Puncta 20.09.20 / Minggu Biasa XXV / Matius 20:1-16

 

“Askida Egmek”

ARTI harafiah kata askida egmek adalah roti yang ditaruh di keranjang yang tergantung. Namun di balik roti yang tergantung itu ada pelajaran berharga yang pantas kita teladani.

Ada kebiasaan bagus yang terjadi berabad-abad di Turki. Orang biasa membeli roti di toko. Ia membeli 4 buah roti, tetapi ia membayar untuk 8 buah roti. Si penjual mau mengembalikan uang sisanya, “Tuan anda membayar lebih, ini uang kembaliannya.”

Sang pembeli mengatakan, “ taruh saja roti sisanya di keranjang, nanti kalau ada orang yang memerlukan.” Si penjual mengatakan, “Semoga Tuhan memberkati amalmu, tuan.” Ia menaruh 4 roti di keranjang gantung.

Ada orang miskin yang datang ke toko. Ia ingin makan roti tetapi tidak punya uang. Si penjual memberinya 4 buah roti di kantongnya. Orang miskin itu berkata, “Bapak saya cukup makan dua roti saja. Biarlah yang dua untuk orang yang lebih membutuhkan.”

Begitulah askida egmek itu terjadi terus menerus menjadi kebiasaan untuk berbelarasa dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Kasih itu tidak pandang bulu, tanpa membeda-bedakan.

Siapa pun yang datang ke toko roti selalu menyisihkan untuk menolong sesamanya. Suatu kali mereka akan mengenang kebaikan itu dan berusaha untuk membalasnya dengan kemurahan hati yang sama.

Bacaan Injil hari ini mengungkapkan tentang belaskasih Allah yang tidak pandang bulu dan membeda-bedakan. Yesus memberi perumpamaan tentang seorang raja dan pekerja. Mereka sepakat dengan upah sedinar sehari. Ada pekerja yang bekerja dari pagi. Tetapi ada yang baru mulai bekerja sore hari. Mereka mendapat upah yang sama.

Maka bersungut-sungutlah mereka yang bekerja sejak pagi. Mereka menilai raja itu tidak adil. Tetapi kesepakatannya adalah sedinar sehari. Raja itu menjawab,”Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

Allah itu murah hati. Allah itu adalah kasih. Ia mempunyai hati berlebih untuk manusia, khususnya yang lemah, miskin dan menderita. Kalau kita mau meniru Allah yang murah hati, kita harus memiliki hati yang berlebih. Menolong tidak harus menunggu kita kaya. Asal kita memiliki hati berlebih, kita bisa membantu sesama.

Orang kaya kalau tidak punya hati berlebih, ia tidak akan ikhlas memberi sesamanya. Orang miskin kalau punya hati berlebih, ia dengan sukacita berbagi dengan sesamanya. Mari kita bermurah hati sebagaimana Allah murah hati kepada kita.

Jalan-jalan ditutup untuk pergi ke kota.
Agar virus berkurang di masa pandemi.
Mari kita bermurah hati pada sesama.
Karena Allah lebih dulu bermurah hati.

Cawas, kopi hitam….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.09.20 / Lukas 8:4-15 / Humus

 

BAPAK selalu menasehati supaya sampah-sampah dedaunan tidak dibakar, tetapi dikumpulkan dalam sebuah lubang. Tujuannya supaya membusuk dan bisa menjadi humus, yakni bunga tanah yang akan menjadi bahan makanan bagi tanaman. Kalau tanah itu banyak humusnya dia akan subur dan bisa ditanami berbagai jenis tanaman, karena di situ ada banyak makanan bagi tumbuh-tumbuhan.

Bahan-bahan organik, terutama daun-daun yang membusuk bercampur dengan tanah banyak mengandung unsur hara yang akan menyuburkan tanaman. Di kebun banyak pohon-pohon yang berguguran. Daun-daunnya dikumpulkan di “jogangan” Di tempat-tempat seperti itu biasanya tanahnya subur.

Yesus mengungkapkan suatu perumpamaan, ”Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih. Waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung di udara sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di semak-semak berduri sehingga terhimpit sampai mati oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat.”

Penjelasan selanjutnya adalah, bahwa benih itu adalah sabda Allah. Yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang telah mendengarnya, kemudian datanglah iblis, lalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang menerima sabda, tetapi tidak berakar. Mereka hanya percaya sebentar saja dan dalam pencobaan mereka murtad.

Yang jatuh di dalam semuk duri adalah orang yang menerima sabda itu, lalu mereka dihimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan dunia, sehingga tidak menghasilkan buah yang matang.

Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda dan menyimpannya dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah yang banyak.

Tanah macam apakah kita ini bagi sabda Allah? Apakah kita menghasilkan buah-buah yang baik sehingga banyak orang merasakan hidup lebih baik karena ada di sekitar kita? Apakah kita menjadi tanah yang banyak humusnya?

Tanah yang baik menyuburkan tanaman.
Hidup yang baik menyuburkan persaudaraan.

Cawas, kalung emas….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.09.20 / Lukas 8:1-3 / Swarga Nunut Naraka Katut

 

“KALAU aku disuruh ikut ke neraka ya sorry lah, perempuan zaman sekarang independen, mandiri dan bisa menentukan kehidupan,” kata Anisa.

“Aku ingin punya suami yang bisa membawa kepada kebahagiaan lah, masak milih suami yang gak punya kerja, cuma main judi, mabuk-mabuk, pengangguran,” sahut Angel. “Laki-laki macam gitu mah cuman ngajak ke neraka, sorry ya.”

“Adagium atau pepatah Jawa itu merugikan perempuan. Itu bagian dari penjajahan laki-laki (suami) terhadap wanita (istri). Surga (kebahagiaan) ditentukan oleh suami dan istri, bukan monopoli sang suami. Istri juga bisa menentukan surganya sendiri. Itu pepatah kuno yang harus ditinggalkan. Suami istri punya hak yang sama untuk menentukan nasibnya,” protes si Martha.

Perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai “kanca wingking” atau orang yang di belakang. Zaman dulu perempuan dianggap tidak punya suara, tidak berhak memutuskan sesuatu. Ia harus ikut keputusan laki-laki atau suami.

Perempuan zaman sekarang independen, merdeka, mandiri. Ia punya hak yang sama dengan laki-laki. Ia berhak menentukan nasibnya sendiri.

Perempuan sekarang adalah mitra, partner, teman sekerja dan senasib dengan laki-laki atau suami. Kebahagiaan dicapai dan diusahakan bersama. Laki-laki dan perempuan saling membantu dan melengkapi.

Dalam karya-Nya, Yesus melibatkan para murid dan beberapa wanita. Selain keduabelas rasul yang adalah lai-laki, ada beberapa wanita ikut menyerta-Nya, yakni; Maria yang disebut Magdalena, Yohana istri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan masih banyak lagi yang lain. Mereka melayani seluruh rombongan dengan harta kekayaan mereka.

Para wanita itu ikut terlibat dalam karya Yesus. Bahkan Yesus menampakkan diri setelah bangkit justru kepada para wanita. Pewarta pertama tentang kebangkitan adalah wanita.

Jadi para wanita itu adalah penentu, pewarta, bukan “kanca wingking” atau hanya “nunut atau ngatut” saja. Jangan sekali-kali menganggap rendah, remeh para wanita. Kalau mereka dilibatkan, dahsyat jadinya……

Siang-siang memanjat pohon kelapa.
Kelapa muda sungguh segar airnya.
Jika kita mau menghormati para wanita.
Beri mereka hak untuk menentukan hidupnya.

Cawas, diberi handuk bergambar anggrek…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 16.09.20 / PW. St. Kornelius, Paus dan St. Siprianus, Uskup dan Martir / Lukas 7:31-35

 

Abunawas dan Keledai

SUATU kali Abunawas dan anaknya pergi ke pasar mau menjual keledainya. Mereka berjalan bersama menggiring keledai. Ada orang berkomentar, “Mengapa keledai itu tidak ditunggangi?”

Abunawas menyuruh anaknya naik ke punggung keledai. Ibu-ibu menegur si anak, “Anak tidak sopan, orangtua disuruh berjalan, dia sendiri enak-enak naik keledai.” Si anak kemudian turun dan menyuruh bapaknya naik keledai.

Masih juga ada yang berkomentar, “Bapak tidak kasihan sama anak. Dia duduk enak,sedangkan anaknya harus berjalan menuntun keledai.” Abunawas bingung. Ia minta anaknya ikut naik ke punggung keledai.

Keledai itu berjalan tertatih-tatih. Para “blantik” (penjual hewan) geleng-geleng kepala. “Bagaimana keledai akan laku dijual kalau tidak sehat karena kelelahan?” Akhirnya Abunawas dan anaknya memikul keledainya menuju ke pasar hewan.

Yesus juga kebingungan menghadapi orang-orang sezaman-Nya. “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru, “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.”

Kehadiran Yohanes Pembaptis sebagai nabi, yang tidak makan, tidak minum anggur dianggap kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum. Orang-orang menyebut-Nya sebagai pelahap, peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Yesus menyebut mereka itu seperti anak-anak yang duduk di pasar. Anak-anak itu pikirannya masih plin-plan. Mudah diombang-ambingkan oleh pendapat orang lain. Anak-anak belum bisa menentukan keyakinannya sendiri. Anak-anak lebih tertarik pada apa yang sedang tenar, bukan apa yang benar. Kalau senang diikuti, tetapi kalau tidak senang ditinggalkan. Hanya ikut maunya sendiri.

Yohanes Pembaptis datang membawa kebenaran. Cara hidupnya penuh askese dan matiraga. Ia ditolak. Yesus datang membawa keselamatan. Tetapi mereka tidak mempercayai-Nya.

Mereka lebih senang dengan nabi-nabi palsu yang menina-bobokan kepercayaan mereka. Nabi-nabi yang sukanya memecah belah dan memfitnah. Nabi seperti Yohanes Pembaptis atau Yesus tidak laku bagi mereka.

Sungguh nikmat makan buah rambutan.
Dapat buah ace malah disimpan-simpan.
Tidak mudah jadi pewarta kebenaran.
Akan ditolak dan ditentang habis-habisan.

Cawas, makan buah ace….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 15.09.20 / PW. St. Perawan Maria Berdukacita / Yohanes 19:25-27 atau Lukas 2:33-35

 

“Ibu”

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ‘ku membalas. Ibu….

Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa ‘ku membalas. Ibu…..

LIRIK lagu Iwan Fals ini mau menggambarkan kasih seorang ibu yang penuh derita dan pengorbanan. Ibarat pepatah, “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah,” kasih seorang ibu tak akan terbalas oleh apa pun. Kasihnya seperti udara yang memberikan kehidupan bagi anak-anaknya.

“Jangan pernah meremehkan kasih dan pengorbanan wanita atau seorang ibu” kata Mimin dengan wajah serius. “Kasih dan pengorbanan seorang ibu itu mulai dari terbitnya matahari sampai terpejamnya mata suami. Coba bayangkan, pagi-pagi buta sudah masak, memandikan anak, siapkan baju, mengantar sekolah, bekerja seharian di rumah, malam-malam sudah capek, suami minta jatah. Ya, harus mau, tidak boleh wegah, wong itu sudah tugasnya istri solehah…..” katanya disambut gelak tawa penonton.

“Begitu saja masih ada suami yang suka jajan. Goleki awake dewe ya Lik…” kata Apri menimpali. Penonton yang kebanyakan laki-laki bersorak gemuruh seolah mengiyakan kata-kata mereka.

Dalam Injil yang kita dengarkan untuk menghormati Maria yang berdukacita, kita melihat sosok Maria yang ikut menderita bersama Puteranya di kayu salib.

Maria kehilangan segala-galanya. Anak tunggal satu-satunya mati di pangkuannya. Seperti yang diramalkan oleh Simeon, “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” menjadi nyata ketika Maria mengikuti penderitaan Yesus sampai di Golgota.

Seorang ibu pasti tidak menginginkan buah hatinya menderita. Bahkan tergores luka sedikit pun jangan. Seorang ibu hanya ingin melihat kebahagiaan anaknya. Suara tangisnya tak terdengar, tetapi hatinya pilu melihat penderitaan anaknya.

Tetapi Maria menjadi teladan teguhnya iman dan kokohnya pendirian. Sekali mengatakan iya, ia tidak mundur selangkah pun. “Aku ini hamba Tuhan.” Jawaban itu menjadi awal dimulainya pengorbanan dan dukacita Maria. Ia menjadi teladan iman bagi semua ibu.

Ketika kita sedang berduka oleh beratnya hidup, kita punya seorang ibu, yakni Maria. Ia tidak akan tega kita, anak-anaknya menderita. Datang dan berdoalah kepada Bunda Maria. Pasti kita ditolongnya.

Sekolah mundur karena corona.
Pelajaran daring bikin pusing orangtua.
Maria Bunda yang berdukacita.
Tolonglah kami yang masih berjuang di dunia.

Cawas, pelajaran tertunda….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr