Renungan Harian

Puncta 03.06.19 Yohanes 29-33 Pw. St. Karolus Lwanga dkk Cinta Sejati Drupadi

PENGALAMAN dibuang selama 12 tahun di tengah hutan oleh para Kurawa tidak menghancurkan semangat hidup Putra-putra Pandu.

Dengan licik para Kurawa memenangkan permainan dadu. Namun dalam pengasingan di hutan itu, mereka semakin bersatu, rendah hati dan bijak.

Kurawa ingin mencerai-beraikan mereka, namun justru Pandawa kompak bersatu. Kurawa ingin menghancurkan mereka, tetapi justru mereka makin kuat.

Ketika ditanya oleh Kresna, bagaimana rasa cinta Drupadi kepada suaminya, Drupadi menjawab, “Kakang Prabu, cinta saya kepada suami semakin mendarah-daging, bukan karena harta ataupun tahta tetapi karena kepribadian Puntadewa yang makin bijaksana. Kesetiaan saya hanya untuk suami yang dianugerahkan Hyang Widi selamanya”.

Kesatuan Pandawa lima tak bisa dihancurkan oleh penderitaan. Justru lewat penderitaan itu mereka ditempa menjadi pribadi yang kuat, sabar, rendah hati dan bijaksana.

Yesus menubuatkan kepada para muridnya, “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan, masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku”.

Sejarah sudah mencatat bagaimana Gereja dan para pengikutnya dirongrong untuk dicerai- beraikan. Namun berkat iman akan Kristus yang bangkit, para murid tetap setia walau banyak penderitaan.

Betapa gentar para murid menghadapi penyaliban Yesus. Mereka meninggalkan Yesus memanggul salib sendiri. Namun Yesus yang bangkit menyatukan mereka.

Roh Kudus dijanjikan untuk menguatkan mereka menjadi saksi. Penderitaan justru memurnikan cinta yang tertanam di hati.

Yesus menguatkan para muridNya, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”.

Sabda ini meneguhkan murid-murid untuk tidak takut menghadapi penderitaan. Yesus akan menyertai sampai akhir jaman.

Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan tetap berani dan tak gentar menghadapi penderitaan. Mereka dibunuh karena iman akan Yesus yang telah bangkit.

Mereka yakin Yesus adalah juru selamat yang akan menyertai sampai kehidupan kekal. Penganiayaan dan penderitaan tidak menyurutkan iman Karolus dan kawan-kawannya.

Marilah kita tetap setia kendati derita dan pencobaan harus kita terima. Disitulah iman kita diuji.

Selamat jalan Romo Djono dan Ibu Ani
Semoga damai abadi di surga
Beriman kepada Yesus harus berani
Karena Dia telah mengalahkan dunia

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.06.19 Minggu Paskah VII Yohanes 17:20-26 Sumpah Palapa

“Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Artinya, Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Dalam kitab Pararaton itu diceritakan bagaimana Gajahmada yang diangkat menjadi mahapatih Majapahit mengangkat sumpah tidak akan lepas puasa atau mukti wibawa jika belum menyatukan Nusantara.

Dia berpuasa dan terus berusaha menyatukan Nusantara di bawah Panji Majapahit. Dia tidak akan hidup tentaram damai jika belum berhasil menyatukan Nusantara dalam Panji gula kelapa (Merah Putih).

Dalam Injil hari ini, Yesus menengadah dan berdoa, “Bapa yang kudus, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua mejadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa, ada di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga ada di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

Yesus tidak haya berdoa bagi murid-muridNya, tetapi juga semua orang yang percaya kepadaNya oleh pewartaan mereka.

Yesus ingin kita bersatu dengan Bapa di dalam namaNya. Yesus ingin kita bersatu menjadi satu kawanan dalam kerajaanNya. Kematian Yesus ibarat sumpah Palapa Gajahmada.

Yesus ingin, “dimana pun Aku berada mereka juga berada bersama-sama dengan Aku”. Persatuan dan kesatuan dengan Allah itulah yang diperjuangkan Yesus sampai mati.

Kita diajak untuk bersatu rukun di dalam kawananNya, di masyarakat. Sebagaimana kita juga berjuang menyatukan Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologi bersama.

Marilah kita terus berjuang rukun bersatu, menjadi satu kawanan, menjadi satu kewargaan Indonesia. Pada hari lahirnya Pancasila ini, marilah kita gemakan persatuan Indonesia.

Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita
Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya.

Hidup Pancasila,
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.06.19 PW. St. Yustinus Martir Yohanes 16:23b-28 Dewi Laksmi

PADA JAMAN dahulu hiduplah seorang pemuda yang ingin kaya. Maka dia berdoa dan meminta kepada Dewi Laksmi, Dewi kekayaan.

Selama sepuluh tahun dia terus berdoa, tetapi tidak pernah dikabulkan. Akhirnya dia memperoleh pencerahan bahwa kekayaan itu menipu pikiran.

Ia memilih hidup sebagai pertapa di pegunungan Himalaya. Ia bermeditasi dengan takzimnya, dan pada suatu hari, dalam meditasinya, ia didatangi seorang wanita yang sangat cantik gilang gemilang rupawan.

“Siapakah engkau dan sedang apa kau di sini? Katanya. “Aku ini Dewi Laksmi yang kau puja dalam nyanyian selama bertahun-tahun. Aku ingin mengabulkan permintaanmu” kata wanita itu.

“Ah Sang Dewi, aku kini sudah medapat berkat dari meditasiku dan kehilangan keinginan untuk kekayaan. Engkau datang terlambat, kenapa engkau tidak datang dan memenuhi permintaanku dulu-dulu?”

“Untuk berkata kepadamu sebenarnya,” jawab sang dewi, “Jika ingat akan sifat upacara yang kaulakukan begitu setia, engkau sepenuhnya pantas menjadi kaya.Tetapi, karena cintaku kepadamu dan keinginanku akan kesejahteraanmu, maka kutahan dulu.”

Jika anda boleh pilih, maka yang anda utamakan pengabulan permohonan anda atau rahmat tetap berdamai entah doa dikabulkan atau tidak? (Doa Sang Katak 1)

Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu”.

Sabda Yesus itu sungguh menguatkan kita. Dia berjanji akan mengabulkan permintaan kita. Selama ini mungkin doa-doa kita belum terkabulkan.

Kita harus kembali bertanya, apakah doa-doa kita itu memang sesuai dengan kehendakNya, ataukah hanya untuk egoisme kita sendiri.

Bisa jadi permintaan kita itu sesuatu yang tidak tepat dalam pandangan Allah. Si pertapa itu minta kekayaan, namun setelah sadar bahwa kekayaan itu hanya tipuan, ia tidak memintanya lagi.

Justru ketika dia menemukan kedamaian dalam doanya, ia tetap ingin hidup damai tanpa kekayaan.

Kita disuruh meminta kepada Bapa dalam nama Yesus. Dikabulkan atau tidak, itu kehendak Dia yang akan memberi. Dia lebih tahu kebutuhan kita sesungguhnya.

Bukan kehendak kita yang harus terpenuhi, tetapi kehendakNyalah yang pasti akan memberi kepenuhan dalam hidup kita. Kita tetap harus minta, seperti pertapa yang tentram dalam doanya, supaya Allah meneguhkan doa kita.

Mancing ikan hanya dapat tenggiri. Ikan yang lain semua pada lari.
Jangan berdoa hanya untuk kepentingan sendiri. Pasti Tuhan akan menepati janji.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwwanto Pr

Puncta 31.05.19 Pesta SP. Maria Mengunjungi Elisabet Lukas 1:39-56 Apalah Gunanya Tembok Tinggi?

ADA pepatah bijak mengatakan, “Tinimbang mbangun tembok aluwung ngedum mangkok”.

Maksudnya adalah jangan membangun rumahmu dengan tembok tinggi tetapi bangunlah relasi dengan semangat berbagi.

Romo Mangunwijaya mengartikannya dengan filosofi pager piring. Rumah yang aman bukan karena pagarnya kokoh kuat tetapi karena penghuninya suka berbagi dengan tetangganya.

Intinya adalah bila ingin hidup aman, maka “srawunglah” dengan tetangga di sekitar. Srawung disertai dengan semangat saling berbagi. Berbagi mangkok atau piring artinya mau memberi makan atau berbagi kepada tetangga kita.

Di rumah, kalau ada panen jeruk, rambutan, mangga atau buah yang lain tidak dijual, tetapi dibagikan kepada tetangga-tetangga sekitar.

Ada syukuran dibuat kenduri mengundang tetangga sekitar untuk berdoa dan berbagi berkat. Ada rejeki lebih dibagi dan dinikmati bersama tetangga sebelah.

Rumah akan menjadi aman karena tetangga-tetangga sebelah akan memagari, menjaga dan melindungi.

Pagar tembok setinggi apapun kalau tidak pernah srawung dengan tetangga, akan bisa dijebol oleh maling.

Hari ini Gereja merayakan Santa Perawan Maria yang mengunjungi Elisabet saudarinya. Betapa bahagianya Elisabet.

Bahkan bayi yang ada di dalam kandungannya ikut bersukacita menerima kunjungan Ibu Tuhan. Sukacita yang dibagikan akan bertambah bukannya hilang.Orang lain akan mengalami sukacita dan akan terus ditularkannya.

Elisabet berseru, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku mengunjungi aku? Ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan”.

Maria membagikan kegembiraannya kepada Elisabet dengan berkunjung dan tinggal di rumahnya. Kita pun diajak untuk saling berkunjung, berbagi sukacita supaya kegembiraan itu menular kemana-mana.

Nasehat moralnya adalah jangan memagari rumahmu dengan tembok yang tinggi-tinggi, tetapi bangunlah relasi / srawung yang baik dengan tetanggamu, maka aman dan damailah hidupmu.

Bangun rumah dengan tembok tinggi
Masih ada tulisan, “Awas Ada Anjing”
Kalau dengan tetangga kita tidak mau berelasi
Rumah sekokoh apapun bisa dibobol maling

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 30.05.19 Hari Raya Kenaikan Tuhan. Lukas 24:46-53 Dari Ibukota

Mengapa peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019 terjadi di Jakarta? Pertama, karena Bawaslu dan KPU berada di Jakarta. Kedua, Jakarta adalah ibukota, pusat segala aktivitas, pemerintahan, ekonomi, dan pusat pemberitaan segala informasi.

Tak mungkin si dalang kerusuhan merencanakan di kota kecil , pedesaan atau pelosok yang tak tersentuh sinyal pemberitaan.

Maksudnya jelas, agar peristiwa itu bisa terekspos oleh media massa yang masif dan tersebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Peristiwa yang terjadi di ibukota pasti akan cepat menyebar kemana-mana. Apalagi didukung alat komunikasi canggih zaman digital seperti sekarang ini.

Untunglah Menkominfo membuat kebijakan yang baik. Beberapa hari setelah kerusuhan 21-22 Mei, beberapa aplikasi medsos seperti IG, FB, WA ditake down agar tidak bisa menyebarkan berita-berita hoax, hate speech dan video-video yang menyesatkan. Setelah dianggap aman terkendali, barulah semua dibuka normal kembali.

Hari ini Yesus terangkat ke surga. Sebelum itu Yesus menampakkan diri kepada para murid dan memberi pesan,

“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga. Dan lagi: Dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem”.

Yesus adalah dalang peristiwa kenaikan, bukan dalang kerusuhan. Ia mengajak murid-muridNya menyampaikan berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

Yesus tidak memprovokasi para murid menyebarkan berita hoax, tetapi berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa. Hal itu harus dimulai di Yerusalem, bukan di Kapernaum tempat Yesus dulu berkarya.

Yerusalem adalah pusat agama, pemerintahan, budaya dan ekonomi sehingga menjadi magnet bagi seluruh bangsa.

Para murid menanti janji Yesus yang akan mencurahkan Roh Kudus di Yerusalem. Dari Yerusalem inilah para murid menyebarkan berita kabar baik ke seluruh dunia.

Yesus memilih sebuah bukit di luar kota dekat Betania untuk memberkati mereka dan Ia berpisah dengan mereka dan terangkat ke surga.

Sambil menanti pencurahan Roh Kudus, kita diajak berdoa bersama dan menyiapkan diri menyebarkan berita kebaikan yaitu pertobatan dan pengampunan dosa.

Sebagai seorang Kristiani, kita diwanti-wanti untuk tidak menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, tetapi memberitakan kebaikan.

Marilah kita bertobat dari menyebar berita bohong di medsos. Mari kita jaga, bukan hanya mulut, tetapi juga jari jemari kita.

Makan nasi dengan sambal belut
Dulu pernah saya beli di Surabaya
Janganlah latah dan suka ikut-ikut
Viralkan berita bohong yang bikin sengsara

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr