Puncta 11.05.20 Yohanes 14:21-26 / Sabda Sang Guru
BALADEWA adalah guru bagi Duryudana dalam olah gada. Baladewa sedikit berpihak pada Duryudana karena istri mereka adalah kakak beradik. Erawati menjadi istri Baladewa.
Banowati menjadi istri Duryudana. Ketika Baratayuda, Baladewa mendukung Duryudana. Duryudana sangat mengasihi Baladewa. Apa yang dikatakan Baladewa selalu dilaksanakan.
Waktu itu Duryudana perang tanding melawan Bima. Baladewa memberi isyarat kepada Duryudana dengan teriak-teriak dari pinggir gelanggang, “Eling…yayi.. eling… yayi..eling…” itu adalah kode kepada Duryudana untuk memukul “pilingan” atau dahi Bimasena.
Kresna tidak kurang akal. Dia memerintahkan Petruk untuk memberi isyarat kepada Bima. Petruk berteriak, “puwa…ndara….puwa……puwa ndara.” Puwa artinya “pupu kiwa” atau paha kiri.
Kelemahan Duryudana ada di paha sebelah kiri. Bima mengayunkan gada Rujak Polo ke paha kiri Duryudana dan seketika itu rebah tak berdaya.
Yesus berkata kepada para murid waktu perjamuan perpisahan, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, dia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku-pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan Diri-Ku kepadanya.”
Duryudana sebagai murid mengasihi Baladewa gurunya. Ia melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Begitu pula Werkudara mengasihi Kresna sebagai penasehatnya.
Ia melakukan apa yang dikatakan kepadanya. Kendati sebatas isyarat, bagi orang yang saling mengasihi tahu apa maksud dari perintahnya itu.
Yesus pernah bersabda, “Kamu adalah murid-Ku jika kamu melakukan apa yang Ku-perintahkan kepadamu.” Tandanya kalau kita mengasihi Yesus adalah kalau kita memegang perintah-Nya dan melakukannya.
Perintah-perintah mana yang kita lakukan sebagai wujud kita ini mengasihi Yesus? Apakah sabda Yesus itu sungguh ada jejaknya dalam tutur kata dan tindakan kita setiap hari?
Perintah Yesus itu bisa kita terjemahkan dalam wujud nyata dalam hidup sehari-hari, entah untuk diri sendiri, keluarga, anak-anak, atau dalam masyarakat atau di tempat kerja. Pendek kata tindakan kita dapat menjadi perwujudan sabda-sabda-Nya.
Maunya beli mobil corola.
Malah dihantam virus corona.
Kita ini adalah murid-Nya,
Jika kita melakukan perintah-Nya.
Cawas, tetap semangat….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 09.05.20 Yohanes 14:7-14 / Antasena
DI ANTARA anak-anak Werkudara yang mewarisi sifat-sifat dan gaya ayahnya adalah Antasena. Werkudara atau Bima mempunyai tiga anak (Menurut Gagrag Jogja-Solo) yaitu Gatotkaca, Antareja dan yang bungsu adalah Antasena.
Gatotkaca lahir dari Dewi Arimbi. Antareja lahir dari Dewi Nagagini dan Antasena lahir dari Dewi Urangayu, Puteri Batara Baruna. Bentuk wayang Antasena mirip Bima tetapi wajahnya agak tengadah ke atas.
Antasena juga tidak bisa berbahasa halus seperti ayahnya. Dengan siapa pun dia memakai bahasa “ngoko.” Perilaku, tutur kata dan gayanya mirip dengan ayahnya. Berjumpa dengan Antasena, mengingatkan kita akan sosok Werkudara.
Yesus menjelaskan kepada Filipus bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Barangisapa mengenal Yesus juga akan mengenal Bapa-Nya. Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?”
Mungkin bagi Filipus, yang dimaksud Bapa adalah bapa lahiriah manusiawi. Namun Yesus datang dari Allah, Bapa yang di sorga.
Yesus mengajarkan apa yang disabdakan Bapa. Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Bapa-Nya. Apa yang dikatakan dan dilakukan berasal dari Bapa-Nya.
Ada pepatah Jawa yang mengatakan, “Kacang mangsa ninggala lanjaran.” Lanjaran adalah tonggak dari bambu yang menjadi tempat menjalarnya kacang panjang.
Pepatah itu mau mengatakan bahwa sifat-sifat seorang anak tidak akan jauh dari orangtuanya. Tutur kata dan tingkah laku seorang anak meniru apa yang dilihat dari teladan orangtuanya. Children see children do. Ada pepatah lain, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”
Apa yang diajarkan Yesus atau karya-karya-Nya tidak akan jauh dari kehendak Bapa-Nya. Jika kita melihat Yesus, kita juga bisa melihat Bapa-Nya.
Kalau Yesus mudah berbelaskasihan kepada orang kecil, miskin dan berdosa, demikian juga Bapa di sorga. Kalau Yesus begitu taat kepada kehendak Bapa, pastilah Bapa itu sangat mengasihi Putera-Nya.
Kalau kita mengaku menjadi murid Yesus, apakah kita juga melakukan teladan-teladan hidup-Nya? Jika ada orang ketemu kita, apakah mereka bisa menilai kita sebagai murid-Nya dari tutur kata dan perilaku kita.
Aktivitas di rumah saja.
Biar corona tidak menyebar kemana-mana.
Teladan kasih kepada sesama.
Adalah tanda kita menjadi murid-Nya.
Cawas, sunyi sepi sendiri…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 08.05.20 Yohanes 14:1-6 / Sewu Kutha
SEWU kutha uwis tak liwati.
Sewu ati tak takoni.
Nanging kabeh padha ra ngerteni,
lungamu neng endi.
Pirang taun anggonku nggoleki,
seprene durung bisa nemoni.
(Ribuan kota sudah kulewati, ribuan hati sudah kutanyai.
Tetapi semua tidak mengerti. Kemana engkau pergi.
Sudah berapa lama aku terus mencari.
Sampai sekarang belum pernah bisa kutemui).
Sepenggal syair Didi Kempot dalam mencari kekasihnya yang telah pergi. Ia telah mencari kemana pun namun tidak bisa menemui.
Ini mirip dengan pengalaman Tomas, “Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?”
Ini adalah pengalaman kita semua. Kita semua mencari Tuhan. Kita rindu memeluk Tuhan. Kita ingin menemukan keselamatan kekal. Kita ingin bersatu dengan Tuhan sumber kehidupan.
Tetapi kita tidak mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Kita berusaha pergi kemana-mana untuk menemukan Tuhan. Kita ziarah ke berbagai tempat ziarah. Kita berdoa di tempat-tempat sunyi. Kita pergi ke berbagai gereja.
Kita bertanya kepada orang pinter, cari dukun. Kita konsultasi kepada pastor rohaniwan. Kita belajar meditasi kepada guru rohani. “Nanging kabeh padha ra ngerteni.” Tetapi semua tidak ada yang tahu.
Yang tahu hanyalah Sang Jalan Kehidupan itu sendiri. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Yesuslah jalan menuju Bapa, sumber kebahagiaan sejati. Hanya melalui Yesus kita akan ketemu yang kita cari selama ini.
Yesus, kekasih kita pergi meninggalkan kita, bukan karena tidak mencintai kita. Tetapi “Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu.” Ia pergi untuk menyiapkan tempat bahagia di surga.
“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat, Aku akan datang kembali dan membawamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada.”
Kita tidak perlu patah hati seperti Didi Kempot karena Yesus pergi untuk menyediakan tempat bahagia bagi kita di surga. “Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.”
Itulah jaminan Yesus ketika Dia pergi naik ke surga meninggalkan kita. kita tidak perlu bingung pergi menjelajahi ribuan kota. Kita tidak perlu bertanya kepada ribuan hati. Kita sudah menemukan jawabannya. Yesuslah jalan, kebenaran dan hidup.
Ya mung siji dadi panyuwunku.
Aku pengin ketemu.
Senadyan sak kedheping mata.
Tak nggo tamba kangen jroning dhadha.
Cawas, menanti dalam galau…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 07.05.20 Yohanes 13:16-20 / Musuh Dalam Selimut
PRABU Salya sebenarnya tahu bahwa Nakula dan Sadewa diutus Prabu Kresna untuk minta mati kepada paman mereka. Karena Kresna tahu tidak ada lawan yang bisa menghadapi Salya yang punya aji Candabirawa.
Taktik ini sengaja dibuat oleh Kresna, supaya Salya luluh hatinya kepada ponakan sendiri. Maka Salya sadar bahwa Nakula Sadewa hanya sebagai utusan. Salya menyerahkan nyawa untuk kemenangan Pandawa. Dia tahu bagaimana caranya harus mati di tangan Pandawa.
Setelah Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya,Ia menjelaskan kepada mereka bahwa hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya; atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Ada diantara murid-Nya yang akan mengkhianati-Nya.
Tidak semua murid mampu mengerti maksud gurunya. “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.”
Kadang musuh yang berbahaya itu bukan dari orang lain, tetapi justru dari orang yang paling dekat.
Mungkin itu yang disebut musuh dalam selimut. Orang yang tidak kita duga, mereka yang paling dekat dengan kita justru tega menusuk dari belakang. Kita bisa ingat bagaimana Julius Caesar mati di tangan sahabatnya sendiri yakni Brutus.
Yesus dikhianati bukan oleh orang lain, tetapi oleh murid-Nya sendiri. “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.” Yesus mengingatkan kepada murid-murid-Nya agar supaya jika hal itu terjadi, para murid siap menghadapinya.
Para murid dipanggil untuk diutus. Yesus memberi tanggungjawab kepada mereka. Kita pun juga diutus. Maka seperti Yesus taat kepada Bapa yang mengutus-Nya, kita diajak taat kepada Yesus yang memanggil kita.
Banyak godaan menjadi utusan. Bahkan kadang godaan dan tantangan justru datang dari lingkungan terdekat kita sendiri. Marilah kita meneladan Yesus yang taat kepada Bapa kendati dikhianati oleh murid-Nya.
Virus corona datang tak kelihatan.
Ia menyelinap pelan namun lembut.
Berat memang menjadi utusan.
Kadang ada musuh dalam selimut.
Cawas, bulan di balik awan….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 06.05.20 Yohanes 12:44-50 / Didi Kempot
HARI SELASA 5 Mei 2020 adalah hari berkabung nasional bagi Sobat Ambyar, Sad Girls and Sad Boys. The Lord of Broken Heart Mas Didi Kempot dipanggil Tuhan.
Dia dijuluki Godfather of Broken Heart, dewanya orang yang patah hati. Karena lagu-lagunya berkisah tentang hati yang kecewa ditinggal kekasihnya.
Tetapi dia selalu berkata,”senadyan patah hati nanging bisa dijogedi.” Daripada patah hati mending dijogedi. Walaupun patah hati tetapi tetap bisa berjoged, bergoyang.
Di atas panggung dia pernah berkata kepada penonton yang membanjirinya, “Ana sing ditinggal pacare? Sembahyangna ben entuk pacar sing luwih apik.” (Ada yang sedang ditinggal pacar? Doakan agar mendapat ganti yang lebih baik).
Dia menghibur orang-orang yang patah hati supaya tidak “baper” tetapi memandang dunia dengan gembira, tetap bisa berjoged ria. Dia menerangi hati yang gelap, kecewa, gundah dengan ritme goyang sangat menghibur.
Selamat jalan Sang Maestro. “Pirang tahun anggonku nggoleki seprene durung bisa nemoni.” Sekarang Mas Didi sudah ketemu dengan kekasih jiwamu di surga. .
Yesus berkata kepada orang-orang Farisi yang percaya kepada-Nya, “Aku telah datang ke dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.”
Yesus datang memberi terang kepada dunia yang penuh kesedihan, kegelapan. Yesus memberi harapan kepada orang yang putus asa. Yesus memberi kekuatan kepada mereka yang lemah dan tak berdaya.
Sabda bahagia-Nya menyentuh semua lapisan masyarakat. Yesus memberi jawaban kepada mereka yang lapar dan haus akan sabda Tuhan.
Kedatangan Yesus bukan atas kehendak-Nya sendiri. Ia diutus oleh Bapa untuk menyampaikan kasih-Nya. Melaksanakan kehendak Bapa itulah misi-Nya datang ke tengah-tengah kita.
Agar kita semua tidak hidup dalam kegelapan, tetapi melihat terang. Dan terang itu adalah Dia yang melaksanakan kehendak Bapa. Yesus itulah terang. Barangsiapa percaya kepada-Nya memperoleh terang hidup.
Yesus adalah jalan. Dengan percaya kepada-Nya orang akan sampai kepada Bapa. Karena Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”
Yesus bukan hakim, tetapi Yesus adalah Penyelamat. Seperti petugas pemadam kebakaran, ia berani mengorbankan nyawanya untuk bisa menyelamatkan jiwa orang. Demikian Yesus datang untuk menyelamatkan kita.
Wis tak coba nglalekake jenengmu saka atiku.
Saktenane aku ora ngapusi isih tresna sliramu.
Selamat jalan tumuju menyang swargamu.
Lagu-lagumu akan tetap mengalun di hatiku.
Cawas, my broken heart….
Rm. A. Joko Purwanto Pr