Renungan Harian

Puncta 03.01.20 Yohanes 1:29-34 / Menjadi Humus bagi Orang Lain

 

HUMILITATE, kata Bahasa Latin ini berarti kerendahan hati. Kata ini mengingatkan kita pada motto tahbisan Mgr. Ignatius Suharyo menjadi uskup. “Serviens Domino cum Omni Humilitate.”

Humilitate mengambil kata dasar humilis, turunan dari kata humus yang berarti tanah yang subur. Orang yang rendah hati ibaratnya tanah yang subur, dapat menghasilkan buah keutamaan yang berlimpah.

Tanah yang subur dapat menumbuhkan dan mengembangkan berbagai jenis tanaman. Tanaman yang hidup di tanah yang subur akan menghasilkan banyak buah. Begitu juga kerendahan hati. Orang yang rendah hati akan menghasilkan banyak keutamaan hidup.

Bacaan Injil hari ini memberikan insight bagi kita tentang Yohanes Pembaptis yang rendah hati. Kemarin dia mengungkapkan dengan jujur bahwa dirinya bukan Mesias.

Bahkan untuk membuka tali kasutnya pun tidak layak. Sikap rendah hati. Dalam bacaan hari ini, Yohanes menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah.

Dengan jujur dan rendah hati ia menunjuk kepada Yesus, “Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dia itulah yang akan membaptis dengan Roh Kudus.”

Ketika Bapak Yustinus Kardinal Darmoyuwono turun tahta sebagai uskup dan kardinal, semua orang kaget dan terbengong-bengong.

Banyak orang menyayangkan kenapa jabatan yang sangat terhormat itu dilepaskan dan memilih pensiun serta “hanya” menjadi pastor rekan di Paroki Banyumanik, pinggiran kota Semarang.

Banyak alasan yang disampaikan sebagai jawaban. Tetapi akar dari semua jawaban itu adalah sikap dasar Bapak Kardinal yakni kerendahan hati.

Orang yang rendah hati, memberi kesempatan kepada orang lain tumbuh berkembang. Beliau memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengembangkan umat di KAS.

Bagi orang beriman, uskup atau kardinal itu bukan jabatan karier, tetapi tugas pelayanan. Kekuasaan itu bukan segala-galanya.

Seperti Yohanes Pembaptis, ia membiarkan Yesus makin besar, dan ia menjadi semakin kecil. Ia dengan rela dan ikhlas hati mundur dan membiarkan Anak Allah tampil ke depan.

Inilah semangat kerendahan hati. Mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis untuk menjadi humus, tanah yang subur bagi orang lain.

Banjir bandang sedang melanda Jakarta
Banyak mobil terseret oleh air
Mari kita ikut membantu dan berbela rasa
Agar rakyar kecil tidak susah dan kawatir

Cawas, Pray for Jakarta
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.01.20 PW. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze Uskup dan Pujangga Gereja Yohanes 1:19-28 / Kejujuran Kunci Sukses

 

Seorang wanita asal Thailand telah kehilangan tasnya yang berisi uang dan benda berharga. Wanita bernam Nukhlia Sangkaew ini kehilangan tasnya usai mengambil uang dari bank.

Uang senilai Rp 50 juta itu rencananya akan digunakan untuk membayar tagihan rumah sakit. Namun malang, saat perjalanan pulang Nukhlia malah terjebak hujan deras dan tasnya terjatuh.

Menyadari tasnya hilang, Nukhlia pun melapor ke kantor polisi. Di dalam tas itu tidak cuma ada uang tetapi juga emas seberat 90 gram. Dengan harta itu ia akan melunasi biaya rumah sakit karena beberapa waktu lalu dia harus opname di sana.

Tak lama kemudian Nukhlia menerima telpon dari seorang gadis yang menemukan tasnya. Nukhlia menjumpai gadis itu, ternyata ia adalah seorang bocah perempuan berusia 9 tahun, bernama Piyarat. Gadis ini dengan kejujurannya mengembalikan semua milik Nukhlia.

Kejujuran adalah nilai yang sangat mahal di dunia ini. Hal ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang meneliti tentang kesuksesan seseorang.

Ia memetakan ada 100 faktor kesuksesan seseorang. Kesuksesan seseorang bukan ditentukan oleh nilai ujian yang baik seperti NEM, IPK atau rangking di kelas (Urutan 30).

Juga bukan oleh faktor IQ yang tinggi (urutan 21) atau menempuh study di universitas/sekolah favorit ( urutan 23). Faktor yang paling menentukan dalam kesuksesan seseorang ternyata adalah :

1. Kejujuran, 2. Disiplin tinggi, 3.Mudah bergaul, 4.Dukungan pendamping/motivator, 5. Kerja keras, 6. Cinta pada tugas, 7.jiwa kepemimpinan, 8. Kepribadian kompetitif, 9. Hidup teratur dan 10. Kemampuan menawarkan ide briliant.

Kejujuran itulah yang diajarkan Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini. Ia jujur mengatakan bukan Mesias, bukan salah seorang nabi, bukan Elia.

Walaupun kalau ia mau,ia bisa mengatakan itu karena orang banyak percaya kepadanya. Tetapi ia memilih mengatakan kejujuran kepada orang-orang yang diutus untuk menanyakan siapa dirinya.

Bahkan dia dengan rendah hati mengaku,”Membuka tali kasutnya pun aku tidak layak.” Inilah semangat jujur dan rendah hati yang diteladankan oleh Yohanes Pembaptis.

Marilah kita berlaku jujur karena semangat itu adalah juga perwujudan iman kita. kita tanamkan semangat jujur sejak awal kepada anak-anak.

Dimana pun kita semoga selalu membawa sikap jujur karena sikap itulah yang akan menunjukkan siapa kita.

Makan malam menunya bubur
Ditambah krupuk ikan tenggiri
Marilah kita bersikap jujur
Biar kita jadi ahli waris surgawi

Cawas, walau mendung tetap ronda
Rm, A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.01.20 HR. Santa Maria Bunda Allah Lukas 2:16-21 / Selamat Datang Harapan

 

Find the hope in the unexpected. Find the courage in the chalange. Find your vision on the solitory road. (Tim Cook, Apple CEO).

Itulah kutipan pidato yang sangat indah pada wisuda Stanford University, Juli 2019.

MENGAWALI kehidupan baru, sepasang pengantin yang baru saja mengucapkan janji perkawinan di altar datang sujud kepada ibu dan bapaknya untuk mohon doa restu.

Mereka bersujud sambil mohon doa restu orangtua untuk perjalanan baru yang akan ditempuh bersama. Sambil menepuk kedua pundak anaknya, mereka mendokan agar keluarga baru itu hidup dalam cinta,kesetiaan, kerukunan dan damai.

Suasana haru menyelimuti hati mereka. Di satu sisi orangtua bangga karena mampu mengantar mereka sampai di pelaminan. Tetapi di sisi lain mereka juga sedih karena harus saling “meninggalkan” kehidupan lama menuju kehidupan baru.

Hari ini kita semua mengawali kehidupan baru di tahun 2020. Sebagaimana seorang anak yang akan memulai kehidupan baru datang kepada orangtua, begitu pun kita diajak datang kepada Bunda kita yakni Bunda Maria.

Hari ini kita merayakan Santa Maria, Bunda Allah. Seperti para gembala yang datang untuk menyembah Yesus di palungan dan mendapati Maria dan Yusuf berjaga di sana, kita hari ini diajak untuk memohon restu kepada Bunda Maria.

Maria menjadi Bunda Allah karena ia melahirkan Kristus, yang diberi gelar Putera Allah. Yesus Kristuslah yang menyapa Allah sebagai BapaNya dan mewahyukan Bapa itu kepada kita.

Jika Yesus menyebut dirinya Putera Allah, maka Maria sebagai bundaNya juga disebut sebagai Bunda Allah. Sebagaimana Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes untuk menjadi ibunya, begitulah Maria juga menjadi ibu kita semua.

Hal itu ditegaskan oleh St. Paulus dalam bacaan kedua, “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh AnakNya ke dalam hati kita, yang berseru, Abba, ya Bapa!”

Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; dan kalau kamu anak, maka kamu juga menjadi ahli waris-ahli waris oleh karena Allah.”

Datang kepada seorang ibu untuk mohon doa restu agar perjalanan di tahun baru ini berjalan dengan baik, adalah hal yang selayaknya kita lakukan. Maria adalah ibu dan teladan semua orang beriman.

Kita mohon doa restunya agar tahun 2020 ini sungguh diberkati. Bersama Maria kita akan mengarungi masa ini dengan penuh harapan dan semangat optimis. Selamat datang harapan. Selamat datang cinta.

Dari Pacet menuju Madiun yang mendung
Diselingi canda dan gelak tawa
Bersama Maria kita tidak akan bingung
Menatap bersama dengan harapan dan cinta

Cawas, Selamat Tahun baru 2020
Doa-doa untuk anda dan seluruh keluarga.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 31.12.19 Yohanes 1:1-18 / Sabda Sudah Menjadi Manusia

 

SEBUAH kisah persahabatan yang indah. Sindu, seorang anak perempuan berumur 8 tahun. Dia tidak suka makan curd rice. Orangtuanya membujuk Sindu agar memakannya.

Sindu berkata, “Aku mau makan semua nasinya, tapi papa mama harus memenuhi sebuah permintaanku, mau?” Orangtuanya menyetujui.

Sindu menghabiskan nasinya. Kemudian ia mengajukan sebuah permintaan yakni agar rambutnya dicukur gundul. Mamanya langsung menolak. Mana ada anak perempuan gundul?

Papanya menawari yang lain. Tetap ditolak oleh Sindu. Akhirnya mereka menyerah. Sindu digunduli rambutnya. Waktu masuk sekolah, Sindu dengan tenang berjalan di antara teman-temannya yang mengamati kepalanya yang plonthos.

Lalu ada seorang anak laki-laki yang juga gundulmuncul, berjalan mendampingi Sindu. Anak laki-laki itu bernama Haris. Sudah sebulan dia tidak masuk sekolah karena malu, takut diejek karena kepalanya gundul akibat chemo teraphy.

Dia divonis kena kanker leukimia. Sindu ingin membantu Haris agar dia tidak diejek teman-temannya. Mama Haris mengucapkan terimakasih kepada orangtua Sindu,

“Anak anda berhati mulia. Anda pantas bersyukur memiliki anak yang mau berkurban demi sahabatnya, yakni anak saya, sehingga dia mau sekolah lagi.”

Mata kedua orangtua itu berkaca-kaca setelah mengetahui kenapa anaknya ngotot minta digunduli. Malaikat kecil itu telah mengajarkan arti nyata tentang kasih dan persahabatan.

Yohanes dalam Injil hari ini berkata bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. firman itu adalah Yesus Sang Putra.

Mengapa Ia mau menjadi manusia? Karena Allah ingin solider dengan kita. Allah ingin dekat dan mengalami suka duka dan kelemahan kita. Allah yang maha kasih itu tidak diam di tempat jauh yang tak tersentuh oleh manusia.

Tetapi Allah itu mewujud dalam diri Yesus Sang Putra. Allah yang mengasihi manusia itu lahir di tengah-tengah kita. Yesuslah tanda kasih Allah itu.

Seperti Sindu yang ingin membantu Haris agar tidak diejek oleh teman-temannya karena botak, maka dia membuat kepalanya juga dibotakin. Ia solider dengan Haris.

Allah ingin menyelamatkan manusia, maka Allah menjelma menjadi manusia, sama seperti kita kecuali dalam hal dosa. Itulah solidaritas Allah.

Allah sudah solider dengan kita, marilah kita membangun solidaritas, persahabatan dengan sesama kita. Selamat mengakhiri Tahun 2019.

Jalan-jalan ke kota Pacet
Membeli oleh-oleh bunga mawar
Daripada malam tahun baru jalanan macet
Lebih baik ngumpul-ngumpul dengan sobat ambyar.

Cawas, waktunya ronda
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 30.12.19 Lukas 2:36-40 / Siapa Bilang Lansia Tidak Berguna?

 

SAYA mengenal Bu Sastro atau sebenarnya Eyang Sastro di Pugeran. Beliau sudah lansia, selalu berkebaya dan rambutnya sudah memutih. Setiap pagi rajin mengikuti perayaan ekaristi dan selalu duduk di bangku bagian depan. Bersama dengan ibu-ibu yang sudah sepuh/lansia, beliau setiap sabtu pagi membersihkan alat-alat misa di samping sakristi. Piala, Sibori, candelar dibersihkan dengan braso sampai bersih mengkilat. Saya kadang ikut nimbrung di meja pingpong yang disulap menjadi tempat bersih-bersih itu. Saya bertanya kepada mereka, “Ibu-ibu ini kok rajin sekali ya tiap Sabtu selalu bersih-bersih di gereja?” Jawaban Bu Sastro adalah, “Pados dalan padhang romo.” Maksudnya adalah mencari jalan yang benderang agar dimudahkan menuju surga. Tugas-tugas kecil itu diberi makna rohani untuk mencari kebahagiaan surgawi. Kendati usianya sudah lanjut, tetapi mereka tetap ingin berguna bagi sesamanya.

Hari ini dalam bacaan Injil dikisahkan seorang nabi perempuan Hana menyambut Yesus yang dipersembahkan di Bait Suci. Ia sudah lanjut umurnya, 84 tahun. Sehari-hari berada di Bati Suci. Siang malam beribadah dan berpuasa dan berdoa kepada Tuhan. Ketika kanak-kanak Yesus dibawa ke Bait Suci, ia berbicara banyak tentang anak itu kepada semua orang yang ada di situ. Sepertinya ia sangat mengenal siapa Kanak-kanak Yesus itu. Dengan gembira ia bercerita banyak tentang Dia.

Menjadi orang tua tidak berarti tidak berguna lagi. Kadang ada yang menganggap kalau sudah lansia sudah tidak berguna lagi. Maka dipisahkan dari keluarga dan tinggal di panti jompo. Itu pendapat yang salah. Banyak orang-orang tua sekarang punya aneka kegiatan yang berguna. Ada kelompok doa lansia. Ada kelompok senam dan renang lansia. Di Cawas ada kelompok lansia yang renang bareng di Umbul Brondong. Sebenarnya mereka bukan renang tetapi “kungkum” atau berendam bareng. Yang penting gembira dan bermanfaat untuk sesama. Motto mereka: Sehat, Bugar, Gembira. Yesss !!!

Hana memberi inspirasi kepada para lansia bahwa usia tidak menghalangi kita untuk terus berjasa bagi orang lain. Umur itu hanya angka. Berguna untuk banyak orang itu bisa dilakukan tanpa mengenal usia. Selagi kita masih bisa 3S yakni Senyum, Sapa, Sayang, maka kita bisa berguna bagi sesama kita.

Mari bergembira bersukacita
Hilangkan rasa duka lara
Sangat menyenangkan lihat lansia
Semangat saling berbagi ceria

Cawas, mbokmenawa bisa
Rm. A. Joko Purwanto Pr