Renungan Harian

Puncta 10.03.21 / Matius 5: 17-19 / Bukan Meniadakan, Tetapi Menggenapi

 

DALAM sebuah tim sepakbola, tidak hanya dibutuhkan sebelas pemain, tetapi perlu ada pemain lapis kedua atau cadangan.

Jika terjadi cedera pemain, kesebelasan itu tetap utuh kecuali kalau ada yang kena kartu merah. Pemain cadangan bukan berarti kalah kualitas dari pemain utama, ia menggenapi jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Ia sama pentingnya dengan pemain lapis atas.

Di Real Madrid ada Casimero. Di Barcelona ada Sergi Roberto. Barcelona memang punya gelandang bertahan yang baik; Andres Iniesta, Sergio Busquets, Rafinha.

Sejak Dani Alves pindah, Sergi Roberto digeser ke kanan menggantikannya. Ia melengkapi posisi Jodi Alba di kiri untuk memberi assist kepada Leonel Messi dan penyerang lain di depan.

Mereka bekerjasama untuk saling melengkapi dan mengisi di posisinya masing-masing.

Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Seperti permainan sepakbola, asalkan kita bermain baik dan mengikuti peraturan pasti akan berhasil. Namun jika permainan kita curang, keras atau kasar, kita akan dikeluarkan dengan kartu merah.

Yesus juga mengajarkan demikian. Jika kita meniadakan salah satu perintah – artinya tidak ikut aturan bermain – akan mendapat tempat paling rendah yakni dikeluarkan dari lapangan. Tidak mendapat tempat dalam Kerajaan Surga.

Sebaliknya, kalau kita melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, akan mendapat tempat yang tinggi dalam Kerajaan Surga. Jika orang bermain baik akan jadi top of the match.

Kitab Taurat itu sudah baik. Yang perlu digenapi oleh Yesus adalah pelaksanaannya. Keteladanan dari ajaran-ajaran itu yang harus disempurnakan.

Seperti dulu kita punya Pedoman Pelaksanaan dan Pengamalan Pancasila (P4). Pedomannya sudah baik. Yang belum sempurna itu pelaksanaan dan pengamalannya.

Tidak cukup hanya pengajaran, penataran P4, tetapi yang lebih penting adalah pelaksanaan dan pengamalannya.

Yesus datang untuk menggenapi yakni dengan pengamalan. Ia melaksanakan apa yang diajarkan-Nya.

Kita pun tidak cukup hanya tahu dan hapal Kitab Suci. Tetapi lebih dari itu adalah mengamalkan dan menghayatinya.

Kalau demikian maka genaplah isi Kitab Suci itu. Mari kita menggenapi isi Kitab Suci dengan mengamalkan teladan Yesus sendiri.

Kalau pintu rumah sedang terkunci.
Kita harus bisa membuka jendela.
Tidak cukup hanya hapal Kitab Suci.
Lebih penting mengamalkan isinya.

Cawas, menjaga harapan…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 09.03.21 / Matius 18:21-35 / Dendam Sejarah

 

TAHUKAH anda mengapa sebelum ini tidak ada nama Jalan Gajahmada, Jalan Hayam Wuruk atau Jalan Majapahit di Tatar Sunda? Sebaliknya juga tidak ada Jalan Siliwangi, Jalan Sunda, Jalan Pajajaran di wilayah Jawa Timur atau Jawa Tengah?

Belum lama ada Jalan Majapahit di Kota Bandung yang terletak di sisi barat Lapangan Gasibu. Sementara Jalan Hayam Wuruk mengganti nama Jalan Cimandiri yang ada di sisi barat Gedung Sate.

Pada 3 Oktober 2017, secara resmi nama Jalan Pajajaran, Jalan Prabu Siliwangi dan Jalan Majapahit dipakai untuk memberi nama Ring Road di Yogyakarta.

Untuk melanjutkan rekonsiliasi ini, pada 6 Maret 2018 diresmikan pula nama Jalan Sunda dan Jalan Prabu Siliwangi di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Sepanjang enam abad lebih tersimpan dendam kolektif yang diwariskan secara turun temurun. Hal ini diawali dengan peristiwa Bubat tahun 1357.

Waktu itu, Hayam Wuruk sebagai raja muda di Majapahit ingin melamar Putri Pajajaran, Dyah Pitaloka. Gajah Mada diutus ke Pajajaran. Akhirnya disetujui rombongan Linggabuana dan Dyah Pitaloka pergi ke Majapahit. Mereka membuat pesanggrahan di daerah Bubat.

Entah bagaimana duduk perkaranya, bukan perkawinan yang terjadi, tetapi mereka harus menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan kepada raja Majapahit. Terjadi salah paham dan perdebatan tanpa ujung. Perang tak bisa dielakkan. Linggabuana dan para prajurit dibunuh. Peristiwa ini melekat sebagai dendam sejarah.

Gubernur Ahmad Heryawan waktu itu berkata, ”Penamaan jalan tersebut menjadi langkah awal rekonsiliasi antara Sunda dan Jawa. Ini merupakan langkah konkrit anak bangsa untuk semakin memperkuat harmonisnya kebhinekaan di NKRI.”

Dalam Injil hari ini, Yesus ditanya Petrus, “Sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dendam sejarah bisa membelenggu suatu bangsa. Kita tidak bisa maju dan hidup rukun damai kalau selalu dihantui dendam kolektif. Akan selalu muncul syak prasangka buruk, balas dendam tak berkesudahan.

Pengampunan dan rekonsiliasi harus dilakukan. Kita harus berani rendah hati dan jujur mengampuni.

Tindakan simbolik para gubernur di Jawa itu adalah upaya rekonsiliasi atas dendam sejarah yang berlangsung lama. Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk menatap masa depan bersama yang lebih baik sebagai suatu bangsa.

Indahnya matahari di waktu pagi.
Bersinar cemerlang bagai bidadari.
Mari kita terus dan terus mengampuni.
Biar hidup menjadi lebih heppi…

Cawas, terus menanti….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 08.03.21 / Lukas 4: 24-30 / Jangan Pernah Menyerah

 

NANCY EDISON sejenak terkejut ketika membaca surat dari guru kelas dimana anaknya belajar. Tulisan guru itu berbunyi, “Tommy, anak ibu, sangat bodoh. Kami minta ibu untuk menariknya dari sekolah.”

Nancy terhenyak sejenak. Namun ia kemudian menguatkan hatinya, “Anak saya, Tommy, bukan anak yang bodoh. Saya sendiri yang akan mengajar dan mendidik dia.”

Tommy kecil yang dinilai bodoh itu adalah Thomas Alva Edison, sang penemu lampu pijar, yang menerangi seluruh kota New York. Ia menemukan fonograf, mesin perekam suara yang kemudian dikembangkan menjadi piringan hitam. Ia juga menemukan kinetoskop, awal mula dari proyektor, pemutar film. Ada 1.093 hak paten hasil temuannya.

Anak yang dinilai bodoh dan dungu di kelas itu, oleh Nancy, ibunya dididik dengan sabar di rumah. Ibunya tidak marah anaknya dianggap bodoh. Ia tidak putus asa mendampingi anaknya.

Karena didikannya, Thomas Alva Edison menjadi anak genius yang oleh hasil penemuannya mampu mengubah dunia.

Berbeda dengan sikap Nancy, orang-orang Nasaret itu marah ketika Yesus mengatakan, “Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Mereka tidak terima. Mereka bangun, menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.

Yesus mengkritik sikap mereka yang tidak mau percaya kepada-Nya. Yesus menohok mereka dengan pengalaman Nabi Elia dan Nabi Elisa.

Nabi-nabi itu justru membuat mukjijat bagi orang-orang bukan Israel. Seorang janda di Sarfat, dekat Sidon dan Naaman orang Siria.

Di Nasaret pun Yesus juga tidak banyak membuat mukjijat karena ketidakpercayaan mereka.

Memang sulit menerima kritikan. Kita tidak senang jika ada orang menilai kelemahan kita. Namun jika kita mau introspeksi diri, menerima dengan legowo, serta mau bangkit berjuang, pasti ada berkat yang luar biasa. mukjijat bisa terjadi.

Nancy Edison itu tidak marah dan putus asa. Ia tegar dan bangkit mendidik anaknya. Thomas Alva Edison menjadi penemu penting yang mempengaruhi dunia sampai sekarang.

Andai orang-orang Nasaret itu tidak marah dan menolak Yesus, pasti ada banyak mukjijat terjadi di sana.

Mari kita belajar rendah hati, mendengarkan masukan dan kritikan orang. Tidak putus asa jika kita punya kelemahan, tetapi bangkit teguh berjuang.

Jika kelemahan bisa diubah menjadi kekuatan, maka kegagalan itu hanyalah keberhasian yang tertunda.

Sungguh segar minum sereh dan jeruk.
Ditambah lagi dengan sesendok madu.
Jangan mudah putus asa dan terpuruk.
Kritikan adalah cambuk untuk maju.

Cawas, bulan jarang nampak….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 07.03.21 / Minggu Prapaskah III / Yohanes 2:13-25

 

“Rombak Bait Suci”

SEBELUM naik ke Gunung Sinai, ada ngarai luas di padang gurun, dekat Biara St. Chatarine. Dari kejauhan terlihat sebuah batu yang berbeda dari yang lainnya. Batu besar itu tergambar siluet seekor lembu. Achmad si guide lokal menceritakan kepada kami kepercayaan yang terjadi dalam Kitab Suci.

Ketika Musa turun dari Gunung Sinai, didapatinya Bangsa Israel menyembah seekor lembu emas. Mereka berpaling dari Yahwe. Musa marah dan melemparkan patung lembu emas itu ke batu. Sampai sekarang gambar lembu itu terpatri pada batu.

Achmad berkata, “Itulah peringatan kepada kita semua supaya hanya menyembah Tuhan Allah saja, jangan menyembah alah-alah lain.”

Dalam Injil hari ini, Yesus membuat tindakan dramatis dan simbolik. Ia mengusir para pedagang kambing, domba, lembu dan merpati. Ia menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang di Bait Suci. Ia memperingatkan kepada orang banyak, “Jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”

Yesus mencanangkan revolusi mental. Bait Suci bukan tempat bisnis transaksional. Bait Suci adalah tempat membangun relasi berdasarkan kasih Allah, bukan untung rugi demi kepentingan pribadi.

Logika dagang dengan prinsip untung rugi diganti dengan logika kasih dengan prinsip pengorbanan.

Yesus menganalogkan diri-Nya sebagai Bait Suci. “Rombaklah Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”

Yesus mengingatkan kembali bagaimana relasi dengan Allah harus dibangun melalui Diri-Nya sebagai Bait Allah.

Dalam bacaan pertama, Musa juga mengingatkan Bangsa Israel untuk terus membangun relasi dengan Allah dengan mentaati hukum-hukum-Nya. Jangan pernah menyeleweng dan meninggalkan Allah. Jangan percaya pada dewa-dewa buatan tangan manusia.

Apakah kita masih sering bertransaksi dengan Allah? Apakah kita ke gereja masih dengan logika dagang? Kalau tidak menguntungkan, tidak mau berelasi dengan Allah?

Pengin jalan-jalan ke Pulau Bali.
Kangen nasi lawar dengan sup babi.
Dengan Tuhan jangan mikir untung rugi.
Kasih Tuhan bagi kita hanya ingin memberi.

Cawas, nyanyian jiwa….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, P

Puncta 06.03.21 // Lukas 15:1-3.11-32

 

Dasyatnya Memaafkan:
“Tie A Yellow Ribbon Round The Old Oak Tree”

I’m coming home. I’ve done my time.
Now I’ve got to know what is and is it mine.
If you received my letter telling you I’d soon be free,
Then you’ll know just what to do if you still want me,

SEPENGGAL syair lagu di atas pernah menduduki puncak tangga lagu dunia di tahun 1973. Lagu itu ditulis berdasar kisah nyata tentang dasyatnya pengampunan.

Seorang suami tinggal di daerah White Oak, Georgia. Ia punya istri yang cantik. Tetapi setiap malam ia mabuk dan suka cekcok dan memukuli anak-istrinya.

Ia mencuri deposito istrinya dan pergi ke New York. Di sana ia mencoba bisnis tapi bangkrut. Lalu ia terlibat penipuan, kejahatan narkotika dan sex bebas. Akhirnya ditangkap polisi dan dipenjara selama tiga tahun.

Ketika hari pembebasan hampir tiba, ia menulis surat kepada istrinya. Ia rindu berkumpul di tengah keluarga. Ia berharap istri dan anak-anaknya mau menerima dan memaafkannya.

“Sayangku, jika engkau masih ingin aku kembali kepadamu, ikatkanlah sehelai pita kuning pada salah satu pohon Oak yang ada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, maka tidaklah mengapa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis dan akan terus melanjutkan perjalananku ke Miami.” Demikian tulisnya.

Hari pembebasan tiba. Ia naik bus menuju Miami, Florida. Ia akan melewati kota kecil White Oak, tempat istri dan anak-anaknya. Ia mohon kepada sopir bus untuk berjalan pelan-pelan saat melewati pusat kota. Ia ingin melihat apakah ada sehelai pita kuning terikat di pohon oak.

Tiba-tiba keheningan pecah. Semua orang di bus bersorak dan bertepuk tangan. Tidak hanya sehelai pita kuning, tetapi ratusan pita kuning bergelantungan di pohon tua itu. Ia menangis tersedu-sedu.

Istri dan anak-anaknya masih menunggu dan mengasihinya. Istri dan anak-anaknya berlari menyambutnya. Mereka berpelukan. Itulah dasyatnya pengampunan.

Begitulah Allah seperti Bapa yang baik hati, selalu mengampuni anak-anak-Nya yang berdosa. “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”

Jika seorang ibu bisa mengampuni suaminya yang telah berkhianat padanya, betapa Allah yang maharahim akan mengampuni kita yang telah berdosa. Itulah dasyatnya kasih Allah.

Jalan-jalan di kota Surabaya.
Makan rawon dengan telur asinnya.
Pengampunan Allah selalu terbuka.
Asal kita mau datang kepada-Nya.

Cawas, senandung rindu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr