Renungan Harian

Puncta 06.07.20 / Matius 9:18-26 / Jangan Berhenti Percaya

 

“SELAMA sebelas tahun kami tiada henti-hentinya berziarah di Sendang ini Romo” kata sepasang suami istri di bawah pohon beringin yang teduh. “Setiap jumat pertama kami datang ke sini dengan ujub khusus minta dikaruniai anak” sahut istrinya.

Pada tahun kedua belas, pasangan ini diberi seorang anak laki-laki. Mereka menunggu duabelas tahun dalam bahtera perkawinan.

Sang istri pernah hampir putus asa. Tetapi suaminya sangat sabar dan percaya pada sabda Tuhan, ”Mintalah maka kamu akan diberi.”

Sebulan sekali ia memboncengkan istrinya dengan sepeda motor berdoa kepada Bunda Maria di Sendang Sriningsih yang teduh.

Iman dan ketekunan itu membuahkan sukacita. Tuhan mengabulkan permintaan mereka setelah dua belas tahun berjuang. Sekarang anak itu masuk seminari. Mereka tetap ikhlas dan tidak berhenti berdoa.

Dalam Injil hari ini ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan. Ia percaya kepada Yesus, ”asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Imannya sungguh besar.

Wanita itu yakin dengan menyentuh ujung jubah Yesus, dia akan disembuhkan. Yang penting bukan jubahnya, tetapi imannya yang besar itulah yang menyembuhkannya.

Saya teringat kalau ada perarakan Sakramen Mahakudus, orang-orang berjajar di jalan yang dilewati imam. Mereka menyentuh jumbai velum, menciuminya, berlutut dan menyembah Yesus yang lewat.

Mereka sangat percaya. Memang bukan jubahnya yang menyembuhkan, tetapi iman kepercayaan kitalah yang utama. Sebab Yesus berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan dikau.”

Ziarah ke Sendangsono atau Kerep atau Sriningsih tanpa disertai iman hanyalah piknik atau rekreasi semata. Ziarah tanpa iman tidak lebih dari sekedar jalan-jalan belaka.

Bahkan ke Lourdes atau Fatima, jika tidak ada iman tidak ada gunanya. Iman yang dalam disertai dengan usaha yang tekun dan terus menerus, itulah yang akan berbuah berkat.

Kalau doa tidak dikabulkan, kita lalu berhenti dan tidak mau berdoa. Kita merajuk kepada Tuhan, “ngambek” tak mau berdoa atau ke gereja.

Kita mesti belajar dan meneladan sikap wanita yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan itu. Ia percaya dan berusaha dapat menyentuh sedikit jubah-Nya saja, ia yakin akan sembuh.

Entah lama atau sebentar, panjang atau pendek usaha kita, kita mesti tetap percaya kepada Yesus.

Naik scoopy berkeliling ke Yogyakarta.
Tidak lupa singgah di kantin Bethesda.
Jangan pernah berhenti untuk percaya.
Anugerah-Nya suatu saat pasti akan tiba.

Cawas, memuntahkan ide….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 05.07.20 / Minggu Biasa XIV / Matius 11:25-30 / Misteri Allah Yang Tersembunyi

 

ADALAH Olivia Meiske Anjani, (7) dan Regina Fleur Anindhita (6), kakak-adik ini warga Jalan Gunung Gebyok, Bendungan, Gajahmungkur, Semarang datang ke rumah dinas gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranawa.

Mereka membawa “celengan”, tempat tabungan untuk diserahkan kepada Pak Ganjar. ”Buat Pak Ganjar beli masker untuk paramedis di rumah sakit,” jawab Olivia waktu ditanya untuk apa tabungan ini disumbangkan.

Selama satu tahun mereka rutin menabung dari hasil menjual sticker. Murid SD Theresiana Semarang ini terketuk hati melihat perjuangan para tenaga medis yang bekerja tanpa kenal lelah.

Anak kecil yang polos tetapi bijak dan baik hati. Belarasa dari hati yang bijak berbuah kepedulian bagi yang menderita.

Ada banyak kisah yang menggugah dan membikin haru ketika orang-orang kecil dan sederhana bermurah hati menolong sesama.

Di masa pandemi ini banyak kisah-kisah kebaikan yang tidak terekspos dan mereka memang tidak ingin diviralkan.

Kebaikan tidak perlu dipamer-pamerkan. Orang kecil tidak punya ambisi untuk dikenal. Hanya mereka yang narsistis saja yang gila pujian, ingin dikenal dan diviralkan.

Yesus berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu ya Bapa Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Itulah yang berkenan kepada-Mu.”

Beberapa hari ini ada berita viral di medsos, orang mengaku sekolah di Injil Vatican School di Roma, ayahnya seorang kardinal, pernah menjadi ketua misionaris Indonesia.

Orang ini berpenampilan bijak tetapi tidak mengenal kebijaksanaan Allah. Benarlah kata-kata Yesus tadi, “misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”

Ada orang mengaku pandai dan bijak tetapi tutur kata dan perilakunya jauh dari kebijaksanaan Allah.

Misteri Kerajaan Allah itu seringkali berlawanan dengan arus pemikiran manusia. Manusia ingin menjadi Tuhan. Tuhan mau menjadi manusia.

Manusia ingin naik. Tuhan malah turun ke dunia. Manusia suka balas dendam, Tuhan suka mengampuni. Manusia ingin terkenal, Tuhan ingin tersembunyi. Manusia suka mencintai orang hebat, Tuhan suka mengasihi orang berdosa.

Marilah kita belajar memahami misteri Kerajaan Allah. Misteri Allah itu terbuka dalam kehidupan di alam semesta ini. “Gumelaring jagad iki wujud kawicaksananing Allah.”

Menikmati kopi dari Kebon Rejosari.
Diramu Kuda Lampung dan Ahong ketapang.
Kerajaan Allah itu adalah misteri.
Bikin hati bahagia dan hidup jadi senang.

Cawas, kopi bikin melayang….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 04.07.20 / Matius 9:14-17 / Jurgen Klopp dan Liverpool

 

SETELAH menunggu tiga puluh tahun, akhirnya Liverpool mengangkat piala liga Inggris. Orang dibalik pencapaian sukses itu adalah Jurgen Klopp, manager yang bertangan dingin.

Tidak mudah menyatukan pelatih dan pemain dalam sebuah klub. Sehebat apa pun pelatih atau pemain, tetapi kalau keduanya tidak cocok maka tidak akan ada trophi yang diboyong.

Deretan pelatih hebat seperti Roy Hodgson, Gerard Houllier, Rafael Benitez, Brendan Rogers. Bahkan Kenny Douglish pernah dua kali menangani Liverpool tetapi juga gagal menorehkan prestasi.

Kini Jurgen Klopp dipandang mampu mendampingi para pemain sehingga penantian panjang mengangkat piala Liga tercapai tahun ini. Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Hari ini Yesus memberikan perumpamaan kepada orang banyak tentang anggur dan kain penambal yang baru. “Tak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru. Dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya.”

Sinkronisasi dan keharmonisan dalam dinamika hidup itu penting. Perutusan Yohanes dan Yesus itu berbeda. Yohanes mengantar orang pada pertobatan. Yesus menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir.

Puasa Yohanes adalah lambang pertobatan, untuk menyiapkan kedatangan mempelai. Ketika Sang Mempelai yakni Kristus sudah datang, orang mengalami sukacita. Pada saat itu orang tidak berpuasa.

Sudah lama kita menantikan Sang Juru Selamat. Kristus hadir membawa keselamatan. Pantaslah kita bersukacita. Seperti fans Liverpool bergembira karena sang pelatih mengantarkan juara.

Kehadiran Kristus itu juga membawa sukacita karena kita berhasil mengalahkan dosa, kita juga juara. Selama tigapuluh tahun mereka puasa juara, kini mereka bersukacita karena Jurgen Klopp hadir melatih mereka. Yesus Kristus juga hadir membawa kita berhasil mengalahkan maut dan derita. Kita semua bergembira.

Sebagaimana para pemain itu mengikuti instruksi pelatinya agar dapat juara, begitu pula kita diajak mengikuti sabda Kristus agar kita selamat. Pelatih dan pemain itu seperti anggur dan kantong yang baru.

Mari kita menyesuaikan dengan ajaran sang Pelatih kita yakni Yesus supaya kita memperoleh piala keselamatan di akhir zaman.

Hujan deras bikin banjir.
Ikan-ikan sembunyi di bawah somil.
Jangan ragu dan kawatir.
Ikut Yesus pasti selamat dan berhasil.

Cawas, cetuju….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 03.07.20 / Pesta St. Tomas Rasul / Yohanes 20:24-29

 

Berbahagia Yang Tidak Melihat.

 

DALAM diri kita itu ada sifat keingintahuan yang besar dan tidak mudah percaya. Misalnya, orang tahu bahwa ban sepeda yang ditumpangi meletus. Ia masih turun dari sepeda dan memencet ban yang sudah kempis itu.

Lalu lagi, orang sudah tahu bahwa ia menginjak tahi ayam ( telek lencung ), ia masih meraba telapak kakinya dan mencium bau tahi ayam itu dihidungnya.

Pernahkah anda melakukan itu? Itulah tandanya kita tidak mudah percaya dan ingin membuktikan apa yang sedang kita alami.

Hari ini kita memperingati Santo Tomas, rasul. Tomas adalah seorang Galilea, yang dipilih Yesus menjadi murid-Nya. Ia bekerja sebagai nelayan pembantu, bukan pemilik perahu.

Sebutan lain dari Tomas adalah Didimus. Ia seorang yang jujur apa adanya, terbuka dan terus terang, berpendirian tegas dan tidak “ela-elu” hanya ikut suara orang banyak. Ia mandiri dan punya pemikiran sendiri.

Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, ia tidak ada bersama dengan mereka. Maka ia tidak percaya kalau tidak melihat dan mengalaminya sendiri.

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, aku sama sekali tidak akan percaya.”

Yesus menanggapi pernyataan Tomas. Ia datang dan menampakkan diri-Nya kepada para murid dan secara khusus untuk Tomas.

Ketika mendapati Yesus, Tomas berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Inilah pengakuan iman yang tulus. Tomas mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah karena Ia sungguh bangkit.

Penulis Injil kemudian meneguhkan kepada para pembaca selanjutnya bahwa pengalaman Tomas itu unik. Tidak setiap orang bisa berjumpa dengan Yesus seperti dirinya.

Maka Yesus mengatakan,”Karena melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Kita tetap berbahagia dan yakin, kendati tidak melihat, namun percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang telah bangkit mulia. Anda tetap yakin walau anda tidak melihat Yesus yang bangkit? Berbahagialah anda.

Setiap sore menikmati senja.
Membelah angkasa berwarna jingga.
Tidak melihat namun percaya.
Itulah iman yang membawa bahagia.

Cawas, jingga…jingga…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.07.20 / Matius 9:1-8 / Berpikir Jahat

 

DI laman facebook, saya membaca postingan dengan gambar sketsa wajah Pak Jokowi. Bagaimana penilaian orang terhadap Pak Jokowi sebagai presiden.

Kalau marah = Presiden drama, akting aja di kamera. Kalau diam = Presiden kok gak bersikap apa-apa mau jadi apa neh negara. Kalau senyum = Presiden kok cengengesan gak ada kharisma.

Lalu di bawahnya diberi komentar, “Susah emang mimpin negeri +62 ini… Salah semua, rakyatnya “jago2”.

Saya kira itu bukan penilaian sebagian besar orang, hanya segelintir orang yang tidak suka pada kepemimpinan sang presiden. Saya merasa banyak orang yang senang dan memuji Pak Jokowi dengan segala kebijakannya.

Belum ada presiden yang hebat dan berani seperti ini. Hanya orang-orang yang tidak suka saja yang menilai negatif terhadapnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang lumpuh sekaligus mengampuni dosanya. Tetapi bagi ahli-ahli Taurat, Yesus dituduh menghujat Allah.

Ketika Yesus berkata kepada si lumpuh, “Percayalah anak-Ku, dosamu sudah diampuni,” ahli-ahli Taurat itu berkata dalam hatinya, “Ia menghojat Allah.”

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kalian memikirkan hal-hal yang jahat dalam hatimu?”

Kalau orang sudah diracuni pikiran jahat, maka apapun  yang dikeluarkan adalah hal-hal yang jahat. Apalagi dibumbui dengan perasaan tidak suka.

Para ahli Taurat tidak suka kepada Yesus karena pengajaran-Nya sangat berwibawa, berbeda dengan mereka. Banyak orang yang percaya dan mengikuti Yesus. Hal ini sangat mengkawatirkan mereka. Bisa-bisa pengikut mereka lari menjadi murid Yesus.

Pikiran para ahli Taurat itu selalu jelek. Hatinya diliputi rasa kebencian dan dendam. Mereka mencari celah untuk menjatuhkan Yesus. Segala tindakan Yesus selalu salah di mata mereka.

Bagi Yesus keselamatan orang lebih diutamakan daripada penilaian ahli-ahli kitab. Ia bertindak mengampuni dosa, karena Ia adalah Putera Allah. Ia menyelamatkan orang karena itulah misi-Nya datang ke dunia.

Pikiran mempengaruhi tindakan. Bila pikiran kita baik, tindakan dan ucapan kita akan baik. Namun jika pikiran kita jahat, segala tindak tanduk kita juga akan menghasilkan hal-hal yang jahat.

Hati-hatilah dengan pikiran kita. Tanamkan hal-hal baik dalam pikiran kita sendiri.

Memuji pacar seperti Limbuk.
Wajahnya cantik bagai Dewi Sinta.
Kalau kita suka berprasangka buruk.
Hidup kita akan banyak menderita.

Cawas, hatiku gembira….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr