlawanan dengan kehendak dunia. Menurut hukum dunia, orang salah harus dihukum, bukan diampuni atau dikasihi.
Puntadewa yang berdarah putih itu juga dibenci oleh adik-adiknya karena sikapnya, “Wong becik dibeciki, wong ala dibeciki.” (Orang baik diperlakukan dengan baik, orang jahat juga diperlakukan dengan baik).
Semakin kita mengasihi Kristus dan melakukan ajaran-Nya, semakin dunia membenci kita. Kasih Kristus itu ajaran yang melampaui hukum dunia.
Bagaimana bisa Santo Yohanes Paulus II itu mengampuni orang yang menembaknya? Bagaimana bisa Maximilianus Maria Kolbe itu memilih mati di kamp konsentrasi Jerman untuk menggantikan seorang bapak, Franciszek Gajowniczek yang dihukum oleh Nazi?
Semua itu karena kasih Yesus kepada manusia. Yesus lebih dahulu dibenci oleh dunia. Begitu pun para murid-Nya juga akan dibenci karena ajaran-ajaran Yesus yang melampaui pikiran dan nalar dunia.
Siap-siaplah kita akan dibenci, ditolak, disingkirkan, dijauhi dan dicemooh karena kita mengikuti Kristus. Yesus mengingatkan, ”Semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.”
Didi Kempot mengelilingi “Sewu Kutha”.
Akhirnya berhenti di “Stasius Balapan”.
Corona mengubah segala-galanya.
Kita harus siap hadapi perubahan.
Cawas, Harus tegar walau ambyar….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 15.05.20 Yohanes 15:12-17 / Kasih Menembus Batas
SEPASANG pengantin muda membuka warung kecil di Brooklyn desember 1902. Esther dan suaminya, Salomon. Mereka penganut Yahudi. Pembeli pertama adalah pastor muda bernama Caruana.
Pastor itu bercerita kepada Salomon bahwa gerejanya harus tutup.Ia butuh dana sebesar $500 senin depan. Salomon iba. Ia minta kepada Esther untuk menjual semua hadiah perkawinan mereka. Hanya dapat $250. Ia pinjam kerabat besarnya, dan terkumpul $250.
Dana itu dipinjamkan untuk membantu pastor muda itu. Paroki St.Lucia tidak jadi ditutup. Persahabatan tulus terjalin antara Pastor Katolik dengan keluarga Yahudi untuk beberapa lama. Pastor Caruana kemudian ditarik ke Roma.
Warung Ester berkembang menjadi Toko Serba Ada Ueberall yang besar. Salomon meninggal karena jantung. Hitler masuk Austria pada perang dunia kedua.
Banyak saudara Ester ingin mengungsi ke Amerika. Tapi Amerika sudah menolak. Mereka mengusulkan pergi ke Cuba dengan syarat harus ada pihak sponsor di Cuba. Ia tidak punya kenalan di Cuba.
Ia minta bantuan pastor muda di Gereja St. Lucia, siapa tahu bisa menghubungkan dengan gereja di Cuba. Tanpa diduga, Uskup Agung Mgr. Caruana sendiri menyambut Esther di Havana Airport.
Mereka berjumpa setelah sekian puluh tahun tak berkabar. Singkat cerita seluruh keluarga Esther dapat tempat pengungsian di Cuba. Ketika Uskup Caruana sakit di Philadelphia, Esther berkunjung dan itulah perjumpaan terakhir.
Uskup itu memberikan bros perak sebagai kenangan terakhir kepada sahabatnya, Esther Ueberall. “Pergilah dengan damai Bapa, kenangan akan engkau sangat manis di hati saya.” Ucapnya. (disarikan dari Majalah Guideposts, Februari 1974 dan Mei 1987 yang ditulis sendiri oleh Esther Ueberall).
Yesus berkata, ”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”
Yesus menyebut kita adalah sahabat-Nya. Ia memberi contoh bagaimana membangun relasi sahabat. Seorang sahabat berani berkorban bagi orang yang dikasihinya. Ia mengorbankan nyawa-Nya untuk kita.
Kita adalah pribadi yang sangat berharga di mata-Nya. Ia tidak menganggap kita hamba, tetapi menjunjung kita menjadi sahabat-Nya. Persahabatan yang tulus didasari dengan kasih yang menembus batas-batas. Tidak ada yang lebih indah selain sebuah persahabatan antar pribadi yang mau berkorban.
Aku tak sing ngalah trima mundur timbang lara ati.
Tak oyaka wong kowe wis lali ora bakal bali.
Paribasan awak urip kari balung lila tak lakoni.
Jebule janjimu, jebule sumpahmu ora bisa digugu.
Cawas, timbang lara ati, luwung dijogedi…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 14.05.20 Pesta St. Matias Rasul Yohanes 15:9-17 / Pemain Cadangan
JORDY ALBA, pemain sayap dari Barcelona itu pernah beberapa kali menjadi pemain cadangan yang menentukan. “Bukan, saya bukan pahlawan. Saya bekerja untuk seluruh team.”
Ia menolak dengan rendah hati ketika dijuluki pahlawan Barca. “Kami masing-masing punya tugas untuk membangun team yang solid. Kami harus menunjukkan performa yang baik agar team dapat hasil yang maksimal.” Katanya.
Kita tidak boleh meremehkan pemain cadangan atau pengganti. Pada saat-saat kritis dibutuhkan orang yang bisa menyelesaikan masalah, mencari solusi atas kebuntuan.
Dalam pandangan kita Matias mungkin sebagai pemain pengganti. Tetapi dia dipilih oleh Tuhan dengan perantaraan Roh Kudus. Mereka berdoa kepada Tuhan untuk memilih siapa yang akan menggantikan kedudukan Yudas Iskariot.
Yang kena undi adalah Matias. Dengan demikian rasul itu tetap berjumlah dua belas menjadi lambang dua belas suku Israel. Gereja adalah Israel baru yang berziarah menuju Kerajaan Allah atas dasar iman para rasul.
Panggilan menjadi rasul itu bukan kehendak kita sendiri. Tetapi itu adalah kehendak Tuhan. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
Kita tidak perlu minder atau rendah menjadi pemain cadangan. Pada saat-saat kritis dibutuhkan orang yang tepat pada tempat dan saatnya.
Dalam sebuah team pasti hanya ada satu kapten. Penjaga gawang walaupun dia berada di belakang tetap punya tanggungjawab yang sama besar dengan penyerang di depan.
Kita harus yakin karena yang memilih kita adalah Yesus. “Bukan kamu yang memilih Aku. Tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.”
Marilah kita melakukan tugas dan panggilan kita masing-masing. Dengan demikian kita menghasilkan buah yang baik.
Kita lawan covid sembilan belas.
Pakai baju APD yang pas.
Rendah hati seperti Matias.
Jalankan tugas dengan tuntas.
Cawas, selalu ada harapan….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 13.05.20 Yohanes 15:1-8 / Suket Teki
HANYA Didi Kempot yang menanam padi tapi yang tumbuh malah rumput liar (suket teki). Itu digambarkan dalam lagunya, “Suket Teki.”
Salah satu syairnya berbunyi begini, “Wong salah ora gelem ngaku salah, suwe-suwe sapa wonge sing betah. Mripatku uwis ngerti saknyatane, kowe selak golek menangmu dewe. Tak tandur pari, jebul thukule malah suket teki.”
Kalau diterjemahkan kira-kira begini, “Orang salah tidak mau mengaku salah, lama-lama siapa yang bisa betah (tinggal bersama). Mataku sudah tahu yang sebenarnya. Engkau hanya mau menang sendiri. Aku menanam padi tapi ternyata yang tumbuh malah rumput liar (Suket Teki)”.
Dia menanam kebaikan tetapi dibalas dengan kejahatan. Ia menabur kesetiaan tetapi yang muncul ketidak-setiaan.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.”
Supaya ranting-ranting banyak berbuah, maka ia harus tinggal pada pokoknya. Ranting-ranting juga harus dijaga agar tidak ada benalu yang mengganggu suplai makanan ke ranting-ranting.
Bapa sebagai Pengusahanya memelihara sungguh-sungguh agar ranting berbuah lebat. Yang tidak berbuah dipotong dan yang berbuah dibersihkannya.
Supaya kita menghasilkan buah, kita mesti tinggal di dalam pokoknya, yaitu Yesus. Buah apa yang dapat kita hasilkan? Yang diharapkan adalah buah kebaikan, kasih, sukacita, kerendahan hati, pengampunan, belarasa, solidaritas, toleransi dll.
Kiranya nilai-nilai itu yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Semakin bayak buah yang kita hasilkan, semakin kita memuliakan Bapa yang empunya kebun anggur. Dan kita pasti juga akan semakin dipelihara oleh Bapa sang pemelihara kehidupan.
Kalau yang tumbuh itu malah suket teki, maka yang muncul adalah kekecewaan, putus asa dan kesedihan.
Marilah kita menghasilkan anggur yang manis, yang akan memberi sukacita kepada banyak orang, terlebih Bapa pemelihara kita.
Paribasan awak urip kari balung lila tak lakoni.
Setya ing janji-Mu,
setya ing sumpah-Mu
ndherek Gusti tuhu.
Cawas, aku setia pada-Mu….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 12.05.20 Yohanes 14:27-31a / Perpisahan
DESTARASTRA masih menyimpan dendam kepada para Pandawa karena semua anaknya mati terbunuh di Padang Kurusetra. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena buta matanya.
Dendam membara saat melihat Werkudara memboyong saudara-saudaranya ke Hastina. Ia merangkul satu per satu para Pandawa. Ketika sampai giliran Werkudara, ia merangkul pundaknya.
Werkudara waspada, karena nasehat Kresna. Ia memikul gada rujak polo. Destarastra memiliki aji lebur geni di telapak tangannya. Ia meremas pundak Werkudara. Ia ingin membalas dendam atas kematian anak-anaknya.
“Mati kamu… Werkudara!!!. Rasakan aji lebur geni…!!!” Seketika gada rujak polo yang dipanggul Werkudara luluh lantak hancur berkeping diremas oleh Destarastra.
Karena ia buta, ia tidak tahu bahwa yang dipegang bukan Werkudara tetapi gada rujak polo. Karena ketahuan niat jahatnya, Destarastra dan Gendari pergi meninggalkan Hastina dengan rasa malu.
Bukan damai yang ditinggalkan di Hastina, tetapi keributan, pertentangan dan perselisihan di antara saudara. Puntadewa menyalahkan adiknya karena mempermalukan Destarastra dengan cara menipunya.
Dalam sabda perpisahan-Nya, Yesus meninggalkan para murid dengan damai. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu. Dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Jangan gelisah dan gentar hatimu.”
Kepergian Yesus tidak meninggalkan ketakutan, kegelisahan, kesedihan atau kesengsaraan, tetapi memberi harapan kepada para murid, bahwa Ia akan menyediakan tempat di rumah Bapa-Nya.
Yesus sangat mengasihi murid-murid-Nya. Ia meninggalkan damai sejahtera kepada mereka. Ia menyampaikan rasa tulus ikhlas kasih-Nya kepada murid-murid-Nya. Ia rela menghadapi salib karena dengan itu Ia menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa dan kasih-Nya kepada manusia.
Perpisahan Yesus dengan murid-murid-Nya dikenang sepanjang masa. Ia mengadakan perjamuan dengan mereka. Ia membasuh kaki para murid-Nya. Ia menyampaikan salam perpisahan penuh kasih dan harapan, bahwa kelak mereka akan berkumpul kembali di rumah Bapa-Nya.
Perpisahan bukan akhir, tetapi Ia berjanji akan datang kembali dalam kemuliaan. Sungguh perpisahan yang manis. Kematian Yesus untuk kehidupan kita. Pengorbanan membawa damai. Perpisahan untuk berjumpa di sorga.
Untuk melawan virus corona
Jangan pergi kita di rumah saja
Yesus pulang ke rumah Bapa
Ia memberi damai sejahtera
Cawas, masa depan ceria….
Rm. A.Joko Purwanto Pr