Puncta 30.09.19 Lukas 9:46-50 / Cheerleader

 

SEORANG anak TK berlari-lari dengan sukacita kepada ibunya. “Mami..mami… aku ikut main drama di sekolah.”

Ibunya dengan sukacita memeluk anaknya. “Ya .. sayang, kamu memang luar biasa. Adek jadi pemeran utamanya?” tanyanya penuh harapan.

“Bukan mami, adik terpilih menjadi tukang tepuk tangan (Cheerleader).” Anak itu menjawabnya dengan bangga.

Ibunya menutupi kekecewaannya sambil mengelus kepala anaknya. “Oh.. ya bagus itu.” Ibunya berharap anaknya menjadi pemeran utama dalam drama di sekolah. Pikiran orang dewasa sangat berbeda dengan pikiran anak kecil.

Hari ini dalam Injil timbul pertengkaran di antara para murid Yesus memperebutkan posisi siapa yang terbesar di antara mereka.

Para murid itu ingin menjadi yang terdepan, paling utama, yang terbesar di antara mereka. Mereka bertengkar untuk itu. Namun Yesus menasehati mereka.

“Barangsiapa menerima anak ini demi namaKu, dia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku. Sebab yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.”

Seorang anak kecil berpikir polos, jujur, bahagia. Dia tidak berpikir menjadi pemeran utama atau pemeran pengganti. Ia merasa bahagia dengan posisinya.

Orang dewasa berpikir kedudukan, gengsi, kekuasaan, yang paling hebat. Mereka bahkan berani menggunakan segala cara untuk meraihnya.

Orang dewasa merasa cemburu kalau ada orang lain berhasil, sukses. Seperti para murid tidak suka, ada orang lain di luar kelompok mereka mengusir setan. Mereka sangat tertutup dan tidak ingin orang lain menjadi sukses.

Yesus mengingatkan kita supaya bersikap seperti anak kecil yang jujur, polos dan terbuka. Siapa yang menerima seorang anak kecil, dia menerima Yesus.

Jadi Yesus ada di pihak anak kecil itu. Marilah kita belajar rendah hati dan jujur pada diri kita sediri.

Pemain ronggeng namanya Srintil
Sehari-hari pergi ke pasar jualan bubur
Belajarlah kepada anak-anak kecil
Mereka polos, sukacita, enjoy dan jujur

Cawas, pagi yang sederhana
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.09.19 Minggu Biasa XXVI Lukas 16:19-31 / Kelelawar

 

SUATU sore yang cerah saya berada di Tigal. Saya mengunjungi suatu stasi di pedalaman. Stasi ini berada di kawasan hutan.

Sore itu saya melihat di langit ribuan kelelawar terbang melintasi langit yang cerah. Mereka seperti berarak-arak migrasi dari suatu tempat, untuk mencari makan di malam hari.

Saya mengagumi pola hidup binatang ini. Pola hidupnya serba terbalik. Mereka bekejra mencari makan di malam hari.

Berbeda dengan makhluk hidup lainnya yang mencari makan di siang hari. Kelelawar tidur di siang hari. Cara tidurnya juga terbalik, tidak seperti binatang lain.

Mereka menggatungkan diri dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Semua serba terbalik. Tapi paniki atau kelelawar ini nyam nyam rasanya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Lukas menjelaskan situasi terbalik antara sorga dan dunia. Yesus memberikan perumpamaan tentang orang kaya dan orang miskin.

Ketika mereka hidup di dunia, orang kaya menikmati kebahagiaan, orang miskin menderita sengsara. Ketika di alam baka, situasinya terbalik. orang miskin mengalami kebahagiaan dan orang kaya mengalami kesengsaraan.

Lasarus yang miskin hidup bahagia di pangkuan Abraham. Sedang orang kaya menderita sengsara dalam siksa neraka.

Pederitaa itu bukan karea tidak ada pemberitahua tetapi rag kaya itu tidak mau percaya kepada Mesias. Mereka ada Kitab Taurat Musa, tapi tidak diamalka.

Walaupu ada rag bagkit dari mati, tetapi kalau dasar ima mereka tidak percaya, ya tidak ada guaya.

Perwujudan iman itu harus sampai pada hal yang kongkret. Ketika ada orang miskin yang harus ditolong, ya harus berbagi untuk menolong.

Kalau iman tidak diwujudkan ya keselamatan tidak terjadi. Kesalahan si kaya adalah membiarkan si miskin hidup dalam penderitaannya.

Dia tidak tergerak untuk membantunya. Di alam sana pun orang miskin itu tak mampu membantunya.

Mumpung kita masih bisa membantu, marilah gunakan hidup kita untuk membantu sesama yang menderita. Mereka ada di sekitar kita.

Kelelawar keluar di waktu senja
Buah-buah yang segar adalah makanannya
Apalah artinya bergelimang harta
Jika tidak bisa selamat sampai di surga

Kerep, di suatu pagi yag cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 28.09.19 Lukas 9:43b-45 / Ramalan Raja Kediri

 

JAYABAYA pernah meramalkan tentang Pulau Jawa. Isi ramalannya antara lain:
“Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran. Tanah Jawa kalungan wesi. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang. Kali ilang kedhunge. Pasar ilang kumandhange. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak. Bumi saya suwe saya mengkeret.”

( Nanti kalau ada kereta tanpa kuda. Tanah Jawa berkalung besi. Perahu berjalan di angkasa. Sungai kehilangan sumbernya. Pasar kehilangan keramaiannya. Bumi makin hari makin mengecil).

Ramalan itu kini sudah menjadi nyata. Kita melihat kereta tanpa kuda yaitu kereta api. Tanah Jawa berkalung besi, itu adalah rel kereta api yang melintasi Jawa dari ujung barat sampai ke ujung timur, dari Serang ke Banyuwangi.

Perahu berjalan di awang-awang, yaitu pesawat terbang. Sungai sudah kehilangan sumber airnya. Sumber air sudah dibeli perusahaan air mineral.

Pasar kehilangan keramaiannya, pasar swalayan serba otomatis tanpa harus tawar menawar.

Semua transaksi memakai kartu bayar. Bumi makin mengecil. Kejadian di belahan bumi sana, dalam waktu yang bersamaan bisa diketahui di tempat lain. Dunia makin kecil seperti kampung saja.

Dalam Injil hari ini Yesus menubuatkan diriNya. “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Para murid waktu mendengar itu belum memahami dan mengerti maknanya.

Apa yang dimaksudkan Yesus itu. Mereka tidak tahu tapi segan bertanya kepadaNya.

Baru setelah peristiwa kebangkitan, mereka mengerti dan memahami apa yang dikatakan Yesus itu.

Diserahkan ke dalam tangan manusia berarti menderita di kayu salib. Yesus harus mengalami kematian di salib sebagai jalan keselamatan dunia.

Iman itu sebuah misteri Tuhan. Akal budi kita tak mampu memahami secara keseluruhan. Sedikit demi sedikit harus diungkapkan. Itulah pewahyuan.

Dari pihak Allah, Dia mewahyukan diriNya dalam Yesus. Dari pihak manusia yang menanggapi pewahyuan Allah disebut iman.

Yesus mewahyukan diriNya kepada manusia bahwa Ia berasal dari Allah. Manusia menanggapi itu dengan iman kepercayaannya.

Yesus memberitahukan kepada para muridNya bahwa Dia harus menderita sengsara, disalibkan dan mati. Namun pada hari ketiga dibangkitkan oleh Allah.

Marilah kita belajar memahami pewahyuan Tuhan dalam kehidupan kita. misteri Tuhan itu kadang belum kita mengerti sekarang. Tetapi iman tetap harus berjalan.

Buka kulkas baunya tak sedap
Ternyata kaos kaki masuk di dalamnya
Walaupun iman kadang terasa gelap
Namun Tuhan tak pernah jauh dari kita

Cawas, suatu siang yag cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.09.19 PW. St. Vinsensius a Paulo, Imam Lukas 9:19-22 / Iman Yang Kokoh

 

Menurutmu, siapakah Aku ini? Pertanyaan Yesus kepada para murid itu sekarang juga ditujukan kepada kita. kalau kita ditanya siapakah Yesus bagi kita, apa pendapat kita?

Kalau Petrus bisa merumuskan secara pribadi, “Engkaulah Kristus dari Allah? Lalu menurut kita siapakah Yesus itu?

Petrus memberi gelar atau sebutan Yesus sebagai Kristus atau Mesias pasti karena mempunyai pengalaman pribadi dengan Yesus.

Kalau hanya mengikuti orang banyak, dia bisa menyebut, “Yohanes Pembaptis yang bangkit, Elia yang hidup kembali atau salah seorang nabi dari zaman dahulu.”

Petrus tinggal copy paste saja. Tetapi dia menyebut lain dari pendapat orang banyak.

Keyakinan yang kokoh itu didasari oleh hubungan pribadi yang mendalam. Petrus melihat karya dan sabda Yesus sebagai perwujudan Mesias yang sudah hadir di dunia.

Lukas menempatkan pengakuan iman Petrus ini ada di tengah Injilnya. Apa yang sudah disampaikan oleh Malaikat Gabriel di awal, bahwa Maria akan mengandung Sang Mesias, kini sudah diakui kehadiranNya oleh para murid, khususnya Petrus.

Pengakuan Petrus ini nanti akan ditegaskan lagi di akhir Injilnya oleh Yesus sendiri ketika Dia berkata kepada dua orang murid yang pulang ke Emaus,

“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.”

Lukas mengajak pembacanya untuk berproses seperti Petrus, berani menyimpulkan secara pribadi siapakah Yesus bagi hidup kita.

Kalau iman kita kuat seperti Petrus, maka kendati menghadapi kesulitan dan tantangan seberat apapun, tidak akan goyah.

Iman Petrus Sang Batu Karang sungguh kuat, maka Yesus mempercayakan jemaatNya dibangun di atasnya.

Sekuat apakah iman kita? apakah kita bisa merumuskan sendiri siapakah Yesus bagi diri kita?

Ke Banyuaeng lewat Pokoh
Untuk melihat bunga yang sedang merekah
Kalau kita mempunyai iman yang kokoh
Badai apapun tak bikin goyah

Cawas, suatu malam yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 26.09.19 Lukas 9: 7-9 / Terkungkung oleh Dendam

 

RAMBO, The last Blood diputar di bioskop hari-hari ini. Rambo adalah mantan pasukan khusus Amerika yang dikirim ke medan-medan pertempuran ganas seperti Vietnam dan Afganistan.

Dia masih selalu terbayang pengalaman masa lalu dengan situasi peperangan. Kegagalan menyelamatkan orang-orang yang dicintai membuat dendamnya selalu membara.

Di halaman rumahnya dia membuat lorong-lorong jebakan seperti di medan perang. Ketika gadis keponakannya, Gabriela, mati di tangan mafia narkoba dan woman trafficking, hatinya meradang ingin membalas dendam.

Ia kejar bos mafia itu sampai di Mexico. Dia pancing semua penjahat itu masuk di pekarangannya yang penuh dengan jebakan.

Ketika bos mafia itu tinggal sendiri, Rambo menghujamkan pisau di dadanya dan memotong jantungnya, sambil berkata, “Rasakanlah bagaimana rasanya kehilangan.”

Injil hari ini menceritakan tentang Herodes Antipas, anak dari Herodes Agung. Herodes Agung mati dan kerajaannya dibagi kepada empat anaknya, termasuk Herodes Antipas.

Dialah yang memenjarakan Yohanes Pembaptis dan memenggal kepalanya. Pembunuhan ini membuat hatinya selalu diliputi kecemasan.

Bayangan kematian Yohanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya selalu menghantuinya.

Maka ketika Yesus dan murid-muridNya tampil berkarya di muka umum, Herodes takut. Ia mendengar berita ada orang yang tampil seperti Yohanes Pembaptis.

Padahal dia telah memenggal kepalanya. Herodes kawatir, jangan-jangan Yohanes Pembaptis hidup kembali. Berita tentang Yesus tersiar kemana-mana.

Mereka berkata, Yohanes telah bangkit. Ada lagi yang berkata, Elia muncul kembali atau seorang nabi dari zaman dahulu telah bangkit.

Herodes dibayangi ketakutan masa lalu. Kehadiran Yesus mengancam dan mengusik ketenangan hidupnya.

Ia ingin memastikan dan berusaha untuk dapat bertemu dengan Yesus.

Ketika kita tidak bisa berdamai dengan masa lalu, hidup kita akan diwarnai kecemasan. Pengampunan dan menerima masa lalu adalah cara untuk membuang ketakutan-ketakutan.

Seperti Rambo, Herodes, mereka belum bisa menerima masa lalunya yang kelam. Yang muncul adalah dendam kesumat, yang terus menghantui.

Marilah kita berdamai dengan diri kita dan kita peluk masa lalu sebagi bagian hidup.
Milikilah pengampunan dan penerimaan, supaya hati menjadi damai dan tentram.

Kalau ibukota sudah pindah ke Kalimantan
Pasti listrik tidak pernah lagi padam
Lebih baik punya hati yang penuh pengampunan
Daripada setiap hari menyimpan dendam

Cawas, suatu pagi yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr