Renungan Harian

Puncta 30.03.20 Yohanes 8:1-11 / Menuding Orang Lain

 

ORANG JAWA punya banyak falsafah hidup dari jari jemari kita. Orangtua menasehati anak dengan simbol atau pralambang.

Ada tembang “enthik-enthik si penunggul patenana.” Tembang itu sebenarnya berisi nasehat agar kita hidup rukun dan gotong royong.

Ceritanya begini, Jari manis iri melihat jari tengah berdiri paling tinggi. Ia menyuruh si “enthik” jari kelingking untuk membunuh “Panunggul” yakni jari tengah.

Jari telunjuk mengingatkan, “Aja dhi, aja dhi mundhak kuwalat” (Jangan ya dik nanti kena tulah). Si Jempol meneguhkan, “Iya bener kandamu, lali sumber ketiwasan.” (Ya benar omongmu, orang lupa sumbernya bencana).

Lain lagi falsafah tentang jari telunjuk. Jari ini simbol perintah, kuasa, menuding, menunjuk. Namun dibalik kuasa jari telunjuk, kita harus sadar bahwa empat jari yang lain menunjuk dan mengarah pada diri kita sendiri.

Itu artinya sebelum kita menuding atau menunjuk atau menyalahkan orang lain, tunjuklah atau tudinglah atau lihatlah dirimu sendiri lebih dahulu. Satu jari telunjuk mengarah ke orang lain, tetapi empat jari yang lain menuju pada diri sendiri.

Dalam Injil hari ini, orang-orang banyak menuduh seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Bacaan pertama juga bercerita tentang hal yang sama.

Lebih jelas lagi disebut namanya Susana. Semua orang menuding perempuan itu. Semua ingin menghukum perempuan itu dengan melempari batu sampai mati.

Mereka minta pendapat Yesus. “Apakah pendapatmu tentang hal ini?” Yesus hanya diam menulis di tanah. Orang banyak mendesak Dia.

Lalu Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Kalau tangan kita suka menuding orang lain, hendaklah kita sadar bahwa jari yang lain itu menuding diri kita sendiri. Yesus mengajak kita jangan suka menyalahkan orang lain.

Apakah kamu juga tidak berdosa? Lihat dulu dirimu sendiri. Perkataan Yesus itu membuat semua orang pergi satu per satu mulai dari yang tertua.

Lalu Yesus pun berkata kepada perempuan itu, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Sikap Yesus itu menunjukkan sikap Allah yang berbelaskasih. Allah itu maha pengampun. Pengampunan Allah tak terbatas. Tidak hanya tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.

Namun demikian Yesus mengingatkan agar jangan berbuat dosa lagi. Marilah kita hidup dari pengampunan Tuhan dan gembira karena belaskasihanNya.

Taman bunga warnanya merah kuning.
Ada kupu hinggap di atasnya.
Janganlah kita suka menuding.
Kalau kita sendiri belum sempurna.

Cawas, menanti berita baik….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.03.20 Hari Minggu Prapaskah V Yohanes 11:1-45 / Makin Beriman Dalam Kepedihan

 

KEMARIN ada berita seorang bapak Prodiakon meninggal di rumah sakit karena sakit jantung. Dalam situasi yang serba sulit ini, keluarga harus mengikuti protokol pemerintah tentang pemakaman.

Keluarga sangat sedih tidak bisa memakamkan secara normal. Pedih rasanya karena tidak bisa menghormati yang meninggal selayaknya. Semua serba dibatasi.

Tidak boleh disemayamkan di rumah duka. Harus langsung dibawa ke makam. Malam itu juga harus segera dimakamkan. Para petugas di makam juga dibatasi. Harus memakai pakaian yang steril dari virus.

Biasanya ada doa sampai tujuh hari di keluarga. Tetapi karena dilarang berkumpul, maka tidak diadakan doa arwah. Kita bisa memaklumi betapa sedih dan pilunya keluarga yang ditinggalkan.

Bacaan hari ini tentang kematian Lazarus. Marta dan Maria kehilangan saudaranya, Lazarus. Dialah satu-satunya saudara laki-laki.

Dalam tradisi Yahudi, anak laki-laki adalah pengganti orangtua, sebagai kepala keluarga. Dialah penopang seluruh keluarga. Kaum wanita juga sangat tergantung dari laki-laki dalam keluarga itu.

Seorang janda atau perempuan yang tidak mempunyai laki-laki, tidak lagi diperhitungkan dalam masyarakat. Mereka kehilangan martabatnya.

Yesus pernah membangkitkan anak laki-laki seorang janda di Nain. Sekarang Yesus membangkitkan Lazarus bagi Marta dan Maria. Yesus menegakkan martabat mereka sebagai keluarga.

Peristiwa ini mau mengatakan kepada kita semua tentang dua hal. Pertama, Yesus itu Tuhan yang mahakuasa. Ia mengatasi kematian karena Dialah Sang Sumber Hidup. Kedua, dalam kesulitan dan kesusahan, Tuhan selalu hadir menolong kita.

Dalam situasi sulit sekarang ini, kita diajak rebah tersungkur di depan kaki Yesus. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Ini adalah doa dan pengharapan Maria kepada Yesus. Kalau kita mau tersungkur di depan kakiNya, pastilah Yesus akan bertindak.

“Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah,” kata Yesus. Sabda Yesus itu bukan omong kosong. Kata itu mahakuasa. Ia menghidupkan Lazarus kembali.

Dalam masa yang sulit sekarang ini, iman kita dituntun oleh Marta dan Maria untuk percaya dan bersimpuh di depan kakiNya.

Mari kita berdoa supaya wabah virus corona ini dilenyapkan oleh Tuhan. Kita harus kuat berdoa dan percaya.

Karena iman dan doa Marta dan Maria.
Lazarus dibangkitkan dari kematian.
Dalam menghadapi wabah virus corona.
Kita menguatkan doa dan keyakinan.

Cawas, ganti masker warna biru…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 28.03.20 Yohanes 7:40-53 / Debat Kusir

 

ZAMAN dulu ada seorang cerdik pandai naik dokar/delman. Di tengah jalan kudanya kentut. Bbrruuuttttt….. suaranya keras. Penumpang itu berkata kepada kusir delman,

“Pak itu kudanya masuk angin.” Tetapi si kusir menjawab, “Kuda saya tidak masuk angin pak, tetapi keluar angin.” Penumpangnya tidak mau kalah, “Itu namanya masuk angin.” “Kuda itu keluarkan angin Pak.”

Sepanjang jalan mereka berdebat tentang masuk angin dan keluar angin. Tidak ada yang mau kalah. Itulah sampai sekarang debat yang tidak ada ujung pangkalnya itu disebut debat kusir.

Kehadiran Yesus dan pengajaranNya di Yerusalem menimbulkan perdebatan. Orang banyak berpendapat Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.

Yang lain berkata, “Dia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea.karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari Kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbulah pertentangan di antara orang banyak karena Yesus.

Orang-orang Farisi dan imam-imam kepala juga berdebat dengan penjaga-penjaga yang mengagumi ajaran dan perkataan Yesus. “Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu.”

Kaum Farisi dan imam kepala malah mencurigai bahwa ada diantara mereka yang telah disesatkan, menjadi pengkhianat.

Lalu mereka mengutuki orang-orang yang berseberangan dengan pandangan mereka. “Orang banyak itu tidak mengenal Hukum Taurat. Terkutuklah mereka.”

Salah seorang ahli Taurat, yaitu Nikodemus mengusulkan supaya Yesus diundang dan didengarkan kesaksianNya. Namun Nikodemus justru dicurigai sebagai penganut dan pengikut Yesus.

“Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi datang dari Galilea.”

Seorang Nikodemus, ahli kitab yang bijaksana saja dilawan, apalagi orang awam. Kaum Farisi dan Imam Kepala adalah kelompok tertutup. Mereka membaca kitab suci secara kaku.

Kalau orang sudah bilang, “Pokoknya titik.” Maka dialog buntu. Orang-orang yang berdebat itu lalu pulang, masing-masing ke rumahnya. Tidak ada titik temu. Itulah debat kusir.

Marilah dalam masa prapaskah ini kita belajar rendah hati dan bijaksana. “beja-bejaning wong luwih beja sing eling lan waspada.”

Artinya lebih beruntunglah kita kalau masih sadar dan waspada. Dari sana kita belajar bijaksana.

Di samping sedang memotong kamboja.
Antre di bank selesai tepat waktunya.
Tuhan itu maha bijaksana.
Dia mengatur semua baik adanya.

Cawas, masker bermotif bunga-bunga…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.03.20 Yohanes 7:1-2.10.25-30 / Konsisten Pada Tugas Perutusan

 

RAPAT di Istana Negeri Astina itu tegang. Masalah utama yang dibicarakan adalah bagaimana menyambut dan menanggapi Prabu Kresna yang akan datang sebagai duta Pandawa.

Dia diutus untuk minta kepada Duryudana agar mengembalikan Negri Astina dan Indraprasta ke pangkuan Pandawa. Bisma, penasehat Kurawa bilang negeri harus dikembalikan kepada yang berhak yakni Pandawa.

Resi Durna berpendapat, sebaiknya hanya negeri jajahan saja yang diberikan kepada Pandawa. Prabu Salya, mertua Duryudana punya ide untuk para Kurawa supaya mereka tinggal di Mandaraka. Hastina diberikan kepada Pandawa.

Adipati Karna marah besar. Dia tidak setuju dengan semua pendapat para tua dan menghendaki supaya Pandawa berperang untuk merebut Hastina.

Dia bersedia mati demi Kurawa. Duryudana merasa disemangati oleh Karna. Dia punya rencana dalam hatinya untuk membunuh Kresna yang menjadi duta Pandawa.

Kehadiran Yesus Sang Duta Kebenaran Allah menjadi “klilip” bagi orang-orang Yahudi. Yesus adalah musuh kemapanan, aturan, tradisi dan politik keagamaan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pemimpin Yahudi tidak menyukai cara dakwah Yesus. “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh?” gosip-gosip itu sudah beredar di tengah masyarakat.

Yesus berjalan keliling Galilea. Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea karena di sana orang-orang Yahudi berusaha membunuhNya.

Suasana penolakan dan intrik untuk membinasakan Yesus sudah tercium di antara kelompok-kelompok yang dikritik oleh Yesus. Orang Farisi, para tua-tua bangsa Yahudi, para imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat mulai bersekongkol.

Seperti Kresna Sang Titisan Wisnu, tetap datang sebagai utusan ke Astina. Yesus Sang Utusan Allah tetap mewartakan kebenaran Allah kepada manusia.

Apapun tantangan dan hambatan, Yesus tetap teguh memberitakan Kerajaan Allah dan dari mana Dia datang.

“Memang Aku kamu kenal, dan kamu tahu dari mana asalKu; namun Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, tetapi diutus oleh Dia yang benar, yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia, dan Dialah yang mengutus Aku.”

Kita dapat belajar dari keteguhan dan konsistensi perutusan Yesus. Kalau kita membawa kebenaran, kita tidak akan takut walau menghadapi aneka tantangan.

Mari kita belajar konsisten dari hal-hal yang kecil. Misalnya, dalam situasi sekarang kita tetap tinggal di rumah, sering cuci tangan demi kebersihan, menjaga kesehatan diri. Ini semua demi keselamatan bersama. Mari kita konsisten.

Bunga di taman indah warnanya
Merah kuning semerbak baunya
Diam di rumah dan jaga stamina
Ini semua demi keselamatan bersama

Cawas, saat menunggu lotek…..
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 26.03.20 Yohanes 5:31-47 / Tanda Kasih Allah

 

SEMAR adalah dewa yang mangejawantah menjadi manusia biasa, bahkan menjadi hamba bagi para ksatria. Bagi orang yang mengetahui siapa Semar sesungguhnya pasti akan sangat hormat dan mengikuti nasehatnya.

Namun bagi orang yang tidak tahu, pasti akan menghina dan mengejek Semar. Para Pandawa menganggap Semar sebagai “wulu cumbu” . Semar adalah kekasih para ksatria.

Semar adalah pamomong ksatria yang berhati suci, berbudi luhur. Ia menentramkan jagad agar rukun tetap ayem tentrem. Semar adalah pembawa damai di alam raya.

Orang yang berhati jahat pasti akan melawan Semar. Kebaikan selalu berhadapan dengan kejahatan. Pada akhirnya kebaikan akan menampakkan dirinya dan menang.

Kehadiran Yesus Sang Kebaikan Sejati ditanggapi dengan pro dan kontra. Yohanes dan murid-muridnya telah bersaksi bahwa Yesus adalah Sang Kebenaran Sejati.

Tetapi orang-orang Yahudi tidak mau menerima bahkan mereka tidak percaya. Padahal di tengah-tengah mereka ada Kitab Musa yang menubuatkan bahwa Mesias akan datang. Namun orang-orang Yahudi tidak melihat Yesus adalah Sang Mesias itu sendiri.

Yesus berkata, “Jikalau kamu percaya pada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu, sebab Musa telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulis oleh Musa, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Aku katakan.”

Yesus mengetahui isi hati orang-orang Yahudi. Mereka membaca Kitab Suci tetapi mereka tidak mau menerima Yesus yang datang sebagai Mesias. Mereka tidak mengerti siapa Yesus sesungguhnya.

Orang-orang Yahudi seharusnya menilai karya-karyaNya. Karya Yesus adalah tanda tindakan Allah yang nyata. Hal ini tidak dilihat oleh orang Yahudi. Yesus adalah tanda kasih Allah Bapa.

Siapa pun yang didiami kasih Allah, dia datang dari Allah. Kita memohon agar kasih Allah itu diam di dalam diri kita. Yesus itulah tanda kasih Allah.

Marilah kita memohon kasih Allah itu. Kasih akan menjadi tanda kehadiran Allah. Kita saling mengasihi, maka Allah hadir di tengah kita.

Dari Burgos menuju Loyola.
Menikmati indahnya pesona senja.
Tetaplah diam di rumah bersama keluarga.
Biar tidak menularkan virus corona.

Cawas, thengkleng jaga stamina….
Rm. A. Joko Purwanto Pr