Puncta 16.06.20 / Matius 5:43-48 / Kasih Ibu
PUNTADEWA adalah putera Batara Dharma, dewa kebaikan. Ia juga disebut Dharmaputera. Dharma berarti berbuat baik. Yang dibuatnya adalah nilai-nilai kebaikan.
Ketika ia kalah bermain dadu, ia dibuang bersama-sama dengan saudara-saudaranya di tengah hutan selama duabelas tahun. Ia menerima dengan ikhlas. Ia tidak dendam terhadap para Kurawa.
Bahkan seandainya segala apa yang dimiliki diminta oleh musuhnya sekalipun, ia akan memberikannya dengan senang hati. Ia tidak mau berperang dalam gelanggang baratayuda.
Kalaupun mereka meminta nyawanya, asalkan dunia bisa damai aman sejahtera, ia akan memberikannya. Ketika Kresna membujuknya untuk maju berperang, Dharmaputera tetap kukuh tidak mau melukai musuhnya sekecil apapun.
Kresna berkata, “Paduka itu, orang baik dibaiki, orang jahat juga dibaiki.” Demikianlah sifat putera Sang Dharma. Ia hanya ingin berbuat dharma demi kebaikan itu sendiri.
Dalam kotbah-Nya Yesus berkata, “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian. Karena dengan demikian kalian menjadi anak-anak Bapamu di sorga.”
Yesus menentang apa yang sudah diajarkan dan dihayati secara umum, “Kasihilah sesamu manusia dan bencilah musuhmu.” Mengasihi sesama dan membenci musuh itu dianggap normal dan wajar. Namun bagi Yesus untuk menjadi anak-anak Bapa di sorga, memang ada tuntutan yang lebih berat.
Mengasihi hanya kepada mereka yang seiman, seagama, sesuku, sekelompok atau sesama bajunya belumlah cukup. Kasih itu harus menembus batas-batas kelompok eksklusifitas.
Berbuat baik hanya kepada orang-orang yang baik kepada kita saja itu masih kurang. Standar yang ditetapkan Yesus adalah “Kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di sorga sempurna adanya.”
Allah Bapa itu mengasihi manusia siapa pun juga. Ia membuat matahari terbit bagi orang jahat, dan juga bagi orang yang baik.
Hujan pun diturunkan bagi orang benar dan juga bagi orang yang tidak benar. Kasih Allah tanpa pamrih dan tidak membeda-bedakan. Begitulah kiranya kalau kita mau menjadi anak-anak Bapa di sorga.
Kasih Allah itu seperti kasih seorang ibu. Ia mengasihi semua anak-anaknya tanpa membeda-bedakan. Ibu mengasihi anak-anaknya juga tanpa mengharapkan balasan. Ia hanya ingin anaknya menjadi orang yang baik.
Allah juga ingin kita semua menjadi orang baik dan akhirnya selamat sampai kembali ke rumah-Nya. Marilah kita belajar mengasihi seperti seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya.
Senja di langit masih berwarna biru.
Mengingatmu hati terasa pedih.
Betapa besar kasih seorang ibu.
Ia mengasihi semua tanpa pamrih.
Banyuaeng, indah kasihmu….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 15.06.20 / Matius 5:38-42 / Dendam Kesumat
PERMAINAN judi yang awalnya untuk bersukaria antara Kurawa dan Pandawa, akhirnya menjadi dendam membara permusuhan antar saudara.
Pandawa kalah. Drupadi istri Puntadewa menjadi taruhan. Karena merasa menang Kurawa bertindak sewenang-wenang. Diliputi nafsu kemenangan Sengkuni melepas kain Drupadi.
Ia ingin mempermalukan perempuan itu di tengah gelanggang. Dursasana dengan nafsu yang menggelegak, melepaskan gelung rambut Kunti, ibu para Pandawa, membuatnya “modhal-madhul” tak teratur.
Tidak terima diperlakukan demikian, Drupadi bersumpah tidak akan memakai penutup dada kalau tidak dengan kulitnya Sengkuni.
Kunti juga mendendam kepada Dursasana. Dia tidak akan keramas, jika tidak memakai darahnya Dursasana. Dalam perang baratayuda, dendam kesumat itu dibalaskan oleh Werkudara.
Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan agar orang tidak saling balas dendam. Rantai kekerasan dan balas dendam harus diakhiri dengan menghormati dan mengasihi orang lain.
Dia berkata, “Kalian telah mendengar bahwa dahulu dikatakan, ‘mata ganti mata; gigi ganti gigi.” Mungkin dahulu ada salah tafsir oleh para hakim atau ahli Taurat bahwa untuk menghukum orang yang salah harus diganjar setimpal atau sama dengan yang dilakukan orang.
Kalau orang memotong tangan orang lain, supaya setimpal, hakim menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan ganti potong tangan. Hukum itu kemudian diterima wajar bagi setiap orang. Mata ganti mata, gigi ganti gigi.
Kesalahan penerapan hukum itu dikoreksi oleh Yesus dengan mengembalikan kepada hukum yang sesungguhnya. Bahwa orang harus mengasihi sesamanya sama seperti diri sendiri.
Yesus mengatakan, “Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu.”
Orang tidak boleh main hakim sendiri, karena hakim sesungguhnya adalah Tuhan. Yang kedua, hukum balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Balas dendam hanya akan melahirkan dendam berikutnya.
Oleh karenanya hormat dan kasih kepada sesama menjadi hukum tertinggi yang harus diutamakan. Maka kalau kita tidak ingin disakiti, janganlah menyakiti. Kalau tidak ingin diperlakukan tidak adil, maka bersikaplah adil bagi orang lain.
Tanamlah kebaikan, maka kamu akan memetik buah kebaikan. “Berilah kepada orang apa yang dimintanya.” Dengan bersikap begitu, kita akan memetik buah kebaikan kita.
Burung tekukur burung gelatik.
Lebih besar lagi burung dara.
Marilah kita sering berbuat baik.
Kita akan punya banyak saudara.
Banyuaeng, bunga itu masih segar….
Rm. A, Joko Purwanto, Pr
Puncta 14.06.20 / HR. TUBUH DAN DARAH KRISTUS / Yohanes 6:51-58 / Darah Pengorbanan
DALAM Film Narnia, Lucy dan saudara-saudaranya berpetualang masuk ke negeri dongeng. Mereka sebenarnya adalah pangeran dan putri-putri kerajaan yang ditunggu untuk dapat membebaskan rakyat dari cengkeraman perempuan sihir yang jahat.
Perempuan sihir itu ingin menguasai Narnia. Penguasa Narnia adalah seekor singa, yang ingin menyerahkan tahtanya kepada Puteri Lucy dan saudaranya.
Namun mereka harus bisa mengalahkan kuasa jahat dari perempuan sihir. Agar Negeri Narnia damai dan aman, Sang Raja bersedia mengurbankan hidupnya. Ia bersedia mencurahkan darahnya di altar persembahan.
Perempuan sihir dengan pedangnya membunuh penguasa Narnia. Tetapi Lucy mempunyai botol minyak yang kasiatnya bisa menghidupkan. Singa itu dicurahi minyak dan akhirnya hidup kembali.
Mereka bersatu padu berperang melawan ratu sihir yang jahat. Mereka menang dan tahta Narnia diserahkan kepada Puteri Lucy dan saudara-saudarinya sebagai pewaris tahta yang sah.
Hari ini gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.”
Darah adalah lambang kehidupan. Menumpahkan darah berarti memberikan kehidupan. Ia mengorbankan hidupnya bagi orang lain. Yesus menumpahkan darah-Nya bagi kita semua.
Di kayu salib, Yesus menyelamatkan kita dengan mencurahkan darah-Nya. Daging dan darah itu adalah satu kesatuan. Kalau kita makan daging, berarti juga menyatu dengan darahnya. Daging dan darah Kristus dikurbankan bagi kita.
Setiap kali kita merayakan Ekaristi. Kita mengenangkan Kristus yang wafat dan bangkit. Kristus wafat di salib. Darah Kristus keluar dari lambung-Nya yang ditusuk tombak. Itulah pengorbanan Kristus demi keselamatan umat manusia.
Mengikuti Ekaristi berarti bersatu dalam karya penyelamatan Kristus bagi dunia. Setiap kali Ekaristi dirayakan, penyelamatan diaktualkan, Kristus dikurbankan dan dunia diselamatkan.
Sudah hampir tiga bulan umat tidak bisa merayakan Ekaristi secara nyata karena pandemic covid19. Umat tidak bisa hadir berkumpul di gereja menyantap Tubuh Kristus.
Banyak umat merasa rindu menyambut komuni kudus. Ada sesuatu yang kurang karena tidak bisa menyambut Kristus dalam komuni suci.
Kita sekarang sungguh merasakan betapa berharganya karya penebusan Kristus dalam Tubuh dan Darah-Nya yang dikurbankan bagi kita.
Para calon komuni pertama biasanya boleh menerima komuni pada hari raya ini.
Tetapi karena kondisi belum memungkinkan berkumpul, maka kerinduan itu masih harus dipendam. Kita yakin bahwa Tubuh dan Darah-Nya adalah pemberian hidup Kristus untuk kita.
Maka jika ada kesempatan, sangat baik kalau bisa sesering mungkin menyambut komuni kudus, dengan-Nya kita diselamatkan.
Rindu pada getaran dan pesona senja.
Rembulan datang menggantikannya.
Tubuh dan Darah-Nya menyelamatkan jiwa.
Kita sangat rindu menyambutNya.
Banyuaeng, merindukan seseorang….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 11.06.20 PW. St. Barnabas Rasul Matius 10:7-13 / Teladan Seorang Pemimpin
“KITA akan mempunyai wakil presiden perempuan.” Seloroh orang menanggapi pencalonan Jokowi maju ke periode kedua. Ketika ditanya wartawan siapa bakal calon wakilnya, Jokowi hanya memberi inisial “M”.
Beredar nama-nama yang huruf awalnya “M”. Wartawan mencecar terus ingin tahu siapa “M” itu. Jokowi dengan tenang menjawab, “Mbok Sabar….”. Lalu muncul meme lucu yang mengatakan bahwa nama calon wakil presiden adalah Mbok Sabar.
Baru pada detik-detik akhir pendaftaran, Jokowi mengumumkan wakilnya adalah KH. Maaruf Amin. Banyak orang dibuat terkaget-kaget dan bertanya-tanya. Lawan politiknya dibuat terbengong diam.
Kawan seperjuangan dibuat terheran-heran dengan langkahnya yang tak terduga. Tetapi itulah Jokowi, seorang pemain catur ulung dengan pemikiran dan strategi serang yang hebat.
Hari ini Gereja merayakan Santo Barnabas rasul. Ketika jemaat di Anthiokia mulai tumbuh, pimpinan jemaat di Yerusalem mengutus Barnabas untuk memimpin umat di Anthiokia.
Di dalam Kisah Para Rasul ditulis, “Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasehati mereka, supaya mereka semua tetap setia pada Tuhan. Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman, sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.”
Barnabas adalah orang yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Inilah pribadi seorang pemimpin. Ia mampu melihat hal-hal baik dalam diri jemaat maupun orang lain. Ia melihat kasih karunia Allah dalam diri umat.
Seorang pemimpin mampu melihat kebaikan-kebaikan dalam diri mereka yang dipimpin. Ia bukan pemimpin yang mau menangnya sendiri. Seorang pemimpin bukan menonjolkan kebaikannya sendiri.
Barnabas juga bukan orang yang otoriter atau “single fighter.” Maka ia pergi ke Tarsus mencari Saulus. Ia membawa Saulus ke Anthiokia. Walaupun waktu itu di Anthiokia sudah ada beberapa nabi dan pengajar.
Kehadiran orang baru dan “asing” pasti menimbulkan pro dan kontra. Apalagi Saulus dikenal sebagai “lawan” yang mengejar murid-murid Tuhan. Inilah kehebatan Barnabas. Ia mampu menyatukan kawan dan lawan untk melayani jemaat di Anthiokia.
Barnabas juga seorang yang rendah hati. Ia tidak gila kekuasaan atau hormat. Ketika awal perutusannya dengan Saulus, namanya ditulis di depan. Barnabas dan Saulus. Mulai di tengah Kisah Para Rasul, namanya berpindah ke belakang.
Paulus dan Barnabas. Ia tahu kapan waktunya mundur dan memberi tempat kepada orang lain untuk tampil ke depan. Seorang pemimpin yang berjiwa rendah hati. Kita bersyukur mempunyai pemimpin yang menjadi teladan bagi umat. Mari kita belajar dari Santo Barnabas, Rasul.
Mawar merah dan putihnya melati
Berjajar indah di taman yang rapi
Jiwa pemimpin yang rendah hati
Hanya mengutamakan yang dilayani
Cawas, hari yang indah…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 10.06.20 Matius 5:17-19 / Timun Wungkuk Jaga Imbuh
DALAM kasanah kosa kata Jawa, timun sering disebut-sebut dalam kisah maupun peribahasa. Misalnya, kisah “Kancil nyolong (mencuri) timun.” Juga ada peribahasa dengan memakai kata timun.
“Kaya timun mungsuh duren” (identik dengan cicak vs buaya) atau seperti judul di atas.Yang dimaksud dengan “timun wungkuk jaga imbuh” adalah sesuatu yang cacat (wungkuk=bengkok) tetapi bisa dipakai untuk melengkapi atau menggenapi yang kurang sempurna.
Penjual di pasar sudah menyiapkan timun-timun yang cacat (bengkok) untuk menggenapi sebagai tambahan jika timbangan masih kurang sedikit. Peribahasa ini menggambarkan ada satu yang kurang bisa ditambahkan untuk menggenapi atau menyempurnakan.
Dalam Injil hari ini Yesus, “Janganlah kalian menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
Yesus melihat bahwa hukum Taurat dan Kitab para nabi itu baik untuk mengantar orang pada keselamatan. Yesus datang untuk mewujudkan keselamatan itu terjadi.
Hukum Taurat bukan hanya tulisan tentang larangan atau aturan yang harus dihapalkan, tetapi diwujudkan. Yesus hadir untuk mewujudkan sehingga hukum itu digenapi menjadi nyata.
Hukum bukan sesuatu yang membelenggu dan menakutkan orang, tetapi pelaksanaan hukum harus disempurnakan atas dasar kasih. Hukum untuk menyelamatkan orang, bukan hukum untuk menindas orang. Taat pada hukum harus disempurnakan dengan kasih yang menyelamatkan. Kasih melebihi ketaatan buta terhadap hukum.
Yesus datang untuk menggenapi, artinya Yesus mewujudkan hukum itu menjadi nyata terjadi. Hukum bukan hanya sebuah tulisan mati melainkan menjadi way of life dalam kehidupan nyata.
Kita juga bisa mewujudnyatakan hukum kasih dalam hidup kita. Misalnya, pada suatu antrian, kita mendahulukan lansia, orang sakit, ibu hamil, orang difabel. Itulah hukum yang digenapi dalam tindakan kongkret.
Ngobrol bercanda sampai larut pagi.
Sambil menikmati butiran kacang bawang.
Hukum bukan untuk menakut-nakuti.
Hukum itu untuk memerdekakan orang.
Cawas, larut sampai pagi….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr