Renungan Harian

Puncta 21.06.20 / Minggu Biasa XII / Matius 10:26-33 / Becik Ketitik Ala Ketara

 

YAMAWIDURA paman para Pandawa tahu ada tipu muslihat licik yang dirancang Sengkuni dan para Kurawa. Mereka mengundang Pandawa untuk berpesta di balai “golo-golo.”

Yamawidura mengingatkan kepada Puntadewa dengan bahasa sandi bahwa balai itu dirancang dengan bahan-bahan yang mudah terbakar. Ada niat jahat di balik undangan pesta bagi para Pandawa.

“Golo-golo” artinya diperindah, dihias sedemikian rupa biar tidak kelihatan keropos dalamnya. Sebagai ksatria, para Pandawa tetap hadir dalam perjamuan. Ketika para tamu sedang mabuk pesta, para Kurawa menyulut api sehingga balai itu terbakar habis.

Para Pandawa waspada. Mereka diselamatkan oleh “musang putih” yang membawa mereka ke Kahyangan Sapta Pertala. Niat jahat Kurawa diketahui. Mereka gagal memusnahkan Pandawa.

Pepatah “becik ketitik ala ketara” menjelaskan bahwa niat baik atau rencana jahat itu perlahan-lahan akan terbongkar dan diketahui orang. Tidak ada hal yang tersembunyi dan ditutup-tutupi.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang memusuhimu, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.”

Pandawa bersikap ksatria dan tidak takut pada musuh yang punya niat jahat. Mereka percaya bahwa garis kehidupan itu hanya Tuhan yang menentukan. Mereka tetap waspada dan hati-hati.

Janganlah takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Kita mesti lebih takut kepada Tuhan daripada takut pada manusia. Tuhanlah yang berkuasa atas hidup kita. Bahkan rambut kepala pun sudah terhitung oleh-Nya.

Jika kita berjalan pada jalur kebenaran, kita tidak perlu takut. Mereka yang berniat jahat, menggali lubang untuk kita, akan terperosok sendiri ke dalamnya.

Perlahan-lahan, satu per satu niat jahat mereka akan terbongkar juga. Ada banyak pelajaran hidup di sekitar kita. Kita tidak perlu takut. Tuhan berpihak pada orang jujur dan benar.

Yesus mengajak kita untuk berani berjuang di jalan Allah. “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia akan Kuakui di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Seperti Kristus yang berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan, begitu pun kita diajak untuk berada di jalur yang sama. Yesus mengajak kita untuk berani berjuang dan tidak takut terhadap siapa pun.

Sekecil apa pun niat kita, nanti akan diketahui pada akhirnya. Becik ketitik, ala ketara.

Ada pelangi di bola matamu.
Dan hujan pun turun di pagi hari.
Tuhan menyelenggarakan hidupmu.
Ia tidak membiarkan kita berjuang sendiri.

Cawas, tampah di pojok…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 20.06.20 / PW. Hati Tersuci Perawan Maria / Lukas 2:41-51 / Menyimpan Semua Perkara

 

IBUKU sering berbohong. Ketika anak-anaknya belum makan sampai kenyang, ia bilang tidak lapar, walau belum ada sesuap nasi pun masuk di perutnya.

Ia menunggu sampai anak-anaknya makan kenyang. Ia rela makan sisa-sisa dari semua anaknya. Walau bekerja sampai malam, ibu bilang tidak capek. Ia menunggui sampai anak-anaknya terlelap tidur semua. Bahkan kadang ia tidur hanya satu-dua jam, karena harus mengganti popok adik yang masih kecil.

Ketika aku ragu dan bimbang di jalan imamat, aku pulang ke rumah. Aku tidak berani bilang pada ibuku. Tetapi di tengah malam, ibuku berdoa tentang masalahku.

Aku bisa “nguping” karena rumah kami waktu itu berdinding bambu. Hati seorang ibu menembus hatiku yang gundah gulana. Karena dukungan doa ibu itu, pagi-pagi aku pamit langsung balik ke seminari lagi.

Hari ini Gereja memperingati hati tersuci Santa Perawan Maria. Hati seorang ibu hanya tertuju bagi keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya. Maria dan Yusuf pergi ke bait suci bersama Yesus yang masih berumur duabelas tahun.

Ketika mereka pulang, Yesus tertinggal di bait suci. “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau?”

Tidak ada seorang ibu yang tidak cemas, jika melihat kesusahan anaknya. Hal itu menunjukkan betapa kasihnya seorang ibu kepada puteranya. Setiap anak mempunyai persoalan masing-masing.

Hati seorang ibu tidak pernah lepas dari setiap kesusahan anak-anaknya. Ia mengikuti sejak awal kelahiran sampai akhirnya. Harapan dan doa-doanya dilambungkan untuk kebaikan anak-anaknya. Semua disimpan dalam hatinya yang luas bagai samudera.

Kendati Maria tidak mengerti semua maksud Allah dalam mengarungi jalan hidupnya, ia hanya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Itulah ketaatan mutlak dalam menjawab kehendak Tuhan. Perkara-perkara yang tidak dimengerti disimpan dalam hatinya sendiri. Tidak semua perkara diobral atau diceritakan keluar.

Maria tidak suka bergosip ria. Ia menyimpan perkaranya dan hanya kepada Tuhan saja ia menumpahkan segalanya. Hening dalam doa. Berdialog berdua saja dengan Tuhan untuk semua perkara. Itu akan lebih menentramkan hati.

Mari kita meneladan hati Sang Perawan tersuci ini.

Berjemur di bawah sinar mentari.
Menikmati kicau burung merdu.
Bunda Maria, Perawan yang tersuci.
Doakanlah kami anak-anakmu.

Cawas, melangkah lagi….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.06.20 / HR. Hati Yesus Yang Mahakudus / Matius 11:25-30 / Anawim Yahwe

 

PANAKAWAN adalah abdi yang mendampingi para ksatria. Pana itu artinya tahu, paham, mengenal, pinter. Kawan berarti sahabat, kawan karib, teman seperjalanan.

Mereka terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka adalah gambaran rakyat jelata yang sederhana, bijak dan senang melucu. Mereka menghibur, menemani dan menasehati para ksatria.

Mereka adalah orang-orang kecil yang bijaksana. Mereka juga disebut “batur” atau abdi. Batur dari kerata basa, “pangembating catur”. Mereka bukan sekedar abdi tetapi teman diskusi, teman menemukan solusi dari berbagai persoalan hidup. Orang-orang sederhana yang peka terhadap bisikan roh.

Hari ini Gereja merayakan Hati Yesus yang Mahakudus. Yesus mengucap syukur kepada Bapa karena misteri Kerajaan sorga tersembunyi bagi orang cerdik pandai tetapi dinyatakan kepada orang-orang kecil dan sederhana.

Orang-orang sederhana itu hanya dapat mengandalkan Allah sebagai satu-satunya harapan. Mereka tidak mempunyai apa pun yang dapat diandalkan kecuali Allah yang maharahim.

Orang kecil, sederhana dan bijak ini disebut anawim. Mereka adalah orang miskin yang hanya mengandalkan kekuatan Allah. Mereka bersikap rendah hati, taat pada hukum Allah dan mengharapkan pemenuhan janji-Nya. Hati mereka peka terhadap bisikan roh Allah.

Orang-orang di sekitar kelahiran Yesus itu mewakili kaum anawim. Para gembala, Simeon-Hana, Elisabeth-Zakharia, dan Maria-Yusuf menjadi tokoh-tokoh kaum anawim.

Misteri Kerajaan Allah tersembunyi bagi kaum cerdik pandai, tetapi diwahyukan kepada kaum kecil, miskin dan sederhana. Kaum cerdik pandai di Istana Herodes, para ahli kitab di Yerusalem justru tidak tahu bahwa Kerajaan Allah telah hadir dalam diri Yesus.

Hati Yesus menunjukkan hati Allah yang tertambat pada orang-orang sederhana yang hanya mengandalkan kekuatan Allah semata. Hati Yesus seperti samudera luas yang mampu menampung siapa pun juga yang datang kepada-Nya. “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

Kita diundang untuk datang kepada hati-Nya. Kita tidak akan dikecewakan. Yesus menjamin keselamatan dan ketenangan jiwa kita. Ia akan memberikan kelegaan dan tidak akan membebani kita dengan kuk yang berat.

Yesus berjanji akan memberi ketenangan dan kelegaan pada kita. Maka marilah kita datang kepada hati-Nya. Marilah kita satukan hati kita dengan hati Yesus yang penuh kerahiman.

Di alun-alun beli jagung rebus.
Dinikmati sambil membaca buku.
Hati Yesus yang mahakudus.
Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.

Banyuaeng, merindukan hatimu….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.06.20 / Matius 6:7-15 / Bapa Kami

 

RESI Bagaspati adalah seorang ayah yang baik hati. Dia punya anak perempuan bernama Pujawati. Gadis ini jatuh cinta pada Narasoma, Putera Mahkota Mandaraka.

Narasoma mau menerima Pujawati asalkan sang ayah memberikan ajian candabirawa. Ajian itu melekat pada hidupnya sendiri. Jika ajian itu diberikan kepada orang lain, maka Bagaspati harus mati.

Demi cintanya kepada anak gadis satu-satunya, Bagaspati menyerahkan ajian candabirawa kepada Narasoma, menantunya. Karena cintanya, Bagaspati memberi apa pun bahkan nyawanya untuk anak yg dikasihinya.

Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya doa wasiat. Bapa kami adalah doa warisan Yesus bagi kita. Kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa yang penuh kasih.

Allah adalah Bapa kita. Melalui Yesus kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa. Bapa mengenal apa yang kita perlukan. Allah maha mengetahui. Ia menyelami kita masing-masing.

Maka Yesus mengatakan, “Janganlah kalian seperti mereka (yang berdoa dengan banyak kata-kata), karena Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kalian minta kepada-Nya.”

Isi doa Bapa Kami, pertama-tama adalah memuliakan Allah Bapa. Tugas pertama kita sebagai manusia adalah memuliakan Allah. Yesus juga pernah berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah.”

Nama Allah atau Kerajaan Allah harus menjadi yang utama dalam hidup kita. Kalau kita fokus hidup demi Kerajaan Allah, apa yang kita perlukan di dunia ini akan ditambahkan kepada kita. Allah akan menyelenggarakan hidup kita.

Sesudah memuji nama Allah, barulah kita memohon rejeki secukupnya dan membagun relasi yang baik dengan sesama atas dasar saling mengampuni.

Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak serakah. “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

Kita meminta makanan secukupnya untuk hari ini. Besok akan ada rejekinya sendiri. Maka kita diminta berdoa setiap hari. Itu artinya kita mengandalkan Allah semata dalam hidup kita.

Sesudah itu kita diajak membangun relasi dengan sesama. Semangat dasarnya adalah pengampunan. Sebagaimana Bapa mengampuni kita, demikian juga kita diajak saling mengampuni.

Kalau kita mau mengampuni saudara-saudara kita di dunia, nanti di sorga pun Bapa akan mengampuni kita. Sorga itu kita bangun dengan semangat pengampunan di dunia.

Begitulah sikap Allah sebagai Bapa. Ia adalah Bapa yang dekat dan baik hati kepada kita anak-anak-Nya. Kita bersyukur mempunyai Allah yang begitu mengasihi kita.

Senja telah datang lagi.
Membawa pelangi yang indah.
Allah Bapa sungguh mengasihi.
Walau kita adalah manusia lemah.

Banyuaeng, hari ini penuh warna…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 17.06.20 / Matius 6:1-6.16-18 / Jangan Sok Pamer

 

SEKELOMPOK ibu-ibu paroki ingin menyumbang sembako ke sebuah panti asuhan. Mereka membuat panitia. Mengadakan rapat untuk persiapan aksi baksos.

Mereka bangga pesertanya membeludak. Ibu ketua usul supaya mengundang wartawan stasius TV agar acara ini diliput. Biaya menjadi membengkak.

Tujuannya ditambah, tidak hanya ke panti asuhan, tetapi sekaligus juga ziarah karena panti itu sejalur dengan gua Maria. Biaya komsumsi dan transportasi malah lebih besar daripada sumbangan yang akan diberikan ke panti asuhan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara tentang amal sedekah, doa dan puasa. “Jikalau engkau memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi.”

Salah satu kebutuhan kita itu adalah diakui. Apalagi dalam dunia medsos sekarang ini, kita ingin eksis. Apa-apa diupload di FB, IG dan WA supaya diketahui oleh orang banyak.

Kita diingatkan oleh sabda Yesus, kalau kita beramal hendaklah jangan sampai diketahui oleh orang, tetapi biarlah Tuhan saja yang tahu.

Sahabat saya berkata, “Kalau kamu diberi, ingatlah dan catatlah namanya di atas batu karang. Tetapi kalau kamu memberi catatlah namamu di pasir pantai.”

Begitu juga tentang berdoa. Yesus berkata, “Janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanga dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan di tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.”

Saya kadang juga tergoda ingin pamer biar kelihatan suci. Beberapa waktu lalu saya ikut berdoa di jalan, di tengah hamparan sawah, diliput dan disiarkan televisi. Saya ini termasuk orang munafik yang dikritik oleh Yesus.

Begitu pun tentang berpuasa. Nilai puasa tidak terletak pada hal-hal lahiriah yang tampak oleh mata. “Apabila engkau berpuasa, janganlah muram mukamu, seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa.”

Puasa adalah usaha pengendalian diri. Mengendalikan diri dari hawa nafsu, termasuk nafsu pamer sedang menjalankan puasa. Tanpa dipamerkan, Tuhan sudah tahu apa yang kita lakukan.

Kita menjadi suci bukanlah untuk diri kita sendiri. Apalah artinya kita hidup suci tetapi sesama kita menderita dan kekurangan? Apalah artinya kita selamat tetapi egois hanya untuk diri sendiri?

Banyak berdoa dan berpuasa, tetapi orang di sekitar kita menderita, apalah artinya? Moga-moga tindakan amal kasih, doa dan puasa kita menyelamatkan sesama yang menderita.

Nginteri gabah memakai tampah.
Disimpan di tempayan biar aman.
Kalau tangan kita memberi sedekah.
Janganlah kita mengharap balasan.

Banyuaeng, tujuh hari yang lalu…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr