Puncta 19.04.19 Hari Raya Wafat Tuhan Yesus Yohanes 18:1-19:42 WafatMu Sumber Hidup
Hari Jum’at ini adalah hari yang agung. Maka disebut dengan Jum’at Agung. Keagungan ini merujuk pada kematian Yesus di kayu salib. Hari ini adalah hari penyaliban dimana Yesus menyerahkan nyawaNya kepada Bapa.
Hari Jum’at Agung ini adalah hari yang penuh makna. Peristiwa-peristiwa akhir hidup Yesus penuh dengan kenangan-kenangan indah bersama para muridNya. Ada banyak nilai yang ditanamkan kepada mereka khususnya, dan mereka yang percaya kepadaNya.
Yesus menandaskan kesetiaanNya pada kehendak Allah kendati harus memanggul salib. Yesus mengajak kepada muridNya untuk fokus pada misi yang diembanNya kendati banyak pihak mencoba menggagalkanNya.
Ketenangan jiwa yang tegar menghadapi lawan-lawan menjadi contoh bagi para muridNya jika kelak harus berhadapan dengan mereka yang kontra.
Yesus mengajarkan bahwa kematian bukan akhir segala-galanya. Kematian bisa diterima sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri, jika kematian itu dikembalikan kepada yang empunya kehidupan, yakni Bapa sendiri. Jenis dan bentuk kematian apapun, bahkan yang sehina salib pun, akan bermakna jika disatukan pada kehendak Bapa.
Yesus mengajarkan bahwa setiap orang pasti pernah mengalami pengalaman salib. Pengalaman salib itu bisa menggentarkan, tetapi juga memberi berkat. Blessing indisguise.
Salib adalah pengalaman gelap, tetapi darinya kita berharap ada sebuah titik cahaya. Di balik kegelapan, kehancuran, penderitaan, ada setitik pengharapan yang menguatkan. Habis gelap terbitlah terang. Yesus mengajak kita tetap optimis dan berpengharapan.
Wafat Kristus menjadi sumber hidup. Kematian bukan sebuah akhir. Kematian bukan selesai dan berhenti. Masih ada pengharapan. Iman tanpa pengharapan adalah kosong, hampa. Di dalam iman, ada pengharapan. Di dalam pengharapan tertanam kasih yang dalam.
Salib yang sedemikian mengerikan telah diubah menjadi pohon perngharapan yang berbuahkan kasih yang tuntas. Itulah salib Kristus.
Menang pemilu rambut langsung dicukur
Bendera kemenangan langsung dikibarkan
Kita tak pernah berhenti bersyukur
Kematian Yesus mendatangkan keselamatan.
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 18.04.19 Hari Raya Kamis Putih Yohanes 13:1-15 Teladan Kerendahan Hati
“AKU memintamu sebagai saudara untuk tetap damai”, kata Paus Fransiskus kepada para pemimpin Sudan Selatan yang telah lama bertikai karena perang saudara. Pada tanggal 11 April 2019 para pemimpin Sudan Selatan diundang Paus selama dua hari di kediaman pribadinya di Vatikan.
Ada kejadian tak lazim waktu itu. Presiden Salva Kiir dan Riek Machar, pemimpin pemberontak serta tiga wakil presiden yang hadir di kediaman Paus, terpana dan tidak menduga ketika pemimpin Gereja Katolik sedunia itu berlutut dan mencium sepatu mereka satu per satu.
Paus memohon kepada mereka agar rakyat Sudan tidak jatuh kembali dalam perang saudara yang telah menelan korban 400.000 jiwa dan sepertiga dari jumlah penduduk 12 juta jiwa menjadi pengungsi.
Hal ini adalah lambang kerendahan hati yang belum pernah terjadi sebelumnya, seorang pimpinan tertinggi gereja Katolik mencium kaki para pemimpin negara lain. Biasanya Paus mencium kaki para tahanan, tuna wisma saat perayaan Kamis Putih.
Hari ini gereja mengenang perjamuan Tuhan. Selain itu kita diajak meneladan semangat kerendahan hati Yesus yang membasuh kaki murid-muridNya. “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, maka kamu pun wajib membasuh kaki. Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat padamu”.
Merendahkan diri bukan tindakan yang hina. Justru orang yang mau merendahkan diri, ia mempunyai martabat yang luhur. Banyak tokoh dunia dihormati karena sikapnya yang mau merendahkan diri; Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Mother Teresa.
Pelajaran merendahkan diri dapat kita petik dari bulir-bulir padi. Padi yang bernas isinya akan menunduk, sedang padi yang kosong tak berisi akan pongah menjulang ke atas. Orang yang “berisi” tidak akan menyombongkan diri, sebaliknya mereka yang “kosong” malah memamerkan dirinya.
Benarlah apa yang diajarkan Yesus, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Kalau kita ingin dihormati oleh sesama, maka hormatilah mereka.
Kalau kita ingin dilayani, maka layanilah mereka. Yesus telah memberi teladan sikap kerendahan hati, marilah kita mempraktekkannya dalam hidup nyata di keluarga, komunitas dan di tengah masyarakat.
Menambang emas di pinggir kali
Airnya keruh sewarna kopi
Marilah kita merendahkan diri
Pastilah orang lain akan menghormati.
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 17.04.19 Matius 26:14-25 Konspirasi
PADA tanggal 14 April 1865, pukul 22.00 waktu setempat di Ford’s Theatre, Washington DC, Presiden Amerika Serikat (AS) Abraham Lincoln tewas dibunuh oleh seorang aktor ternama, John Wilkes Booth. Ia merupakan presiden pertama Negeri Paman Sam yang tewas terbunuh.
Awalnya, dengan langkah begitu cepat, John Wilkes Booth masuk ke tempat Presiden Abraham Lincoln duduk di sebuah ruang VIP. John datang dari belakang. Beberapa saat kemudian, ia mengambil senjata api dan melepaskan tembakan ke arah Presiden.
Presiden AS ke 16 dan merupakan Bapak Demokrasi Amerika ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Ada teori konspirasi yang berkembang karena tidak mungkin seorang Presiden adidaya dibunuh oleh seorang John Wilkes Booth seorang diri.
Membunuh orang nomor satu di Amerika pasti membutuhkan rencana yang matang.Harus ada strategi, kerjasama, rencana yang sempurna karena pengawalan ring satu pasti sangat ketat. Banyak orang percaya teori kosnpirasi itu nyata.
Dalam teori konspirasi, kematian Yesus tidak hanya bertumpu pada sosok Yudas Iskariot. Ada banyak situasi dan kondisi yang mempengaruhi peristiwa itu. Situasi sosial, keagamaan, politik dan ekonomi pada masa Yesus ikut berperan.
Dalam Injil peranan imam-imam kepala, ahli-ahli Kitab dan orang-orang Farisi yang bersekongkol membunuh Yesus sudah kelihatan sejak Yesus membuat banyak mukjijat. Yesus dianggap merongrong kewibawaan para imam dan ahli kitab.
Yesus makin banyak pengikutnya. Mereka percaya Yesus adalah nabi. Otoritas mereka terancam. Yesus dianggap tidak menghormati hukum sabat.
Para imam kepala punya kepentingan politik dan religius. Yudas punya kepentingan ekonomi. Herodes dan Pilatus punya kepentingan keamanan. Berbagai kepentingan itu bersatu membangun konspirasi untuk menyingkirkan Yesus.
Ketika kesempatan itu datang, Yudas menghadap para imam kepala dan berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku supaya aku menyerahkan Dia kepadamu?” Mereka membayar tigapuluh uang perak kepadanya. Sejak saat itu mereka bersekongkol.
Pemufakatan jahat sering terjadi di sekitar kita. Kalau ada orang baik berjuang keras ingin memajukan suatu bangsa, pasti banyak yang membencinya. Kalau ada orang jujur ingin menolong masyarakat, pasti ada yang berusaha menjegalnya.
Mereka yang kepentingannya terancam secara ekonomi, politik dan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) pasti akan membuat persekongkolan. Tetaplah menjadi pribadi yang baik, jujur, bersih dan tulus ikhlas. Kita percaya, orang baik pasti akan didukung banyak orang.
Pagi-pagi makan bubur
Bubur Padang banyaklah kuah
Bertemanlah dengan orang baik dan jujur
Anda akan mendapatkan banyak berkah
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 16.04.19 Yohanes 13:21-33.36-38 “Tu Quoque, Brute, Fili Mi”
SEBELUM Julius Caesar menghembuskan nafas terakhir, ia berkata kepada Brutus, “Tu quoque, Brute, fili mi ( Engkau juga Brutus, anakku! ). Brutus adalah pengkhianat. Padahal ia telah dianggap seperti anaknya sendiri oleh Julius Caesar. Ia memimpin para senator Romawi untuk melakukan kudeta.
Waktu itu Caesar diminta menandatangani petisi palsu yang dibuat para senator. Mereka meminta Caesar mengembalikan mandat kekuasaan kepada para senator. Melihat akal bulus mereka, Markus Antonius mengingatkan Caesar untuk tidak hadir di forum majelis senat.
Tetapi Brutus berhasil membujuk Caesar. Saat Caesar membaca petisi “akal-akalan” di podium. Ia ditusuk dari belakang. Ia tersungkur dan ditikam oleh belati Brutus. Sebelum menutup mata, Caesar masih sempat melihat Brutus memegang belati bersimbah darah. Caesar sempat berujar, “Engkau juga Brutus, anakku, ikut bersama dengan para pengkhianat ini”.
Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana Yesus meramalkan kematianNya. Ia tahu bahwa ada orang yang akan berkhianat dari antara murid-muridNya sendiri. Dalam sebuah perjamuan Paskah bersama dengan murid-murdNya, Ia membuka rahasia itu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku”.
Suasana menjadi mencekam. Mereka saling berpandangan tidak percaya. Maka Petrus meminta kepada murid yang dikasihi Yesus untuk bertanya, siapakah orang itu? Maka Yesus berterus terang, “Dia adalah orang, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya”. Dialah Yudas Iskariot.
Musuh yang paling berbahaya bukan orang lain, tetapi justru teman sendiri. Ia tersembunyi dan tak bisa diduga sebelumnya. Hati-hati sahabat bisa menikam dari belakang. Walaupun Yesus tahu siapa pengkhianatNya, Ia tetap konsisten mengasihi murid-muridNya. Ia tidak panik. Ia tidak marah.
Apalagi gebrak-gebrak meja! Yesus tetap fokus pada kehendak BapaNya. Bapa mengasihi manusia tanpa batas. Begitu juga Yesus mengasihi kita sampai pada akhirnya. Terimakasih Tuhan atas kasihMu yang sungguh besar. Dengan apakah aku bisa membalasnya?
Ke Gedongsongo jalannya naik
Kalau turun kita ke Semarang
Sungguh beruntung punya sahabat baik
Hati-hati bisa menikam dari belakang
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 15.04.19 Yohanes 12:1-11 Beda Persepsi
KETIKA kami turun dari Candi Gedongsongo, rombongan kami berhenti untuk beristirahat dengan duduk-duduk di jembatan kecil. Jalanan itu adalah jalur kuda yang naik-turun membawa penumpang yang tidak mampu berjalan kaki. Sedang kami menghilangkan letih, tiba-tiba ada serombongan kuda lewat.
Salah satu kuda itu berhenti persis di depan kami dan membuang kotoran. Sambil mengumpat, “Kuda sialan, buang kotoran aja kok persis di sini” kami menghindar lari. Bau kotoran itu menyengat, menyebar kemana-mana.
Namun ada seorang bapak, nampaknya dia seorang petani di situ, lewat sambil berguman mengucap syukur, “Makasih Da, Kuda, kotoranmu bikin tanah di sini subur”. Ia melempar kotoran kuda itu ke ladang di dekat situ.
Bagi kami orang kota, kotoran kuda itu bau dan menjijikkan. Tetapi bagi pak tani, kotoran kuda itu pupuk alami yang sangat berguna untuk menyuburkan tanah. Beda cara pandangnya!
Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana satu peristiwa dilihat secara berbeda. Maria saudara Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus, meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal. Ia melakukan itu untuk menghormati Yesus dan berterimakasih kepadaNya karena telah membangkitkan saudaranya.
Namun bagi Yudas Iskariot, tindakan itu dinilai memboroskan dan menghambur-hamburkan uang saja. Minyak narwastu itu bisa dijual seharga tigaratus dinar! Upah pekerja sehari adalah satu dinar. Minyak wangi itu setara gaji pekerja selama hampir setahun! Bagi Yudas, uang sebanyak itu bisa dibagikan kepada orang-orang miskin.
Namun kata-kata Yudas itu hanya kamuflase saja. Pikirannya bukan tertuju kepada orang miskin. Tetapi uang sebanyak itu bisa dikorupsi. Keterangan dibalik ungkapan itu harus kita baca: “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memerhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya”.
Maria meminyaki kaki Yesus karena ia mengetahui saat kematian Yesus sudah dekat. Ia menunjukkan cinta baktinya kepada Tuhan. Bagi Tuhan kita tidak boleh perhitungan. Memberi kolekte saja kita pelit. Tetapi kalau membeli pulsa HP diprioritaskan. Kita bisa belajar dari Maria yang murah hati karena Tuhan juga telah murah hati.
Pramuka harus pandai tali temali
Suatu saat berguna untuk menangkap pencuri
Memberi dengan murah hati
Akan dibalas dengan kasih yang tak pernah berhenti
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr