Puncta 29.08.19 PW. Wafatnya St. Yohanes Pembaptis Markus 6:17-29 / Bisma Gugur
RESI Bisma diminta oleh Doryudana untuk maju menjadi senopati dalam perang Baratayuda. Bisma adalah kakek para Kurawa dan Pandawa.
Tak ada senapati Pandawa yang mampu mengalahkan Resi Bisma. Batara Kresna yang adalah titsan Dewa Wisnu tahu bahwa Bisma hanya bisa dikalahkan oleh senapati perempuan.
Maka Kresna minta Srikandi untuk maju berperang melawan Resi Bisma. Mengapa harus senapati perempuan? Waktu masih muda, sebelum menjadi resi atau pendita, Bisma bernama Dewabrata.
Dia pernah menolak cinta Dewi Ambika. Dewabrata tak mau mengingkari janji bahwa dia akan hidup selibat. Dewabrata marah, ia menakut-nakuti Ambika dengan anak panah.
Ternyata anak panah itu terlepas dan menembus dada Ambika. Sebelum ajal, Ambika bersumpah tidak akan naik ke surga jika tidak bergandengan dengan Dewabrata.
Ia akan menitis ke tubuh senapati perempuan dalam perang baratayuda.maka Srikandilah yang akan menembus dada Bisma dengan panahnya.
Dalam Injil hari ini, kematian Yohanes pembaptis ditentukan oleh seorang perempuan, yakni Herodias yang sakit hati karena diperingatkan oleh Yohanes supaya tidak menikah dengan Herodes.
Perempuan yang sakit hati tak bisa dihentikan dengan apapun.herodian memendam sakit hatinya sampai saatnya tiba. Ketika anaknya menyukakan hati Sang Raja, dia diberi janji permintaannya akan dipenuhi.
Anak itu oleh bisikan dendam ibunya meminta kepala Yohanes Pembaptis. Raja Herodes malu mencabut janjinya. Dia memerintahkan prajurit untuk memenggal kepada Yohanes pembaptis di penjara.
Seorang nabi berani mati membela kebenaran. Yohanes mengorbankan nyawanya karena berani mengingatkan raja yang bertindak salah. Pembela kebenaran tidak takut mati.K
ematian itu adalah mahkota perjuangannya. Yohanes menjadi martir karena ia konsisten pada perjuangannya. Sekali berjuang demi kebenaran, Yohanes tidak mundur.
Beranikah kita konsisten pada perjuangan membela kebenaran dan keadilan kendati kesulitan menyongsong kita? Itulah salib kita.
Naik kereta ke Jakarta turun di Gambir
Tersesat sampai Serang, emang sudah nasib.
Santo Yohanes Pembaptis yang martir
Doakanlah kami mampu memanggul salib
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 28.08.19 PW. St. Agustinus, Uskup / Panggung Sandiwara
DUNIA ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan.
Ada peran wajar ada peran berpura pura
Mengapa kita bersandiwara. Mengapa kita bersandiwara
Itulah sepenggal syair lagu milik Ahmad Albar yang masih populer sampai sekarang.
Dunia ini adalah panggung sandiwara yang menampilkan banyak peran kemunafikan dan kejujuran, suka duka, sedih dan bahagia, tangis dan tawa, gagal dan sukses.
Banyak sekali topeng-topeng peran yang kita mainkan. Peran kemunafikan lebih banyak naik panggung kehidupan. Cerita atau kisah hidup manusia mudah sekali berubah.
Melihat realitas hidup di tengah masyarakatnya sendiri, Yesus mengecam perbuatan kemunafikan orang Farisi dan ahli kitab.
Mereka digambarkan seperti kuburan yang dilabur putih. Sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang da pelbagai jenis kotoran.
Misalnya di balik gemerlapnya artis-artis papan atas, ternyata pecandu narkotika. Di balik kehidupan yang glamour para selebriti ternyata tersembunyi perilaku menyimpang dan amoral.
Orang mempertontonkan sikap dermawan, rasa sosial yang tinggi, ternyata hasil korupsi. Dunia ini memang panggung sandiwara.
Akhirnya benar kata-kata ini, “Becik ketitik, ala ketara. Wong sing ndhisiki tumindak ala bakal sirna ing tembe mburine.”
Artinya, orang benar akan terpapar, orang jahat akan sekarat pada akhirnya. Setiap sandiwara kehidupan akan terkuak pada saatnya. Tidak akan ada barang atau perbuatan yang tersembunyi.
Yesus mengajakan kepada kita, “Bersihkanlah lebih dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”
Bongkarlah kuburan sebelah dalamnya maka nanti luarnya juga akan dibersihkan. Itu berarti bertobatlah mulai dari dalam diri sendiri lebih dahulu.
Hilangkanlah kemunafikan dari hatimu, maka akan muncul sikap ketulusan dan kejujuran. Berani hidup menjadi diri sendiri dan apa adanya.
Itu tidak mudah. Tetapi lebih baik mulai dari sekarang daripada kita terlambat.
Beyes itu anaknya buaya
Kalau bulus itu mirip kura-kura
Lebih baik hidup apa adanya
Daripada memakai topeng yang pura-pura
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 27.08.19 PW. St. Monika Matius 23:23-26 / Rasa Keadilan
Di suatu persidangan, Hakim itu mengejutkan semua orang yang hadir di ruang sidang. Beliau membebaskan terdakwa kemudian meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.
Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut, sang hakim mengatakan, “Inilah balasan yang harus kulakukan sebagai rasa terima kasihku kepadamu, Guru.”
Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar di SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya.
Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya.
Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang Farisi karena mereka mempraktekkan aturan secara buta. Hukum adalah hukum. Di dalam hukum ada esensi penting yang tidak boleh diabaikan yakni keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan. Itulah pesan Yesus. Keadilan dan belas kasih adalah dua hal mendasar dalam penerapan hukum.
Orang Farisi dan ahli-ahli kitab itu lebih menekankan hukum secara buta. Mereka bahkan tega menindas orang lain demi terlaksananya hukum.
Hakim itu tahu kalau guru memukul muridnya itu bukan karena benci, dendam atau mau melukai. Dia justru sayang kepada muridnya.
Itu adalah bagian dari proses pengajaran agar anak didiknya mempunyai akhlak yang luhur dan moral yang baik. Hakim itu justru berterimakasih karena pernah dipukul waktu belajar.
Kalau tidak diajar demikian, ia tidak akan menjadi hakim seperti sekarang ini. Jangan disalahkan kalau anak-anak sekarang tidak tahu sopan santun, tidak bisa menghargai orang tua, berani melawan, tidak tahu terimakasih.
Ini semua karena hukum diterapkan secara buta, tanpa melihat rasa keadilan dan belas kasih. Guru takut dilaporkan wali murid karena dianggap melanggar HAM.
Murid salah dibiarkan saja. Akhlak anak hancur karena takut melanggar hukum. Agama seharusnya lebih menekankan kasih sayang dan keadilan. Ia harus membebaskan orang dari rasa takut.
Yesus mengajak kita untuk mengerti esensi hukum. Jangan hanya melaksanakan hukum secara buta.
Raja Dangdut adalah A. Rafik
Ada gadis cantik matanya melirik
Jadi orang tidak usah munafik
Banyak omong perilakunya tidak baik
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 26.08.19 Matius 23:13-22 / Pastor Gadungan
SEORANG ibu sedang khusuk berdoa di depan gua Maria yang ada di sudut gereja. Ibu itu terlihat menangis sesenggukan sambil mengusap air mata.
Seorang pemuda dengan pakaian necis, saleh dengan rosario di tangan dan salib tergantung di dadanya mendekati. “Ibu nampaknya sedang berbeban berat.” Ia memulai pembicaraan.
“Kok anda tahu?” jawab ibu itu. “Ibu berdoa khusuk sekali sejak tadi. Saya bisa membantu kalau ibu mau.” Ibu itu memang sedang punya masalah berat dan ini ada orang dengan penampilan saleh ingin membantu.
Ia menduga orang ini pastor di gereja ini. “Ini namecard saya. Ibu bisa menghubungi dan kita bisa ketemu secara private di suatu tempat.” Orang itu menyodorkan kartu namanya. Ibu itu percaya. Ia konsultasi semua permasalahan kepada “pastor” itu.
Tetapi lama-lama pemuda itu meminta uang, perhiasan, kartu kredit, dan barang berharga. Setelah itu ia menghilang pergi tak bisa dihubungi lagi. Awas ada pastor gadungan sedang mencari mangsa.
