Puncta 05.07.19 Matius 9:9-13 / Kedungombo, waktu itu

 

TAHUN 1985 banyak warga Kedungombo digusur demi pembangunan sebuah waduk. Mereka tidak mendapat ganti rugi yang layak.

Bahkan mereka yang berjuang menuntut haknya dicap sebagai PKI. Romo Mangunwijaya mengambil sikap tegas, berdiri di pihak mereka.

Ketika warga Kali Code akan digusur, Romo Mangun ikut membela mereka. Ia tinggal bersama mereka di bantaran sungai dan mendampingi warga.

Yesus memanggil Matius seorang pemungut cukai. Bagi kebanyakan orang, Matius dipandang sebelah mata.

Pekerjaan sebagai pemungut pajak dicibir oleh masyarakat karena dia anteknya penjajah Romawi. Ia dianggap pengkhianat bangsanya.

Maka para pemungut cukai dijauhi dan disingkiri masyarakat. Ia dianggap sebagai pendosa.

Yesus tidak demikian. Matius adalah seorang pribadi yang pantas dihargai dan diterima. Yesus bisa memisahkan antara pribadi dan pekerjaan.

Ia memanggil Matius menjadi muridNya. Ia menerima Matius sebagai pribadi yang dikasihi Allah sama seperti yang lainnya.

Maka Yesus bergaul akrab dengannya. Yesus makan bersama dengan mereka.

Tentu saja tindakan ini menimbulkan pro dan kontra. Orang-orang menganggap Matius berdosa.

Mereka juga melihat Yesus sebagai guru yang suci, yang datang dari Allah. Mereka tidak bisa menerima yang suci bersatu dengan yang berdosa.

“Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus menjawab pertanyaan mereka. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Aku datang bukannya untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Jawaban ini menunjukkan dengan jelas kedatangan Yesus untuk menyelamatkan. KeberpihakanNya kepada orang berdosa, tersingkir dan dikucilkan sangat nampak di sini. Ia berdiri di pihak mereka.

Jangan mudah mengikuti omongan atau penilaian banyak orang karena belum tentu benar. Yesus dengan tegas menunjukkan sikapnya.

Ia tidak ikut-ikutan menghakimi seperti kebanyakan orang. Ia berdiri pada posisi yang tegas dan tak terbantahkan.

Beranikah kita mengambil sikap tegas dalam membela orang lain? Ataukah kita lebih mengikuti omongan orang banyak karena takut?

Berdiri di pinggir jalan
Menanti mobil jemputan
Membela orang yang dikucilkan
Kita juga akan jadi korban

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 04.07.19 Matius 9:1-8 / Sanatio In Radice

 

DALAM Kitab Hukum Kanonik ada istilah Sanatio in radice, yang berarti penyembuhan pada akar.

Ada sebuah situasi dalam perkawinan yang tidak ideal. Sanatio in radice adalah usaha untuk membereskan perkawinan yang cacat atau tidak ideal itu.

Situasi perkawinan itu sedang “sakit”, maka dimungkinkan ada penyembuhan pada akarnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang yang sakit lumpuh itu sampai ke akar-akarnya.

Yesus tidak hanya menyembuhkan secara fisik saja. Yesus menyembuhkan akar dari kelumpuhan itu yakni dosa.

Orang Yahudi berpandangan bahwa orang lumpuh, orang buta, orang tuli digolongkan sebagai pendosa.

Karena mereka berdosa, maka Allah menghukum mereka dengan segala penyakit itu. Kondisi “celaka” itu diakibatkan oleh dosa mereka.

Pandangan ini tersirat dalam dialog ini, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” (Yoh 9:2).

Yesus ingin meluruskan pandangan orang banyak yang keliru. Ini dulu yang harus disembuhkan.

Maka Dia mulai dengan akar masalahnya. Dia berkata kepada orang lumpuh itu, Percayalah, anakKu, dosamu sudah diampuni.”

Orang lumpuh itu sudah tercemar oleh gagasan dosa yang membuatnya bernasib celaka. Maka Yesus berkata, “dosamu sudah diampuni.”

Tentu saja hal ini menggemparkan banyak orang. Yesus dituduh menghujat Allah. Dengan berkata begitu, Yesus ingin menunjukkan bahwa Dia punya kuasa mengampuni dosa karena Dia adalah Putera Allah.

Maka kalau Yesus mampu mengampuni dosa – karena Dia adalah Putera Allah – pastilah dengan mudah Ia menyembuhkan kelumpuhan fisiknya.

Begitulah orang lumpuh itu bangun, mengangkat tilam dan pulang ke rumahnya.

Kita harus yakin bahwa Yesus adalah Tuhan. Dia berkuasa mengampuni dosa dan menyembuhkan penyakit.

Kita juga belajar bahwa niat baik tidak selalu diterima dengan baik. Tetapi Yesus menegaskan untuk tidak berhenti berbuat baik kendati ditolak, dicurigai dan dibenci. Kebaikan tetaplah kebaikan walaupun disikapi negatif oleh orang lain. Jangan surut untuk terus berbuat baik.

Marina menari di atas menara
Jatuh terpeleset terbawa angin surga
Ayo terus berbuat baik untuk sesama
Tak perlu surut walau sering dicuriga

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 03.07.19 Pesta St. Tomas, Rasul Yohanes 20:24-29 / Hidup Tak Selamanya Sesuai Dengan Logika

 

Minggu dini hari kemarin, Suarez menangis tersedu di tengah Arena Fonte Nova Salvador, Brasil.

Pasalnya, tendangan pinaltinya ditepis oleh kiper Peru, Pedro Gallese. Sebelumnya, gol Suarez dianulir wasit karena dia tertangkap offside.

Menurut logika, Uruguay dijagokan bisa mengatasi Peru, si kuda hitam. Lagipula banyak predator gol di Uruguay seperti Suarez, Edison Cavani dan Stuani.

Suarez adalah “raja” gol di Uruguay. Tak ada yang menyangsikan reputasinya. Tapi apa lacur, dialah satu-satunya penendang pinalty yang tidak berhasil dari 10 penendang.

Alhasih Uruguay dipulangkan lebih awal oleh Peru yang tak diperhitungkan.

Peristiwa di atas adalah drama di arena sepakbola. Drama lain di arena kehidupan adalah drama asmara.

Jatuh cinta atau perasaan hati tak pernah bisa dirunut dengan logika. Tahun 1987 Vina Panduwinata, Si “Suara Centhil,” pernah menyanyikan syair ini: Dimana logika. Hatiku, jatuh cinta kepadanya. Oh tetapi, ternyata. Asmara, tak kenal dengan logika.

Tomas, Rasul yang hari ini kita peringati, ingin mendasarkan iman pada logika, nalar berpikir yang disertai dengan bukti-bukti kasat mata.

Ketika teman-temannya memberitahu bahwa sudah melihat Tuhan yang bangkit, Tomas memainkan logika berpikirnya,

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, aku sama sekali tidak akan percaya.”

Tidak ada yang salah dengan logika Tomas. Dia justru sedang menunjukkan keteguhannya, “keukeh” mempertahankan pendapatnya.

Akhirnya Yesus menjawab keteguhan hati Tomas. Ia datang dan berkata, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Harus dan selalu menuntut bukti nampaknya tidak selaras dengan kepercayaan. Karena Yesus menegaskan,

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Abraham dan Maria adalah contoh pribadi-pribadi yang sungguh percaya, kendati bukti-bukti secara logika nampak begitu jauh.

Kendati masa depan nampak gelap, tetapi secercah harapan tak pernah pudar. Tetap berani percayakah kita kepada Tuhan kendati masih gelap jauh dari harapan? Kadang hidup tidak selamanya sesuai dengan logika hasil olah pikiran kita. Itulah iman.

Ngefan banget sama Si Burung Camar
Suaranya centhil dan menggemaskan
Cinta tidak butuh logika yang lebar-lebar
Tetapi hati yang tulus dan penuh harapan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.07.19 Matius 8:23-27 / Gereja Di Bukit Mukattam

 

KALAU kita ziarah ke Mesir, ada sebuah gereja di sebuah bukit yang disebut Gereja Sampah.

Mengapa namanya demikian? Karena untuk mencapai gereja itu kita harus melewati perkampungan kumuh dimana sampah-sampah bertumpukan dan berbau.

Para pemulung sampah kota yang berjumlah sekitar 50,000 adalah jemaat gereja Kristen Koptik. Gereja Sampah di Bukit Mukattam/Moqattam itu punya sejarah iman yang mengagumkan.

Pada abad ke 10 M, Mesir berada di bawah kekaisaran Fatimiyah. Ada orang yang tidak percaya kebenaran Kitab Suci.

Di dalam Injil Matius 17:20 dikatakan, “Yesus berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu:

Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu’.

Orang itu datang kepada Patriark Abraam bin Zara untuk membuktikan kebenaran Injil itu. Dalam mimpinya, Patriark disuruh menjumpai seorang buta bernama Simon si penyamak kulit.

Pada pagi hari kemudian, Patriark, Simon si penyamak kulit dan seluruh jemaat menuju ke Bukit Mukattam disertai dengan orang-orang yang tidak percaya.

Simon dan seluruh umat berdoa dan menyanyikan “Kyrie Eleison Kyrie Eleison” sebanyak 400 kali. Lalu Patriark membuat tanda salib.

Tiba-tiba Bukit Mukkatam itu terangkat naik sehingga sinar matahari muncul dari celah-celah antara tanah dan bukit yang terangkat.

Bukit itu berpindah sejauh 3 km. Orang-orang yang melihat mukjijat itu menjadi tercengang dan mereka percaya.

Sabda Yesus hari ini menegaskan, : “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”.

Para murid berlayar bersama Yesus. Ketika perahu mereka diterjang badai, mereka ketakutan. Mereka berteriak, “Tuhan tolonglah, kita binasa.”

Karena kurang percaya kepada Yesus, mereka takut diterjang badai seperti orang-orang di Bukit Mukattam yang berseru “Kyrie eleison” artinya Tuhan Kasihanilah kami.

Sabda Yesus itu benar dan berwibawa. Angin dan badai pun tunduk padaNya. Dia adalah Tuhan atas alam semesta. Yang dituntut dari kita adalah percaya.

Di hadapan Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Mengapa kita kurang percaya, itulah yang menjadi masalah bagi kita.

Jika kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja sudah luar biasa. Marilah kita mohon iman kepadaNya.

Datang-datang mengetuk pintu
Yang dibuka malah jendela
Tuhan Yesus ampunilah aku
Orang yang kurang percaya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.07.19 Matius 8:18-22 / Punakawan

 

DALAM tradisi pewayangan Jawa, ada empat orang abdi setia para ksatria yang disebut Punakawan atau Panakawan.

Pana artinya paham. Kawan itu berarti sahabat. Mereka tidak hanya hamba atau abdi, tetapi uga berperan sebagai sahabat yang paham akan masalah yang sedang dihadapi tuannya.

Empat abdi itu adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka adalah pengikut setia para ksatria yang baik, jujur dan bijaksana.

Tugas mereka adalah mendampingi, menolong, mengingatkan dan menghibur para ksatria itu.

Kemana pun tuan mereka pergi, Punakawan pasti selalu setia mengikutinya. Dalam pementasan pewayangan, mereka bertutur kata lucu dan bertingkah laku kocak.

Mereka muncul di tengah-tengah cerita untuk mencairkan suasana. Saat mereka muncul disebut “goro-goro”.

Dalam bacaan hari ini Yesus “menyeleksi” orang-orang yang ingin mengikutiNya. Dia tidak menerima murid sembarangan saja.

Ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi. Misalnya, orang yang mengikutiNya harus siap menghadapi segala resiko.

“Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletekkan kepadaNya.”

Kepada orang lain, Yesus mensyaratkan agar berani meninggalkan segala-galanya. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati, tetapi engkau ikutlah Aku.” Sepertinya tidak ada kompromi.

Seperti para abdi di Kraton – bisa dijumpai di wilayah Paroki Pugeran Yogyakarta – mereka sangat setia dan loyal kepada raja.

Bukan harta dunia yang dikejar, tetapi kebahagiaan surga. Maka sungguh membahagiakan boleh menjadi abdi raja.

Ini adalah status bergengsi. Menjadi abdi adalah anugerah luar biasa. Tuntutan atau kriteria yang sangat berat itu hanya bisa tercapai kalau Allah sendiri yang memanggil. Atas kemauan kita sendiri justru sering gagal di tengah jalan.

Panggilan menjadi murid Yesus juga berasal dari Allah sendiri. Boleh menjadi muridNya adalah anugerah. Kita pantas bersyukur dipilih menjadi pengikutNya.

Kalau para Punakawan itu dengan setia menjalankan peran mereka, apakah kita sebagai pengikut Yesus juga tergugah menjalankan tugas kita?

Peran kita sebagai pengikut Yesus adalah setia mengikutiNya dan memanggul salib kita setiap hari. Apakah kita sudah menjalankan tugas kita ini?

Punakawan adalah abdinya para ksatria
Muncul dalam gelak canda tawa
Menjadi murid Yesus adalah panggilan kita
Kita jalani dengan gembira dan setia

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr