Puncta 03.09.19 Pw. St. Gregorius Agung Lukas 4: 31-37 / Idu Geni
ONTOREJO adalah anak Bima dari Dewi Nagagini dari Kahyangan Saptapertala. Ontorejo mempunyai kesaktian yang luar biasa.
Ia memiliki kesaktian racun atau bisa yang keluar dari air liurnya. Apa saja yang terkena air liur Ontorejo akan mati.
Bahkan bayangan orang yang dijilat oleh Ontorejo bisa tewas. Dalam istilah Jawa, orang yang memiliki kesaktian itu disebut idu geni.
Apa yang diucapkan mempunyai daya kekuatan yang berbahaya, bahkan bisa mematikan seperti api.
Idu geni atau air liur yang berdaya seperti api, yakni membakar dan memusnahkan. Kesaktian Ontorejo itu digunakan untuk senjata dalam peperangan.
Racun yang keluar dari air liur Ontorejo itu panas seperti api yang membakar.
Kata-kata Yesus juga mempunyai wibawa, daya kekuatan. Pada waktu berada di Kapernaum, Yesus mengajar di rumah ibadat.
Orang-orang yang mendengar pengajaranNya sangat takjub. Sabda Yesus itu penuh dengan kuasa. Kuasa dari kata-kata Yesus itu terbukti ketika Dia mengusir setan.
Ia menghardik setan itu agar jangan mengganggu orang itu. Setan itu tunduk dan taat oleh kata-kata Yesus. “Diam! Keluarlah dari padanya.” Setan pun keuar dari orang itu.
Semua orang takjub dan berkata satu sama lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Dengan penuh wibawa dan kuasa, Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat, dan mereka pun keluar.”
Memang benar, kata-kata kita mempunyai daya kekuatan. Yesus menyadarkan kita bahwa apa yang ada dalam pikiran akan tertuang dalam perkataan dan terwujud dalam perbuatan.
Beberapa hari yang lalu kami kumpul reuni merto 81-85, mengadakan pelatihan bersama Mas Bebet. Dia meyakinkan bahwa kata-kata bisa mempunyai daya kekuatan yang luar biasa. Kita bisa memotong benda keras dengan sepotong sedotan plastik pipih.
Yang harus dibangun adalah mindset dalam pikiran kita. kalau kita punya pikiran yang baik, positif dan benar, pasti tutur kata dan perbuatan kita akan positif juga.
Yesus telah memberi teladan kepada kita bagaimana kata-kata mempunyai daya kekuatan yang besar.
Maka berhati-hatilah dengan kata-katamu. Suatu saat apa yang kamu katakan akan terwujud menjadi kenyataan.
Beli rujak dicampur mangga
Dinikmati bersama teman di pinggir jalan
Kata kita seperti pedang bermata dua
Bisa mematikan tapi juga bisa menghidupkan
Cawas di suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 02.09.19 Lukas 4:16-30 / Warta Pembebasan
Kita semua pasti tahu kalau orang-orang Yahudi menantikan kedatangan Mesias.
Mesias bagi mereka adalah pembawa keselamatan lahir batin dunia akherat sampai tuntas. Mesias itu digambarkan sebagai Yang Maha Agung yang datang dari antah berantah.
Mesias tak diketahui asal-usulnya tetapi dia datang mengubah total seluruh bumi. Bumi menjadi serba baru seluruhnya karena kuasa Mesias itu.
Maka ketika Yesus mengutip Kitab Nabi Yesaya, ”Roh Tuhan ada padaKu. Sebab Aku diurapiNya untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dan Aku diutusNya memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, serta membebaskan orang-orang yang tertindas. Aku diutusNya memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Orang-orang Yahudi sangat heran. Apalagi ketika Yesus meyakinkan meraka bahwa Dia datang sebagai kegenapan kitab Nabi. Mereka tidak percaya.
Ketidak-percayaan itu ditujukan dengan sikap penolakan mereka kepada Yesus.
Mereka semua tahu siapa Yesus dan darimana Dia datang. Mereka tahu bagaimana kehidupan keluarga Yesus.
Pasti tidak sesuai dengan kondisi Mesias yang mereka percayai.Tahu bahwa orang-orang sekampungNya menolak, Yesus justru menunjukkan kedegilan hati mereka.
Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Mereka disindir oleh Yesus karena mereka menutup hati terhadap pewartaanNya.
Ketika kita tidak percaya, maka tidak akan terjadi perubahan hidup yang membebaskan. Ketika kita menutup diri terhadap sesuatu yang baru, kita sedang berjalan mundur.
Sikap orang-orang Nasaret itu harus menjadi pelajaran berharga bagi kita. Jangan menghakimi seseorang sebelum kita tahu persis duduk persoalannya.
Orang-orang Nasaret itu tidak percaya, bahkan mereka menolak Yesus dan ingin melemparkanNya ke tebing.
Yesus menunjukkan kuasaNya. Ia lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Tanpa mereka berani menyentuh kulitNya sedikitpun.
Yesus diam lewat di antara mereka, tetapi diam yang berwibawa. Tidak akan ada orang yang berani menghalangi orang benar.
Jika kita berani membela dan mengatakan yang benar, diam pun adalah kekuatan dasyat yang mempesonakan.
Marilah kita belajar seperti Yesus, berani berkata tentang kebenaran kendati ditolak dan dijauhi dunia sekitarnya.
Jalan jalan ke Sampangan
Jangan lupa singgah di pelabuhan
Bertindaklah berdasarkan kebenaran
Jangan hanya karena kabar palsu dan kebohongan
Cawas, pada suatu waktu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 01.09.19 Hari Minggu Biasa XXII Lukas 14:1.7-14 / Petruk Sang Rakyat Sederhana
PADA suatu hari Petruk dihinggapi wahyu Maningrat, Cakraningrat dan Widayat. Ia menjadi Ratu di Lojitengara bergelar Raja Wel Geduwel Beh. Supaya ia dapat menjadi raja, dia harus duduk di singgasana Astina.
Maka disuruhlah Patihnya mencuri singgasana itu. Waktu dia mau duduk di singgasana, ia terjungkal tak berdaya. Dewa membisikkan supaya ia memangku sebuah boneka.
Boneka itu tidak lain adalah tuannya, Abimanyu. Ketika dia memangku Abimanyu, ia berhasil duduk di singgasana. Abimanyu adalah orang yang berhak duduk di atas singgasana Astina.
Dialah yang akan menurunkan Parikesit pewaris Hastinapura. Petruk menyadari diri sebagai rakyat jelata yang rendah. Rakyatlah yang harus memangku rajanya.
Raja tak mungkin berkuasa, kalau tidak dipangku rakyatnya. Petruk adalah gambaran rakyat yang sederhana, kawula alit yang berbudi luhur.
Bacaan Injil hari ini menceritakan Yesus yang mengingatkan kita untuk sadar merendahkan diri. “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Petruk atau Punokawan itulah gambaran rakyat jelata yang kadang tdak sadar akan posisinya. Petruk tidak sadar bahwa tugasnya hanya memangku penguasa.
Ia bukan raja yang sesungguhnya. Ia tidak boleh sombong ketika sedang duduk di kursi penguasa. Ia berasal dari rakyat jelata.
Petruk menyadari kedudukannya sebagai Panakawan. Pana itu pinter kawan itu sahabat.
Panakawan adalah sahabat yang pinter memberi nasehat kepada bendaranya (tuannya). Batur (hamba) itu bukan penguasa.
Ketika Petruk menjadi raja, gaya dan polah hidupnya tidak sesuai, malah dipermalukan banyak orang.
Sabda Yesus itu tetap relevan bagi kita di zaman sekarang, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Lebih baik jadi Petruk yang sederhana
Daripada jadi Sengkuni patih yang jumawa
Berbagialah orang yang suci dan rendah hatinya
Hidupnya akan mulia selamanya
Cawas, desa yang indah nan menawan.
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 31.08.19 Matius 25:14-30 / Sumantri dan Sukrosono
SUMATRI ingin melamar menjadi punggawa di Kerajaan Maespati. Dia diberi tiga syarat.
Pertama, melamar Dewi Citrawati untuk menjadi permaisuri Prabu Harjunasasrabahu, kedua mengalahkan seribu raja jajahan.
Dua syarat ini berhasil dijalani. Ia menjadi sombong dan ingin menjajagi kemampuan sang raja. Ia menantang perang. Terjadi perang tanding. Sumantri kalah.
Syarat ketiga memindahkan Taman Kahyangan ke Maespati. Ia tak punya daya. Adiknya, Sukrosono yang berwajah raksasa buruk rupa datang membantu.
Ia meninggalkan Sukrosono karena malu punya adik yang buruk sekali. Ia malu dan meremehkan adiknya yang buruk rupa itu.
Namun adiknya ini punya kemampuan linuwih. Ia berhasil memindahkan Taman Kahyangan ke Maespati.
Allah itu maha adil. Ia mengetahui berapa besar kemampuan kita masing-masing. Maka ada yang diberi lima talenta, dua talenta dan satu talenta.
Allah mengajak kita berproses. Tidak mungkin orang yang kemampuannya satu talenta langsung diberi sepuluh talenta.
Allah ingin agar kita berproses setapak demi setapak. Jika pada tahap awal kita berhasil, maka akan diberi tanggungjawab yang lebih besar.
Proses itu penting. Orang tidak boleh langsung melejit tinggi. Namun berproses sebagaimana kita bertumbuh, dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan menjadi orangtua.
Manusia saja yang kadang memandang Allah tidak adil. Mengapa saya hanya diberi kemampuan segini, sementara yang lain bisa lebih banyak? Mengapa saya tidak diberi talenta seperti orang itu?
Kacamata kita sering dilapisi sifat iri dan cemburu, sehingga menilai Allah tidak adil.
Allah maha mengetahui. Berapa kemampuan kita sudah diukur olehNya. Dia sudah memperhitungkan segalanya.
Seharusnya kita bersyukur dan bertanggungjawab. Bukan justru karena hanya mendapat talenta sedikit lalu tidak melipatgandakan.
Seperti hamba yang diberi satu talenta, dia menguburkan talentanya dan tidak mengembangkannya.
Seberapa pun talenta yang kita punya, wajib kita mengembangkan menjadi berlipat ganda. Disitulah letak tanggungjawab kita.
Allah tidak melihat jumlahnya. Ia menilai tanggungjawab kita. Yang diberi lima dan yang diberi satu sama-sama tanggungjawabnya.
Kalau yang diberi lima, namun tidak melipatgandakannya juga akan dihukum. Dia juga tidak akan diberi tanggungjawab yang lebih lagi.
Seberapa pun kita diberi talenta, itu adalah anugerah yang harus disyukuri.
Jangan kita selalu memandang ke atas, membandingkan dengan orang yang lebih. Tetapi selalu menunduklah ke bawah, mengaca dengan rendah hati.
Kalau kita berani mengaca ke bawah, kita melihat masih ada orang lain yang lebih susah daripada kita.
Cawas, di suatu seja di musim yag lalu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 30.08.19 Matius 25:1-13 / Kresna Gugah
BATARA Kresna bertapa tidur di Makambang. Kurawa dan Pandawa berlomba-lomba membangunkan Kresna. Mereka beranggapan siapapun yang ditemani Kresna akan menang perang Baratayuda.
Mereka berebut bisa memboyong Kresna. Doryudana dan Kurawanya tidak berhasil membangunkan. Arjuna berhasil membangunkan Kresna karena dia mengikuti nasehat Semar.
Pamong Pandawa itu menjelaskan bahwa Kresna sedang mejalani “laku ngrogoh sukma.” Untuk itu Arjuna juga diminta melakukan laku tapa yang sama. Doryudana iri karena Arjuna bisa membangunkan Kresna.
Ia dan wadyabalanya memaksa Kresna diboyong ke Hastina. Kresna akhirnya memutuskan mengadakan pemilihan bagi kedua belah pihak.
Doryudana disuruh memiliah antara satu orang Kresna atau seribu raja jajahan. Doryudana lebih memilih seribu raja untuk membantu Baratayuda.
Baladewa marah kepada Doryudana, “Kamu itu raja bodoh. Mengapa memilih seribu raja? Kresna itu Dewa Wisnu, Dewa Kehidupan. Siapapun yang didiami dewanya kehidupan akan mengalami kebahagiaan. Lha kenapa kok memilih seribu raja jajahan yang tidak berguna?”
Bacaan hari ini berkisah tetang sepuluh gadis. Lima yang bodoh dan lima lagi mereka yang bijaksana.
Gadis yang bodoh megira pengantin tidak akan datang pada tengah malam. Gadis yang bijaksana yakin bahwa pengatin bisa datang setiap saat. Mereka meyiapkan segala sesuatunya.
Ketika pengatin tiba-tiba datang, mereka yang bodoh tidak siap. Mereka tidak bisa masuk ke dalam pesta perjamuan nikah.
Perjamuan nikah itu adalah persekutuan manusia dengan Tuhan. Kapan pun Tuhan memanggil kita harus siap setiap saat.
Kita tidak tahu kapan saatnya. Maka kita harus bijaksana menyiapkannya. Kita harus membawa pelita yang selalu menyala.
Orang yang membawa pelita itu ibarat orang yang tekun, mendapat teken, pasti tekan. Tekun seperti gadis yang bijaksana itu teguh kukuh melaksaakan kewajibannya. Teken itu artinya pedoman.
Orang yang pegang teken adalah orang yang mendapatkan pedoman hidup. Setiap orang yang mengikuti pedoman hidup akan sampai (tekan) pada tujuannya.
Marilah kita tekun pada tugas panggilan kita masing-masing supaya kita sampai pada perjamuan nikah Sang Mempelai Agung.
Kita akan punya ibukota
Namanya Penajem Kutai Kertanegara
Marilah kita menjadi orang bijaksana
Yang selalu siap membawa pelita menyala
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr