Puncta 04.11.19 Lukas 14:12-14 / Cinta Tanpa Pamrih
PADA suatu kali saya diundang untuk memimpin misa syukur ulangtahun di sebuah panti asuhan.
Keluarga itu merayakan hari ulangtahun anaknya yang ke tujuh belas. Anak itu meminta sendiri kepada orangtuanya agar pesta diadakan di panti asuhan yang telah dia pilih.
Di panti itu ada banyak anak yatim piatu. Selain disiapkan kue tart, anak itu telah menyediakan juga hadiah-hadiah untuk semua penghuni panti.
Saya melihat orangtuanya terharu menitikkan airmata ketika melihat anaknya dengan sukacita melayani anak-anak yatim.
Ia lari sana lari sini melayani anak-anak yang duduk di kursi roda. Wajahnya berbinar melihat anak-anak panti ikut bersukacita pada hari istimewanya.
Ketika pesta usai, di mobil saya mendegar mamanya bertanya, “Nak mengapa kamu melakukan semua ini?” Anaknya menjawab bijaksana,
“Mah, kita ini sudah banyak berkat. Masih banyak anak-anak yang tidak beruntung seperti saya. Saya ingin mengajak mereka bahagia dengan membagi berkat itu.”
Mamanya memeluk anak itu dan sambil terisak berkata, “Engkau telah mengajari kami cinta yang luar biasa, anakku.”
Bacaan Injil hari ini mengajarkan kita untuk mencintai tanpa pamrih. Yesus berkata,
“Bila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam, janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula, dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Maka engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”
Mengajari cinta tanpa pamrih itu sulit. Tetapi bisa kita lakukan kepada anak-anak kita sejak kecil.
Kita ajari mereka untuk memberi kolekte di gereja. Kita ajari mereka memberi sedekah kepada orang miskin di jalan-jalan.
Kita ajari mereka membagi permainannya dengan teman. Kita ajak mereka berkunjung ke panti asuhan agar mereka bisa melihat ada banyak orang yang tidak seberuntung kita.
Tentu mereka juga harus melihat teladan dari orangtuanya. Orangtua tidak hanya mengajari tetapi juga harus memberi teladan dengan melaksanakan.
Yesus mengajarkan kepada kita untuk memberi tanpa mengharap balasannya. Biarlah Tuhan yang akan membalasnya.
Jika tangan kananmu memberi, janganlah diketahui oleh tangan kirimu. Pesan itu jelas mengatakan bahwa kebaikan itu biarlah tetap kebaikan tanpa menghitung untung dan rugi. Selama kebaikan diukur dengan untung rugi maka nilai kebaikan itu justru akan hilang.
Marilah belajar memberi tanpa mengharap balasannya. Dengan demikian keluhuran budi baik kita hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.
Lari-lari ke tengah hutan
Bertemu dengan singa sang rajanya
Memberi tanpa mengharap balasan
Adalah keluhuran yang tak ternilai harganya.
Atmidirono suatu sore yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 03.11.19 Minggu Biasa XXXI Lukas 19:1-10 / Perjumpaan Yang Mengubah
Perjumpaan dengan pribadi Yesus itu mengubah seseorang. Bacaan Injil hari ini menggambarkan hal itu.
Sebelum berjumpa dengan Yesus, Zakheus digambarkan sebagai seorang pemungut cukai yang kaya. Ia menarik pajak, memungut uang rakyat.
Walaupun kaya ia punya handicap yakni badannya pendek. Selain itu banyak orang mencibir dia karena menjadi pemungut cukai, pengkianat bangsanya.
Orang banyak menggolongkannya dalam kelompok orang berdosa. Ia dijauhi dan disingkiri oleh masyarakat.
Setelah berjumpa dengan Yesus, Zakheus berubah. Ia menjadi pemurah, penderma dan menjadi manusia baru.
Yang tadinya pemungut sekarang menjadi pembagi. Yang tadinya memeras kini memberi silih. “Tuhan separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Yesus telah mengubah hatinya.
Yang penting kita ketahui bukan hanya itu, tetapi juga proses pertobatannya. Seorang Zakheus yang kaya itu dari segi materi pastilah tidak kekurangan suatu apapun.
Tetapi hatinya gundah gulana. Kekayaan tidak memberinya kedamaian. Kekayaan material tidak memuaskan batinnya. Ada sesuatu yang masih kurang.
Ingat pemuda kaya yang juga datang kepada Yesus ingin memperoleh hidup kekal? Zakheus pun masih penasaran ingin mencari jawaban atas kegundahannya.
Maka ketika Yesus masuk ke kota Yerikho, orang banyak berbondong-bondong datang menyambutNya. Mereka ingin menyentuh jubahNya. Mereka ingin disembuhkan.
Mereka ingin mendengar sabdaNya. Mereka ingin dijamahNya. Zakheus bertanya, “Orang apakah Yesus itu sedemikian banyak orang ingin menyambutNya.”
Ia tidak hanya berjalan santai, tetapi berlari menembus kerumunan orang banyak. Tetap tidak berhasil karena badannya pendek.
Ia tidak putus asa. Ia memanjat pohon ara tanpa sungkan-sungkan dan malu demi melihat siapakah Yesus itu.
Segala cara ditempuh demi memenuhi rasa penasarannya. Ketika Yesus lewat, secara tak terduka berhenti dan berkata,
“Zakheus segeralah turun! Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Zakheus terbelalak. “Ia menyapa namaku? Ia kenal namaku? Ia mau menumpang di rumahku?”
Yesus memakai kata “harus” menumpang di rumah Zakheus. Betapa bahagianya Zakheus. Ia langsung “mlorot” turun dari pohon dan langsung menjamu Yesus di rumahnya. Terjadilah pertobatan dalam perjumpaan di rumah Zakheus itu.
Lukas juga mau menekankan bahwa keselamatan Yesus itu terjadi pada hari ini. “Hari ini telah terjadi keselamatan atas rumah ini.”
Hari ini keselamatan terjadi kalau kita bisa menjadi Zakheus-Zakheus baru. Sabda Yesus itu tetap aktuil sampai sekarang. Sabda ini dibaca kapan pun tetap akan berkata hari ini.
Jika kita mau berubah seperti Zakheus, maka keselamatan itu juga akan terjadi pada hari ini. Maukah kita selamat hari ini? Tirulah Zakheus.
Ke Semarang membeli cumi
digoreng dengan tepung kanji
Keselamatan itu terjadi saat ini
saat kita mau saling berbagi.
Atmodirono suatu malam
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 02.11.19 HR Arwah Semua Orang Beriman Yohanes 6:37-40 / Hobby Melayat
SAYA punya teman yang hobbynya melayat. Setiap kali ada kenalan, sahabat, saudara atau kerabat yang meninggal, dia selalu hadir ikut melayat.
Kadang dia juga ajak-ajak beberapa teman untuk ikut melayat. Saya iseng bertanya, “Kenapa kok sering hadir di tempat layat?” Dia menjawab, “Golek dalan padhang rom.” (Cari jalan ke surga romo).
Selain memberi penghormatan terakhir bagi yang wafat, melayat juga memberi hiburan dan dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Saat kehilangan seperti itu dibutuhkan dukungan dan sapaan. Kehadiran kecil itu adalah perbuatan baik yang mendatangkan pahala.
Hari ini Gereja semesta berdoa untuk mengenangkan arwah semua orang beriman. Dalam Doa Syukur Agung ke II kita berdoa,
“Ingatlah pula akan saudara-saudara kami kaum beriman, yang telah meninggal dengan harapan akan bangkit lagi, dan akan semua orang yang telah berpulang dalam kerahimanMu. Terimalah mereka dalam cahaya wajahMu.”
Jadi dalam doa itu kita mendoakan orang-orang beriman dan semua orang yang telah berpulang.
Mereka baik yang beriman maupun semua orang yang tidak beriman, kita doakan arwahnya supaya diterima dalam kerahiman Tuhan.
Mereka yang meninggal mendadak karena kecelakaan, keguguran, mereka yang dibuang, tanpa nama, belum dibaptis, belum mengenal Tuhan, harus kita doakan. Mereka membutuhkan doa-doa kita agar diselamatkan Tuhan.
Mendoakan dan menghormati arwah yang sudah meninggal sudah menjadi tradisi di berbagai tempat. Di tugu Arch de Triumph, jantung kota Paris, ada api abadi yang terus menyala untuk menghormati dan mendoakan para pahlawan tak dikenal.
Tradisi ini sama juga kalau kita pergi ke kubur mendoakan arwah saudara-saudara kita. Di Jawa ada tradisi “nyadran”, ziarah kubur. Setiap bangsa punya tradisi mendoakan arwah-arwah leluhur yang sudah meninggal.
Dalam Injil Yesus menegaskan bahwa kedatanganNya adalah untuk melaksanakan kehendak Bapa yakni supaya dari semua yag telah diberikanNya kepada Yesus jangan ada yang hilang tetapi akan dibangkitkanNya pada akhir zaman.
Yesus datang menjadi jalan keselamatan. Orang-orang yang mati akan datang kepada Yesus untuk dibangkitkan. Hari ini kita berdoa agar mereka yang meninggal bisa datang kepada Sang Terang Sejati. Jangan sampai mereka tersesat menuju kegelapan kekal.
Di warung seafood makan kerang
Masih ditambah sepiring cumi-cumi
Terimalah arwah semua orang
Memasuki rumahMu yang abadi
Cawas, peringatan arwah orang beriman
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 01.11.19 Hari Raya Semua Orang Kudus Matius 5:1-12a / Petruk Sang Rakyat Jelata Calon Orang Kudus
PADA suatu hari Petruk dihinggapi wahyu Maningrat, Cakraningrat dan Widayat. Ia menjadi Ratu di Lojitengara bergelar Prabu Wel Geduwel Beh.
Supaya ia dapat menjadi raja, dia harus duduk di singgasana Astina. Maka disuruhlah Patihnya mencuri singgasana itu. Waktu dia mau duduk di singgasana, ia terjungkal tak berdaya.
Dewa membisikkan supaya ia memangku sebuah boneka. Boneka itu tidak lain adalah tuannya, Abimanyu. Ketika dia memangku Abimanyu, ia berhasil duduk di singgasana.
Abimanyu adalah orang yang berhak duduk di atas singgasana Astina. Dialah yang akan menurunkan Parikesit pewaris Hastinapura.
Petruk menyadari diri sebagai rakyat jelata yang rendah. Rakyatlah yang harus memangku rajanya. Raja tak mungkin berkuasa, kalau tidak dipangku rakyatnya. Petruk adalah gambaran rakyat yang sederhana, kawula alit yang berbudi luhur.
Bacaan Injil hari ini menceritakan Yesus yang menyatakan sabda bahagia. “berbahagialah yang berjiwa miskin terdorong oleh Roh Kudus, sebab bagi merekalah Kerajaan Allah.”
Petruk atau Punokawan itulah gambaran rakyat jelata yang berjiwa miskin. Rakyat jelata hidupnya hanya mengandalkan Allah semata.
Kendati Petruk menjadi raja, tetapi dia hanya bisa berkuasa jika memangku Abimanyu, raja yang sesungguhnya. Petruk tetaplah kawula yang selamanya hidup dalam kesederhanaan dan kesahajaan.
Justru orang-orang yang seperti Petruklah, sabda bahagia itu terwujud. Rakyat jelata seperti Petruk itulah yang memiliki Kerajaan Surga.
Merekalah yang berjiwa miskin di hadapan Allah. Mereka sering mengalami dukacita tetapi tidak putus harapan. Mereka berjiwa lemah lembut selalu menerima penguasa apa adanya.
Mereka adalah orang-orang yang haus dan lapar akan kebenaran dan keadilan. Rakyat jelata memberi dengan murah hati dan hidup suci hatinya.
Rakyat jelata yang membawa damai adalah yang empunya Kerajaan Allah. Rakyat jelata seperti Petruk adalah orang-orang yang mengalami aneka penganiayaan.
Bagi merekalah Yesus menyebut orang-orang yang berbahagia. Hari ini Gereja merayakan Arwah Semua Orang Kudus. Ada sekitar 700 santo/santa juga beato/beata yang diakui gereja.
Yang belum diakui pun kita percaya mereka juga termasuk orang kudus, seperti Romo Sanjaya, Romo Dewanto dan juga tokoh awam lain yang hidupnya setia kepada Allah.
Menjadi kudus tidak harus menjadi martyr, tetapi setia melakukan kebaikan dan mengasihi Allah sampai akhir bisa menjadi jalan kekudusan. Kita semua terbuka menjadi orang kudus kalau hidup kita baik, suci, setia kepada Allah.
Lebih baik jadi Petruk yang sederhana
Daripada jadi Sengkuni patih yang jumawa
Berbagialah orang yang suci dan rendah hatinya
Hidupnya akan mulia selamanya
Cawas, di suatu senja di musim yang lalu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 31.10.19 Lukas 13:31-35 / Kota Damai yang Tidak Damai
Yerusalem berasal dari dua kata, yakni Shalem, Shalom yang berarti damai dan Yarah yang berarti mengajar, mengabarkan.
Yerusalem berarti mengabarkan damai atau Warta damai. Namun melihat sejarah, dari zaman dahulu kala, kota ini selalu tidak damai.
Sepanjang sejarahnya yang panjang, Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali.
Bagian tertua kota ini menjadi tempat permukiman pada milenium ke-4 SM. Pada tahun 1538 dibangun tembok di sekitar Yerusalem dalam pemerintahan Raja Salomo.
Saat ini tembok tersebut mengelilingi Kota Lama, yang mana secara tradisi terbagi menjadi empat bagian—sejak awal abad ke-19 dikenal sebagai Kawasan Armenia, Kristen, Yahudi, dan Muslim.
Ntrik dan perang selalu mewarnai kota itu. Kota Damai yang tidak pernah merasakan damai.
Dalam Injil hari ini, Yesus sedikit meramalkan masa depan Yerusalem. Yesus berkata,
“Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap, tetapi kalian tidak mau. Sungguh rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.”
Nampaknya perjalanan Yesus ke Yerusalem sudah ditengarai orang menuju kepada bahaya. Beberapa orang Farisi memberitahuNya bahwa Herodes hendak membunuhNya.
Yesus sangat paham bahwa kehadiranNya di Yerusalem berarti menantang maut. Karena banyak nabi-nabi yang dibunuh di Yerusalem,
Bagi kaum politisi kehadiran Yesus bisa menimbulkan intrik kekuasaan. Mereka merasa terganggu dengan pengajaran-pengajaran Yesus yang berpihak kepada orang kecil.
Rakyat kecil percaya pada Yesus dan mereka mendengarkan perkataanNya. Hal ini pasti mengganggu hegemoni Herodes di Yerusalem.
Kendati ada ancaman akan dibunuh, Yesus tidak takut, ia tetap menuju ke Yerusalem.”Tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem”.
Kebenaran harus diwartakan kendati menghadapi ancaman dan teror. Warta kebenaran itu dihayati oleh Yesus sebagai panggilan hidupNya.
Kendati harus mati di Yerusalem, Ia tetap menjalaniNya demi menegakkan kebenaran sejati. Beranikah kita tetap setia pada kebenaran kendati menghadapi bahaya?
Menanti taxi di pinggir jalan
Penumpang banyak sampai berebutan
Berani menjadi saksi kebenaran
Harus berani menghadapi aneka ancaman
Cawas, menghadapi tantangan
Rm. A. Joko Purwanto Pr