by editor | May 13, 2020 | Renungan
JORDY ALBA, pemain sayap dari Barcelona itu pernah beberapa kali menjadi pemain cadangan yang menentukan. “Bukan, saya bukan pahlawan. Saya bekerja untuk seluruh team.”
Ia menolak dengan rendah hati ketika dijuluki pahlawan Barca. “Kami masing-masing punya tugas untuk membangun team yang solid. Kami harus menunjukkan performa yang baik agar team dapat hasil yang maksimal.” Katanya.
Kita tidak boleh meremehkan pemain cadangan atau pengganti. Pada saat-saat kritis dibutuhkan orang yang bisa menyelesaikan masalah, mencari solusi atas kebuntuan.
Dalam pandangan kita Matias mungkin sebagai pemain pengganti. Tetapi dia dipilih oleh Tuhan dengan perantaraan Roh Kudus. Mereka berdoa kepada Tuhan untuk memilih siapa yang akan menggantikan kedudukan Yudas Iskariot.
Yang kena undi adalah Matias. Dengan demikian rasul itu tetap berjumlah dua belas menjadi lambang dua belas suku Israel. Gereja adalah Israel baru yang berziarah menuju Kerajaan Allah atas dasar iman para rasul.
Panggilan menjadi rasul itu bukan kehendak kita sendiri. Tetapi itu adalah kehendak Tuhan. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
Kita tidak perlu minder atau rendah menjadi pemain cadangan. Pada saat-saat kritis dibutuhkan orang yang tepat pada tempat dan saatnya.
Dalam sebuah team pasti hanya ada satu kapten. Penjaga gawang walaupun dia berada di belakang tetap punya tanggungjawab yang sama besar dengan penyerang di depan.
Kita harus yakin karena yang memilih kita adalah Yesus. “Bukan kamu yang memilih Aku. Tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.”
Marilah kita melakukan tugas dan panggilan kita masing-masing. Dengan demikian kita menghasilkan buah yang baik.
Kita lawan covid sembilan belas.
Pakai baju APD yang pas.
Rendah hati seperti Matias.
Jalankan tugas dengan tuntas.
Cawas, selalu ada harapan….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | May 12, 2020 | Renungan
HANYA Didi Kempot yang menanam padi tapi yang tumbuh malah rumput liar (suket teki). Itu digambarkan dalam lagunya, “Suket Teki.”
Salah satu syairnya berbunyi begini, “Wong salah ora gelem ngaku salah, suwe-suwe sapa wonge sing betah. Mripatku uwis ngerti saknyatane, kowe selak golek menangmu dewe. Tak tandur pari, jebul thukule malah suket teki.”
Kalau diterjemahkan kira-kira begini, “Orang salah tidak mau mengaku salah, lama-lama siapa yang bisa betah (tinggal bersama). Mataku sudah tahu yang sebenarnya. Engkau hanya mau menang sendiri. Aku menanam padi tapi ternyata yang tumbuh malah rumput liar (Suket Teki)”.
Dia menanam kebaikan tetapi dibalas dengan kejahatan. Ia menabur kesetiaan tetapi yang muncul ketidak-setiaan.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.”
Supaya ranting-ranting banyak berbuah, maka ia harus tinggal pada pokoknya. Ranting-ranting juga harus dijaga agar tidak ada benalu yang mengganggu suplai makanan ke ranting-ranting.
Bapa sebagai Pengusahanya memelihara sungguh-sungguh agar ranting berbuah lebat. Yang tidak berbuah dipotong dan yang berbuah dibersihkannya.
Supaya kita menghasilkan buah, kita mesti tinggal di dalam pokoknya, yaitu Yesus. Buah apa yang dapat kita hasilkan? Yang diharapkan adalah buah kebaikan, kasih, sukacita, kerendahan hati, pengampunan, belarasa, solidaritas, toleransi dll.
Kiranya nilai-nilai itu yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Semakin bayak buah yang kita hasilkan, semakin kita memuliakan Bapa yang empunya kebun anggur. Dan kita pasti juga akan semakin dipelihara oleh Bapa sang pemelihara kehidupan.
Kalau yang tumbuh itu malah suket teki, maka yang muncul adalah kekecewaan, putus asa dan kesedihan.
Marilah kita menghasilkan anggur yang manis, yang akan memberi sukacita kepada banyak orang, terlebih Bapa pemelihara kita.
Paribasan awak urip kari balung lila tak lakoni.
Setya ing janji-Mu,
setya ing sumpah-Mu
ndherek Gusti tuhu.
Cawas, aku setia pada-Mu….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | May 11, 2020 | Renungan
DESTARASTRA masih menyimpan dendam kepada para Pandawa karena semua anaknya mati terbunuh di Padang Kurusetra. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena buta matanya.
Dendam membara saat melihat Werkudara memboyong saudara-saudaranya ke Hastina. Ia merangkul satu per satu para Pandawa. Ketika sampai giliran Werkudara, ia merangkul pundaknya.
Werkudara waspada, karena nasehat Kresna. Ia memikul gada rujak polo. Destarastra memiliki aji lebur geni di telapak tangannya. Ia meremas pundak Werkudara. Ia ingin membalas dendam atas kematian anak-anaknya.
“Mati kamu… Werkudara!!!. Rasakan aji lebur geni…!!!” Seketika gada rujak polo yang dipanggul Werkudara luluh lantak hancur berkeping diremas oleh Destarastra.
Karena ia buta, ia tidak tahu bahwa yang dipegang bukan Werkudara tetapi gada rujak polo. Karena ketahuan niat jahatnya, Destarastra dan Gendari pergi meninggalkan Hastina dengan rasa malu.
Bukan damai yang ditinggalkan di Hastina, tetapi keributan, pertentangan dan perselisihan di antara saudara. Puntadewa menyalahkan adiknya karena mempermalukan Destarastra dengan cara menipunya.
Dalam sabda perpisahan-Nya, Yesus meninggalkan para murid dengan damai. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu. Dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Jangan gelisah dan gentar hatimu.”
Kepergian Yesus tidak meninggalkan ketakutan, kegelisahan, kesedihan atau kesengsaraan, tetapi memberi harapan kepada para murid, bahwa Ia akan menyediakan tempat di rumah Bapa-Nya.
Yesus sangat mengasihi murid-murid-Nya. Ia meninggalkan damai sejahtera kepada mereka. Ia menyampaikan rasa tulus ikhlas kasih-Nya kepada murid-murid-Nya. Ia rela menghadapi salib karena dengan itu Ia menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa dan kasih-Nya kepada manusia.
Perpisahan Yesus dengan murid-murid-Nya dikenang sepanjang masa. Ia mengadakan perjamuan dengan mereka. Ia membasuh kaki para murid-Nya. Ia menyampaikan salam perpisahan penuh kasih dan harapan, bahwa kelak mereka akan berkumpul kembali di rumah Bapa-Nya.
Perpisahan bukan akhir, tetapi Ia berjanji akan datang kembali dalam kemuliaan. Sungguh perpisahan yang manis. Kematian Yesus untuk kehidupan kita. Pengorbanan membawa damai. Perpisahan untuk berjumpa di sorga.
Untuk melawan virus corona
Jangan pergi kita di rumah saja
Yesus pulang ke rumah Bapa
Ia memberi damai sejahtera
Cawas, masa depan ceria….
Rm. A.Joko Purwanto Pr
by editor | May 10, 2020 | Renungan
BALADEWA adalah guru bagi Duryudana dalam olah gada. Baladewa sedikit berpihak pada Duryudana karena istri mereka adalah kakak beradik. Erawati menjadi istri Baladewa.
Banowati menjadi istri Duryudana. Ketika Baratayuda, Baladewa mendukung Duryudana. Duryudana sangat mengasihi Baladewa. Apa yang dikatakan Baladewa selalu dilaksanakan.
Waktu itu Duryudana perang tanding melawan Bima. Baladewa memberi isyarat kepada Duryudana dengan teriak-teriak dari pinggir gelanggang, “Eling…yayi.. eling… yayi..eling…” itu adalah kode kepada Duryudana untuk memukul “pilingan” atau dahi Bimasena.
Kresna tidak kurang akal. Dia memerintahkan Petruk untuk memberi isyarat kepada Bima. Petruk berteriak, “puwa…ndara….puwa……puwa ndara.” Puwa artinya “pupu kiwa” atau paha kiri.
Kelemahan Duryudana ada di paha sebelah kiri. Bima mengayunkan gada Rujak Polo ke paha kiri Duryudana dan seketika itu rebah tak berdaya.
Yesus berkata kepada para murid waktu perjamuan perpisahan, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, dia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku-pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan Diri-Ku kepadanya.”
Duryudana sebagai murid mengasihi Baladewa gurunya. Ia melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Begitu pula Werkudara mengasihi Kresna sebagai penasehatnya.
Ia melakukan apa yang dikatakan kepadanya. Kendati sebatas isyarat, bagi orang yang saling mengasihi tahu apa maksud dari perintahnya itu.
Yesus pernah bersabda, “Kamu adalah murid-Ku jika kamu melakukan apa yang Ku-perintahkan kepadamu.” Tandanya kalau kita mengasihi Yesus adalah kalau kita memegang perintah-Nya dan melakukannya.
Perintah-perintah mana yang kita lakukan sebagai wujud kita ini mengasihi Yesus? Apakah sabda Yesus itu sungguh ada jejaknya dalam tutur kata dan tindakan kita setiap hari?
Perintah Yesus itu bisa kita terjemahkan dalam wujud nyata dalam hidup sehari-hari, entah untuk diri sendiri, keluarga, anak-anak, atau dalam masyarakat atau di tempat kerja. Pendek kata tindakan kita dapat menjadi perwujudan sabda-sabda-Nya.
Maunya beli mobil corola.
Malah dihantam virus corona.
Kita ini adalah murid-Nya,
Jika kita melakukan perintah-Nya.
Cawas, tetap semangat….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | May 8, 2020 | Renungan
DI ANTARA anak-anak Werkudara yang mewarisi sifat-sifat dan gaya ayahnya adalah Antasena. Werkudara atau Bima mempunyai tiga anak (Menurut Gagrag Jogja-Solo) yaitu Gatotkaca, Antareja dan yang bungsu adalah Antasena.
Gatotkaca lahir dari Dewi Arimbi. Antareja lahir dari Dewi Nagagini dan Antasena lahir dari Dewi Urangayu, Puteri Batara Baruna. Bentuk wayang Antasena mirip Bima tetapi wajahnya agak tengadah ke atas.
Antasena juga tidak bisa berbahasa halus seperti ayahnya. Dengan siapa pun dia memakai bahasa “ngoko.” Perilaku, tutur kata dan gayanya mirip dengan ayahnya. Berjumpa dengan Antasena, mengingatkan kita akan sosok Werkudara.
Yesus menjelaskan kepada Filipus bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Barangisapa mengenal Yesus juga akan mengenal Bapa-Nya. Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?”
Mungkin bagi Filipus, yang dimaksud Bapa adalah bapa lahiriah manusiawi. Namun Yesus datang dari Allah, Bapa yang di sorga.
Yesus mengajarkan apa yang disabdakan Bapa. Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Bapa-Nya. Apa yang dikatakan dan dilakukan berasal dari Bapa-Nya.
Ada pepatah Jawa yang mengatakan, “Kacang mangsa ninggala lanjaran.” Lanjaran adalah tonggak dari bambu yang menjadi tempat menjalarnya kacang panjang.
Pepatah itu mau mengatakan bahwa sifat-sifat seorang anak tidak akan jauh dari orangtuanya. Tutur kata dan tingkah laku seorang anak meniru apa yang dilihat dari teladan orangtuanya. Children see children do. Ada pepatah lain, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”
Apa yang diajarkan Yesus atau karya-karya-Nya tidak akan jauh dari kehendak Bapa-Nya. Jika kita melihat Yesus, kita juga bisa melihat Bapa-Nya.
Kalau Yesus mudah berbelaskasihan kepada orang kecil, miskin dan berdosa, demikian juga Bapa di sorga. Kalau Yesus begitu taat kepada kehendak Bapa, pastilah Bapa itu sangat mengasihi Putera-Nya.
Kalau kita mengaku menjadi murid Yesus, apakah kita juga melakukan teladan-teladan hidup-Nya? Jika ada orang ketemu kita, apakah mereka bisa menilai kita sebagai murid-Nya dari tutur kata dan perilaku kita.
Aktivitas di rumah saja.
Biar corona tidak menyebar kemana-mana.
Teladan kasih kepada sesama.
Adalah tanda kita menjadi murid-Nya.
Cawas, sunyi sepi sendiri…
Rm. A. Joko Purwanto Pr