Kata-kata Yesus hari ini sungguh keras. Kecaman itu ditujukan kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka itu adalah orang-orang yang mengerti hukum dan penjaga nilai-nilai moral.
Tetapi cara hidup mereka justru menghalangi orang mencapai kesucian. Mereka membebani orang dengan aturan-aturan yang berat. Mereka menelan rumah janda-janda dengan doa yang panjang-panjang.
Status janda adalah kelompok yang rentan dan lemah di masyarakat. Seharusnya mereka ditolong bukan dibebani dan ditindas. Mereka mengelabui kelompok lemah ini dengan tindakan religius.
Mereka mencari pengikut kemana-mana, mempertobatkan orang. Sesudah bertobat, mereka dijadikan sapi perah untuk pundi-pundi mereka, bukan untuk kepentingan bait suci.
Mereka berkotbah panjang sampai mulutnya berbuih. Tetapi dibalik jubah panjangnya adalah barang rampasan. Dengan alasan suci mereka mengejar previlegi-previlegi, atau perlakuan khusus hanya demi keuntungan pribadi.
Itulah yang dikecam oleh Yesus, sikap munafik, jualan kesucian demi mengeruk keuntungan pribadi.
Para ahli Taurat ini menutup pintu keselamatan bagi orang-orang yang lemah dan menderita. Banyak orang ingin mencari keselamatan tetapi dipersulit dengan aturan-aturan yang “dibuat-buat”.
Yesus mengutuk/mengecam orang bukan karena Dia marah atau dendam. Yesus mengecam karena perbuatan kita yang menghalangi orang masuk surga.
Kadang kita juga munafik, meyesatkan orang dengan alasan saleh demi keuntungan pribadi kita. Awas kalau tidak hati-hati, kitalah yang dikecam Yesus.
Di Kawah Ijen ada sinar-sinar aneh
Itulah blue fire nama kerennya
Tutur kata dan tindakan kita kelihatan saleh
Hati-hati kalau itu topeng kemunafikan kita
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 13.08.19 Matius 18:1-5. 10. 12-14 / Pandu Swarga
KETIKA para Pandawa mengetahui bahwa orangtua mereka dimasukkan ke Kawah Candradimuka yakni neraka yang penuh dengan api berkobar-kobar, Bima tidak terima. Dia memprotes dewa Suralaya.
Sebagai anak, mereka ingin orangtua mereka mengalami kebahagiaan di alam keabadian. Batara Guru sebagai pimpinan para dewa mengabulkan permohonan mereka asal mereka mau menderita di dunia.
Para Pandawa sanggup mengalami penderitaan asal Pandu, Kunti dan Madrim berbahagia di surga.
Para murid bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan surga. Menurut kacamata dunia, orang-orang besar adalah orang yang hebat, sukses, terkenal, kaya raya.
Tetapi dalam pandangan Yesus, mereka yang terbesar di kerajaan surga digambarkan justru seperti anak kecil yang jujur, polos dan sederhana.
“Jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Keraaan Surga.”
Pertobatan dan merendahkan diri menjadi syarat orang masuk ke dalam Kerajaan Surga. Pandagan Allah teryata berbeda dengan pandangan manusia. Besar di dalam Keraajan Allah berbeda dengan besar di mata dunia. Kebahagiaan Allah berbeda dengan kebahagiaan kita.
Allah sangat bahagia dan gembira jika menemukan satu orang bertobat melebihi yang lainnya. Penilaian surga dan dunia sangat berbeda. Kisah tentang Lazarus dan orang kaya juga bisa menjelaskannya.
Menjadi kecil, merendahkan diri, mau berkorban, menderita bagi orang lain, berlawanan dengan ingin menjadi besar, hebat, sukses, berlimpah, dipandang “wah” atau kaya raya.
Itu adalah pandangan dunia. Maka Para Pandawa itu bersedia menderita di bumi agar kelak mendapatkan kebahagiaan di surga.
Marilah kita berani menjadi seperti anak kecil yang suci polos, jujur dan sederhana. Merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Alat tulis namanya pensil
Biar lengkap ditambah spidol warna
Berani menjadi seperti anak kecil
Agar kelak mendapat tempat di surga
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr