Puncta 04.04.20 Yohanes 11:45-56 / Teori Kambing Hitam
RENE GIRARD seorang pemikir Perancis abad XX mengembangkan sebuah teori untuk mengupas suatu krisis kekerasan dalam masyarakat yang disebut Teori Kambing Hitam.
Kultur masyarakat itu mudah pecah. Kalau di tengah masyarakat terjadi krisis karena konflik atau kekacauan, maka untuk mencari solusinya dicarilah kambing hitam yang dapat dipersalahkan.
Kambing hitam yang paling rentan adalah kelompok minoritas. Seperti yang terjadi pada abad 14 ketika wabah pes menyerang seluruh Eropa.
Saking dasyatnya wabah itu sampai disebut The Black Death. Waktu itu terjadi permusuhan antara Kristen dan Yahudi. Sekelompok orang fanatik menyalahkan kaum Yahudi. Merekalah biang keladi dari wabah ini.
Maka terjadilah pengejaran dan pembunuhan kaum Yahudi. Mereka disalahkan sebagai kambing hitam. Begitu pun di Indonesia ketika terjadi pergolakan pada pertengahan tahun 1960an. Sekelompok masyarakat dijadikan kambing hitam dan dihancurkan.
Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan bagaimana runcingnya pertentangan antara Yesus dan kaum Yahudi. Makin banyak orang Yahudi yang percaya menjadi pengikut Yesus. Ini sangat mengkawatirkan.
Akan terjadi masalah dengan agama dan sosial kemasyarakatan. Mahkamah agama Yahudi berkumpul dan mereka berkata, “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjijat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”
Lalu Kayafas, Imam Agung memainkan teori kambing hitam. “Kamu tidak tahu apa-apa dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.”
Yesus harus dikurbankan sebagai kambing hitam dari permasalahan agama, sosial dan politik. Yesus harus mati untuk keselamatan seluruh bangsa. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.
Benih itu harus mati, supaya dapat tumbuh berkembang dan berbuah banyak. Sesudah kebangkitan, benih itu tumbuh dalam diri para murid dan tak bisa dimatikan. Iman akan Yesus tumbuh dimana-mana.
Lalu Gamaliel seorang anggota Mahkamah Agama Yahudi mengingatkan, “Jangan bertindak terhadap orang-orang ini, biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak dapat melenyapkan orang-orang ini, mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.” Yesus adalah Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk menyelamatkan dunia.
Pagi-pagi sudah siram-siram bunga.
Yang muncul merah kuning warnanya.
Yesus harus mati untuk keselamatan dunia.
Agar kita dapat hidup dan menjadi berkat bagi sesama.
Cawas, main bola di rumah saja….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 03.04.20 Yohanes 10:31-42 / “Waton Sulaya”
SULIT menghadapi kelompok WTS (Waton Sulaya) atau kelompok “Daniel Waluya” (Dikandhani ngeyel waton sulaya). Mereka itu asal melawan dan berusaha menjatuhkan.
Hantam dahulu urusan belakang, itulah prinsipnya. Pokoknya lawan!!!! Asal sudah keluar kata “Pokoknya”, sulit untuk dijelaskan baik-baik. Diajak dialog pun, yang keluar urat di leher makin tegang.
Beberapa waktu lalu, kita bisa melihat dan mendengar, bagaimana Presiden didesak untuk membuat keputusan lockdown secara nasional. Dia dikritik tidak berbuat apa-apa, lambat bertindak, dicemooh oleh lawan politiknya.
Ditengah situasi genting itu, ibundanya dipanggil Tuhan. Orang-orang yang tidak menyukainya, mengkritik dengan pedas seolah tidak mau mengerti bagaimana perasaan kehilangan orang yang dikasihinya.
Namun Presiden tetap tenang, tegar dan sabar menghadapi semuanya. Akhirnya dibuatlah keputusan Presiden tentang gugus tugas percepatan penanganan virus corona.
Lalu dibuat Kepres Pembatasan Sosial Berskala Besar. Namun bagi kelompok WTS dan Daniel Waluya, tindakan apa pun akan selalu dilawan dan ditolak, dan dianggap salah.
Pertentangan Yesus dengan orang-orang Yahudi tidak hanya secara ideologi atau perdebatan mulut saja, namun sudah sampai pada permusuhan secara fisik.
Mereka ingin melempari Yesus dengan batu. Orang yang sudah dihinggapi rasa benci, perbuatan baik apa pun tidak akan diterima.
Yang tidak bisa diterima oleh orang-orang Yahudi adalah bahwa Yesus menyebut diri-Nya berasal dari Allah. Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Bagi mereka Yesus dianggap menghojat Allah.
Apa pun yang diperbuat oleh Yesus tidak bisa diterima orang-orang Yahudi. Walaupun Yesus menyembuhkan orang sakit, memelekkan orang buta, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang lumpuh, namun hal itu tidak dianggap sebagai karya Allah. Prinsipnya mereka tidak mau mengakui bahwa Yesus adalah Allah.
Dibutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati untuk bisa memahami Yesus adalah Allah. Semua karya dan hidup Yesus menampakkan kebaikan Allah. Bagi orang yang tetap tegar hatinya, akan sulit memahami akan hal ini.
Berbuat ini salah, berbuat itu juga salah. Semua serba salah. Orang-orang seperti itu layaknya buaya yang mulutnya menganga menanti jatuhnya mangsa. Dia serang kanan kiri dan betapa senangnya kalau musuhnya itu jatuh.
Hari-hari ini kita akan mendengarkan bagaimana Yesus dengan tegar, namun tetap tenang menghadapi lawan-lawan-Nya. Mendekati pekan suci, makin terasa bagaimana tajamnya perbedaan paham Yesus dengan orang-orang Yahudi.
Marilah kita juga tegar memasuki pekan suci yang sulit dengan kondisi wabah corona ini.
Pengumuman Pak Lurah hadapi pandemi.
Tidak boleh kumpul para suami istri.
Ikut Yesus mewartakan kebenaran sejati.
Tantangannya berat dan bertubi-tubi.
Cawas, puasa dulu…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 02.04.20 Yohanes 8:51-59 / Bahasa Plesetan
DI DAERAH Yogayakarta pada dekade 80-90an muncul gaya bahasa plesetan. Orang berkomunikasi tetapi kata-katanya diplesetan.
Misalnya, “Selamat pagi.” Teman lain menjawab, “Pagi atau mami.” Yang lain lagi menyambung, “Mami godhog apa mami goreng.” Godhog apa pinter. Tinta pinter. Aku tinta buatan Indonesia.”
Dibutuhkan kepandaian dan imajinasi yang tinggi supaya bisa nyambung membuat plesetan. Dulu di Seminari ada teman yang pinter bahasa plesetan.
Namanya Heri Nurcahyo atau Heri Gendhut. Asal ada dia, semua omongan bisa diplesetkan. Komunikasi itu nyambung namun isinya tidak nyambung.
Dalam bacaan Injil hari ini, komunikasi Yesus dengan orang-orang Yahudi itu nyambung tetapi isinya tidak nyambung. Yesus berbicara tentang Bapa-Nya. Yesus berasal dari Allah.
Namun orang-orang berbicara tentang keturunan Abraham. Mereka merasa berasal dari keturunan Abraham. Diskusi tentang Abraham pun tidak nyambung. Yesus berbicara tentang iman Abraham, namun orang-orang Yahudi menangkapnya berbeda dengan yang dimaksudkan Yesus.
Komunikasi membutuhkan saling pengertian di antara kedua belah pihak. Orang Yahudi tidak mengerti apa yang dibicarakan Yesus. mereka tidak mempercayai Yesus. bahkan mereka menganggap Yesus kerasukan setan.
Padahal Yesus mewartakan kebenaran dari Allah. Orang-orang tidak mempercayai pewartaan Yesus. maka kendati Yesus berasal dari Allah, mereka tidak percaya. Apa saja yang dikatakan Yesus, tidak dianggap. Mereka tidak mempercayainya.
Sama halnya kalau ada orang yang tidak seiman dengan kita mempertanyakan tentang Allah Tritunggal, atau Roh Kudus, atau keallahan Yesus. Kalau mereka tidak membuka hati untuk mempercayainya, sebagus apapun penjelasan kita pasti tidak akan diterima.
Kuncinya hanya satu yaitu percaya. Orang Yahudi tidak percaya dengan pewartaan Yesus bahwa Dia berasal dari Allah. Maka perdebatan itu tak bisa nyambung, karena masing-masing berbeda cara memandangnya.
Yesus mengajak kita tinggal dan menuruti firman-Nya. Kalau kita mau menuruti friman-Nya kita akan mengenal Yesus sumber kehidupan. Dengan demikian kita menerima keselamatan-Nya.
Menanti datangnya senja
Menikmati lagu-lagu indahnya
Tinggal di dalam firman-Nya
Kita pasti diselamatkan oleh-Nya
Cawas, menyiapkan properti….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 01.04.20 Yohanes 8:31-42 / Lockdown VS Lauk Daun
SEORANG kakek protes pada istrinya. “Tiap hari kok sayurnya hanya daun ubi, daun pepaya, kangkung, kenikir, itu-itu saja ta nek?”
Istrinya menjawab, “Kek, Pak Lurah dan Pak RT , radio, televisi berkali-kali bilang pada warganya, ‘hari-hari ini kita semua warga harus lauk daun di rumah ya. Jangan pergi-pergi. Kita semua sedang ada virus. Semua orang harus lauk daun. Makanya nenek bikin sayur daun-daun saja. Biar sehat ta Kek.” Kakek menjawab, “Itu maksudnya Lockdown nek. Bukan lauk daun.”
Dalam bacaan Injil hari ini terjadi diskusi panjang antara Yesus dengan orang-orang Yahudi. Topiknya satu yaitu Allah Bapa.
Tetapi ada perbedaan paham atau pengertian antara Yesus dengan orang-orang Yahudi. Kesamaan topik itu ada di ayat 41, “Bapa kami satu yaitu Allah.”
Dan Yesus menegaskan, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”
Menurut orang-orang Yahudi Allah itu jauh di luar jangkauan kita, agung mahakuasa dan tak terselami. Bagi Yesus, Allah itu dekat, ada di dalam diri kita dalam tindakan mengasihi, mengampuni, menyelamatkan.
Allah itu adalah kasih. “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku.” Tetapi kenyataannya, orang-orang Yahudi justru hendak membunuh Yesus. itu bertentangan dengan kehendak Allah. Jika mereka berasal dari Allah, mestinya mereka menerima Yesus, karena Dia berasal dari Allah.
Kakek itu menjelaskan apa artinya Lockdown, bukan lauk daun. Kalau kita salah mengerti, – seperti nenek itu yang mendengar lockdown sebagai lauk daun – maka keliru juga dalam mengaplikasikannya.
Orang-orang Yahudi memahami Allah kurang tepat, maka akibatnya mereka membenci Yesus, dan berusaha membunuh-Nya.
Maka sabda Yesus bagi kita, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Marilah kita tetap dalam firman-Nya. Jangan kita menjadi nenek tadi yang mendengar tetapi tidak memahami kebenaran. Kita tinggal dalam firman-Nya dan melaksanakan sabda-Nya. Dengan demikian kita adalah benar-benar murid Yesus.
Katanya corona berasal dari daging kelelawar.
Di Minahasa paniki jadi menu favoritnya.
Marilah kita mengenal Allah dengan benar.
Ngakunya kenal Allah tetapi membenci sesama.
Cawas, lauk daun tetap sehat aja…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 31.03.20 Yohanes 8:21-30 / Siapakah Engkau?
DALAM adegan wayang jika ada dua pihak bertemu, selalu yang ditanyakan adalah, “Sapa jenengmu lan saka ngendi pinangkamu.” Yang artinya, siapakah namamu dan dari mana asalmu.
Misalnya pertemuan antara Abimanyu dengan Buta Cakil atau perjumpaan prajurit kera dari Gua Kiskenda dengan para raksasa dari Alengka.
Mengetahui nama dan asalnya itu akan dilanjutkan tahu tentang niat kedatangan atau tujuannya. Kalau tujuannya baik akan diterima tetapi kalau tujuannya jahat akan ditolak bahkan dengan peperangan sekalipun.
Dalam bacaan Injil hari ini, orang-orang bertanya kepada Yesus, “Siapakah Engkau? Dan Yesus memperkenalkan diriNya, bahwa Dia berasal dari atas, kita berasal dari bawah. Yesus berasal dari Allah, kita berasal dari dunia.
Dia berasal dari Bapa, karena itu Dia akan kembali kepada Bapa. Para pendengarnya tidak paham karena mereka tidak mengenal Bapa.
Orang-orang Yahudi bahkan menuduh Yesus menghojat Allah karena Dia menyebut diriNya Anak Allah. Maka mereka menolak kemesiasan Yesus.
Pertanyaan mereka kepada Yesus, “Siapakah Engkau?”, semestinya juga menjadi pertanyaan kita semua. Untuk bisa mengenal Allah, kita mesti mengenal Yesus utusanNya. “Yesus, siapakah Engkau bagiku?”
Agar kita dapat semakin mengenal Yesus, maka kita perlu membaca dan merenungkan Kitab Suci. Di dalam Kitab Suci itu peristiwa, hidup, karya, ajaran kasih Yesus diceritakan.
Di dalam Kitab Suci itu Yesus memperkenalkan diriNya kepada kita. kalau kita senang membaca Kitab Suci, kita akan semakin mengenal siapakah Yesus itu.
Kalau kita mau mengenal seseorang, kita tidak boleh menilai atau menghakimi lebih dahulu. Orang-orang Yahudi tidak mampu mengenal Yesus lebih dalam karena mereka menuduh dan menghakimi Yesus bahwa Dia menghojat Allah.
Orang yang sudah menilai negatif akan sulit untuk mengenal lebih jauh. Apalagi kalau sejak kecil sudah diajari membenci orang, menjauhi sesama, mengkafirkan yang berbeda. Maka sulit baginya untuk membuka diri dan mengenal lebih jauh.
Seperti orang-orang Yahudi sulit menerima Yesus karena mereka tidak mengenal siapa Yesus, dari mana Dia datang.
Marilah kita membuka hati untuk lebih mengenal Yesus dan bagaimana Dia sangat mengasihi kita.
Daun pepaya pahit rasanya.
Buat menangkal sakit malaria.
Mengenal Yesus utusan Bapa.
Kita pasti diselamatkanNya.
Cawas, tetap di rumah jaga kesehatan….
Rm. A. Joko Purwanto Pr