Puncta 24.05.19 Yohanes 15:12-17 Sumantri – Sukrosono
SALAH satu syarat agar Sumantri diterima mengabdi di Kerajaan Maespati adalah memindahkan Taman Sriwedari atas permintaan Prabu Harjuna Sasrabahu.
Ini syarat yang sangat sulit. Namun oleh kesaktian Sukrosono, adik Sumantri yang berwajah raksasa, Taman Sriwedari dapat dipindahkan.Sebelum itu terjadi, Sumantri diminta berjanji untuk tidak meningalkan Sukrosono.
Tidak menghina dan menyia-nyiakannya karena wajahnya yang buruk rupa. Sumantri mau berjanji untuk tidak berpisah sekejap pun dengan Sukrosono.
Ketika Dewi Citrawati memeriksa taman, ia terkejut ketakutan karena ada raksana jelek berwajah menakutkan berada di dalam tamannya.
Sumantri marah kepada Sukrosono dan menyuruhnya untuk meninggalkan taman. Tetapi Sukrosono bersikukuh ingin tetap tinggal bersama Sumantri.
Sumantri menakut-nakuti adiknya itu dengan panah terkekang. Tapi Sukrosono tetap mengiba ingin bersamanya. Hati yang marah membuat lupa diri.
Panah di tangan Sumantri terlepas dan mengenai dada Sukrosono. Ia mati untuk kakaknya yang ingin mengabdi di Maespati. Ia rela mati demi kebahagiaan kakaknya.
Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu hamba. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu”
Yesus mengorbankan hidupNya demi keselamatan kita para sahabatNya. Ia mati karena cintaNya kepada kita manusia.
Yesus mengangkat martabat kita melalui kematianNya. Kita manusia yang berdosa, berkat kematianNya, diangkat menjadi anak-anak Allah.
Kita yang bukan siapa-siapa menjadi sahabat-sahabat Yesus. Kita yang seharusnya dihukum karena dosa, tetapi mendapat belaskasih Allah berkat kematian Yesus. Tidak ada kasih sebesar kasih Yesus yang memberikan nyawaNya untuk kita.
Sukrosono merelakan hidupnya demi Sumantri kakaknya. Sumantri yang semestinya gagal mengabdi di Kerajaan Maespati, karena kematian Sukrosono, akhirnya diangkat menjadi Mahapatih.
Berkorban adalah tindakan luhur dan mulia. Berani mengorbankan diri demi kebahagiaan orang lain itulah panggilan murid-murid Kristus. Beranikah kita berkorban ?
Ke Kopeng mengendarai Vespa
Habis minyak Vespa merana
Berani mengorbankan diri bagi sesama
Meniru Kristus yang wafat demi sahabatNya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 23.05.19 Yohanes 15:9-11 Kerinduan Sinta
KETIKA Hanoman datang di Taman Argosoka sebagai utusan Prabu Rama, hati Sinta sangat bersukacita. Hanoman mengabarkan keadaan Rama yang sangat merindukan kekasihnya.
Untuk itu ia menitipkan cincin untuk Sinta. Jika cincin itu dipasang di jari manis Sinta dan ukurannya pas, maka Rama yakin akan cintanya kepada Sinta.
Benarlah cincin itu diserahkan Hanoman kepada Sinta dan terpasang cocok di jari manis kekasih Sang Rama.
Sinta berbahagia dengan hati yang berbunga-bunga mengetahui Rama masih merindukannya. Ia ingin segera bertemu dengan Rama.
Untuk itu ia menitipkan “cunduk” gelung rambutnya kepada Hanoman agar diserahkan kepada Rama. Cunduk gelung itu sebagai lambang ikatan cinta yang tak tercerai bagi Rama.
Kerinduannya sangat menggelegak untuk segera bersatu kembali dengan kekasihnya. Waktu penantian itu dirasa sangat begitu lama.
Taman Argosoka yang indah tak mampu menggantikan kesepiannya tanpa kehadiran Rama yang sangat dikasihinya. Tinggal di dalam kasih membawa sukacita bagi kehidupan.
Yesus mengatakan, “Tinggallah dalam kasihKu. Jika kalian menuruti perintahKu, kalian tinggal dalam kasihKu sebagaimana Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal dalam kasihNya. Semua itu Kukatakan kepadamu, agar sukacitaKu ada dalam kalian dan sukacitamu menjadi penuh”.
Sinta sangat bersukacita ketika Hanoman menghaturkan tanda cinta Rama kepadanya yakni berupa cincin. Betapa rindunya Sinta untuk bisa bersatu dengan Rama karena dialah yang menjadi kepenuhan harapan hidupnya.
Sinta ingin tinggal bersama Rama. Walaupun harus tinggal di tengah hutan, tetapi bersatu dengan Rama lebih indah daripada tinggal sendirian di Taman Argosoka.
Yesus sangat ingin tinggal bersama kita. Maka Dia mengundang kita untuk datang kepadaNya agar kita dapat bersatu denganNya. Tinggal bersama Yesus dapat kita alami kalau kita ikut ekaristi.
Dengan menyambut Tubuh dan DarahNya, kita tinggal dalam kasihNya. Dalam ekaristi, Yesus hadir memberikan diriNya dan bersatu dengan kita menjadi makanan dan minuman kehidupan.
Janganlah kita sia-siakan ajakan Yesus itu untuk tinggal bersamaNya. Kapan lagi kita akan mengalami sukacita yang penuh jika tidak tinggal bersamaNya?
Indah sekali kisah Rama dan Sinta
Berkasihan selalu berdua
Yesus mengajak tinggal dalam kasihNya
Maka penuhlah kita dengan sukacita
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 22.05.19 Yohanes 15:1-8 Pokok Anggur dan Kita Rantingnya
Pada suatu kali Pak Tono, ketua umat di Selupuk datang ke pasturan. Ia minta ijin untuk memanen buah jengkol di kebun pasturan.
Saya berpesan supaya cara memetik buah jengkol tidak dipangkas pohonnya tetapi dipetik satu per satu dengan arit. Selain itu saya juga minta supaya ranting-ranting kecil dibersihkan supaya tahun depan masih bisa berbuah.
Ia bisa memanen buah jengkol sampai 5 karung dalam satu pohon. Sebuah hasil yang luar biasa karena waktu itu 1 kg jengkol dihargai Rp. 17,000.
Pak Tono berkata kepada saya, “Benar kata romo. Dengan membersihkan ranting-ranting pohon, buahnya makin banyak dan hasilnya makin berlimpah. Tuhan memberi rejeki lewat pohon jengkol di pasturan ini”.
Saya menimpali, “Kalian memanen jengkol dengan menebang pohonnya, bagaimana tahun depan bisa panen lebih banyak kalau pohon itu ditebang habis? Jangan hanya cari mudahnya, tetapi berusahalah memeliharanya.”
Hari ini Yesus menyebut, “Akulah pokok anggur yang asli dan BapaKulah pengusahanya. Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotongnya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkannya supaya berbuah lebih banyak”
Kita diajak untuk tinggal di dalam Yesus sebagai pokok anggur. Kita ini adalah ranting-rantingnya. Kalau kita tinggal di dalamNya, maka kita akan berbuah banyak.
Dengan menempel di dalam diri Yesus, kita mendapat kehidupan. Jika kita terlepas dan meninggalkan Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan akan mati dan dibakar habis menjadi debu saja.
Ketika kita mencintai dan memelihara pohon yang kita tanam, dia akan memberi hasil yang banyak. Tetapi kalau kita tak pernah menyiraminya, menyianginya, menjaganya, maka pohon itu lama-lama akan mati kekeringan.
Begitu pun iman kita. Jika kita tak memelihara dan mengembangkannya, maka lama-lama iman itu pun akan mati kering. Marilah kita tetap bersatu dengan pokok anggur yang asli yaitu Yesus sendiri.
Berteduh di bawah pohon munggur
Sambil menikmati segarnya udara
Yesus adalah Pokok Anggur
Kita semua adalah ranting-rantingNya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 21.05.19 Yohanes 14:27-31a Salam Tempel
DAHULU istilah “damai” sering kita konotasikan sedikit miring. Istilah itu sering kita dengar di jalan-jalan saat terjadi “tilang”. Polisi mengadakan operasi pelanggaran lalu lintas. Banyak pengendara yang terkena operasi karena tidak membawa SIM, tidak memakai helm atau melanggar rambu-rambu lalu lintas.
Agar tidak disidang di pengadilan, pengendara yang kena “tilang” memohon kebijakan Pak Polisi dengan minta damai. “Damai saja ya Pak” katanya sambil menyodorkan amplop berisi uang agar kasusnya tidak dibawa ke pengadilan.
Damai dalam hal ini sama dengan menyuap. Damai itu bermakna TST yakni tahu sama tahu. Pelanggar lalu lintas tahu bahwa ia salah. Pak Polisi diharapkan sama tahu agar ia tidak menghukumnya dengan menerima sejumlah imbalan.
Tindakan “salam tempel” seperti itu mungkin tidak saja terjadi di jalan, tetapi merambah di segala bidang kehidupan. Penerimaan siswa, karyawan, tenaga kerja, pegawai, tidak luput terjadi salam tempel. Pembuatan perijinan berbagai urusan, dari ijin usaha sampai ijin mendirikan rumah ibadah tidak terlepas adanya salam tempel.
Hari ini dalam Injil Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahteraKu yang Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan bukan seperti yang diberikan dunia kepadamu”.
Kalau damai seperti yang terjadi di jalan, kantor, atau di manapun di dunia ini berarti salam tempel, itu bukan yang diberikan oleh Yesus. Damai yang diberikan dunia itu berarti membiarkan kejahatan atau kesalahan tetap berlangsung asal kita aman-aman saja. Pada akhirnya dunia akan menjadi kacau balau jika damai seperti itu terus terjadi.
Damai sejahtera yang diberikan Yesus adalah damai keselamatan yang utuh. Damai yang benar di dunia ini dan damai yang menyelamatkan sampai di surga. Damai yang dibawa Yesus adalah bersatunya kita yang menjadi muridNya dengan Bapa di surga.
Maka Yesus mengajak kita bersukacita ketika Yesus pergi kepada Bapa. “Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kalian mengasihi Aku, kalian tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih agung daripada Aku”.
Damai yang dibawa oleh Yesus adalah bersatunya kita dengan Allah Bapa. Yesus pergi kepada Bapa untuk menyediakan tempat bagi kita. Di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal. Yesus nanti akan kembali ke dunia untuk membawa kita ke rumah Bapa. Itulah damai yang kita nantikan yakni kita berada di rumah Bapa.
Pergi ke Pontianak melihat gawai
Para pemuda-pemudi menari bersukaria
Yesus datang membawa damai
Agar kita bersatu dengan Bapa di surga
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 20.05.19 Yohanes 14:21-26 Tuyem dan Unyil
KAMI mempunyai 3 ekor anjing di pasturan. Yang jantan warnanya coklat namanya Browni. Yang betina warnanya hitam namanya Tuyem. Mereka beranak, diberi nama Unyil. Dengan para penghuni pasturan, anjing-anjing ini sangat jinak.
Setiap kali kami pulang mereka menyambut dari gerbang dan mengikuti sampai ke garasi. Mereka sangat mengenal “tuannya”, apalagi si Unyil sering bermanja-manja mengajak bermain sambil mengibas-ibaskan ekornya. Seperti orang yang rindu ditinggal kekasihnya.
Tetapi Tuyem sangat galak, apalagi dengan Pak Mur. Setiap kali Pak Mur datang, Tuyem selalu menyalak dengan keras. Segala gerak gerik Pak Mur diikuti dengan gonggongan seperti protes. Itu berlangsung beberapa bulan. Kami menganjurkan supaya Pak Mur sering memberinya makan.
Dengan diberi makan, disayang, disapa dengan lembut, lama kelamaan Tuyem ini melunak. Sekarang dia tak pernah lagi menggonggong galak. Hanya kepada orang asing, anjing-anjing ini, apalagi kalau digoda, mereka mengejar sambil menyalak keras. Anjing itu tahu disayang, dikasihi. Jika ia disayangi, maka ia akan menuruti perintah kita.
Dalam Injil hari ini, Yesus bersabda, “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadaNya.” Ada hubungan erat antara mengasihi Allah dan melaksanakan perintahNya. Kalau orang mengasihi Allah pastilah dia dengan sukacita melaksanakan perintahNya.
Yesus menegaskan, “Jika orang mengasihi Aku, ia akan menuruti sabdaKu. BapaKu akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama dia.” Kami sangat mengasihi Tuyem, Browni dan Unyil.
Mereka tahu kalau dikasihi, mereka pun juga mengasihi kami, menjaga kami dan menuruti perintah kami. Mungkin pada awal mulanya Tuyem punya trauma terhadap Pak Mur. Tetapi ketika Pak Mur mulai mengasihinya, Tuyem melunak dan tak lagi mencurigainya. Tak lagi garang seperti dulu.
Kasih itu membuat perubahan. Orang yang merasa dikasihi Allah, hidupnya berubah. Ia akan mengasihi dan menuruti perintah-perintahNya. Anjing saja bisa setia menuruti perintah tuannya, bagaimana kita tidak setia kepada Allah yang mengasihi kita sedemikian rupa.
Pag-pagi pergi ke sawah
Pulang sore membawa ketela
Barangsiapa dengan setia mengasihi Allah
Ia akan menuruti segala perintahNya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr