Renungan Harian

Puncta 25.03.20 HR Kabar Sukacita Lukas 1:26-38 / Kabar Sukacita

 

DI TENGAH kondisi sulit dan memprihatinkan karena merebaknya virus corona ini, ada berita-berita yang menggembirakan dan memberi harapan.

Ada banyak orang berjuang dan bergandengan tangan saling membantu. Dokter-dokter dan tenaga paramedis tak kenal lelah menjadi pejuang garis depan dalam memerangi wabah ini.

Ada relawan-relawan yang bekerja keras. Bahkan ada anak-anak sekolah di Pekalongan yang berinisiatif membuat hand sanitiser sendiri, karena permintaan cairan pembersih yang makin langka.

Ada yang berinisiatif membuat masker dan dibagikan gratis. Ada berita-berita menggembirakan di tengah kondisi yang sulit sekarang ini. Kita diajak membangun solidaritas dan kerjasama agar wabah ini segera berlalu.

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Malaikat Gabriel memberitahu kepada Maria bahwa ia akan melahirkan seorang anak yang akan menjadi penerus tahta Daud.

Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub dan kerajaanNya tidak akan berkesudahan. Itu adalah kabar gembira karena Allah hadir menyertai kita.

Namun hal itu tidak mudah dimengerti oleh Maria. Aneka perasaan muncul di benak Maria; bingung, gelisah, takut, ragu dan tidak tahu.

“Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?” ungkapan ini menunjukkan ketidakmengertian Maria menghadapi situasi ini. Tetapi kehendak Allah tidak berhenti oleh kekuatiran manusia.

Allah selalu mempunyai jalan untuk menyelamatkan manusia. “Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau.” Itulah jalan yang diambil untuk menghapus kebingungan Maria.

Ada kesulitan, tetapi Allah siap membantu. Ada kegelapan di depan, tetapi Allah memberi terang. Ada keraguan, tetapi Allah menumbuhkan harapan. Ada ketakutan, tetapi Allah memberi penolong.

Ada kecemasan, tetapi Allah menguatkan. Selalu ada kabar baik dan menggembirakan jika kita berserah kepada Allah.

Maria hanya bisa berserah kepada kehendak Allah.”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Sikap Maria itu pantas kita teladani. Di tengah kebingungan, keraguan, kesulitan, kegelapan, ketidak-pastian, Maria menyerahkan semua kepada Tuhan. Ia berserah sebagai hamba Tuhan.

Ketika kita berani berserah diri sebagai hamba, Tuhan membereskan segalanya. Mari belajar seperti Maria, berani merendahkan diri dan siap sedia mengikuti kehendakNya.

Jalan-jalan di tengah malam di Victoria.
Melintasi taman indah di tengah kota.
Marilah meneladan Bunda Maria.
Melaksanakan kehendak Allah dengan sukacita.

Cawas, kurangi kumpul-kumpul dulu…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.03.20 Yohanes 5:1-16 / Penantian yang Panjang

 

KITA ini hidup di zaman yang sangat sibuk. Ketika kita diminta untuk diam di rumah melakukan gerakan social distancing dan sabar di rumah selama dua minggu saja sudah kebingungan.

Diam di rumah sebentar saja sudah terasa lama dan membosankan. Kita tidak sabar dengan pembatasan-pembatasan supaya tidak bertemu dengan banyak orang, tidak berkumpul di ruang terbuka supaya penyebaran virus corona bisa ditekan dan dikurangi.

Kita harus sadar dan jangan menganggap hal ini sepele saja. Kita diminta sabar untuk diam di rumah. Nanti akan tiba saatnya kita terbebas dan selamat. Nasehat orangtua berkata, “Aja padha ndablek.”

Dalam bacaan Injil hari ini, ada orang yang sudah menunggu selama 38 tahun di kolam Betesda atau Siloam. Dia duduk di pinggir kolam menunggu saat permukaan air itu bergelombang dan dia harus berebut duluan dengan yang lain.

Karena dia lumpuh pasti dia selalu kalah cepat dengan yang lain. Kita bayangkan orang ini berjuang, berebutan, bersaing dengan yang lain selama 38 tahun.

Dia selalu kalah dan tertinggal. Dia tetap duduk di situ tanpa ada orang yang membantu menurunkan saat air bergelombang.

Memang ada nada keputusasaan ketika Yesus bertanya kepada orang itu. “Maukah engkau sembuh?”

Orang yang sakit itu tidak langsung menjawab mau, tetapi ia justru menyalahkan situasi dan orang-orang di sekitarnya.

”Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang; dan sementara aku sendiri menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

Dalam keputusasaan dan pasti selalu kalah, orang itu tetap berusaha beranjak dari tempatnya. Yesus datang menawarkan kesembuhan. Dia adalah sumber air hidup itu sendiri.

Benar pepatah mengatakan,”Orang sabar dikasihi Tuhan.” Orang ini menunggu 38 tahun lamanya dalam pengharapan. Dan tiba saatnya ketika Yesus datang menyembuhkan.

Kendati peristiwa itu menjadi polemik karena terjadi pada hari Sabat, bagi Yesus lebih baik menolong orang daripada diam tak berbuat karena takut aturan.

Marilah kita sabar tinggal di rumah mengikuti anjuran pemerintah. Kalau kita sabar maka saat penyelamatan itu akan segera tiba.

Sepi nian tempat wisata di Parangtritis
Di sana orang menikmati indahnya senja
Terimakasih kepada para dokter dan paramedis
Jadi garda depan melawan wabah corona

Cawas, sering-sering cuci tangan pakai sabun…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 23.03.20 Yohanes 4:43-54 / Social Distancing

 

SEKARANG ini semua orang dihimbau untuk melakukan social distancing, demi menjaga supaya virus corona tidak menyebar kemana-mana. Semua diminta berdiam di rumah masing-masing.

Perjumpaan dengan banyak orang dikurangi. Bahkan misa harian dan misa Mingguan dibatalkan. Semua diminta untuk menjaga jarak satu sama lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, kendati Tuhan juga melakukan social distancing, namun Tuhan Yesus tetap berkarya dan menyembuhkan orang sakit.

Ketika Yesus tiba di Kana, tempat Dia dahulu membuat mukjijat air menjadi anggur, Yesus diminta oleh seorang pegawai istana untuk menyembuhkan anaknya.

Pegawai itu datang dan meminta Yesus untuk singgah di rumahnya. Dia minta kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang sakit demam hampir mati. (Apa kena virus Corona juga ya…)

Yesus tidak datang ke rumah pegawai istana itu. Ia sadar harus lakukan social Distancing. Tetapi Dia berkata, “Pergilah, anakmu hidup.” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.

Di tengah jalan hamba-hambanya telah datang memberi kabar bahwa anaknya hidup. Anak itu sembuh tetap ketika Yesus berkata, “Pergilah, anakmu hidup.”

Yesus mampu menyembuhkan dari jarak jauh. Yesus berkuasa. Ia tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Apa yang Dia katakan pasti terlaksana.

Sekarang kita mengikuti misa di rumah masing-masing lewat siaran live streaming. Namun Yesus tetap hadir di tempat kita masing-masing. Ia mampu menyembuhkan anak pegawai istana.

Ia juga mampu menghadirkan diriNya di rumah kita ini. Yang dituntut pada kita adalah percaya, seperti kepada pegawai istana itu.

Jika kita percaya, kendati Bapak Uskup misa di Semarang,namun Yesus dapat hadir di rumah kita. ia juga bersabda kepada kita semua.

Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus setelah perubahan air menjadi anggur di Kana. Masa prihatin karena virus corona ini juga menjadi tanda Yesus yang tetap hadir di tempat kita.

Kalau kita percaya, kita akan mengalami kuasa Allah yang menembus ruang dan waktu. Yesus juga akan membebaskan kita dari wabah corona ini karena kita tetap percaya kepadaNya seperti pegawai istana itu.

Mengikuti misa lewat siaran live streaming.
Bapak Uskup di Semarang, kita di rumah sendiri.
Hati ini terasa tergetar dan merinding.
Sabda Tuhan sungguh menyapa di sanubari.

Cawas, jaga kesehatan ya…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 22.03.20 Minggu Prapaskah IV Yohanes 9:1,6-9,13-17,34-38 / Melihat yang Tak Terlihat

 

PADA waktu Gunung Merapi akan meletus, ada cerita beredar di sebuah desa yang akan dilewati lahar dingin.

Waktu itu ada seorang tua lewat di desa itu dan memberitahukan kepada warga untuk pergi dari kampung untuk melihat pengantin agung lewat.

Namun orang-orang itu tidak percaya dan menyepelekan kabar omong kosong itu. Dari mana ada pengantin agung di desa di lereng gunung yang terpencil seperti itu.

Orang-orang tak menggubris kabar itu. Dan apa yang terjadi kemudian. Desa itu tersapu oleh lahar dingin Merapi dan hanya satu orang yang selamat karena dia bepergian dari desanya.

Ternyata yang dimaksud pengantin agung oleh orangtua misterius itu adalah lahar dingin yang menyapu desa tanpa ampun.

Dalam bacaan pertama, Samuel diminta oleh Tuhan untuk memilih dan mengurapi Raja Israel dari keturunan Isai. Samuel melihat paras yang tampan dari Eliab.

Tetapi Tuhan tidak melihat kemolekan lahiriah. Samuel terpesona oleh keperkasaan anak Isai yang lain. Tetapi Allah tidak melihat mereka dari apa yang terlihat.

Baru ketika Samuel melihat Daud, Tuhan menyuruh mengurapi dia sebagai raja Israel. Samuel dituntun untuk mengenal Daud bukan dari apa yang kelihatan, tetapi dari kehendak Tuhan.

Samuel diberi hati yang dapat mengenal kehendak Tuhan, bukan apa yang kelihatan oleh mata manusia.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahirnya. Orang Yahudi berpandangan bahwa orang sakit, orang miskin, orang menderita itu karena kutukan akibat dosanya atau dosa orangtuanya.

Maka mereka bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga dia dilahirkan buta?”

Kata Yesus, “bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

Karena buta, orang itu bisa berjumpa dan mengenal Yesus Sang Mesias. Tetapi orang-orang Farisi yang dapat melihat itu justru tidak mampu mengenal siapakah Yesus itu.

Orang buta justru mempunyai kepekaan hati untuk melihat yang terdalam, bukan hanya yang lahiriah saja. Sebaliknya, kita yang tidak buta malah tidak mampu melihat apa yang dikehendaki oleh Allah.

Buta itu bukan hanya urusan mata secara lahiriah, tetapi buta bisa berarti hati yang tertutup akan kehendak Allah.

Bisa jadi mata kita melihat tetapi hati kita buta. Tidak tertutup kemungkinan ada orang yang buta secara fisik, tetapi hati sangat peka dengan karya dan kehendak Tuhan dalam peristiwa hidup kita.

Marilah kita mengasah hati agar tidak buta akan karya-karya Allah. Marilah kita melihat apa yang tidak terlihat dengan mata batin kita.

Senja melihat mentari bersinar redup.
Malam datang bulan purnama.
Karya Tuhan tergelar dalam peristiwa hidup.
Mata batin perlu diasah untuk memahaminya.

Banyuaeng, dalam pelukan senja.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 21.03.20 Lukas 18:9-14 / Rumangsa Bisa. Bisa Rumangsa

 

PANGERAN Muda dari Kurawa ini sangat sombong perilakunya. Namanya Dursasana. Ia selalu menganggap diri paling kuat dari para ksatria Kurawa.

Polahnya selalu merasa paling benar. Ia selalu menyamakan dirinya dengan Bima yang gagah perkasa. Ia tak mau kalah dengan Werkudoro.

Hatinya selalu panas jika dibanding-bandingkan dengan Panenggak Pandawa itu. Ia sering mengejek para Pandawa. Ia sering menantang Bima tetapi selalu dapat dikalahkan.

Perilakunya angkuh dan jumawa, merasa diri paling kuat sendiri. Namun justru itulah letak kelemahannya. Dalam perang Baratayuda, dia dikalahkan oleh Bima dengan mudah karena kesombongannya sendiri.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyindir orang-orang Farisi yang merasa diri benar. Maka Ia menyindir mereka dengan perumpamaan. Ada dua orang masuk bait suci untuk berdoa.

Orang Farisi menganggap diri paling benar. Ia menyombongkan segala usahanya. Ia merasa paling berjasa di hadapan Allah. Ia suka membandingkan dengan pemungut cukai. Doanya berisi litani keberhasilan. Ia merasa paling bisa.

Berbeda dengan orang Farisi, si pemungut cukai “bisa rumangsa”. Ia merendahkan diri. Ia merasa paling tidak pantas di hadapan Allah.

Maka nampak dari gesturnya yang berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit. Ia menundukkan dirinya.

Dia bisa “ngrumangsani” dia hanya bisa menepuk dadanya dan berkata, “Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Sikap si pemungut cukai ini dibenarkan oleh Allah. Walau pun dia seorang pemungut cukai, tetapi dia merasa diri sebagai orang yang tidak pantas di mata Tuhan.

Manusia itu hanyalah ciptaan yang terbatas oleh berbagai kelemahan dan kekurangan. Sikap seperti inilah yang benar di mata Tuhan. Manusia merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Marilah kita sebagai manusia “bisa rumangsa” tidak sebaliknya “rumangsa bisa.” Sebagai manusia kita harus sadar diri. Tidak menyombongkan diri di hadapan manusia, apalagi di hadapan Tuhan.

Seharian tamu datang tiada hentinya.
Mengucap salam untuk terakhir kalinya.
Manusia itu bukan apa-apa.
Kita hanyalah debu di hadapanNya.

Banyuaeng, selalu demi cinta.
Rm. A. Joko Purwanto Pr