by editor | Jan 25, 2020 | Renungan
ADA sebutan-sebutan untuk kota atau daerah tertentu. Muntilan itu disebut Betlehem van Java.
Karena dari Muntilan kemudian lahir benih-benih iman Katolik yang kemudian menyebar kemana-mana pada zaman Romo Van Lith.
Jogjakarta pernah disebut sebagai The city of tolerance. Tetapi kejadian beberapa waktu yang lalu seperti, orang Katolik tidak boleh dimakamkan di tempat umum, salib di makam dipotong, penganiayaan terhadap Rm. Prier SJ yang sedang memimpin misa, orang Katolik tidak boleh tinggal di sebuah kampung dan diusir dari rumahnya, lalu baru saja terjadi pembina pramuka mengajarkan tepuk pramuka yang diskriminatif.
Jogjakarta tidak lagi menyandang sebagai kota toleran. Toleransinya sudah luntur. Bandung disebut sebagai Paris van Java, karena keindahan dan asrinya kota itu ibaratnya Paris di Eropa.
Walaupun banjir, kemacetan dan sampah menjadi masalah pelik di sana. Surabaya kini bisa disebut sebagai Venesia dari Timur.
Yesus berdiam di Kapernaum. Kota Kapernaum disebut sebagai The City og Jesus karena disini Yesus hidup dan berkarya.
Ia meninggalkan Nasaret karena orang-orang Nasaret tidak mau menerimaNya. Di Kapernaum Yesus banyak mengajar dan melakukan mukjijat.
Orang Kapernaum lebih terbuka pada pewartaan Kabar Gembira. Orang dari mana-mana datang ke Kapernaum untuk mendengan pengajaran Yesus dan mohon disembuhkan dari berbagai penyakit.
Yesus mengajarkan Injil kasih Allah. Sesuatu yang baru dan menarik daripada ahli-ahli kitab orang Yahudi.
Pengajaran Yesus disertai dengan karya nyata yakni menyembuhkan orang sakit. Allah sungguh-sungguh hadir dan menyapa umatNya.
Akhirnya semakin banyak orang berbondong-bondong datang mengikuti Yesus. oleh karena itu, Dia membutuhkan murid-murid yang bisa membantu mewartakan Injil. Maka dipanggilnya duabelas orang menjadi kawan terdekatNya.
Simon dan Andreas, Yakobus dan Yohanes dipanggil untuk menemaniNya. Mereka diajak untuk menjala manusia. Mereka inilah murid-murid awal yang menjadi soko guru bagi gereja.
Bersama mereka, Yesus berkeliling ke seluruh Galilea, mewartakan Injil Kabar sukacita dan melenyapkan segala penyakit. Kabar Sukacita itu sungguh dapat dirasakan oleh banyak orang.
Kita yang sudah dibaptis juga dipanggil ikut melaksanakan tri tugas Kristus yakni menjadi nabi, imam dan raja. Apakah kita sudah ikut ambil bagian di dalam tugas itu?
Mari kita terlibat menjadi murid-murid Yesus di zaman milenial ini.
Semangat berkobar di Tahun Baru Imlek
Nonton lampion merah di tengah kota
Jangan kita malas dan berhati lembek
Ikut Yesus mewartakan Kabar Sukacita
Cawas, sepak pojok dengan tendangan gunting
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 24, 2020 | Renungan
PRIA dengan rambut dan jenggot sudah memutih ini sangat bersemangat ketika menceritakan perjuangannya menghijaukan Bukit Gendol dan Bukit Ampyang di Kecamatan Bulukerto, Wonogiri.
Ia berjuang sendirian selama 23 tahun menanam pohon beringin di kedua bukit itu. Kini sudah ada 11.000 pohon menghijaukan bukit yang dulu gundul itu. Ia dianggap edan/gila oleh masyarakat sekitarnya.
Dia mengajak kami naik ke bukit dan menanam 4 pohon beringin. Ia membawa kertas kardus dan spidol untuk ditulisi sebagai penanda peristiwa penanaman itu.
Di kertas itu ditulis, “23 Januari 2020. Romo Pastor UNIO KAS se-Indonesia.” Mbah Sadiman adalah orang sederhana tetapi cita-cita dan kemauannya tinggi, visioner dan tanpa pamrih.
Ia berjuang demi menyelamatkan lingkungan alam yang rusak. Berkat kerja kerasnya yang tak kenal lelah, kini penduduk tidak mengalami kekurangan air walau musim kemarau panjang.
Hari ini Gereja merayakan pertobatan Santo Paulus. Ia yang dulunya bernama Saulus adalah orang yang getol enganiaya jemaat Kristen perdana.
Ia mengejar, menangkap dan memenjarakan siapa saja yang mengikuti Yesus. dengan kuasa wali negeri, ia mengejar mereka sampai di Damsyik.
Di kota itu dia mengalami penglihatan. Ia berjumpa secara pribadi dengan Yesus yang sudah bangkit.
Yesus berkata, Saulus, Saulus, mengapa Engkau menganiaya Aku?”
Saulus bertanya, “Siapakah Engkau Tuhan?”
Kata-Nya “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.”
Ada banyak tokoh besar mengalami pertobatan dalam hidupnya. Saulus berubah dari orang yang menganiaya menjadi pewarta iman yang hebat. Ia menjadi orang yang tergila-gila kepada Kristus.
Bagaimana Paulus berubah total. Dahulu ia membenci dan bahkan ingin memusnahkan para pengikut Kristus.
Namunsetelah ditangkap oleh Yesus, ia berani dengan gagah berkata, “Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil.”
Seperti Mbah Sadiman yang getol ingin menyelamatkan alam yang rusak, berjuang sampai dianggap seperti orang gila, menanam pohon demi keselamatan lingkungan dan anak cucu.
Demikianlah orang yang mengalami dikasihi oleh Allah berusaha sekuat tenaganya untuk membalas kasihNya.
Apakah anda merasa dikasihi sedemikian besar oleh Allah? Lalu apa balasan yang anda buat untuk Allah?
Nonton si Doel anak Betawi
Bingung oleh cinta Zaenab dan Sarah
Kalau kita sudah ditangkap oleh cinta ilahi
Kita hanya bisa pasrah dan menyerah
Cawas, tendangan sudut membuat goal sangat indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 23, 2020 | Renungan
DALAM sharing iman dengan teman medior kemarin, kami berkisah tentang perjalanan selama menjalani panggilan imamat.
Teman sharing itu berkisah bahwa menjalani panggilan itu seperti mengayuh biduk di tengah lautan.
Kadang tenang, tetapi kadang harus menghadapi gelombang yang keras. Kalau bukan Tuhan yang mengarahkan, mungkin biduk itu sudah tenggelam.
Tuhan dirasakan selalu hadir dalam saat-saat kritis yang menentukan. Tuhan itu seperti seorang teman dalam perjalanan.
Dia merasakan kasih Tuhan sangat kuat. Dia yang memanggil, Dia pula yang akan menggenapinya.
Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Tuhan Yesus yang memanggil duabelas rasulNya. Tidak semua muridNya adalah orang-orang hebat.
Mereka adalah nelayan kampung yang sederhana, miskin dan mungkin kurang terdidik.
Namun Yesus memilih bukan menurut pandangan atau penilaian manusia. Tetapi Dia memilih mereka agar menyertaiNya.
Menjadi murid pertama-tama adalah menyertai Dia. Itu berarti dimana Yesus berada, murid-muird harus berada.
Menyertai berarti juga bersatu dengan Kristus. Tinggal bersama dan semakin mengenalNya.
Maka Yesus tidak menuntut orang hebat, pandai dan terpandang. Tetapi orang yang bisa setia menyertaiNya.
Dalam pewayangan, tokoh ksatria selalu disertai oleh abdi “panakawan”. Panakawan itu berarti kawan yang sungguh-sungguh mengerti karena selalu menyertai.
Pana artinya tahu, kenal, mengerti betul. Kawan itu artinya sahabat. Panakawan berarti orang yang mengerti, sehati seperasaan dengan yang diikutinya. Yesus memanggil murid-muridNya supaya menjadi panakawanNya.
Kendati mereka sering jatuh bangun dalam menyertai Yesus, bahkan ada satu yang “cidro” atau mengkhianatiNya, namun Dia tetap memilihNya.
BagiNya karya Allah harus terlaksana daripada memikirkan diriNya sendiri. Murid-murid itu tetap diberi kebebasan dan kepercayaan,
kendati kepercayaan itu tidak dibalas dengan kebaikan seperti Yudas yang mengkhianatiNya.
Kepercayaan itu memang mengandung resiko. Tetapi lebih baik mempercayai seseorang daripada kita tak berani berbuat apa-apa.
Membeli durian seratus ribu tiga
Dibuka bersama kawan di bawah tenda
Memilih sahabat tak semudah orang berbicara
Orang harus berani percaya walau banyak resikonya
Cawas, hari yang panjang
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 22, 2020 | Renungan
BEBERAPA dekade yang lalu ada orang mengaku mendapat penampakan dari Bunda Maria. Dia menjadi perantara Bunda Maria menyampaikan pesan-pesan kepada umat mausia.
Terjadi “penampakan” di tempat-tempat ziarah. Banyak orang percaya dan mengikutinya. Tetapi akhirnya ternyata ujung-ujungnya adalah penipuan.
Tahun 1990an ada kasus Pak Thomas Suhandriyanto dari Surabaya. Di Korea ada Julia Kim dari Naju.
Orang-orang ini menganggap dirinya mendapat mukjijat dan mengajak banyak orang mempercayainya. Tetapi ternyata hanya penipuan belaka.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus melakukan banyak mukjijat dan menyembuhkan banyak penyakit. Orang-orang percaya kepadaNya. Banyak dari mereka mengikuti dan ingin menjamah jubahNya.
Dengan begitu mereka disembuhkan. Mereka datang dari Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea,daerah seberang Yordan bahkan Sidon dan Tirus.
Dari banyak tempat orang mengikuti Yesus. mereka ingin mendengarkan sabdaNya dan mempercayaiNya sebagai Guru dan utusan Allah.
Karya Yesus menunjukkan Allah yang meraja dan hadir di antara manusia. Ia mewartakan kabar keselamatan kepada orang-orang miskin, tersingkir dan berdosa.
Ia datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya, penyakit utama dari manusia adalah dosa. Yesus datang untuk menghapus dosa-dosa manusia. Dengan kasihNya di kayu salib, Yesus menyelamatkan kita.
Sebagai orang beriman kita mesti cerdas kepada siapa kita harus percaya. Jangan mudah percaya dengan orang yang mengaku-aku mendapat penampakan ilahi tetapi ujungnya hanya mencari keuntungan pribadi.
Jangan mudah percaya kepada orang-orang yang memberi iming-iming surga. Padahal dia sendiri belum pernah pergi ke surga. Atau bisa jadi orang itu malah takut kalau disuruh pergi ke surga lebih dahulu.
Percayalah kepada Yesus yang mengorbankan diriNya sampai mati demi keselamatan kita, Yesus menjamin keselamatan kita dengan mengorbankan diriNya. Yesus adalah jaminan keselamatan kita.
Pergi ke Tawangmangu membeli bunga
Bunga anggrek sangat indah menawan
Percaya kepada Yesus tidak ada ruginya
Dialah jalan keselamatan dan kehidupan
Cawas, belajar tata gerak
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 22, 2020 | Renungan
LAKSMANA diminta menjaga Dewi Sinta karena Rama mengejar Kijang kencana ke hutan. Karena lama tidak kembali Sinta meminta Laksmana menyusul kakaknya.
Laksmana tidak mau meninggalkan Sinta karena dia bertanggungjawab atas keselamatan Sinta. Sinta justru marah dan menuduh Laksmana mengingininya.
Sinta menuduh Laksmana membiarkan Rama celaka di dalam hutan belantara. Hati Laksmana yang tulus justru didakwa ingin merebut Sinta dari kakaknya.
Ia bimbang, apakah tetap menjaga Sinta tapi dituduh mengingininya, atau pergi meninggalkan Sinta namun melalaikan tanggungjawab dari sang kakak Rama.
Maka dengan berat hati Laksmana menyusul Rama. Namun sebelum ia meninggalkan Sinta. Ia membuat garis melingkar di tanah dengan ajian rajah kalacakra.
Laksmana berpesan agar Sinta tidak keluar dari lingkaran ini demi keamanan dirinya. Nun di kejauhan Rahwana melihat Sinta sendirian.
Ia datang menjelma menjadi pengemis tua renta. Ia mendekati Sinta tetapi selalu gagal karena ada lingkaran rajah kalacakra. Ia memohon kepada Sang Dewi untuk mengulurkan tangannya memberi seteguk air untuk menghilangkan dahaganya.
Sinta ragu-ragu karena sudah dipesan agar tidak keluar dari lingkaran, tetapi dia kasihan kepada pengemis tua itu. Akhirnya Ia mengeluarkan tangannya dan seketika itu juga Rahwana menyambarnya. Sinta diculik ke Alengka.
Orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus kalau-kalau Ia menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat. Menurut orang-orang Farisi, ada aturan bahwa tidak boleh melakukan sesuatu pada hari Sabat.
Tetapi Yesus menaruh belas kasihan kepada orang sakit itu. Ia menyuruh dia berdiri di tengah dan berkata kepada orang-orang di situ, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?”
Mereka tidak berani berkomentar. Tidak ada orang protes ketika mobil ambulan melanggar lampu merah. Nyawa orang lebih diutamakan daripada mentaati aturan lalu lintas.
Yesus menunjukkan bahwa belaskasih Allah lebih besar daripada taat pada hukum atau aturan manusia.
Ia menyembuhkan orang itu kendati dibenci oleh orang-orang Farisi karena Dia dianggap melanggar hukum Sabat.
Berbuat baik selalu mengandung resiko ditolak atau dicurigai. Ada orang yang tidak suka kepada kita karena perbuatan-perbuatan baik kita. Ada yang curiga, irihati, nyinyir, ngompor-ngomporin teman, cemburu atau sinis.
Demi kebaikan dan keselamatan orang, Yesus berani menghadapi sikap orang-orang Farisi. Apakah kita juga berani seperti Yesus?
Bukan baju baru yang ada di almari pakaian
Namun baju batik dipakai untuk jumatan
Keselamatan orang harus lebih diutamakan
Daripada taat aturan namun mematikan
Cawas, cuaca panas menyengat
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 20, 2020 | Renungan
SUATU kali saya didatangi sepasang bapak ibu yang akan menikahkan anaknya. Mereka memohon kepada saya untuk memberkati perkawinan anaknya pada hari kamis pahing jam 08.10 tepat.
Mereka sudah mendatangi mbah dukun. Itu pesan dari mbah dukun yang beranggapan bahwa itu adalah waktu terbaik untuk melangsungkan perkawinan.
Yang memprihatinkan itu mereka takut kalau melanggar perintah mbah dukun. Nanti akan terjadi apa-apa kalau waktunya tidak ditepati.
Saya jawab saja sambil berseloroh,”Lha waktu itu saya juga lagi sembahyang Pak. Saya juga takut kalau tidak melakukan itu saya akan dihukum Tuhan.”
Lalu saya menjelaskan bahwa semua hari itu baik. Tuhan menciptakan semuanya baik. Tidak ada ini hari jelek,lalu besuk hari baik.
Ini hari keberuntungan. Besuk hari kutukan. Ingat,Tuhan menciptakan semua hari adalah baik.
Yesus diprotes oleh orang-orang Farisi karena murid-muridNya memetik gandum pada hari Sabat. Hari Sabat dikhususkan untuk Tuhan.
Maka orang tidak boleh melakukan apa-apa kecuali untuk sembahyang. Bahkan kalau ada lembu yang terperosok ke sumur pun, tidak akan diangkat karena harinya Sabat.
Sikap kaku dan legalistis ini dibuat oleh orang Farisi dengan mengatasnamakan kehendak Tuhan. Lalu mereka malarang dan menuntut orang agar mengikuti aturan mereka.
Orang Farisi itu bertindak seolah seperti Polisi Tuhan; melakukan sweeping, mengancam, merusak, menghancurkan apa saja yang dianggap melanggar aturan Tuhan.
Padahal itu hanyalah aturan manusia. Kalau Tuhan membutuhkan polisi, berarti Tuhan itu tidak kuasa mengatur manusia. Lalu dimana kemahakuasaan Tuhan?
Yesus meluruskan pandangan orang-orang Farisi yang melenceng itu. “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Itu berarti juga, aturan dibuat untuk manusia, bukan manusia diperbudak oleh aturan.
Romo Claudio Aqvuaviva SJ yang pertamakali mengatakan Fortiter in re, Suaviter in modo. Kuat dalam hal prinsip, namun lembut dalam cara mencapainya.
Mungkin seperti ungkapan Jawa, “Ngluruk tanpa bala. Menang tanpa ngasorake.” Orang-orang Farisi itu langsung “antem krama” atau tabrak dulu urusan belakang.
Mereka merasa diri sebagai polisinya Tuhan yang merasa diri sebagai penjaga hukum. Gaya seperti itu juga dilakukan oleh Saulus ketika menganiaya, mengejar, memenjarakan murid-murid Tuhan, karena dia adalah orang Farisi yang taat hukum.
Yesus memberi teladan melakukan segala sesuatu dengan lemah lembut, kasih sayang, menghormati dan menghargai, toleransi dan menjunjung martabat manusia. Mari kita meneladan Kristus Sang Anak Manusia.
Toko Laris di Jalan Pemuda
Menjual berbagai aneka kebutuhan.
Marilah menghargai sesama manusia.
Lebih dari sekedar melaksanakan aturan.
Cawas, sebentar tapi bersinar
Rm. A. Joko Purwanto Pr