Puncta 05.10.20 / Lukas 10:25-37 / Gusdurian yang baik hati
ORANG Tayap kalau pergi ke Ketapang menyebutnya “turun” karena pedalaman itu terletak di hulu. Dari hulu turun ke hilir. Ketapang berada di pinggir pantai. Air sungai mengalir dari hulu menuju ke pantai yang di hilir. Hampir tiap bulan saya turun naik ke Ketapang dengan sepeda motor untuk berbagai urusan di keuskupan atau pun belanja di kota. Menempuh jarak 145 km dalam waktu 3-4 jam tergantung cuaca.
Suatu kali saya balik ke Tayap lewat jalur Pelang. Setelah melewati warung Pak Kacong, saya terjatuh. Motor saya selip karena jalan berpasir. Tanki pecah dan bensin mengalir tumpah. Motor tidak bisa distarter, takut ada percikan api menyulut bensin yang tumpah. Beberapa kali ada motor lewat, tetapi tidak mau berhenti.
Seorang bapak pulang dari ladang. Ia menghampiri saya. “Bisa dibantu mas?” Ia menawarkan kebaikan. Tanki motor harus diganti. Saya mesti ke Bengkel Atong di Ketapang. Bapak itu dengan senang hati menolong. “Mas naik ke motor. Saya dorong dengan kaki di pedal motornya.” Dengan motornya, ia mendorong di sisi saya.
“Mas ini tugas di mana?” Dia mengawali pembicaraan selama di perjalanan kembali ke Ketapang yang jaraknya 50 km lebih. “Saya pastor Katolik di Tayap pak.Tadi itu mau pulang ke Tayap.” Dia memperkenalkan diri dan berkata, “Saya muridnya Gusdur romo. Awake dhewe seduluran.” Tuhan mengutus orang Samaria yang baik hati untuk menolong saya. Rasanya bahagia sekali punya saudara di perjalanan. Dia kemudian bercerita panjang lebar tentang nasehat Gusdur untuk mengasihi sesama tanpa pandang bulu. Gusdurian sungguh luar biasa. Saya jadi ingat persahabatan Gusdur dengan Romo Mangunwijaya.
Injil hari ini berkisah tentang orang yang turun dari Yerusalem ke Yeriko. Lagu yang sering kita nyanyikan itu terbalik, “Dari Yeriko ke Yerusalem ada jalan cintakasih.” Yerusalem itu terletak di Bukit Zion. Yeriko terletak di bawah dekat dengan Lembah Yordan. Ia dirampok habis-habisan, hampir mati. Ada Imam melihatnya tapi melewatinya dari seberang jalan. Begitu juga orang Lewi hanya melewatinya.
Lalu orang Samaria yang dicap sebagai orang kafir lewat dan menolongnya. Ia merelakan minyak dan anggurnya. Ia menaikkan orang sakit itu ke keledai tunggangannya. Ia membawanya ke tempat penginapan. Ia masih menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan untuk merawat si sakit. Bahkan ia masih berjanji akan menggantinya jika dibelanjakan lebih. Ini orang Samaria guys…..yang dipandang orang Yahudi sebagai musuh, orang kafir, najis bergaul dengan mereka.
Imam dan orang Lewi yang mengganggap diri suci dan saleh itu malah tidak berbuat apa-apa. Mereka menghindar, lewat dari seberang. Hati-hati guys… kalau ada orang saleh kok mengajarkan kebencian, permusuhan, mengkafir-kafirkan. Seorang imam dan kaum Lewi semestinya menjadi teladan kebaikan, bukan permusuhan. Seorang imam mestinya mengajarkan kebenaran bukan penipuan atau kebohongan.
Sekali lagi hati-hati ya Guys… jangan menilai buku hanya dari covernya. Jangan mudah percaya pada orang hanya karena melihat penampilan luarnya. Bisa tertipu Guys…..
Mengasihi Tuhan Allah itu terwujud dalam mengasihi sesama yang kesulitan. Tidak ada gunanya kotbah berbuih-buih tentang Tuhan, tetapi tetangga melarat, miskin, kesulitan, menderita, kita diam saja. Cintamu kepada sesama menunjukkan cintamu kepada Tuhan.
Plecing jembak itulah sayur nikmat untuk sarapan.
Nasinya pulen sampai tersekat di tenggorokan.
Mencintai Tuhan bukan sesuatu yang jauh di angan-angan.
Wujud nyatanya mengasihi sesama yang sedang kesulitan.
Cawas, Sarapan pagi dengan sayur langka, jembak….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 04.10.20 / Minggu Biasa XXVII / Matius 21:33-43
“Penggarap Tak Beradab”
PEMILIK lahan terkejut karena alat-alat berat tahu-tahu sudah menggusur lahan dengan paksa tanpa pemberitahuan sebelumnya. Masyarakat yang punya lahan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketua adat yang memprotes penggusuran justru digelandang oleh aparat ditahan dan diintimidasi.
Pemodal bekerjasama dengan aparat bersenjata dan pejabat setempat menggusur lahan-lahan masyarakat adat. Segala macam cara dipakai. Ada cara halus, ada yang kasar. Dengan cara halus, warga dibujuk nanti akan diberi pekerjaan di perusahaan.
Walaupun hanya jadi buruh kasar di kebun. Pejabat diberi janji akan dibangunkan rumah adat atau lapangan sepakbola untuk desa. Aparat diberi upeti untuk menjaga segala kondisi. Jangan berharap aparat di belakang rakyat. Ia akan membela yang memberi upeti.
Tidak akan ada orangtua memberi warisan kepada anak cucunya karena lahan-lahan mereka sudah diambil alih oleh penggarap-penggarap raksasa yang punya modal besar. Mereka tidak akan menjadi ahli waris tanah leluhur. Tetapi mereka hanya akan menjadi buruh di tanah moyangnya atau kuli di tanah sendiri.
Rakyat sebagai pemegang hak waris hanya berjuang sendiri. Mungkin masih ada media yang punya hati nurani. Tetapi mereka pun disokong oleh pemodal. Belum pernah dengar ada istilah “wartawan amplopan”? atau LSM? Perangkat desa sudah tahu mereka datang kasih uang langsung pulang, tak ada yang menentang.
Penggarap-penggarap tidak bekerja sendirian. Mereka bisa membayar yang pegang senjata. Mereka bisa menyuap pejabat. Rakyat itu seperti hamba-hamba kebun anggur. Mereka ditangkap, disiksa, diteror, diintimidasi dan dieksekusi.
Mereka yang berkuasa bisa bikin narasi, konperensi pers; bahwa orang-orang itu melawan hukum, melawan aparat, menentang kebijakan penguasa, menghalangi pembangunan. Intinya mereka bisa dikorbankan.
Yesus menggunakan perumpamaan antara penggarap dan pemilik kebun anggur sebagai ilustrasi bagi para imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang tidak mau percaya kepada nabi-nabi sebagai utusan Tuhan.
Yesus adalah Putera yang diutus oleh Bapa, Sang pemilik kebun anggur. Tetapi penggarap-penggarap itu justru menangkap, menyiksa dan membunuh si ahli waris.
“Kerajaan Allah akan diambil daripadamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”
Sungguh nikmat makan pisang rebus.
Pisang nipah kulitnya masih mulus.
Marilah kita percaya kepada Yesus.
Dialah Sang ahli waris yang diutus.
Cawas, GT, Give and Take…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 03.10.20 / Lukas 10:17-24 / Lepas Jubah
SEANDAINYA jubah ini kulepas, siapakah aku sesungguhnya? Sekuasa inikah aku sampai-sampai orang yang berdosa ini diberi kuasa menghadirkan Tuhan? Sehebat inikah aku? Sampai-sampai bisa mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhanku? Seandainya jubah ini kulepas, sehebat itukah aku?
Aku mudah menggunakan kuasa itu dengan alasan suci. Dengan jubah itu seorang imam disanjung dan dipuji. Tetapi sering memanipulasi pelayanan dengan mencari popularitas diri. Hanya senang melayani mereka yang berdasi dan bersepatu hak tinggi dan mengabaikan umat miskin tanpa amplop intensi. Melayani misa seperti mengejar setoran gaji.
Kuasa itu bisa disalahgunakan bahkan dengan alasan rohani yang saleh. Mimbar tidak dipakai untuk kotbah tetapi untuk marah-marah karena “caosan dhahar” tidak sesuai selera lidah. Orang kaya dilayani dengan urutan nomor mewah, sementara orang miskin didiamkan ke tempat sampah.
Kuasa Tuhan itu identik dengan jubah. Seandainya jubah ini kulepas, apakah aku punya kuasa yang bebas, luas tanpa batas? Benarlah apa yang dikatakan Lord Acton, guru besar sejarah modern di Universitas Cambridge, Inggris, yang hidup di abad 19.
Dengan adagium-nya yang terkenal ia menyatakan: Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely (kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut).
Seorang imam Tuhan diberi kuasa absolut melalui tahbisan. Jubah itu tanda luarnya. Umat melihat jubah imam langsung menyembah. Kalau tidak hati-hati, jubah itu menjelma jadi korupsi.
Pada hari sabtu imam, sabtu sesudah Jumat pertama ini, kita para imam diajak merefleksi diri. Sebagaimana Yesus memberi kuasa kepada para murid-Nya, para imam dengan tahbisan diberi kuasa untuk melayani, bukan untuk menguasai, apalagi memarah-marahi.
Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku telah memberi kalian kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tiada yang dapat membahayakan kalian.”
Jika jubah itu diibaratkan dengan kuasa, mari kita para imam bertanya diri, seandainya jubah itu dilepas, kuasa apakah yang masih tersisa selain manusia lemah “ora direken liyan”, dilirik orang pun tidak. Tidak ada apa-apanya.
Kita ini hanya diberi kuasa oleh Tuhan. Itu adalah amanah. Tanggungjawab kita dengan Tuhan yang memberi kuasa. Mari kita gunakan kuasa itu dengan baik untuk melayani dengan rendah hati.
Makan pecel dengan sambel belut.
Kurang puas campur dengan sambel terasi.
Jubah itu ibarat kuasa yang absolut.
Bisa untuk menguasai tapi juga bisa untuk melayani.
Cawas, AJP ajaahhhh….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 02.10.20 / PW. Para Malaikat Pelindung / Matius 18;1-5.10
Malaikat Bernama Uder
BILA harus turne ke Stasi Tanjung Bunga, hati rasanya sudah kecut. Bukan hanya umatnya yang pasif acuh tak acuh, tetapi medan jalannya juga sangat sulit. Jalur ke sana harus melewati jalan perkebunan sawit yang membingungkan.
Hampir semua jalan modelnya sama, jadi mudah menyesatkan. Beberapa kali saya pernah tersesat dan kebingungan. Kadang ada penduduk yang pulang dari sungai atau lahan muncul. Itulah malaikat.
Sesudah kebun sawit masih harus menembus hutan berbukit-bukit. Kadang ada jembatan yang putus. Harus ekstra hati-hati melewati satu titian kayu. Seperti uji nyali. Sungguh membakar adrenalin. Di ujung bukit masih ada tantangan lain, jalan menurun yang licin. Konsentrasi dibutuhkan supaya motor tidak terjun ke jurang.
Pak Uder dan Pak Sehat Totoi sangat senang membantu. Uder adalah malaikat saya kalau pulang dari Tanjung Bunga. Dia dengan senang hati mengantar saya melewati jalan licin berlumpur. Naik turun bukit di tengah hutan. Kadang dia turun dari motornya dan mendorong motor saya agar terbebas dari kubangan lumpur. Baju dan motor penuh lumpur itu sudah biasa.
Kami menyusuri jalan hutan dan perkebunan. Dia sudah hapal dengan medan, maka aman dan tentram kalau Uder menemani. Kalau hari sudah petang, dia mengantar sampai ujung kampung Engkadin. Dia harus balik lagi ke kampungnya dalam kegelapan. Menyusuri jalan gelap puluhan kilometer. Tidak ada listrik, jalan buruk. Hanya lampu sepeda motor yang menembus gelapnya malam di tengah hutan.
Intuisi sangat dibutuhkan ketika kita berada di alam terbuka. Tanda-tanda alam sangat membantu. Ada pengalaman intuitif ketika di tengah jalan ada seekor burung – seperti burung gagak berwarna kecoklat-coklatan – selalu terbang di depan mendahului, seolah menunjukkan jalan.
Ketika ada kera-kera itu tanda bahwa sudah dekat perladangan orang. Ketika ada anjing atau babi itu berarti sudah hampir masuk kampung orang. Hati rasanya tenang kalau sudah ketemu pondok-pondok di ladang. Kita tidak sendirian. Tujuan sudah di depan mata.
Seperti itulah saya mengalami malaikat pelindung menuntun dan membimbing dalam tugas dan karya-karya pelayanan. Malaikat itu tidak kelihatan. Tetapi melalui orang, peristiwa, tanda-tanda alam, saya merasa didampingi oleh malaikat pelindung. Kadang setelah mengalami hal-hal yang tidak masuk akal itu, saya bertanya kok bisa ya?
Kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri rasanya mustahil. Itu pasti karena pertolongan Tuhan. Malaikat pelindung menghindarkan saya dari bahaya yang menakutkan. Ada malaikat tanpa sayap diutus Tuhan menolong kita. Apakah anda percaya ada malaikat melindungi anda?
Pergi ke salon untuk potong rambut.
Habis keramas langsung dipijat lembut.
Jangan bimbang dan jangan takut.
Ada malaikat Tuhan yang selalu ikut.
Cawas, AJP ayoo jujug Pastoran….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 01.10.20 / Pesta St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, Perawan, Pujangga Gereja dan Pelindung Misi / Matius 18:1-5
“Menjadi Anak Kecil”
IKLAN yang menggambarkan seorang anak membeli coklat di toko sungguh inspiratif. “Tolong ambilkan coklatnya satu.” Lalu ia membayar dengan uang koin seribu.
Masih kurang. Ia merelakan asesoris mainannya; penjepit rambut, gelang asesoris di tangannya. Ketulusan dan keikhlasan hati seorang anak yang polos.
Kemudian Ia mendatangi ibunya, dan mengucapkan, “Selamat ulang tahun mama”, sambil menyodorkan sepotong coklat sebagai hadiah darinya. Selalu ada kebaikan di hati setiap orang.
Ketulusan dan kerendahan hati seorang anak kecil di hadapan Tuhan itulah yang dilakukan Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Terlahir dengan nama Marie Francoise Therese Martin di Lisieux Perancis. Walau hidupnya hanya singkat, 24 tahun, tetapi hidup, karya dan doanya menjadi teladan luar biasa.
Buah permenungan rohaninya disebut “Jalan Kanak-Kanak Rohani” atau “Jalan Kecil.” Relasi mesra antara seorang anak kecil yang sangat tergantung dari belas kasih Bapa itulah yang dihidupinya dengan tekun dan setia.
Seorang anak kecil yang hanya bisa terjamin aman di dalam pelukan bapanya itulah gambaran Allah bagi Theresia kecil. Ia menulis “Jalan kecil” itu dalam suratnya:
“Cinta membuktikan dirinya dengan tindakan, jadi bagaimana saya menunjukkan cinta saya? Aku tidak bisa melakukan jasa besar. Cara yang dapat kulakukan untuk membuktikan cintaku adalah dengan menyebarkan bunga dan bunga ini adalah pengorbanan yang sangat kecil, setiap pandangan dan kata, dan hal yang kulakukan adalah aksi cinta yang terkecil.”
Semua orang di dunia ingin menjadi yang terbesar dan jadi pahlawan. Manusia dianggap baru eksis kalau mampu membuat hal-hal besar. Apa yang dibuat Theresia justru sebaliknya. Ia melakukan hal-hal kecil dan sederhana dengan cinta yang besar.
Para murid Yesus berdebat tentang siapa yang terbesar dalam kerajaan Surga? Mereka berebut ingin menjadi yang terbesar.
Tetapi Yesus meluruskan pandangan mereka. “Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.”
Ternyata ukuran Surga dan ukuran Allah berbeda dengan ukuran manusia dan dunia. Manusia dan dunia ingin menjadi yang terbesar dan hebat.
Tetapi Allah dan Surga justru sebaliknya. Merendahkan diri seperti anak kecil. Theresia dari Lisieux telah melakukannya. Santa Theresia ajarilah kami mengikuti jalan kecilmu.
Merangkak naik ke menara Pisa.
Untuk melihat pemandangan seluruh kota.
Mengasihi dengan tindakan kecil sederhana.
Lebih berarti daripada sejuta janji dan kata-kata.
Cawas, ke Danau Kalimutu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr