by editor | May 8, 2020 | Artikel
Perpustakaan Istana Kepausan // Minggu, 3 Mei 2020
Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!
Minggu Paskah Keempat, yang kita rayakan hari ini, dipersembahkan kepada Yesus Sang Gembala Baik. Injil mengatakan demikian : “Domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (Yoh 10:3). Tuhan memanggil kita menurut nama kita. Ia memanggil kita karena Ia mengasihi kita. Akan tetapi, Injil mengatakan, ada suara-suara lain yang tidak boleh diikuti, yaitu suara orang-orang asing, para pencuri dan perampok yang ingin mencelakakan kawanan domba.
Suara-suara yang berlainan itu bergema didalam diri kita. Ada suara Allah, yang dengan lembut berbicara kepada hati nurani dan ada suara yang menggoda yang menuju kepada kejahatan. Bagaimana kita dapat mengenali suara Sang Gembala Baik dan suara si pencuri, bagaimana kita dapat membedakan inspirasi dari Allah dengan saran dari si jahat? Anda dapat belajar memahami kedua suara ini: sesungguhnyalah mereka berbicara dalam dua bahasa yang berbeda, artinya mereka memiliki cara-cara yang saling bertentangan untuk mengetuk hati kita. Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda.
Sebagaimana kita tahu bagaimana caranya membedakan satu bahasa dari bahasa lainnya, kita juga dapat membedakan suara Allah dan suara si jahat. Suara Allah tidak pernah memaksa kita: Allah menawarkan diri- Nya, Ia tidak memaksakan diri-Nya. Sebaliknya suara si jahat menggoda, menyerang, memaksa: suara itu membangkitkan berbagai ilusi yang menyilaukan, perasaan-perasaan yang menggoda namun sifatnya hanya sementara.
Pada awalnya suara itu menyanjung, membuat kita percaya bahwa kita sungguh berkuasa, kemudian meninggalkan kita dengan kekosongan di dalam diri kita dan menuduh kita: “Engkau sama sekali tidak berharga”. Di lain pihak, suara Allah mengoreksi kita dengan kesabaran yang besar, namun selalu memberi kita semangat, menghibur kita: suara itu selalu membangkitkan pengharapan. Suara Allah adalah suara yang memiliki batas seluas cakrawala, sebaliknya suara si jahat menghadapkan Anda pada sebuah tembok, menyudutkan Anda.
Ada perbedaan lainnya. Suara sang musuh mengalihkan kita dari masa kini dan menginginkan kita berfokus pada ketakutan akan masa depan maupun pada kesedihan masa lalu-musuh kita tidak menginginkan masa kini-: ia membawa kembali kepahitan, kenangan akan ketidakadilan yang membuat kita menderita, akan mereka yang telah melukai kita…, dan banyak kenangan buruk lainnya.
Sebaliknya, suara Allah berbicara tentang masa kini: “Sekarang Anda bisa melakukan kebaikan, sekarang Anda bisa menggunakan daya kreativitas kasih, sekarang Anda bisa melepaskan segala kekecewaan dan penyesalan yang menjadikan hati Anda bagaikan tawanan.” Suara Allah menggerakkan kita, membawa kita maju, namun selalu berbicara dalam konteks masa kini: sekarang.
Sekali lagi: kedua suara tersebut membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda dalam diri kita. Pertanyaan yang dating dari Allah akan berupa : “Apakah yang baik untuk saya?” Sebaliknya, si penggoda akan berkeras menanyakan pertanyaan lain: “Apa yang akan saya lakukan?” Apa yang saya inginkan: suara yang jahat akan selalu berkisar pada diri kita, naluri-nalurinya, kebutuhan-kebutuhannya, semuanya sekaligus.
Itu seperti tingkah anak-anak yang menginginkan semuanya, saat ini juga. Suara Allah, sebaliknya, tidak pernah menjanjikan sukacita dengan harga yang rendah: suara itu mengundang kita untuk melampaui diri kita sendiri dalam menemukan kebaikan yang sejati, dalam menemukan kedamaian. Ingatlah: si jahat tidak pernah memberikan damai, ia menaruh hiruk-pikuk pada awalnya dan meninggalkan kepahitan setelahnya. Inilah gaya si jahat.
Akhirnya, suara Allah dan suara si penggoda berbicara dalam “lingkungan” yang berbeda: musuh kita lebih menyukai kegelapan, kepalsuan, gosip: sementara Tuhan mencintai cahaya mentari, kebenaran, dan kejernihan yang tulus. Musuh akan berkata kepada kita: “Tutuplah dirimu, supaya tak seorang pun mendengarkan dan memahami engkau, janganlah percaya!”
Sebaliknya, suara yang baik mengundang kita untuk membuka diri, untuk bersikap jernih dan menaruh kepercayaan kepada Allah dan sesama. Saudara-saudari terkasih, pada masa ini berbagai keprihatinan dan pemikiran menggiring kita untuk kembali masuk ke dalam diri kita. Kitamemperhatikansuara-suarayang menyentuhhatikita.
Marilah kita bertanya dari mana suara-suara itu datang. Kita mohonkan rahmat untuk mengenali dan mengikuti suara Sang Gembala Baik yang membawa kita keluar dari batasan-batasan mementingkan diri sendiri dan membimbing kita menuju padang rumput kebebasan sejati. Bunda Maria, Bunda Penasehat Baik, sertailah dan tuntunlah upaya kami dalam pembedaan roh ini.
Setelah Doa Ratu Surga
Saudara-saudari terkasih,
Hari Doa Sedunia bagi Panggilan dirayakan hari ini. Keberadaan umat Kristiani selalu dan seluruhnya merupakan sebuah tanggapan akan panggilan Allah, dalam segala keadaan hidup. Hari ini mengingatkan kita akan apa yang suatu hari dikatakan oleh Yesus, yaitu bahwa ladang Kerajaan Allah membutuhkan banyak kerja keras, dan bahwa kita harus berdoa kepada Bapa supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk bekerja di ladang-Nya (bdk. Mat 9:37-38). Imamat dan hidup yang dikonsekrasikan membutuhkan keberanian dan kegigihan; dan tanpa doa orang tidak akan mampu melalui jalan ini. Saya mengundang seluruh umat untuk memohonkan kepada Allah karunia berupa pekerja-pekerja yang baik bagi Kerajaan-Nya, dengan hati dan tangan yang terbuka bagi kasih-Nya.
Sekali lagi saya ingin mengungkapkan kedekatan saya dengan mereka yang sakit karena Covid-19, dengan mereka yang mendedikasikan diri mereka bagi perawatan orang-orang sakit tersebut, dan dengan mereka yang dalam cara apapun menderita karena pandemi ini. Pada saat yang sama, saya ingin mendukung dan mendorong kerjasama internasional yang terlaksana berkat berbagai inisiatif untuk menanggapi krisis serius yang sedang kita alami ini dengan baik dan efektif.
Sesungguhnyalah, penting untuk menyatukan berbagai ketrampilan ilmiah dalam cara-cara yang transparan dan tidak memihak, untuk menemukan vaksin-vaksin dan pengobatan-pengobatan, dan untuk menjamin akses universal kepada teknologi-teknologi esensial yang memungkinkan setiap orang yang terinfeksi, di belahan dunia yang manapun, untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang dibutuhkan.
Saya menujukan suatu ingatan istimewa bagi Asosiasi “Meter,” pelopor diadakannya Hari Nasional bagi anak-anak korban kekerasan, eksploitasi, dan pengabaian. Saya mendorong para penanggungjawab dan para pelaksana untuk meneruskan tindakan-tindakan mereka bagi pencegahan dan pembangkitan kesadaran yang dilakukan bersama-sama dengan berbagai agen pendidikan. Dan saya berterimakasih kepada anak-anak dari Asosiasi tersebut yang mengirimkan kepada saya sebuah kolase dengan ratusan bunga aster yang mereka warnai. Terimakasih!
Kita baru saja memulai bulan Mei, bulan Maria yang terbaik, saat para umat beriman banyak berkunjung ke berbagai tempat ziarah yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Tahun ini, sehubungan dengan situasi kesehatan saat ini, kita pergi ke tempat-tempat iman dan devosi itu secara batin, untuk menaruh segala kekuatiran, harapan, dan rencana-rencana kita bagi masa depan di dalam hati Sang Perawan Suci.
Dan karena doa adalah nilai yang universal, saya telah menerima proposal Komite Tinggi untuk Persaudaraan Umat Manusia supaya penganut semua agama bergabung secara spiritual pada tanggal 14 Mei dalam hari doa, puasa dan karya amal, untuk memohon kepada Allah agar membantu umat manusia mengatasi wabah coronavirus ini. Ingat: tanggal 14 Mei, seluruh umat beriman, penganut berbagai tradisi yang berbeda-beda, diharapkan untuk berdoa, berpuasa dan melakukan karya-karya amal kasih.
Saya mengucapkan selamat berhari Minggu kepada semua orang. Tolong janganlah lupa berdoa bagi saya. Selamat makan siang, dan sampai jumpa.
©Copyright – Libreria Editrice Vaticana
Translation – Justine Taroewidjaja
by editor | May 7, 2020 | Renungan
SEWU kutha uwis tak liwati.
Sewu ati tak takoni.
Nanging kabeh padha ra ngerteni,
lungamu neng endi.
Pirang taun anggonku nggoleki,
seprene durung bisa nemoni.
(Ribuan kota sudah kulewati, ribuan hati sudah kutanyai.
Tetapi semua tidak mengerti. Kemana engkau pergi.
Sudah berapa lama aku terus mencari.
Sampai sekarang belum pernah bisa kutemui).
Sepenggal syair Didi Kempot dalam mencari kekasihnya yang telah pergi. Ia telah mencari kemana pun namun tidak bisa menemui.
Ini mirip dengan pengalaman Tomas, “Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?”
Ini adalah pengalaman kita semua. Kita semua mencari Tuhan. Kita rindu memeluk Tuhan. Kita ingin menemukan keselamatan kekal. Kita ingin bersatu dengan Tuhan sumber kehidupan.
Tetapi kita tidak mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Kita berusaha pergi kemana-mana untuk menemukan Tuhan. Kita ziarah ke berbagai tempat ziarah. Kita berdoa di tempat-tempat sunyi. Kita pergi ke berbagai gereja.
Kita bertanya kepada orang pinter, cari dukun. Kita konsultasi kepada pastor rohaniwan. Kita belajar meditasi kepada guru rohani. “Nanging kabeh padha ra ngerteni.” Tetapi semua tidak ada yang tahu.
Yang tahu hanyalah Sang Jalan Kehidupan itu sendiri. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Yesuslah jalan menuju Bapa, sumber kebahagiaan sejati. Hanya melalui Yesus kita akan ketemu yang kita cari selama ini.
Yesus, kekasih kita pergi meninggalkan kita, bukan karena tidak mencintai kita. Tetapi “Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu.” Ia pergi untuk menyiapkan tempat bahagia di surga.
“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat, Aku akan datang kembali dan membawamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada.”
Kita tidak perlu patah hati seperti Didi Kempot karena Yesus pergi untuk menyediakan tempat bahagia bagi kita di surga. “Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.”
Itulah jaminan Yesus ketika Dia pergi naik ke surga meninggalkan kita. kita tidak perlu bingung pergi menjelajahi ribuan kota. Kita tidak perlu bertanya kepada ribuan hati. Kita sudah menemukan jawabannya. Yesuslah jalan, kebenaran dan hidup.
Ya mung siji dadi panyuwunku.
Aku pengin ketemu.
Senadyan sak kedheping mata.
Tak nggo tamba kangen jroning dhadha.
Cawas, menanti dalam galau…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | May 6, 2020 | Renungan
PRABU Salya sebenarnya tahu bahwa Nakula dan Sadewa diutus Prabu Kresna untuk minta mati kepada paman mereka. Karena Kresna tahu tidak ada lawan yang bisa menghadapi Salya yang punya aji Candabirawa.
Taktik ini sengaja dibuat oleh Kresna, supaya Salya luluh hatinya kepada ponakan sendiri. Maka Salya sadar bahwa Nakula Sadewa hanya sebagai utusan. Salya menyerahkan nyawa untuk kemenangan Pandawa. Dia tahu bagaimana caranya harus mati di tangan Pandawa.
Setelah Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya,Ia menjelaskan kepada mereka bahwa hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya; atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Ada diantara murid-Nya yang akan mengkhianati-Nya.
Tidak semua murid mampu mengerti maksud gurunya. “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.”
Kadang musuh yang berbahaya itu bukan dari orang lain, tetapi justru dari orang yang paling dekat.
Mungkin itu yang disebut musuh dalam selimut. Orang yang tidak kita duga, mereka yang paling dekat dengan kita justru tega menusuk dari belakang. Kita bisa ingat bagaimana Julius Caesar mati di tangan sahabatnya sendiri yakni Brutus.
Yesus dikhianati bukan oleh orang lain, tetapi oleh murid-Nya sendiri. “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.” Yesus mengingatkan kepada murid-murid-Nya agar supaya jika hal itu terjadi, para murid siap menghadapinya.
Para murid dipanggil untuk diutus. Yesus memberi tanggungjawab kepada mereka. Kita pun juga diutus. Maka seperti Yesus taat kepada Bapa yang mengutus-Nya, kita diajak taat kepada Yesus yang memanggil kita.
Banyak godaan menjadi utusan. Bahkan kadang godaan dan tantangan justru datang dari lingkungan terdekat kita sendiri. Marilah kita meneladan Yesus yang taat kepada Bapa kendati dikhianati oleh murid-Nya.
Virus corona datang tak kelihatan.
Ia menyelinap pelan namun lembut.
Berat memang menjadi utusan.
Kadang ada musuh dalam selimut.
Cawas, bulan di balik awan….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | May 5, 2020 | Renungan
HARI SELASA 5 Mei 2020 adalah hari berkabung nasional bagi Sobat Ambyar, Sad Girls and Sad Boys. The Lord of Broken Heart Mas Didi Kempot dipanggil Tuhan.
Dia dijuluki Godfather of Broken Heart, dewanya orang yang patah hati. Karena lagu-lagunya berkisah tentang hati yang kecewa ditinggal kekasihnya.
Tetapi dia selalu berkata,”senadyan patah hati nanging bisa dijogedi.” Daripada patah hati mending dijogedi. Walaupun patah hati tetapi tetap bisa berjoged, bergoyang.
Di atas panggung dia pernah berkata kepada penonton yang membanjirinya, “Ana sing ditinggal pacare? Sembahyangna ben entuk pacar sing luwih apik.” (Ada yang sedang ditinggal pacar? Doakan agar mendapat ganti yang lebih baik).
Dia menghibur orang-orang yang patah hati supaya tidak “baper” tetapi memandang dunia dengan gembira, tetap bisa berjoged ria. Dia menerangi hati yang gelap, kecewa, gundah dengan ritme goyang sangat menghibur.
Selamat jalan Sang Maestro. “Pirang tahun anggonku nggoleki seprene durung bisa nemoni.” Sekarang Mas Didi sudah ketemu dengan kekasih jiwamu di surga. .
Yesus berkata kepada orang-orang Farisi yang percaya kepada-Nya, “Aku telah datang ke dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.”
Yesus datang memberi terang kepada dunia yang penuh kesedihan, kegelapan. Yesus memberi harapan kepada orang yang putus asa. Yesus memberi kekuatan kepada mereka yang lemah dan tak berdaya.
Sabda bahagia-Nya menyentuh semua lapisan masyarakat. Yesus memberi jawaban kepada mereka yang lapar dan haus akan sabda Tuhan.
Kedatangan Yesus bukan atas kehendak-Nya sendiri. Ia diutus oleh Bapa untuk menyampaikan kasih-Nya. Melaksanakan kehendak Bapa itulah misi-Nya datang ke tengah-tengah kita.
Agar kita semua tidak hidup dalam kegelapan, tetapi melihat terang. Dan terang itu adalah Dia yang melaksanakan kehendak Bapa. Yesus itulah terang. Barangsiapa percaya kepada-Nya memperoleh terang hidup.
Yesus adalah jalan. Dengan percaya kepada-Nya orang akan sampai kepada Bapa. Karena Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”
Yesus bukan hakim, tetapi Yesus adalah Penyelamat. Seperti petugas pemadam kebakaran, ia berani mengorbankan nyawanya untuk bisa menyelamatkan jiwa orang. Demikian Yesus datang untuk menyelamatkan kita.
Wis tak coba nglalekake jenengmu saka atiku.
Saktenane aku ora ngapusi isih tresna sliramu.
Selamat jalan tumuju menyang swargamu.
Lagu-lagumu akan tetap mengalun di hatiku.
Cawas, my broken heart….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | May 4, 2020 | Renungan
SEMUA klub liga Inggris mengakui kalau mereka main di Stadion Anfiled, rasanya tidak hanya melawan sebelas pemain, tetapi duabelas. Pemain tambahan itu adalah penonton fanatik Liverpool.
Mereka punya semboyan “You’ll Never Walk Alone.” Dengan menyanyi, menari, bersorak dari tribune, mereka seolah ikut main di lapangan. Para pemain itu tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan penonton menggempur pertahanan lawan.
Pemain dan penonton menyatu menjadi pertunjukkan indah yang menggetarkan lawan-lawan mereka. Gemuruh nyanyian mereka seolah mau mengatakan, “Kalian tidak bermain sendirian, kami ikut mendukung dari pinggir lapangan. Kita bersatu padu.”
Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Yesus menyatu dengan Bapa. Bapa hadir dalam diri Yesus. Apa yang dikerjakan Yesus adalah pekerjaan Bapa. Ia adalah utusan Bapa. Dialah Mesias dari Allah.
Namun orang-orang Yahudi tidak percaya. KataNya kepada mereka, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya.”
Orang dinilai disiplin salah satunya bisa dilihat dari tingkat kehadirannya yang selalu tepat waktu. Orang dinilai jujur bisa dilihat dari akurasi laporan, transparansi dan akuntabilitasnya.
Orang sabar dinilai dari ketenangannya menghadapi masalah, tidak “grusa-grusu”, penuh pertimbangan. Penilaian terhadap seseorang itu dapat dilihat dari apa yang dikerjakannya.
Melihat pekerjaan-pekerjaan Yesus, mestinya orang bisa mengetahui siapakah Yesus itu sebenarnya. Tetapi orang-orang Yahudi itu masih bimbang, memaksa Yesus mengatakan secara terus terang.
Dalam kehidupan ini tidak harus segala sesuatu diucapkan. Suami istri itu tidak perlu mengatakan setiap menit setiap waktu, “Aku cinta padamu say”. Tetapi dari tindakan, perbuatan dan karnyanya menunjukkan bahwa mereka saling mengasihi.
Marilah kita menyatu dengan Yesus melalui tindakan dan karya-karya-Nya. Dengan karya belas kasih, orang akan melihat kita ini murid-murid-Nya.
Mari budayakan hidup bersih.
Kita cegah mata rantai corona.
Ikuti Yesus ajarkan cintakasih.
Akan jadi berkah untuk sesama.
Cawas, jangan menyerah….
Rm. A. Joko Purwanto Pr