Puncta 11.12.20 / Matius 11:16-19 / Didi Kempot: Pelantun kidung duka, penonton berjoget ria
MASIH ingat penyanyi Didi Kempot, pelantun lagu-lagu sedih patah hati? Sebagian besar lagunya menggambarkan perasaan orang yang ditinggalkan kekasihnya.
Semisal lagu Cidra, Stasiun Balapan, Sewu Kutha, Tatu, Pantai Klayar dan masih banyak lagi. Hampir semua isi lagunya berkisah tentang kesedihan, patah hati, ditinggal pacar atau kekasih. Hati yang hancur dan pilu karena orang yang dikasihi ternyata ingkar janji.
Tetapi kendati lagunya bernuansa sedih, Didi Kempot mengajak penggemarnya untuk tetap berdendang dan menari. “Tinimbang lara ati luwih becik dijogedi” katanya kepada sobat ambyar penggemarnya. Kalimat itu berarti “daripada sakit hati lebih baik dibuat bisa berjoget menari.”
Ada penonton yang bisa menangis hanyut terbawa syair lagu Didi, tetapi dia masih bisa bergoyang menikmati alunan musiknya. Itulah daya kekuatan Didi Kempot yang disukai banyak orang.
Dari banyak konser dan pentas, tidak pernah terdengar ada tawuran atau perkelahian antar penonton seperti konser-konser musik lainnya.
Didi Kempot menghipnotis penontonnya walaupun hatinya sedih teriris-iris ditinggal kekasih, namun tetap bisa bergoyang menari dan pulang dengan perasaan puas penuh kegembiraan dan sukacita.
Hari ini Yesus menyindir para pendengarnya, orang-orang banyak yang datang mendengar ajaran-Nya. “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya, ‘Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak berkabung.”
Itulah yang dilakukan Didi Kempot. Lagunya senandung duka, tetapi penggemarnya tidak meratap malah menari bersukacita.
Yesus dan Yohanes Pembaptis datang menjadi utusan Allah. Mereka menuntun bangsa Israel untuk kembali kepada Allah. Yesus mewartakan Kerajaan Allah sudah dekat.
Yohanes Pembaptis demikian juga. Hanya cara pewartaannya yang berbeda. Tetapi orang-orang menolaknya. Yohanes dinilai sebagai orang yang kerasukan setan. Yesus dipandang dekat dengan pemungut cukai, orang berdosa, pemakan dan peminum.
Tidak mungkinlah memuaskan keinginan semua orang. Kita pasti tidak mampu memenuhi kemauan semua orang. Selalu akan ada yang pro dan kontra.
Yang paling penting adalah konsisten. Yesus dan Yohanes Pembaptis konsisten mewartakan Kerajaan Allah. Kendati tidak diterima, bahkan ditolak, namun tetap konsisten. Akhirnya hikmat Allah akan dinyatakan oleh kekonsistenannya.
Beranikah kita berjuang mengikuti Yesus dengan konsisten, kendati tantangan bertubi-tubi silih berganti?
Melihat foto di pantai bergandengan.
Laksana ombak bergulung kejar-kejaran.
Mari konsisten mewartakan kebaikan.
Kendati sering dibenci dan dikucilkan.
Cawas, coblosan sukses…
Rm. Alexandre JokoPurwanto, Pr
Puncta 10.12.20 / Matius 11:11-15 / Pandhita Tanah Sabrang
MIMBAR-mimbar kotbah di lingkungan kita sekarang ini dipenuhi dengan ujaran-ujaran kebencian. Pengkotbah yang satu menyerang pengkotbah yang lain.
Bukan kata-kata menyejukkan yang keluar untuk mencerahkan umat, tetapi justru memprovokasi untuk saling membenci, menjelek-jelekan dan menyerang. Bahkan kata-kata kotor dan saru muncrat dari mulut yang berbuih-buih.
Lebih brutal lagi situasi di dunia maya. Orang saling menghujat dan menebar permusuhan. Orang merasa tidak dibatasi lagi, saling serang dengan ujaran kebencian. Padahal ada UU ITE yang bisa menjerat orang karena menimbulkan ketidak-nyamanan.
Dalam Injil hari ini, Yesus memuji dan menghormati Yohanes Pembaptis. Ia berkata, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.”
Yohanes Pembaptis dan Yesus sama-sama sebagai “guru rohani”. Mereka sama-sama punya murid atau pengikut. Di antara para murid mereka juga ada persaingan. Bagaimana murid-murid Yesus merasa tersaingi ketika ada murid-murid Yohanes melakukan praktek pembaptisan di sungai Yordan.
Namun antara Yohanes Pembaptis dan Yesus tidak saling menyerang atau menjatuhkan. Yohanes malah berkata, “Dia harus menjadi lebih besar, dan aku harus menjadi lebih kecil.” Ini adalah bukti kerendahan hati seorang guru sejati.
Sebaliknya Yesus juga menghormati Yohanes dengan menyejajarkan dengan nabi besar zaman dahulu yakni Elia. Yesus berkata, “Jika kalian mau menerimanya, Yohanes itulah Elia yang akan datang.”
Guru rohani atau pengkotbah yang baik tidak akan menyerang orang lain dengan kasar dan sombong. Kalau dalam pewayangan, sikap seperti itu biasanya ditunjukkan oleh pandita-pandita Tanah Sabrang. Mereka itu adalah penjelmaan Bathara Kala dan Bathari Durga yang jahat.
Mereka menjelma menjadi pandita yang ingin menghancurkan para ksatria yang baik. Kedok mereka akan terbongkar ketika Semar (rakyat kecil) bertindak.
Guru rohani sejati menebarkan kedamaian, ketentraman dan kasih sayang, tidak menyerang atau mengobarkan kebencian. Guru sejati memupuk semangat persaudaraan bukan perpecahan. Guru sejati tidak menjual minyak telon-telon, tetapi minyak narwastu. Guru sejati tidak hanya berjubah putih, tetapi hatinya sungguh putih.
Mari kita menjadi murid yang cerdas agar kita tidak terperosok ke lubang perpecahan dan permusuhan.
Kemarin bisa nyoblos di acara pemilihan.
Walau hanya sebentar tapi terpuaskan.
Jangan terkecoh oleh baju-baju kesucian.
Cermati inti ajaran yang bawa perdamaian.
Cawas, pra coblosan…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 09.12.20 / Matius 11:28-30 / Kelembutan Cinta
AGUSTINUS mengalami kelembutan hati Uskup Ambrosius. Dia pernah menyatakan, “Bukan karena pertama-tama keunggulan kotbahnya, tetapi karena kelembutan sikapnya sebagai seorang bapa, yang menerimaku apa adanya sebagai seorang pendosa, itulah yang menarikku ingin mengikuti Kristus.”
Kelembutan seorang bapa yang ditunjukkan St. Ambrosius mampu membawa seorang ateis seperti Agustinus mengalami pertobatan. Kelembutan seorang bapa meluluhkan hati Agustinus. Kita bisa membaca Buku “Pengakuan Agustinus” bagaimana latar belakang kehidupannya sebelum mengenal Kristus. Ia mengejar hawa nafsu duniawi. Ia tidak mengenal Allah. Ibunya, Monika, sangat sedih melihat perilaku anaknya.
Ambrosius pernah menghibur Monika dengan penuh pengertian, “Seorang anak yang didoakan dengan cucuran air mata, pasti tidak akan dibuang (Tuhan).” Kata-kata yang sungguh menyejukkan.
Kita bisa membayangkan seorang anak yang menangis tersedu-sedu “sesenggukan” sampai nafasnya tersengal-sengal, duduk di pangkuan dan dekapan ibunya. Belaian tangan ibu terasa menyejukkan dan menenteramkan. Kita merasa aman di pangkuannya, setelah kita dimarahi karena kenakalan kita.
Sabda Yesus, “Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka hatimu akan mendapat ketenangan.”
Yesus berkali-kali menunjukkan kelemah-lembutan-Nya yang berasal dari Bapa. Gambaran tentang gembala yang baik, Bapa yang rindu menantikan anak yang sesat adalah wujud kelemah-lembutan Allah kepada kita.
Bagaimana Allah menghukum kita? Ia menghukum dengan kelembutan, belaian. Kita didekap di pangkuan-Nya. Domba yang ditemukan itu tidak diseret paksa, tetapi dipanggulnya dengan sukacita. Anak yang hilang itu tidak hanya ditunggu, tetapi dijemput dengan berlari dan dirangkul dengan kuat.
Batu karang yang keras akan luluh juga oleh terpaan air yang lembut. Kelembutan dan kasih Allah itu mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Kita akan memperoleh kelegaan di dalamnya.
Malam-malam memetik rambutan.
Sekali panjat dapat lima.
Betapa indahnya kasih Tuhan.
Laksana anak di pangkuan ibunya.
Cawas, baju hitam bunga-bunga…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 07.12.20 / PW. St.Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja / Lukas 5:17-26
Ibu Hamil yang Ditandu
TIYAH, yang sedang hamil akan melahirkan bayinya. Jalan di desa Barunai Kecamatan Cihara, Lebak Banten itu sangat buruk. Tiyah harus digotong dengan sarung oleh beberapa pemuda menuju ke puskesmas kecamatan. Tidak ada mobil yang bisa masuk wilayah itu karena jalan yang rusak. Tiyah harus ditandu beramai-ramai melewati jalan buruk.
Peristiwa itu direkam oleh Badrudin dan diunggah di medsos sehingga viral. “75 tahun merdeka kapan merasakan indahnya jalan. Yang mau melahirkan pun digotong menggunakan bambu dan sarung. Helo pemerintah setempat apa kabar. Kampung Bitung, Desa Barunai, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten. Mana sumpah untuk mengayomi rakyat,” tulis Badru dalam status FB.
Unggahan itu ternyata membuat berang pihak pemerintah desa. Pada Senin (2/11), Badru kemudian dibawa ke balai desa dengan kawalan RT dan langsung dibawa ke Polsek Panggarangan. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, kepala desa tidak terima atas video yang viral tersebut, bahkan dinilai mencemarkan nama baik. Badru terpaksa menginap dua malam di kantor polsek.
Dalam Injil dikisahkan beberapa orang mengusung orang lumpuh di atas tilamnya. Karena saking banyaknya orang yang berkumpul di rumah itu, mereka tidak bisa masuk. Mereka naik ke atas rumah dan membongkar atapnya dan menurunkan si lumpuh tepat di depan Yesus. melihat usaha mereka, Yesus berkata, “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.”
Para ahli Taurat dan orang Farisi malah berprasangka buruk. Mereka menuduh Yesus menghojat Allah. Yesus tidak ambil pusing dengan tuduhan itu. Ia justru menyembuhkan si lumpuh itu dan menyuruhnya mengangkat tilamnya. Makin geramlah hati orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Seolah-olah mereka seperti ditampar mukanya. Mereka seperti dipermalukan di depan banyak orang.
Berbeda dengan orang-orang yang menolong si lumpuh itu. Mereka tidak disebut namanya. Mereka tidak ingin dikenal dan diketahui. Mereka tidak ingin pamer kebaikan. Mereka itu bisa siapa saja, anda, sampeyan, you, rika, oko, kita. Yang penting bagi mereka adalah menolong. Mereka tidak ingin diingat namanya.
Orang Farisi dan ahli kitab itu hanya sibuk menghakimi, berprasangka buruk, berpikir negatif terhadap orang lain. Mereka iri hati. Kebaikan orang justru dianggap mencemarkan status mereka, membuat malu atau hilang muka.
Di masa Advent ini, buanglah prasangka buruk, negative thinking. Marilah berbuat baik tanpa harus diketahui atau dilihat banyak orang.
Luka sedikit terasa perih.
Dipijit-pijit enak rasanya.
Marilah menolong tanpa pamrih.
Tuhan pasti mengetahuinya.
Cawas, naik sepeda Gazelle…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 06.12.20 / Minggu Advent II / Markus 1:1-8
Mulan
HARI-HARI ini akan ada tayangan perdana Film action Mulan. Dia adalah seorang pejuang perempuan legendaris yang berperang melawan Bangsa Hun. Dalam cerita animasi sebelumnya, film itu dimulai dengan kisah lucu Mak Comblang yang ingin menjodohkan Mulan dengan calon suaminya. Mak comblang bertugas mempersiapkan si gadis bengal ini supaya kelak siap menjadi istri yang baik.
Mak Comblang itu berusaha melatih, mendadani, mempersiapkan dan menguji si gadis agar pantas dan siap bertemu dengan calon suaminya. Tentu saja karena Mulan ”anak kolong”, ia melawan dengan nakal apa yang dilakukan Mak Comblangnya. Sehingga persiapan dan pelajaran yang dibuat Mak Comblang berakhir dengan berantakan.
Peran Mak Comblang yang mempersiapkan si Mulan untuk bertemu dengan calon suaminya, dapat saya analogkan dengan penampilan Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Israel untuk kedatangan Mesias. Yohanes Pembaptis itu seperti Mak Comblang.
Ia adalah orang yang dinubuatkan oleh Yesaya, ”Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun; siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”
Yohanes menyerukan pertobatan dan pengampunan dosa sebagai jalan menyiapkan kedatangan Tuhan. Ia sendiri hidup dengan semangat askese yang tinggi. Ia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Ia memberi contoh pertobatan dengan laku tapa yang keras.
Kalau Yesus digambarkan sebagai mempelai yang akan datang, maka umat sebagai pasangan mempelai harus disiapkan. Yohanes bertugas mempersiapkan kedatangan Sang Mempelai itu. Kita adalah umat yang harus mempersiapkan diri agar pantas dan layak menerima Sang Mesias.
Jangan menjadi Mulan yang bengal, anak kolong dan nakal. Mari kita membangun pertobatan dan pembaharuan diri, agar kita didapatinya pantas menyambut Sang Mempelai yakni Yesus yang akan datang ke tengah-tengah kita.
Masa Advent adalah masa persiapan diri menyambut Sang Mesias. Mari kita membaharui diri menjadi mempelai yang pantas untuk Sang Kristus.
Siapkan lubang untuk nanam pisang.
Lubang kecil untuk nanam jagung.
Sang Mesias akan segera datang.
Kita menyambut Sang Raja Agung.
Cawas, menanti mempelai…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr