Renungan Harian

Puncta 31.07.20 / PW. St. Ignatius Loyola, Imam / Matius 13:54. 55. 56b-58

 

“Jangan Tidak Percaya Dulu”

ADA orang “pintar” di kampung sebelah desa. Orang dari luar sering datang ke rumahnya. Mereka justru datang dari tempat yang jauh-jauh. Mereka datang ke situ untuk minta penyembuhan, minta nasehat, minta diberi lancar usahanya, minta dapat jodoh atau lulus test PNS.

Bagi banyak orang dari luar, bapak itu terkenal sebagai orang pintar atau dukun. Mereka datang dengan membawa kembang tiga warna. Ada yang diselipi dengan sebungkus rokok kretek. Pasti juga ada uangnya entah banyak atau sedikit, sebagai ucapan terimakasih.

Tetapi tetangga-tetangga di desa itu memandang bapak itu sebagai orang biasa saja. Orang kampung tidak percaya dia sebagai orang “pintar.” Mereka sering bertemu di sawah.

Sehari-hari tidak menunjukkan sebagai orang yang punya “aji linuwih.” Tetapi tamu-tamunya justru banyak dari tempat yang jauh, bahkan ada yang naik mobik bagus.

Di Kapernaum dan di kota-kota lain,Yesus dikenal sebagai Guru yang berkuasa. Mereka menyebut-Nya juga sebagai nabi, bahkan Mesias yang dijanjikan Tuhan. Yesus banyak membuat mukjijat di mana-mana.

Orang banyak berbondong-bondong datang untuk mendengarkan ajaran-Nya. Mereka yang sakit ingin disembuhkan. Bahkan ada anak yang mati dibangkitkan. Orang dari mana-mana mempercayai Yesus sebagai “orang pintar.”

Tetapi ketika Dia pulang ke Nasaret tempat asal-Nya, orang-orang hanya takjub dan heran atas kuasa-Nya itu. “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu?”

Orang-orang mengagumi, tetapi mereka tidak menerima-Nya. Karena mereka tahu siapa Yesus dan keluarga serta saudara-saudara-Nya. Mereka kecewa dan menolak-Nya.

Sepenggal lirik Lagu Ebiet G Ade berjudul Kalian Dengarkan Keluahanku ini menggambarkan situasi orang yang ditolak dimana-mana. “Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga. Seakan hendak telanjangi dan kuliti jiwaku.”

Yesus ditolak di kampung-Nya sendiri. Penolakan ini menutup karya-karya besar Yesus. Dia tidak membuat mukjijat apa pun di Nasaret. Barangkali kita tidak sampai menolak Yesus, namun hanya sampai kagum saja.

Kita hanya kagum, tetapi belum sampai percaya. Orang yang percaya berani menggantungkan hidup sepenuhnya dan rela berkorban apa pun yang dituntut-Nya.

Ketika dituntut untuk total mengikuti-Nya, tapi kita malah mundur teratur. Disitulah kita baru sampai level kagum pada-Nya. Kalau kita mau percaya, kita akan melihat pengalaman-pengalaman luar biasa dengan-Nya.

Mau anggrek atau aglonema.
Tinggal ambil di taman bunga.
Buka hatimu untuk percaya.
Rahmat Tuhan akan datang segera.

Cawas, ndolani simbah….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 30.07.20 / Matius 13:47-53 / Nuba Adat

 

ACARA nuba adat di kampung selalu ramai diikuti banyak orang. Seluruh warga kampung turun ke sungai. Bahkan tetangga-tetangga kampung juga ada yang ikut. Riuh rendah suasana memburu ikan di sungai.

Acara misa hari minggu bisa kalah dengan acara nuba. Orang tidak pergi ke gereja tetapi pergi ke sungai. Ada yang membawa tombak, bubu, jaring, jala, karung. Ikan-ikan di sungai akan “mabuk” karena racun tuba, yakni akar batang tuba yang ditumbuk beramai-ramai sehingga mengeluarkan racun.

Racun tuba itu dihanyutkan ke sungai sehingga ikan-ikan akan muncul ke permukaan karena pusing. Orang tinggal menangkap dengan jaring atau jala atau tombak seperti trisula. Ikan-ikan kemudian dipilih. Yang baik, besar dibawa pulang dengan karung. Yang kecil dan buruk dibuang.

Dalam bacaan hari ini, Yesus memberi perumpamaan kepada orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai. Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu, ikan yang baik dikumpulkan di dalam pasu, yang buruk dibuang.”

Pada akhir zaman, Tuhan akan memisahkan orang jahat dari orang benar. Seperti ikan-ikan yang buruk itu dibuang, demikianlah orang-orang jahat akan dicampakkan ke dalam dapur api. Demikianlah kita akan menghadapi pengadilan terakhir pada akhir zaman.

Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi manusia juga berusaha mencapai kesempurnaan. Bagaimana usaha itu pada akhirnya, Tuhan akan menentukan. Saya sendiri percaya bahwa kasih Tuhan lebih besar daripada ketidak-sempurnaan kita.

Allah adalah kasih. Jika bapa yang jahat saja bisa memberi yang baik untuk anak-anaknya, betapa Bapa kita yang di surga.

Kasih dan pengampunan Allah tidak membuat kita semaunya saja. Kita tetap harus berusaha hidup dengan benar. Hidup yang benar tidak akan merugikan kita.

Kebenaran akan mendatangkan keselamatan, damai sejahtera, ketentraman, harmoni dalam kebersamaan. Marilah menjalani hidup kita dengan benar.

Naik turun bukit menyusuri lembah.
Menikmati hamparan hijau sawah.
Menjalani hidup itu tidak mudah.
Berusahalah agar bisa menjadi berkah.

Cawas, nggarap sawah….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 29.07.20 / Pesta St. Marta / Lukas 10:38-42 atau Yohanes 11:19-27

 

“Srikandi”

PUTERI Prabu Drupada dari Pancala ini dikenal “canthas, trengginas, panas, lincah, tomboi, tetapi juga cantik dan seksi. Bayangkan dia seperti Catherine Zeta Jones yang menjadi Elena, istri Alejandro alias Zorro.

Kecantikannya membuat semua pria mencuri-curi pandang kepadanya. Arjuna walau sudah punya Subadra, terpikat akan kemolekan Srikandi. Dua perempuan ini hidup di Kesatrian Madukara. Srikandi bukan tipe wanita domestik. Ia adalah perempuan yang aktif di lapangan. Ia pandai berperang terutama memanah.

Dalam perang Baratayuda, Srikandi maju menjadi panglima berhadapan dengan Resi Bisma yang sakti. Srikandi mampu mengalahkan Bisma dengan panahnya.

Subadra adalah tipe wanita lembut, tenang, halus, istri yang baik dan setia di rumah. Sangat jarang Subadra diidolakan. Perempuan modern, berprestasi, berkelas, sukses dan maju sering disebut sebagai Srikandi-Srikandi masa kini.

Hari ini kita merayakan pesta Santa Marta. Dikisahkan dalam Injil Lukas, Marta menjamu Yesus di rumahnya. Ia sibuk melayani semua keperluan Yesus dan rombongan. Segalanya disiapkan dengan sempurna.

Ia sibuk mengatur sana-sini agar Yesus dan murid-murid-Nya puas singgah di rumahnya. Sedangkan Maria, saudarinya tenang-tenang duduk dekat kaki Yesus mendengarkan Dia. Maria lebih suka mendengarkan sabda Yesus.

Keduanya sebetulnya memilih bagiannya dengan baik. Keduanya saling melengkapi. Tetapi menjadi kurang baik ketika muncul rasa iri hati dan “nggresula” atau mengeluh.

Jika Marta tidak “nggresula” dan melayani dengan tulus dan senang hati, mungkin Yesus juga akan memujinya. Tetapi Marta berkata, “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Dua hal yang dapat kita petik sebagai buah renungan hari ini. Pertama, jika kita sudah berani memilih, lakukan itu dengan tulus ikhlas. Jangan iri terhadap pilihan orang lain.

Kedua mendengarkan dekat kaki Tuhan itu juga sebuah nilai keutamaan. Mendengarkan dengan baik itu jarang dilakukan orang.

Kebanyakan orang sekarang banyak bicara dan melihat. Apa-apa dikomentari, bahkan dihujat. Lalu terjadilah percekcokan, pertengkaran, saling membenci. Diam mendengarkan itu lebih baik. Paling tidak kita tidak menimbulkan kegaduhan.

Srikandi wanita lincah canthas dan seksi.
Ia berjuang demi harga diri.
Janganlah kita senang iri hati.
Melihat orang lain berhasil di puncak prestasi.

Cawas, hitam diatas putih…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 28.07.20 / Matius 13:36-43 / “Ngundhuh Wohing Pakarti”

 

PAGELARAN wayang menggambarkan pegelaran hidup manusia. Kelir atau layar adalah dunia tempat hidup manusia. Maka dijejerlah aneka wayang dengan sifat-sifatnya.

Di sebelah kanan adalah sifat baik, terdiri dari para ksatria, brahmana dan raja. Sebelah kiri adalah sifat buruk atau jahat yang diwakili para raksana-raseksi, gandarwa dan buta.

Kisah pewayangan selalu menggambarkan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Inti nasehatnya adalah semua yang hidup bakal “ngundhuh wohing pakarti.”

Semua orang akan memetik hasil dari apa yang ditanamnya. Kebenaran pada akhirnya akan selalu menang. Kejahatan akan dihukum.

Realitas kehidupan manusia juga diwarnai dua unsur yang saling berhubungan dan berlawanan. Ada siang ada malam, matahari-bulan, terang-gelap, besar-kecil, baik-buruk, benar-salah, yin-yang, positif-negatif, maskulin-feminim, berkat-kutuk, surga dan neraka. Ada kawan ada lawan. Ada rahmat, ada dosa.

Sejak manusia ada, dua unsur itu silih berganti selalu muncul. Semua itu untuk mengingatkan manusia agar selalu berusaha mengejar hal yang baik dan menjauhi hal yang buruk, supaya hidupnya dilimpahi berkat dan dijauhkan dari segala kutuk.

Dalam Injil Yesus menjelaskan arti perumpamaan gandum dan ilalang. “Orang yang menaburkan benih baik adalah Anak Manusia. Ladang itu ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan dan lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menabur benih ilalang ialah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman, dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikianlah juga pada akhir zaman.”

Manusia diberi kebebasan untuk memilih, apakah mau jadi benih gandum atau benih ilalang. Apa yang dipilih akan menentukan pada akhirnya.

Gandum akan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam lumbung. Tetapi ilalang akan diikat dan dibakar ke dalam api.

Kalau memilih hidup baik berarti berkat, jika memilih yang buruk berarti menuai kutuk. Yesus mengingatkan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan.”

Ini adalah warning, peringatan agar kita memilih yang benar. Kebebasan memilih diberikan kepada manusia tetapi konsekuensi atas pilihan itu juga harus ditanggungnya.

Silahkan anda bebas mau memilih yang mana; kebaikan atau kejahatan, jadi gandum atau ilalang, berkat atau kutuk.

Ke Kali Adem naik kijang roda empat.
Menikmati puncaknya gunung Merapi.
Pilihlah kebaikan maka hidupmu jadi berkat.
Jangan sampai dibuang ke dalam tanur api.

Cawas, jadwal praktikum ….
Rm. A.Joko Purwanto, Pr

Puncta 27.07.20 / Matius 13:31-35 / Ragi Hidup

 

WAKTU menjadi frater di Tahun Rohani Jangli, kami diajari membuat roti oleh suster-suster Elisabet. Kami diajari bagaimana mencampur tepung dan ragi, sedikit garam dan air secukupnya, berapa ukuran yang tepat untuk membuat roti.

Untuk membuat roti dibutuhkan bahan: 250 gram Tepung Terigu Protein, 5,5 gram / 0,5 sachet Ragi Instan, 30 gram / 2 sdm Margarin, 15 gram / 1 sdm Susu Putih Bubuk, 45 gram / 3 sdm Gula, 1 sdt Garam, 1 Butir Telur Ayam dan 250 ml Air Mineral.

Almarhum Rm. Suparyono dulu pandai bikin roti tawar ini. Dia selalu berhasil membuat roti bisa mengembang. Buatan saya tidak mengembang bahkan mengkal.

Romo Par bilang, “kamu kurang kalis atau kurang merata mengaduknya. Dua tangan dipakai untuk mengaduk dengan kekuatan penuh. Sampai adonan itu kenyal.” Katanya memberitahu rahasianya.

“Adonan yang sudah merata didiamkan dan ditutup dengan kain selama tiga puluh menit.” Dia menasehati saya. Setelah beberapa kali latihan, akhirnya berhasil juga membuat roti tawar.

Hari ini Yesus memberi perumpamaan lagi tentang biji sesawi yang ditabur dan tumbuh berkembang menjadi pohon yang bercabang-cabang. Juga ada perumpamaan tentang ragi yang diaduk di dalam tepung dan membuat adonan menjadi mengembang.

Yesus tidak menjelaskan apa-apa. Mungkin Yesus berharap kepada kita yang menjadi murid-Nya untuk dapat menjadi ragi.

Jika Kerajaan Allah diumpamakan ragi, kita yang adalah anak-anak Kerajaan diminta untuk membuat tepung menjadi mengembang.

Tepung bisa diartikan dunia. Ragi atau kita sebagai anak-anak Kerajaan diutus masuk ke dunia dan mengembangkan dunia agar dapat menjadi roti yang enak.

Agar kita dapat mengembangkan dunia, seperti ragi yang kamir di dalam adonan, kita pun diharapkan bisa “manjing ajur ajer” di dalam dunia. Kita merasuki segala bidang kehidupan.

Misalnya, orang Katolik harus masuk ke dunia politik. Bidang politik harus diberi ragi supaya nilai-nilai Katolik mewarnai dunia kita.

Ada banyak bidang kehidupan yang bisa kita masuki. Sekarang bukan hanya dunia nyata yang butuh ragi, dunia maya atau media sosial pun butuh ragi kristiani.

Nilai-nilai Injil bisa dimasukkan untuk menyucikan semua bidang kehidupan kita. Maukah kita menjadi ragi yang bisa memberi kebaikan dan mengembangkan?

Ingat penerbangan dari Abu Dhabi.
Selimut biru jadi penghangat badan.
Murid Kristus harus menjadi ragi.
Membuat dunia menjadi nyaman.

Cawas, kurikulum….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr