Renungan Harian

Puncta 05.03.21 / Matius 21:33-43.45-46 / “Ditulung Malah Menthung”

 

RAHWANA yang gila kuasa ingin merebut Gua Kiskenda, wilayah Subali. Ia berperang melawan Subali. Namun Rahwana kalah oleh ajian Pancasona yang dimiliki Subali. Subali mengampuni Rahwana. Bahkan diterima sebagai muridnya.

Hasrat ingin memiliki ajian Pancasona, membuat Rahwana bermuka manis. Ia pandai menjilat, membujuk rayu, berpura-pura baik. Ia mau menjaga keselamatan Subali bahkan jika harus mengorbakan nyawa sekalipun. Ia mohon agar aji Pancasona diberikan kepadanya supaya bisa melindungi Subali.

Subali termakan tipu muslihat Rahwana. Ia mewariskan aji Pancasona kepada muridnya yang pandai bersandiwara itu. Aji Pancasona jatuh ke tangan Rahwana. Ia makin digdaya dan ingin menguasai seluruh dunia.

Karena yang tahu rahasia ajian itu hanya Subali, Rahwana takut kalau-kalau Subali mengambilnya kembali.

Maka rahwana mencari tipu daya untuk membunuh Subali. Ia kemudian mengadu-domba Subali dan Sugriwa, adiknya.

Rahwana memainkan gosip yang membuat Subali marah. Ia bercerita bahwa Dewi Tara, kekasih Subali diperlakukan buruk oleh Sugriwa. Kakak beradik ini berkelahi. Matilah Subali oleh tipu daya Rahwana.

Begitulah Rahwana ini orang yang “ditulung malah menthung.” Ia ditolong oleh Subali, tetapi dia justru mencelakai dan mengarah kematian orang yang sudah menolongnya.

Yesus membuat perumpamaan tentang penggarap kebun anggur yang jahat. Mereka sudah ditolong, boleh menggarap kebun anggur. Tetapi mereka justru menangkap, memukul para hamba, bahkan membunuh anak pemilik kebun anggur. Mereka ingin merampas kebun anggur itu.

Itulah sindiran bagi para imam-imam dan tua-tua Bangsa Yahudi. Mereka membunuh anak pemilik kebun anggur itu. Mereka menolak dan membunuh Yesus. Oleh karenanya keselamatan diberikan kepada bangsa-bangsa lain.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita seperti para imam dan tua-tua Yahudi? Apakah kita sebagai orang yang tak tahu diuntung? Tak tahu berterimakasih? Menyia-nyiakan keselamatan yang diberikan Tuhan?

Taman subur penuh rerumputan,
Tiap hari disiram dengan air hujan.
Tuhan menawarkan keselamatan,
Janganlah kita membuang kesempatan.

Cawas, senja itu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 04.03.21 / Lukas 16:19-31 / Jangan Siakan Kesempatan

 

Hidup ini adalah kesempatan.
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat.

Kendati lagu ini sederhana, namun sarat maknanya. Waktu adalah kesempatan dan peluang yang tak mungkin datang kembali. Maka kesempatan itu jangan pernah disia-siakan. Waktu untuk menjadi berkat itu jangan pernah dibuang percuma. Nanti kita akan menyesal seumur hidup.

Cerita tentang orang kaya dan Lazarus menjelaskan agar kita tidak membuang kesempatan untuk menjadi berkah bagi orang lain.

Orang kaya itu selalu memakai jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari bersuka ria dalam kemewahan. Ia sangat menikmati kemewahannya dan lupa ada orang miskin di sampingnya.

Hidup dan kekayaannya hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak peduli terhadap dunia sekitarnya. Tembok egoisme menutupi hatinya. Ia sudah merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Di pintu hatinya sudah ada peringatan “Awas ada anjing galak.”

Orang kaya itu tidak mau mendekati si miskin. Tetapi anjing-anjingnya yang dilepas untuk menjilati borok-borok orang miskin itu.

Kesempatan agar hidup menjadi berkat musnah karena egoisme pribadi. Ketika dia harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Sang Hakim Agung, orang kaya itu terlempar ke tempat penyiksaan abadi.

Sementara Lazarus si miskin itu membiarkan dirinya dijilati anjing-anjing si kaya. Ia memberikan dirinya untuk hidup makhluk lain. Ketika dia mati, pangkuan Bapa Abraham sudah menantinya.

Ia yang mau berkorban, pada akhirnya memperoleh kemuliaan. Ia yang rela menderita, akhirnya memperoleh pahala.

Waktu tidak bisa diputar mundur. Peluang hilang. Kesempatan lenyap. Kebaikan sirna tak bisa diulang kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri. Ambil waktu dan tarik kesempatan serta sambar peluang sekecil apa pun untuk berbuat baik.

Karena bukan apa yang kita miliki yang akan menentukan hidup kita kemudian, tetapi apa yang kita buat terhadap saudara kita yang lemah, miskin, kecil dan tersingkir. Sudahkah kita ambil peluang berbuat baik?

Berakit-rakit ke hulu,
Berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu,
Bersenang-senang kemudian.

Cawas, ambil peluangmu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 03.03.21 / Matius 20:17-28 / Terjerat Kuasa, Raja Cotys Bertindak Bengis

 

KEKUASAAN membutakan Raja Cotys. Ia ingin menjadi penguasa tunggal di Trisea. Ia memerintah dengan tangan besi. Siapa pun yang melawan dibunuh. Suami Argenia dibunuh. Rhesus lari dari kekejaman Cotys.

Ia mengumpulkan prajurit yang tidak senang dengan kelaliman Cotys. Ia memberontak melawan raja yang menindas rakyatnya. Ia dan pasukan Centaurus menjadi musuh paling menakutkan di Trisea.

Hercules bersama teman-temannya; Lolaus, Tydeus, Autolicus, Atlanta, dan Amphyraus disewa oleh Raja Cotys untuk melawan pemberontak. Pada awalnya Hercules tidak tahu bahwa dirinya diperalat oleh Raja untuk melenyapkan Rhesus.

Namun setelah diberitahu apa yang terjadi sesungguhnya oleh Argenia, bahwa ayahnya adalah raja yang bengis, Hercules berbalik melawan raja. Ia berhasil membebaskan rakyat Trisea dari kelaliman. Itulah kisah legenda Hercules dalam Film “Hercules, The Trisian War.”

Kekuasaan adalah godaan yang paling besar bagi manusia. Itulah yang dialami anak-anak Zebedeus. Yang menjadi aktor intelektualisnya adalah ibu Yohanes dan Yakobus.

Ibu itu datang kepada Yesus dan meminta, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini kelak boleh duduk di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu, dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Yesus tidak menjanjikan kedudukan atau kekuasaan. Ia justru menuntut syarat bagi murid-murid-Nya jika mereka ingin mengikuti-Nya yakni sanggup meminum cawan yang Dia minum.

Cawan adalah lambang pengorbanan, berani menumpahkan darah.

Dalam polemik ini, Yesus memberi pengajaran dan solusi bagi para murid-Nya. Kedudukan atau kekuasaan bukan untuk memerintah dengan tangan besi atau menindas rakyat. Tetapi kekuasaan atau kedudukan itu untuk melayani.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”

Lalu Yesus memberi contoh diri-Nya sendiri. “Sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Hercules berkata untuk membakar semangat para prajurit yang mau berperang, “Sekarang saatnya, buatlah legenda untuk diri kalian sendiri dengan melakukan yang terbaik bagi rakyat Trisea.”

Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk melakukan kebaikan bagi Tuhan dan sesama. Kebaikan kita akan dicatat sebagai legenda.

Membuka-buka majalah e-Relasi.
Membikin tentram dan tenang di hati.
Pelayanan adalah ciri moral Kristiani.
Mari kita tidak bosan untuk melayani.

Cawas, semangat sepanjang hari….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.03.21 / Matius 23:1-12 / Pandita Dorna

 

RESI atau Begawan Dorna adalah guru para Kurawa dan Pandawa. Ia adalah guru tata negara dan olah keprajuritan. Ia pandai – kalau tidak mau dibilang licik – dalam strategi perang.

Sebagai guru ia bersikap oportunis. Apa yang menguntungkan bagi dirinya itulah yang dilakukan. Ia berpihak kepada Kurawa karena diberi jabatan dan kedudukan di negara Hastina.

Waktu muda, Bambang Kumbayana atau Resi Dorna bersikap angkuh dan sombong. Karena tidak tahu tata krama, dia pernah dihajar oleh Patih Gandamana sampai babak belur. Wajahnya rusak, hidungnya bengkok, badannya bungkuk, tangannya patah. Hanya satu tangan yang bisa digerakkan.

Bersama Sengkuni, ia suka memprovokasi anak-anak Kurawa untuk melenyapkan Pandawa. Salah satu cara yang dia buat adalah menyuruh Bima mencari “Banyu suci perwitasari” di dasar samudera.

Perintah itu punya maksud terselubung, yakni melenyapkan salah satu kekuatan Pandawa.

Seandainya Bima berhasil, toh dia tidak merasa rugi, karena sebagai guru dia bisa menunjukkan kepada Bima ilmu yang sangat tinggi tentang “Manunggaling kawula-Gusti.”

Secara lahiriah, Bima berguru kepada Resi Dorna. Tetapi sesungguhnya Dornalah yang belajar ilmu sejati kepada Bima.

Yesus memperingatkan kepada murid-murid-Nya terhadap kaum Farisi dan Ahli-ahli Kitab.

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukannya.”

Mereka itu bukan guru yang patut “digugu lan ditiru”, tetapi “wagu tur saru.” Mereka mengikat beban berat di pundak orang, tetapi mereka sendiri tak mau menyentuhnya.

Mereka hanya senang dipuja-puja orang. Mereka senang memakai baju kesalehan, berdoa dengan berteriak-teriak biar dilihat orang dan suka dipanggil Rabi.

Mulutnya berbicara suci tetapi tangannya merampas harta orang dan kakinya menginjak bawahan.

Ajaran Yesus jelas, “Siapa pun yang terbesar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Mau sombong dan licik seperti Dorna, atau merendahkan diri seperti Bisma? Silahkan pilih sendiri.

Makan mie dari dapur sendiri.
bumbu kencur, bawang putih dan miri.
Mari belajar tulus dan rendah hati.
Dengan “empan papan” dan tahu diri.

Cawas, senja jauh di sana…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 01.03.21 / Lukas 6:36-38 / Robinhood Dari India

 

SEBAGAI bintang film termahal di India, Salman Khan tidak menjadi sombong. Ia bisa meraup honor Rp. 120 M sekali main film. Belum honor dari iklan banyak produk. Ia jadi ambasador brand berbagai merk terkenal.

Namun kekayaannya itu banyak dibagikan kepada rakyat miskin di India. Banyak desa tempat dia syuting mendapat bantuan dari Salman. Tidak kurang dari Rp. 24 M dia salurkan ke yayasan sosial. Ia memberi beasiswa pendidikan bagi anak-anak kurang mampu di India.

Dengan uang yang didapat dia membangun desa-desa miskin di India. Ia memang berasal dari keluarga miskin. Beruntung dia dapat menjadi aktor terkenal, tetapi dia tidak lupa kepada orang-orang miskin di sekitarnya.

Ada banyak anak kurang mampu diadopsi agar dapat bersekolah dan sukses.Orang-orang sakit diberi pengobatan gratis.

Masyarakat India menyebut Salman Khan sebagai Robinhood dari India. Ia banyak menolong orang miskin, sakit dan menderita. Ia mendirikan sebuah Yayasan Being Human untuk menolong mereka yang kurang mampu dan menderita.

Ia dikenal luas sebagai pribadi yang murah hati dan suka menolong orang kecil.

Hari ini Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya, “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati.” Kemurahan hati adalah sikap dasar Allah.

Yesus menggambarkan kemurahan hati itu seperti matahari yang bersinar untuk siapa pun. Orang baik ataupun orang jahat sama-sama mendapatkan terang dari matahari yang sama.

Kemurahan hati Allah itu hendaknya kita contoh. Maka Yesus menyuruh kita untuk berbagi. “Berilah, dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik dan dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.”

Tentang kemurahan hati ini, Yesus banyak memberi contoh dengan perumpamaan; Orang Samaria yang baik hati, Janda miskin yang murah hati, Bapa yang menerima anak bungsunya, Gembala yang mencari domba yang tersesat.

Tidak hanya mengajarkan, Yesus mempraktekkan kemurahan hati Allah itu dengan semangat pengampunan. Ia mengampuni perempuan yang berzinah. Ia bahkan mengampuni para musuh yang menyalibkan-Nya. Ia menjanjikan firdaus bagi penyamun yang bertobat. Yesus adalah wajah kemurahan hati Bapa.

Maka Ia mengajak kita semua untuk murah hati. “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati.” Maukah kita bersikap murah hati?

Virus corona sungguh berbahaya.
Kita harus hati-hati dan waspada.
Untuk murah hati tidak harus kaya.
Hati adalah modal utamanya.

Cawas, mensyukuri hidup….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr