Puncta 29.01.21 – Th B/1 Pekan Biasa III – Markus 4: 26-34
Kerajaan Allah Itu Hidup.
“Eee.. iba senenge kanca tani yen nyawang tandurane
nyambut gawe awak sayah seneng atine
Parine lemu-lemu palawija lan uga sak wernane
katon subur, kabeh tuwuh kang sarwa tinandur
Panyuwunku tinebehna saking sambikala
sih ing gusti mugi-mugi lestari widada
sayuk rukun rame-rame gotong-royong kang dadi semboyane
kanca tani saka guru tumrap negarane”
(Betapa bahagia para petani melihat tanaman padinya. Kerja keras badan lelah namun senang hatinya. Padinya subur-subur. Begitu pun palawija dan jenis lainnya. Semua kelihatan subur apa saja yang ditanamnya. Permohonanku dijauhkan dari segala marabahaya. Berkat Tuhan semoga lestari semuanya. Hidup bersama dengan rukun dan gotong royong itulah semboyannya. Petani adalah pilar bagi negaranya)
LAGU Campursari berjudul “Kanca Tani” dari Manthous itu mengalun bikin adem di hati. Rasanya sungguh membahagiakan melihat tanaman padi yang hijau subur. Namun tanaman padi itu harus dijaga karena ada banyak hama.
“Gak bisa tidur romo, setiap malam di sawah menjaga padi yang baru tumbuh. Hama tikus merajalela menyerbu tanaman.” Kata Pak Tarno yang punya beberapa petak sawah. Adik saya di rumah juga harus mengganti tanaman padinya yang baru berumur sebulan karena diserang ribuan keong emas.
Kita hanya menanam. Tuhan yang menumbuhkan dan melestarikan. Jika itu rejeki kita, Tuhan yang akan menjaganya dari segala mara bahaya. Tuhan sudah menghitung rejeki kita. Itulah keyakinan para petani.
Hari ini Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang Kerajaan Allah. “Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah.”
Juga seperti biji sesawi yang ditaburkan orang. Biji itu akan tumbuh menjadi besar dan bercabang-cabang.
Allah itu berkarya tanpa kita sadari. Ia memberi hidup dan pertumbuhan. Kehidupan itulah tanda Allah yang hadir.
Para petani biasanya peka terhadap Allah karena mereka dekat dengan kehidupan. Mari kita membuka hati agar bisa mengenali kehadiran Allah dalam hidup kita.
Gunung Merapi nampak perkasa.
Memuntahkan berjuta juta lava.
Allah nyata hadir di tengah kita.
Mari kita sujud mengakui kuasa-Nya.
Cawas, kain berbunga-bunga….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
*Ada* *pesan* *sponsor* dari lagu Didi Kempot :
Sewu kuta uwis tak liwati
Sewu like tak golekki
Ayo kabeh pada nganggo driji
Nunul Klik di sini …..
https://www.instagram.com/p/CJqLzgTFly1/?igshid=gmqnrljqw0xp
(Jangan lupa di klik)
Puncta 28.01.21 / PW St. Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja / Markus 4: 21-25
Ukuran Seorang Tukang Jahit
SEORANG penjahit terkenal, Roshan Melwani sering diminta untuk membuatkan pakaian orang-orang top. Ia mengukur dengan teliti desain dan polanya. Apa yang dihasilkannya sangat disukai banyak orang. Pelanggannya bukan orang biasa, tetapi orang-orang hebat, mulai dari artis top sampai presiden.
Dia punya sebuah trik atau prinsip dalam menggeluti pekerjaannya. “Berikan apa yang konsumen inginkan.” Ukurannya bukan apa yang dia suka, tetapi apa yang dimaui konsumennya. Ia ingin memuaskan pelanggannya.
Ia membuat ukuran demi kepuasan pelanggan. Karena dia sangat menghargai konsumennya, maka hasil karyanya disukai banyak orang dan dihargai tinggi. Ia mengukur bukan berdasarkan penilaiannya sendiri, melainkan apa yang diingini kustomernya.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya dalam pengajaran-Nya, “Camkanlah apa yang kamu dengar. Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan dikenakan pula padamu, malah akan ditambah lagi.”
Kalau kita menilai atau mengukur orang lain dari segi kedisiplinannya, ukuran disiplin itu juga akan diukurkan atau diterapkan pada kita, bahkan mereka bisa menuntut lebih. Begitu pula kalau kita menuntut orang lain jujur, maka nilai kejujuran itu akan dituntut dari kita juga.
Prinsip moralnya adalah apa yang kamu kehendaki orang lain perbuat bagimu, perbuatlah juga demikian untukmu. Jangan sampai kita hanya seperti “tong kosong berbunyi nyaring.” Banyak ngomong menuntut orang lain berbuat demikian, tetapi kita tak pernah melakukannya.
Seperti Roshan itu, kalau kita ingin dihargai, maka hargailah keinginan atau harapan pelangganmu. Ukuran apa yang kita cantolkan kepada seseorang, begitu pun ukuran itu akan dipakaikan kepada kita.
Taplak meja berbentuk segitiga.
Gambarnya aneka jenis bunga.
Kalau kita mengukur dan menilai sesama.
Nilai itu akan diterapkan pada kita.
Cawas, bunga mekar….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 27.01.21 / Markus 4:1-20 / Pengalaman Eksotik di Pinggir Sungai
AWAL-AWAL tugas di Nanga Tayap, saya diajak oleh OMK untuk mendampingi camping. Jangan membayangkan sebuah tempat wisata dengan tenda-tenda yang siap dengan segala peralatan serba enak. Mereka memilih sebuah tempat lapang di pinggir Sungai Tigal, di tengah kawasan hutan.
Pak Lengkeng, Juki dan OMK dewasa mendirikan tenda dari terpal, begitu pun alasnya. Apa pun yang ada di hutan dipakai untuk membuat tempat berteduh.
Ketika mau misa pembukaan, Juki punya ide kreatif. Karena tanah datarnya sempit, mereka duduk di pinggir sungai. Juki dan Lengkeng membuat altar di sungai yang dangkal. Mereka menumpuk batu-batu dan di atasnya diberi papan. Bu Dora dan Asih mengalasi altar dengan kain. Ada yang memotong kayu, dibuat salib dan ditancapkan di samping altar. Sangat eksotik.
Para OMK duduk tanpa alas di tanah yang datar. Saya memimpin misa di pinggir sungai yang dangkal. Airnya jernih mengalir deras setinggi mata kaki.
Setelah misa kami berpesta makan buah nangka, hasil buruan Pak Lengkeng di tengah hutan. Buahnya besar-besar dan sangat manis. Mungkin sisa-sisa para monyet di hutan.
Yesus mengajar di tepi danau Galilea. Datanglah orang yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia. Para murid yang nelayan itu punya ide kreatif. Yesus disuruh duduk di sebuah perahu dan orang-orang ada di pinggir danau. Yesus leluasa mengajar banyak hal tanpa didesak-desak orang banyak.
Yesus berbicara dengan perumpamaan. Kali ini seorang penabur menaburkan benih. Ada yang jatuh di pinggir jalan, ada yang di tanah berbatu, ada yang di semak berduri, dan sebagian di tanah yang subur.
Benih itu adalah sabda Allah. Tanah itu adalah para pendengarnya. Tanah yang baik akan menghasilkan buah berlipat-lipat. Tanah yang tidak baik tidak menghasilkan secara maksimal.
Kalau kita ini diumpamakan sebagai tanah, lalu tanah macam apakah kita ini? Berbatu-batu atau penuh semak duri, atau tanah yang subur? Jika tanah subur, seberapa besarkah hasilnya? Jika belum menghasilkan buah, apa yang harus kita lakukan?
Silahkan direnungkan sendiri.
Kain sutera bersegita ungu.
Menghiasi di atas meja rapat.
Tuhan menaburkan benih baru.
Berharap hasilnya berlipat-lipat.
Cawas, bermain double….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 26.01.21 / PW St. Timotius dan Titus, Uskup / Lukas 10:1-9
“Dwi Tunggal”
KITA mempunyai uang kertas paling tinggi nilainya, yaitu seratus ribu rupiah. Di situ ada gambar dua orang paling berjasa bagi Indonesia yakni Sukarno dan Mohamad Hatta. Nama keduanya tak bisa dipisahkan. Dalam naskah proklamasi kedua nama itu tertera mewakili seluruh rakyat Indonesia menjadi bangsa merdeka.
Keduanya berjuang demi Indonesia merdeka. Nama keduanya tertulis dalam tinta emas sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama dari bangsa yang masih muda.
Sayang dwi tunggal itu bubar setelah sepuluh tahun Indonesia merdeka. Hatta mundur karena tidak setuju dengan ide politik Sukarno yang mengusulkan pemerintahan dengan sistem demokrasi terpimpin. Model seperti itu hanya akan melahirkan diktator.
Hari ini kita memperingati dalam gereja tokoh dwitunggal yakni Timotius dan Titus. Keduanya adalah murid St. Paulus. Timotius memimpin jemaat di Efesus.Titus menjadi uskup di Kreta. Timotius sering menjadi teman Paulus dalam perjalanan mewartakan Injil. Titus sering diutus memperdamaikan pertikaian di antara jemaat. Timotius wafat sebagai martir seperti Paulus. Titus menjaga jemaat sampai akhir hayat dengan setia.
Pada saat ini pun Tuhan membutuhkan pekerja yang berani menjaga domba-domba-Nya. Tuhan membutuhkan pekerja-pekerja. “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”
Siapkah kita menjadi pekerja Tuhan, diutus masuk seperti domba di tengah-tengah serigala? Memang tidak mudah menjadi pekerja. Kadang tidak diterima, tidak dipercaya, dibenci, digosipin dan tidak dianggap.
Jika kita benar-benar diutus, kita tidak boleh mundur dan putus asa.
Tugas kita adalah mewartakan kabar gembira dan Tuhanlah yang akan bekerja menyelesaikannya.
Mari kita tekun dan setia seperti St. Timotius dan Titus. Ketekunan akan membuahkan hasil yang berlimpah pada saatnya.
Naik kuda keluar masuk kota.
Jangan lupa memakai kacamata.
Kita diutus wartakan kabar gembira.
Mari kita jalani dengan sukacita.
Cawas, jangan lupa bahagia….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 25.01.21 / Pesta Bertobatnya St. Paulus / Pekan Doa Sedunia / Markus 16:15-18
“Aswatama Tidak Percaya”
ASWATAMA diusir dari istana Hastinapura karena menuduh Prabu Salya berbuat licik hingga menyebabkan Karna gugur. Ia lari ke hutan sampai perang Baratayuda selesai.
Ketika tahu para ksatria Kurawa sudah habis, ia berniat membalas sakit hati dan maju berperang menghabisi para Pandawa dan keturunannya.
Waktu itu Parikesit, anak Abimanyu sudah lahir. Dialah pewaris tahta Hastinapura setelah kerajaan dikuasai para Pandawa. Aswatama ingin membunuh Parikesit. Tapi dia bingung bagaimana caranya menuju ke Keputren Wirata.
Bathari Wilutama, ibunya datang membantu. Aswatama disuruh membuat “luweng” atau lorong bawah tanah menuju Keputren. Lorong itu sangat gelap.
Untuk memberi terang di lorong yang gelap itu, Bathari Wilutama mau membantu tetapi ada syaratnya. “Anakku Aswatama, aku akan berjalan di belakangmu memberi cahaya agar jalanmu terang benderang, tetapi engkau tidak boleh menoleh ke belakang, apakah kamu sanggup?” Aswatama menyanggupi.
Lorong yang gelap itu seketika terang benderang seperti disinari matahari. Aswatama dengan mudah menyusurinya.
Lama kelamaan dia curiga dan tidak percaya, seorang perempuan bisa membawa cahaya yang begitu terang. Ia menoleh ingin melihat apa sebenarnya cahaya itu. Dia terperangah, karena cahaya itu berasal dari matahari kembar dari dada Bethari Wilutama.
Sang Bethari terkejut ketika Aswatama menoleh ke belakang, seketika itu juga dia hilang dan kegelapan melingkupi Aswatama.
Terdengar suara Wilutama, “Heh.. Aswatama, anak tak tahu diuntung. Karena kamu mengingkari janjimu, kamu nanti akan mati oleh bayi yang sedang menyusui.” Benarlah, Aswatama mati di tangan Parikesit. Karena tidak percaya dan melanggar janjinya, ia dihukum.
Hari ini Gereja merayakan pertobatan St. Paulus. Ia percaya seyakin-yakinnya bahwa Yesuslah Putera Allah. Paulus kemudian mewartakan Injil Yesus ke segala penjuru dunia. Ia rasul bagi segala bangsa.
Yesus memberi perintah agung bagi murid-murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”
Aswatama tidak percaya dan melanggar perintah ibunya, Bethari Wilutama. Ia dihukum. Niatnya untuk membalas dendam tidak tercapai. Bahkan dia sendiri dibunuh oleh seorang bayi yang masih menyusui, yakni Parikesit.
Mari kita percaya kepada Injil, dan memberitakannya kepada semua orang. Teladan hidup baik itulah cara kita membawa Injil kepada semua orang.
Kalau kita terserang virus corona.
Salah satu gejalanya adalah batuk-batuk.
Perintah agung diberikan kepada kita.
Wartakan Injil kepada segala makhluk.
Cawas, baju batik Bali…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr