Renungan Harian

Puncta 05.05.20 Yohanes 10: 22-30 / You’ll Never Walk Alone

 

SEMUA klub liga Inggris mengakui kalau mereka main di Stadion Anfiled, rasanya tidak hanya melawan sebelas pemain, tetapi duabelas. Pemain tambahan itu adalah penonton fanatik Liverpool.

Mereka punya semboyan “You’ll Never Walk Alone.” Dengan menyanyi, menari, bersorak dari tribune, mereka seolah ikut main di lapangan. Para pemain itu tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan penonton menggempur pertahanan lawan.

Pemain dan penonton menyatu menjadi pertunjukkan indah yang menggetarkan lawan-lawan mereka. Gemuruh nyanyian mereka seolah mau mengatakan, “Kalian tidak bermain sendirian, kami ikut mendukung dari pinggir lapangan. Kita bersatu padu.”

Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Yesus menyatu dengan Bapa. Bapa hadir dalam diri Yesus. Apa yang dikerjakan Yesus adalah pekerjaan Bapa. Ia adalah utusan Bapa. Dialah Mesias dari Allah.

Namun orang-orang Yahudi tidak percaya. KataNya kepada mereka, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya.”

Orang dinilai disiplin salah satunya bisa dilihat dari tingkat kehadirannya yang selalu tepat waktu. Orang dinilai jujur bisa dilihat dari akurasi laporan, transparansi dan akuntabilitasnya.

Orang sabar dinilai dari ketenangannya menghadapi masalah, tidak “grusa-grusu”, penuh pertimbangan. Penilaian terhadap seseorang itu dapat dilihat dari apa yang dikerjakannya.

Melihat pekerjaan-pekerjaan Yesus, mestinya orang bisa mengetahui siapakah Yesus itu sebenarnya. Tetapi orang-orang Yahudi itu masih bimbang, memaksa Yesus mengatakan secara terus terang.

Dalam kehidupan ini tidak harus segala sesuatu diucapkan. Suami istri itu tidak perlu mengatakan setiap menit setiap waktu, “Aku cinta padamu say”. Tetapi dari tindakan, perbuatan dan karnyanya menunjukkan bahwa mereka saling mengasihi.

Marilah kita menyatu dengan Yesus melalui tindakan dan karya-karya-Nya. Dengan karya belas kasih, orang akan melihat kita ini murid-murid-Nya.

Mari budayakan hidup bersih.
Kita cegah mata rantai corona.
Ikuti Yesus ajarkan cintakasih.
Akan jadi berkah untuk sesama.

Cawas, jangan menyerah….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 04.05.20 Yohanes 10:11-18 / Menjadi Shaolin Sejati

 

HOU JIE adalah panglima perang yang baik. Ia meninggalkan dunia kemiliteran yang penuh dengan intrik persaingan, peperangan, pembunuhan, kekejaman.

Ia ingin menebus dosanya dan menjadi murid di Kuil Shaolin. Ia dibantu oleh Biksu Wudao yang bertugas sebagai koki di kuil. Ia mulai memahami jalan hidup Shaolin dalam keheningan dan ketenangan batin.

Chao Man menggantikan posisinya menjadi panglima perang yang kejam. Ia mendengar bahwa Hou Jie masih hidup. Ia mencari dan mengejar untuk membunuhnya. Ia kerahkan pasukan untuk mengepung biara Shaolin.

Hou Jie dan para biarawan berusaha mempertahankan biara Shaolin. Wudao memimpin anak-anak dan perempuan mengungsi. Hou Jie menumpahkan darahnya untuk keselamatan warga Shaolin.

Bahkan dia menolong Chao Man musuhnya, dari reruntuhan pilar kuil. Hou Jie terlontar dan jatuh di pangkuan Budha. Ia mati dalam damai demi kelangsungan generasi Shaolin selanjutnya.

Dengan diiringi lagu yang mengalun pilu berjudul Wu, Wudao dan teman-temannya memandangi asap reruntuhan kuil mereka.

Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Gembala yang baik bertanggungjawa bagi keselamatan domba-dombanya dari berbagai bahaya.

Ia tidak lari ketika serigala datang. Ia menjaga dombanya supaya aman dan mendapatkan rumput segar. Yesus adalah gembala yang baik, yang mengenal domba-domba-Nya.

Paus Fransiskus mengajak para imam agar menjadi gembala berbau domba. Gembala yang hidup dekat dengan domba-dombanya, bukan yang jauh dan tidak mengenal dombanya.

Ajakan itu kiranya dipengaruhi oleh situasi zaman sekarang ini yang menjauhkan kita dari semangat pelayanan, pengabdian, pengorbanan. Istilah Jawanya, “ora wani nggetih.” Tidak berani total, habis-habisan.

Seperti Hou Jie, ia meninggalkan dunia militer dengan segala gemerlapnya dan fokus menjadi rahib sampai mati membela teman-temannya di biara Shaolin.

Yesus adalah panutan kita. Ia menjadi gembala yang mati untuk keselamatan domba-domba-Nya. Pengorbanan total seperti Yesus itulah yang perlu kita teladani dalam melayani domba-domba-Nya.

Mendapat untaian mawar dua.
Ditaruh cantik di pot bunga.
Mari ikuti Sang Gembala utama.
Yang hidup dekat dengan domba-domba.

Cawas, berdoa dan berdoa…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.05.20 PW St. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja Yohanes 6:60-69 / Perkataan Keras

 

WAKTU menanggapi kedatangan Kresna sebagai duta Pandawa, terjadi perdebatan sengit di antara para penasehat Kurawa. Karna menuduh dengan keras bahwa di tengah-tengah para penasehat ada mata-mata.

Tuduhan itu membuat telinga Prabu Salya merah padam. Ia marah dituduh sebagai mata-mata. Kata-kata yang terlontar makin keras dan panas bagai api berkobar membakar sejuta hutan.

Di balairung itu yang terjadi bukan bersatu menghadapi duta Pandawa, tetapi justru saling permusuhan yang makin tajam. Akhirnya Salya menantang Karna.

Namun terdesak oleh kedatangan Kresna, Adipati Karna mundur diam-diam menghindari kemarahan Salya. Karna mundur karena kata-kata Salya yang keras. Ia baru menampakkan diri lagi di istana ketika perang Baratayuda sudah menewaskan banyak senapati Kurawa.

Yesus berbicara tentang roti hidup. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.”

Ia menegaskan,”Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

Sabda ini bagi banyak orang dianggap keras dan tajam kalau tidak mau dikatakan kasar. Mungkin juga ada orang merasa terhina karena harus makan daging dan minum darah manusia. Maka banyak orang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus.

Dalam situasi kritis seperti itu, Yesus menggunakan kesempatan untuk menantang para murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Yesus ingin mendapat ketegasan posisi para murid. Maju atau mundur.

Simon Petrus mewakili teman-temannya berkata, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Kita juga pernah mengalamai situasi kritis seperti itu. Harus berani mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti Yesus atau mundur.

Mengikuti Dia berarti berani menanggung segala resiko ditolak dan siap di jalan salib. Memang berat tantangan Yesus. konsekwensinya adalah salib. Apakah kita mau maju atau mundur teratur?

Ke warung beli rujak cingur.
Dinikmati dengan peyek usus.
Milih maju atau milih mundur.
Tanggung resiko kalau ikut Yesus.

Cawas, diam dan tepekur….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.05.20 Jum’at Pertama Yohanes 6:52-59 / Darah Lambang Kehidupan

 

Darah simbol cinta dan persahabatan. Memang terdengar mengerikan, tapi darah juga sering diceritakan sebagai salah satu simbol cinta yang paling kuat.

Pada jaman dahulu, banyak orang mengadakan ritual untuk “menyatukan darah” dengan orang lain yang dianggap berjasa bagi hidup mereka.

Hal ini dilakukan untuk menunjukkan rasa persaudaraan dan loyalitas yang sangat kuat, tidak akan terpisahkan hingga maut menjemput.

Darah juga sering dianggap sebagai simbol pengorbanan bagi orang yang dikasihinya. Pengorbanan tulus ini kerap berakhir dengan kematian dan tragedi.

Namun banyak orang percaya bahwa cinta sepasang kekasih yang mati karena berkorban untuk pasangannya akan selalu hidup abadi di surga. Ingat kisah-kisah cerita Romeo-Juliet, Sam Pek-Ing Tay, Rose-Jack, Roro Mendut-Pranacitra?

Yesus menumpahkan darah-Nya untuk manusia yang dikasihi-Nya. Dia mati di salib demi cinta-Nya kepada manusia.

Yesus berkata, ”Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.”

Darah melambangkan kehidupan. Orang yang berani menumpahkan darah menunjukkan cintanya yang total. Menumpahkan darah menjadi simbol menyatukan jiwa dan raga demi orang yang dikasihinya.

Kata Yesus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

Kita pantas bersyukur karena Kristus mengasihi kita sedemikian rupa sampai Ia menumpahkan darah-Nya. Kita bersyukur boleh mengenangkan cinta-Nya dalam Ekaristi dimana Dia memberikan tubuh dan darah-Nya.

Kita sungguh berharga di mata-Nya kendati kita ini orang berdosa. Mari kita hidup sebagai orang yang pantas dikasihi-Nya.

Pohung kuning rasanya gurih gempi.
Dioles-oles dengan madu dan mentega.
Darah Kristus tanda cinta sejati.
Memberi hidup kekal bagi kita semua.

Cawas, mimpi ke dunia lain…
Rm. A. JokoPurwanto Pr

Puncta 30.04.20 Yohanes 6:44-51 / Panis Angelicus

 

KENDATI belum pernah menikmati langsung suara Luciano Pavarroti atau Andrea Bocelli menyanyikan Lagu Panis Angelicus, setidak-tidaknya saya pernah tergetar dan merinding saat teman seangkatan di Mertoyudan menyanyikan lagu itu waktu Misa Paskah.

Romo Marjono kini sudah menikmati Panis Angelicus di surga. Syair yang diciptakan oleh Santo Thomas Aquinas itu menggambarkan dalam istilah Jawa “manunggaling kawula Gusti.” Roti para malaikat telah menjadi roti manusia. Roti surgawi telah diberikan.

Oh hal yang luar biasa; orang miskin, budak dan orang sederhana dipersatukan dengan Tuhan. Manusia yang berdosa ditebus oleh Allah. Manusia hina diijinkan bersatu dengan Yang Ilahi karena Yesus Kristus.

Sabda Yesus hari ini sungguh luar biasa, “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga. Barangsiapa makan daripadanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Tidak ada tempat paling nyata sebagai persatuan Allah dan manusia kecuali dalam Ekaristi kudus. Dalam Ekaristi, Yesus memberikan Diri-Nya menjadi santapan kita. ia menumpahkan Darah-Nya untuk kehidupan kita.

Kita semua baik yang kaya dan miskin, presiden dan rakyat jelata, orang hebat dan sederhana, semua sama di hadapan Tuhan. Kita semua diundang oleh Tuhan menyambut Tubuh-Nya. Yesus Kristus diberikan untuk dunia. Ekaristi menjadi tanda “manunggaling kawula Gusti.”

Kalau manna di padang gurun membuat Bangsa Israel mati, Roti yang dari surga ini memberikan hidup kekal. Seorang yang makan dari roti ini akan hidup selama-lamanya.

Barangsiapa percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. Kita belum bisa bersatu dengan Sang Roti hidup sekarang. Tetapi pada saatnya nanti marilah sesering mungkin menerima Tubuh Kristus yang akan membawa kita pada kehidupan abadi.

Tidur nyenyak diiring suara merdu.
Mimpi bercanda ria di taman bunga.
Tuhan Yesus datanglah segera kepadaku.
Engkaulah Roti hidup yang turun dari surga.

Cawas, teriring suara merdu…
Rm. A. Joko Purwanto Pr