Renungan Harian

Puncta 05.12.20 / Matius 9:35-10:1.6-8 / Dipanggil Untuk Terlibat

 

SEKARANG ini sedang musim tanam padi di Cawas. Petani-petani tidak lagi menggarap sawah memakai cangkul atau kerbau untuk membantu mengolah tanah.

Semua sudah diganti dengan mesin. Mengolah sawah dengan mesin. Memanen pun diganti oleh mesin. Tidak butuh waktu lama, tetapi cukup sebentar saja, gabah tahu-tahu sudah masuk ke karung-karung dengan bersih.

Di pedalaman Kalimantan, orang memanen padi masih mengunakan ani-ani. Ibu-ibu memetik satu demi satu batang padi, sehingga butuh waktu yang lama. Banyak tenaga dibutuhkan untuk menggarap ladang. Ada musim bakar ladang, masa “nugal” beramai-ramai saling bergotong-royong.

Orang sekampung turun untuk menggarap ladang. Industrialisasi pertanian belum menyentuh masyarakat pedalaman. Masih membutuhkan tenaga manusia yang banyak untuk menggarap ladang.

Suasana kebersamaan, kerjasama, gotong-royong masih sangat terasa. Kerukunan antar warga sangat kental. Adat istiadat dikerjakan bersama. Semua ikut terlibat demi kehidupan bersama.

Dalam Injil, Yesus berkeliling mewartakan Kerajaan Allah kemana-mana. Sambil mengajar, Ia menyembuhkan banyak orang sakit. Ia tergerak oleh belaskasihan kepada mereka yang menderita.

Melihat orang banyak itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit. Maka mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Lalu Yesus memanggil keduabelas murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mengusir roh jahat, melenyapkan segala penyakit dan mengutus mereka mencari domba yang hilang.

Ia mengundang kita untuk ikut terlibat membantu di ladang menuai tuaian. Karya Allah di dunia ini butuh keterlibatan kita. Ada banyak bidang garapan yang perlu kita tangani. Kita telah diberi oleh Tuhan dengan cuma-cuma, maka kita pun diajak untuk membagikannya dengan cuma-cuma.

Dunia ini adalah ladang Tuhan. Ia membutuhkan banyak pekerja untuk menggarap dan mengolahnya, bukan merusaknya.

Maukah kita ikut terlibat untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama? Maukah kita berbagi karena kita telah diberi oleh Tuhan dengan cuma-cuma?

Menanam ubi dan jagung di satu tempat.
Ubinya tumbuh besar berlipat-lipat.
Kita dipanggil terlibat berbagi berkat,
Agar dunia dan banyak orang selamat.

Cawas, menanam jagung di kebun kita,
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 04.12.20 / Matius 9:27-31 / Tak Henti-hentinya Bersyukur

 

“TUHAN, Kau beri aku dua mata, tetapi kenapa aku tidak bisa melihat?” demikian syair yang sering dinyanyikan dengan pilu oleh Anita. Ia dan adiknya Sonia mengalami kebutaan sejak kecil.

Dua gadis dari pedalaman India ini lahir dari keluarga miskin. Orangtuanya hanya buruh tani yang tidak mampu membiayai pengobatan anak-anaknya. Kemungkinan besar mereka tak akan pernah melihat indahnya sinar matahari.

Adalah organisasi 20/20/20 yang bergerak untuk menolong orang-orang buta. Karena bantuan organisasi sosial ini, kedua kakak beradik ini akhirnya menjalani operasi mata. Lensa mata mereka yang rusak diganti dengan lensa buatan. Dan berhasil.

“Aku dapat melihat, Ibu, aku dapat melihat.” Begitu reaksi spontan penuh sukacita ketika perban yang menutupi mata mereka dibuka. Sonia dan Anita dapat melihat dunia dengan segala keindahannya. Tak henti-hentinya mereka bersyukur karena sudah bisa melihat.

Dalam Injil dikisahkan ada dua orang buta datang kepada Yesus. Mereka meratapi nasibnya, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Kendati mereka tidak dapat melihat, namun imannya sangat besar.

Hal itu nampak ketika Yesus bertanya, “Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?”. Mereka pun menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.”

Iman atau percaya pada Yesus itulah daya penyembuhan yang luar biasa. “Terjadilah padamu menurut imanmu”, sabda Yesus. Iman membuka aneka jalan menuju keselamatan. Iman membuka selubung yang gelap menjadi terang benderang. Kegelapan hidup – dilambangkan dengan kebutaan – dapat diterangi dengan iman. Tetaplah punya iman.

Dua orang itu tidak mampu menutupi kegembiraanya. Kendati dilarang untuk memberitakan peristiwa itu, mereka keluar memasyurkan Yesus ke seluruh daerah. Saking gembiranya, mereka lupa pesan Yesus. Kendati dilarang, mereka tetap mewartakan.

Pernahkah anda mengalami kasih Allah sedemikian besar sehingga rasanya ingin selalu bersyukur dan berbagi dengan banyak orang? Itu tanda bahwa anda telah disentuh Tuhan.

Buah ceplukan di taman bunga
Seminggu bisa tumbuh dua
Sungguh indah mata bisa terbuka
Yang ada hanya gembira dan sukacita

Cawas, kangen ceplukan…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 03.12.20 / Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Misi / Markus 16: 15-20

 

“Bermisi Ke Dalam Hati”

MEWARTAKAN iman di tanah misi butuh kekuatan, keteguhan dan semangat bernyala. Mental baja dan prinsip mandiri diperlukan agar bisa mengatasi segala rintangan, baik medan yang berat maupun budaya yang berbeda.

Santo Fransiskus Xaverius diutus untuk menjadi duta Paus di Hindia Timur. Masuk ke dalam jantung kehidupan orang Asia itulah yang dilakukan oleh Fransiskus Xaverius. Ia menolak pemberian hadiah raja sebagai bekal. Hanya salib dan Kitab Suci yang menjadi bekalnya. Ia hidup sederhana dan mandiri di tengah umat yang dilayaninya.

Ia berpendapat, “Cara terbaik untuk memiliki kehormatan sejati adalah dengan mencuci pakaian sendiri, memasak sendiri dan tidak berhutang pada orang lain.” Ia menggunakan waktu di kapal dengan merawat orang sakit, berkatekese, berkotbah dan menjadi pembimbing rohani yang baik.

Ia pandai berkotbah dan mengajar. Ia belajar bahasa lokal agar bisa berkomunikasi dengan orang-orang setempat. Dengan begitu, banyak orang tertarik dengan ajarannya dan minta dibaptis. Ia senang berkunjung ke mana-mana, menjumpai umat dan memperkenalkan nilai-nilai Injil.

Dari Goa, Ia menyeberang ke Malaka.Tahun 1545 ia berkunjung di Maluku, Ambon, Ternate dan berjumpa dengan raja-raja setempat. Ia diterima dengan baik dan tinggal beberapa waktu memperkenalkan Yesus Kristus.

Perjalanan misinya sampai ke Jepang dan China. Ia meninggal di usia 46 tahun pada tanggal 3 Desember 1552. Dia diangkat menjadi pelindung misi bagi gereja semesta.

Sesudah bangkit Yesus memberi tugas misi kepada para murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”

Perintah Yesus itu masih menggema sampai sekarang. Ada banyak tanah-tanah misi yang belum mengenal Injil. Ada banyak hati yang belum disentuh sabda Tuhan.

Kita sebagai murid-Nya sekarang juga diutus untuk bermisi. Selain mewartakan Injil, mengubah hati yang keras menjadi hati yang lembut, mengubah dendam menjadi bisa memaafkan itu juga bermisi.

Dua lele menu kemarin pagi.
Siang harinya menikmati sapo babi.
Kita semua dipanggil bermisi
Mewartakan Injil ke dalam hati.

Cawas, selamat bermisi…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.12.20 / Matius 15:29-37 / Berbagi Berkat

 

SELAMA satu tahun biasanya ada tiga sampai empat kali kursus persiapan perkawinan di Paroki Tayap. Pesertanya bervariasi. Pernah suatu kali ada 48 pasang.

Hal ini bisa terjadi karena ada banyak pasangan yang nikah adat lebih dahulu, baru kemudian membereskan secara gerejani. Kursus perkawinan menjadi syarat agar mereka dapat menikah atau membereskan perkawinannya secara gerejani.

Panitia kursus tidak hanya memberi materi, tetapi juga harus menyediakan makan minum, tempat menginap dan segala keperluan mereka. Tidak hanya makan untuk suami istri, tetapi kadang mereka juga membawa anak-anaknya.

Untung kami punya tim yang kompak. Bagian dapur dan konsumsi dikelola oleh ibu-ibu paroki. Mereka membentuk kelompok masak. Ada kelompok Bu Anang, kelompok Bu Dora, kelompok Mak Felik, kelompok Mamak Mia. Bagian motong babi Pak Paulinus dan Pak Ronsen.

Bagian penyedia air bersih, kayu api dan sarana-sarana Pak Jali dan Pak Redes. Sementara Pak Janjat dan Pak Bosran memberi materi kepada peserta. Masih banyak lagi orang yang terlibat. Selama tiga hari itu, paroki seperti punya gawai besar.

Di tangan Bu Anang, Bu Dora dan Mak Felik, makanan tidak pernah berkekurangan. Semua orang makan dengan kenyang, bahkan kami punya sisa entah makanan maupun juga anggaran. Mereka bisa membawa pulang makanan ke rumah. Asal ada Bu Anang dan Bu Dora, dapur pastoran itu berubah seperti pasar yang ramai.

Dalam sharing dan refleksi kami sering mengucap syukur karena mengalami peristiwa penggandaan roti. Pengalaman Yesus itu nyata dapat kami rasakan dalam pelayanan kepada umat. Mukjijat itu sungguh nyata.

Seperti Yesus, kami juga digerakkan oleh keprihatinan, banyak orang menikah secara adat, tetapi belum mempunyai akte perkawinan karena tidak diresmikan secara agama.

Awalnya seperti para murid, kami juga bingung bagaimana memberi makan begitu banyak orang? Tapi kemudian ada yang berinisiatif, ayo membawa apa saja yang bisa dimasak dari rumah. Ada yang bawa beras, sayur-sayuran, ikan asin, pucuk ubi, rebung, apa pun yang bisa diolah.

Puji Tuhan semua bisa makan kenyang, juga anak-anak mereka tidak kelaparan. Bahkan ada sisa yang bisa dibawa pulang. Kami menyadari peristiwa itu adalah karena campur tangan Tuhan.

Dalam Injil, Yesus mengajak murid-murid-Nya ikut ambil bagian untuk memikirkan orang banyak. Ada yang memberi roti. Ada yang menyumbang ikan. Kalau semua diserahkan kepada Yesus, semuanya akan berkelimpahan. Mari kita belajar berbelas kasih dan berbagi berkat.

Bunga melati bunga selasih.
Tumbuh diantara rerumputan.
Kalau kita mau berbagi kasih.
Kita tidak pernah akan kekurangan.

Cawas, masuk logika…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 01.12.20 PW / Beato Dionisius dan Redemptus, Biarawan dan Martir Indonesia / Lukas 10:21-24

 

“Martir Indonesia”

REDEMPTUS, seorang bruder dan Dionisius, imam Ordo Karmel datang ke Aceh sebagai duta untuk menjalin misi diplomatik dari Wakil Raja Goa, Pedro da Silva kepada Sultan Iskandar Thani, pengganti Iskandar Muda.

Namun orang-orang Belanda menyebar isue bahwa mereka akan menyebarkan agama ke Aceh. Mereka ditangkap dan di penjara.

Dionisius baru ditahbiskan selama satu tahun dan langsung ditugaskan ke Aceh. Di dalam penjara, mereka mengalami penyiksaan yang berat. Hanya satu bulan dipenjara, mereka dibunuh karena mempertahankan iman Katolik.

Redemptus dan Dionisius dibunuh dengan gada dan lehernya digorok dengan kelewang. Jadi ingat kasus pembantaian di Sigi 27 November yang lalu. Redemptus dan Dionisius juga dibunuh 27 November 1638.

Saya jadi ingat Rm. Tarcisius Dewanto SJ, teman di KPP Seminari Mertoyudan yang meninggal dibunuh milisi di Suai Timor Timur pasca referendum. Ia menjadi imam belum genap dua bulan. Karena taat pada pimpinan, ia berangkat ke Suai.

Ketika gereja diserang milisi, ia bermaksud melindungi umat agar tidak ditembaki. Namun ia bersama dua romo lain dibunuh bersama pengungsi di sana.

Saya berharap Romo Dewanto suatu saat diangkat menjadi santo asli Indonesia. Redemptus dan Dionisius adalah orang Portugal yang menjadi martir di Indonesia. Mereka ikut menyuburkan benih iman, begitu pula Rm. Dewanto telah mengorbankan nyawanya untuk kesuburan iman Katolik di Indonesia.

Tak semua orang dapat mengalami kematian yang demikian luhur dengan cara menjadi martir. Dalam situasi sulit, orang dihadapkan pada salib.

Yesus menyebut mereka ini sebagai orang yang berbahagia. “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Sebab banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, namun tidak melihatnya,dan ingin mendengar apa yang kalian dengar, namun tidak mendengarnya,” kata Yesus.

Karena hal-hal itu tersembunyi bagi orang bijak dan pandai, namun dibuka oleh Tuhan untuk orang-orang kecil. Kerendahan hati memungkinkan kita bisa melihat karya-karya agung Tuhan.

Bukan orang hebat, atau orang kuasa, sombong pongah dan angkuh yang dapat melihat karya Allah, tetapi justru orang-orang kecil, sederhana dan rendah hati.

Ikut tertawa melihat Nikita Mirsani.
Ngomongnya lantang serba terbuka.
Jadi orang kecil yang rendah hati.
Karya Allah terbuka di depan mata.

Cawas, desember tiba….
Rm.Alexandre Joko Purwanto, Pr