Puncta 24.12.19 Perayaan Malam Natal Lukas 2:1-14 / Selamat Natal Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang
TEMA Natal bersama KWI dan PGI tahun ini adalah, “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang.” Tema ini kiranya cocok sekali dengan peristiwa kelahiran Tuhan yang kita rayakan pada Pesta Natal ini. Allah yang jauh, Allah yang mahabesar itu hadir menjadi sahabat bagi semua manusia. Yesus berasal dari Allah. Ia ingin menunjukkan bahwa Allah itu begitu dekat. Allah itu sangat baik dan ingin bersahabat dengan semua orang.
Allah yang lahir dalam diri Yesus itu, ingin menyapa dan mengalami penderitaan manusia. Allah sangat peduli dengan kemiskinan dan penderitaan. Ia lahir di kandang hewan beralaskan jerami ditunggu oleh orang-orang sederhana yakni para gembala. Yesus tidak hanya ingin menjadi sahabat, tetapi saudara bagi kita semua. Saudara berasal dari kata satu dan udara. Kita ini adalah saudara karena sama-sama menghirup satu udara yang sama, anugerah Tuhan yang mahaesa.
Menjadi sahabat berarti saling mengembangkan sikap peduli, toleransi, saling menghargai dan sikap rukun menjalin kebersamaan dalam keberagaman. Kendati kita berbeda tetapi kita saling menghargai. Perbedaan itu adalah keniscayaan. Sahabat yang baik akan bersukacita melihat saudaranya berhasil, berbahagia, dan ia akan mengalami keprihatinan jika sahabatnya alami kesusahan, sakit, tertimpa bencana dan lain-lain. Menjadi sahabat berarti menjalani hidup dengan empati.
Kelahiran Yesus adalah wujud nyata empati Allah kepada manusia. Imanuel yakni Allah menyertai manusia. Allah tinggal bersama dengan manusia. Sebagaimana Yesus menjadi sahabat bagi semua orang; orang lumpuh, orang bisu, orang berdosa, pemungut cukai, perempuan berdosa, dan lainnya, demikian juga kita diajak mau bersahabat dengan mereka yang dikucilkan dari tengah masyarakat. Ada banyak orang mengalami dikucilkan. Mereka yang kena ODHA, korban narkoba, korban KDRT, orang-orang yang kesepian karena ditinggal sanak saudara.
Malam Natal menjadi kesempatan kita merenungkan keberpihakan Tuhan bagi manusia lemah dan miskin. Beranikah kita menjadi sahabat bagi semua orang, khususnya mereka yang miskin, menderita, tersingkir dan kesepian?
Membeli bantal berwarna biru
Selamat Natal dan Tahun Baru
Cawas, Natal penuh kenangan
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 24.12.19 Lukas 1:67-79 / Kidung Sukacita Zakaria
KETIKA terdengar tangisan seorang bayi yang baru lahir, hati seorang ibu akan sangat bahagia. Penderitaan dan kesakitan selama melahirkan terbayar sudah.
Tidak ada kebahagiaan yang lebih, selain melihat anaknya lahir dengan selamat. Mengapa bayi yang lahir itu justru menangis, padahal orang-orang dis sekitarnya tertawa bahagia melihat kelahirannya?
Tapi kalau bayi lahir langsung tertawa, mungkin malah menakutkan bagi dokter, perawat, bidan dan sang ibu sendiri. Bayi menangis setelah lahir karena dia dipisahkan dari rahim ibu yang memberinya rasa aman dan damai.
Dunia baru itu sangat menakutkan bagi sang bayi. Rahim ibunya telah memberi rasa aman dan damai selama di kandungan. Kita dia harus menghadapi dunia baru yang serba asing.
Tetapi sebaliknya orang-orang di sekitarnya justru sangat bahagia karena kelahirannya. Itulah yang dirasakan suami-istri yang memiliki bayi yang baru lahir.
Dalam bacaan Injil hari ini digambarkan bagaimana Zakaria sangat bersukacita saat Elisabet melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Yohanes.
Zakaria penuh dengan kuasa Roh Kudus. Ia memuliakan Allah yang setia pada janjiNya. Bagi Allah segalanya bisa terjadi.
Zakaria yang hampir tiada harapan, karena usia mereka sudah tua, ternyata diberi anak laki-laki. Noda dan cela yang tertanam dalam diri mereka kini terhapus karena kebaikan Allah.
Zakaria menyatakan kepada kita semua bahwa Allah itu sungguh baik. Allah itu setia. Allah itu murah hati kepada mereka yang selalu berharap kepadaNya.
Allah tidak menghendaki umatNya merana. Allah ingin menyelamatkan semua manusia dari belenggu dosanya. Maka Allah bertindak melalui Zakaria, Elisabet dan Yohanes. Mereka dipanggil oleh Allah untuk ikut terlibat dalam karya penyelamatanNya.
Itulah kidung Zakaria. Dia bersukacita karena karya agung Allah. Pasti kita juga punya pengalaman dicintai Allah. Kita merasa bersukacita karena Allah bertindak tepat pada waktunya.
Sukacita kita itu meluap sehingga kita mengajak orang lain untuk ikut merasakan sukacita itu. Marilah kita bersukacita karena Yesus lahir menjadi manusia.
Dudu wangi anggrek sing dak sawang neng mripatku
Nanging kowe lali nglarani wong kaya aku
Yesus lahir di dunia bukan karena jasaku
Melulu karena cintaNya agar kita pun bersatu
Cawas, ada burung bertengger di bunga anggrek
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 23.12.19 Lukas 1:57-66 / Apalah Arti Sebuah Nama
KATA-KATA ini diucapkan oleh Romeo kepada Yuliet kekasihnya. Dari novel tersebut, saya jadi tahu kalau kalimat itu merupakan kutipan drama Romeo and Juliet yang ditulis oleh Shakespeare.
Makanya, kalimat tersebut terkenal karena kisah cinta Romeo and Juliet sangat melegenda. Mengenai makna dibalik kalimat tersebut, dapat kita lihat dari kutipan perbincangan antara Romeo dan Juliet,.
“Apalah arti sebuah nama. Sekuntum mawar tetap memiliki keharuman yang sama meskipun disebut dengan nama lain…”
Nama tidak ada artinya jika yang menggunakannya tidak menunjukkan karakter kepribadian yang baik. Nama baik akan cemerlang karena kualitas hidupnya yang terpuji.
Entah siapa pun dia namanya. Mau namanya John Robert atau Ngadilanto, Sugeng atau Lanjar. Yang menentukan bukan namanya tetapi kualitas kepribadiannya.
Bacaan hari ini berbicara tentang sebuah nama yakni Yohanes. Elisabet dan Zakaria mempunyai anak di masa tuanya.
Sudah sejak awal,Zakaria diberitahu malaikan bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak laki-laki.
Pesan Malaikat kepada Zakaria agar memberi nama Yohanes kepada anaknya yang akan lahir. Nama ini jelas menyimpang dari kebiasaan.
Setiap anak Yahudi yang lahir diberi nama berdasarkan nama bapaknya. Tetapi anak Elisabet ini bukan bernama Zakaria seperti nama bapaknya. Tetapi namanya Yohanes.
Ini sangat mengherankan bagi semua orang. Mereka bertanya dengan heran, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian. Menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia.”
Bukan hanya namanya yang menghebohkan tetapi kualitas hidup Yohanes sungguh membuat orang tercengang.
Hidup Yohanes menjadi perwujudan Nabi Elia yang hadir kembali. Ia menyiapkan jalan bagi kedatangan Almasih, Sang Penyelamat.
Bahkan Yesus memuji Yohanes, “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Inilah kualitas dari Yohanes.
Apakah nama kita juga menunjukkan kualitas siapa diri kita ? atau hanya sekedar nama yang tiada arti apa pun? Apalah arti sebuah nama?
Banyak yang sibuk membuat gua
Harganya bisa berjuta-juta
Apalah artinya sebuah nama
Tanda harapan dan cita-cita orangtua
Cawas, menanti dan menanti
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 22.12.19 Minggu Advent IV Matius 1:18-24 / Move On
“JANJINE lungane ora nganti suwe-suwe. Pamit esuk lungane ora nganti sore. Janjine lungane ora nganti semene suwene. Nganti kapan tak enteni sak tekane.”
(Janjinya pergi tidak akan lama-lama. Pamit pagi perginya tidak sampai sore. Janjinya tidak akan selama ini. Sampai kapan kan kutunggu kedatanganmu).
Setiap Sobat Ambyaar pasti langsung menyahut sebaris bait lagunya Didi Kempot ini. Banyak lagu-lagunya Didi Kempot tidak asing di telinga pendengarnya. Syair di atas adalah bagian dari lagu Banyu Langit.
Ada lagi yang lagi ngetren lagu Pamer Bojo, Layang Kangen, Suket Teki, Sewu Kutho. Rata-rata lagu –lagu itu berisi ungkapan perasaan seseorang yang patah hati karena ditinggal kekasihnya.
Seseorang yang sedang jatuh cinta tetapi dikhianati atau ditinggal pergi sang kekasih. Fans Didi Kempot menamakan dirinya Sobat Ambyar. Ambyar artinya hancur berkeping-keping. Orang patah hati yang tidak bisa move on, kata anak milenial.
Mungkin juga begitu perasaan Yusuf pada waktu mendengar berita bahwa Maria tunangannya sudah mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Ambyar perasaan Yusuf.
Tetapi ia segera move on setelah diberitahu oleh Malaikat bahwa anak yang dikandung itu berasal dari Roh Kudus.
“Yusuf anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”
Yusuf taat dan langsung mengambil Maria sebagai istrinya. Yusuf bahkan setia menamai anaknya Yesus, sesuai pesan malaikat.
Ketika kita bisa move on dan setia pada kehendak Allah, maka hasilnya adalah keselamatan dan sukacita. Andaikan Sobat Ambyar itu bisa move on maka tidak akan mengalami kehancuran berkeping-keping.
Yusuf dan Maria menjadi contoh bagaimana pengalaman yang sulit bisa menjadi berkah, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keselamatan semua orang.
Hal itu bisa terjadi pasti karena Yusuf dan Maria percaya kepada rencana Allah. Maria dan Yusuf yakin bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan. Keyakinan itu membuat Maria dan Yusuf berani melangkah maju.
Tidak selamanya pengalaman ambyar menuju pada kehancuran. Kalau kita yakin pada kehendak Allah dan berani move on, maka akan berakhir pada happy ending.
Kepada Sobat Ambyar marilah meneladan Maria dan Yusuf yang mampu move on karena percaya kepada Allah. Tuhan ingin kita selamat dan bahagia. Maka Ia lahir menjadi manusia.
Ada pembatas buku
Tergeletak di atas buku doa
Marilah kita semua meniru
Cintakasih Yusuf dan Maria
Cawas, mendayung tiga pulau
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 21.12.19 Lukas 1:39-45 / Turne Pastoral
PASTOR-pastor di pedalaman sering mengadakan turne / kunjungan ke stasi-stasi.Kami sering membuat plesetan, turne itu artinya “turu kana-turu kene”.
Yang dimaksud adalah tidur sana tidur sini. Memang kami harus menginap di rumah ketua umat. Sebab perjalanan turne ini bisa memakan waktu berhari-hari.
Kalau pas musim durian seperti sekarang ini, kami disuguhi buah durian yang sangat lezat. Umat juga membuat tempoyak dan sangat lezat untuk masak sayur campur ikan.
Minum tuak yang manis sambil berkumpul dengan umat. Perjumpaan yang sangat hangat, penuh persaudaraan. Sejenak melupakan perjalanan panjang yang melelahkan.
Sering terjebak lumpur, banjir, jalan licin naik turun bukit. Namun melihat antusiasme umat dengan segala keramahannya, lelah itu hilang dan yang muncul sukacita.
Mereka sangat haus dikunjungi gembalanya. Sebulan sekali pastor datang itu sudah sangat istimewa. Perayaan ekaristi sungguh dinantikan. Kehadiran pastor amat sangat diharapkan.
Jika pastor datang, segala urusan bisa diselesaikan; pembaptisan, perkawinan, tajak rumah, berkat benih, berkat ibu hamil dan segala macam urusan doa-doa. Turne pastor adalah perjumpaan yang menggembirakan penuh berkah..
Hari ini bacaan Injil bercerita tentang kunjungan Maria ke rumah Elisabet, saudarinya. Maria tahu Elisabet sedang mengandung dan akan segera melahirkan putranya.
Situasi yang sulit karena ini adalah anak pertama di usia yang sudah tak mungkin melahirkan. Maka Maria datang ingin membantu. Kehadiran Maria membawa sukacita karena salam Maria juga dirasakan oleh bayi yang ada di kandungan Elisabet.
Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring,
“Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu.siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
Srawung atau perjumpaan kata itu sekarang begitu sering kita dengar. Kita diajak srawung, bergaul dalam perjumaan dengan semua orang.
Tema Natal tahun ini juga mengambil judul “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang.” Membangun persahabatan itu dapat dilakukan dengan saling berkunjung, berjumpa satu dengan yang lain, mengenal lebih dalam dan mengerti siapa tetangga kita.
Seperti Maria yang berkunjung ke rumah Elisabet, demikian juga kita diajak bergaul dengan siapa pun juga. Mereka adalah sahabat dan saudara kita.
Dengan srawung atau berkunjung, silaturahmi, kita membangun persaudaraan, ukhuwah sebagai sesama umat beriman di hadapan Tuhan. Sudahkah kita saling bersilaturahmi dengan tetangga kita?
Sekali dayung
Dua tiga pulau terlampaui
Marilah kita srawung
Membangun silaturahmi
Cawas, sekali dayung meluncur tiga kali
Rm. A. Joko Purwanto Pr