by editor | Jan 19, 2020 | Renungan
AWAL tahun 2020 di Purworejo digegerkan dengan munculnya Keraton Agung Sejagat yang dipimpin oleh Sinuwun dan Kanjeng Ratu.
Nama asli Sinuwun itu adalah Totok Santosa Hadiningrat dan Sang Kanjeng Ratu Dyah Gitarja itu bernama Fanny Aminadia.
Ada ratusan orang menjadi pengikut Keraton Agung Sejagad. Mereka diiming-imingi gaji,honor dan kedudukan di keraton.
Mereka bahkan rela menyetorkan sejumlah uang agar bisa mendapatkan gaji, honor atau pangkat di kerajaan ilusi itu.
Mengapa ada orang yang mudah tergiur oleh hal-hal irasional seperti itu? Bisa jadi karena orang ingin keluar dari sebuah tekanan rasional yang membebani hidup.
Bisa jadi ada orang yang punya motif ekonomi. Bisa jadi ada yang tidak tahu menahu sehingga mudah dikelabui.
Dalam bacaan Injil hari ini, orang-orang Farisi datang kepada Yesus dan bertanya, “Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-muridMu tidak?”
Orang Farisi adalah orang yang taat hukum. Jadi mereka sangat paham tentang aturan-aturan dan adat istiadat. Pertanyaan itu muncul karena ada kebiasaan baru yang dibawa oleh murid-murid Yesus ketika mereka tidak berpuasa.
Motif mereka bertanya lebih untuk mencari dasar alasan mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa. Mereka bukan orang bodoh.
Ada fenomena apa di tengah masyarakat kita, sehingga munculnya keraton-keraton “baru” memiliki banyak pengikut? Ada Keraton Agung Sejagad. Muncul lagi Sunda Empire.
Mungkin di tengah kita sedang ada kebingungan massal. Ada persoalan hidup yang tidak mampu dicarikan solusinya.
Kemudian orang ingin lari dari realitas yang membelenggu. Dan mereka menemukan sebuah pijakan dengan munculnya keraton atau empire ini.
Yesus tidak menjawab persoalan itu dengan iming-iming yang memanjakan, sebuah dunia “ekstase psikologis”.
Tetapi memberikan penjelasan rasional bahwa “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang sudah tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya. Begitu juga tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua. Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”Jawaban yang logis realistis.
Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagad itu tidak memberi jawaban logis dan realistis. Tetapi jawaban semu yang menina-bobokan dan menipu orang.
Kita harus tahu betul tentang aturan-aturan. Tidak boleh hanya ikut-ikutan. Kalau hanya ikut-ikutan, kita akan mudah ditipu oleh jawaban-jawaban yang tidak realistis dan utopis belaka.
Kita harus paham, mengapa kita berpuasa, untuk apa puasa itu. Tidak asal ikut aturan belaka. Jangan hanya ikut-ikutan.
Di Purworejo sedang ada kasus
Orang menyebut diri sebagai raja
Kalau kita mengikuti Yesus
Memang harus berani beda
Cawas. Bunga Anggrek Merah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 19, 2020 | Renungan
DEREK REDMOND adalah pelari jarak 400 meter dari Inggris yang ikut dalam perlombaan olimpiade Barcelona 1992. Dia pernah mencoba di olimpiade Korea 1988 tetapi gagal.
Ini adalah kesempatannya untuk meraih medali bergengsi itu. Ia siap mengejar impiannya. Ketika lomba sudah dimulai, ia memimpin sampai jarak 225 meter. Kurang 175 lagi ia juara.
Namun saat itu kakinya mengalami kesakitan. Ia sampai terjatuh. Ia rebah di tanah. Namun dia mencoba menahan rasa sakit. Ia bangkit dan dengan ditopang kaki kirinya, ia melompat kecil-kecil sambil meringis kesakitan.
Ayahnya, Jim Redmond yang duduk di tribun langsung turun menghampiri. Kendati dihalangi oleh penjaga, Jim memaksa, “Itu anakku! Aku harus menolongnya.”
Jim lalu melingkarkan tangan anaknya di pundaknya. Mereka berjalan bersama menuju garis finish. Mendekati garis akhir, Jim melepaskan anaknya, membiarkan Derek menyelesaikan perlombaannya sendiri.
Derek Redmond tak mendapat medali, bahkan ia didiskualifikasi dari perlombaan. Namun lihatlah komentar Ayahnya. “Aku adalah Ayah yang paling bangga sedunia ! Aku lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas sekalipun”
Setelah membaptis Yesus di Sungai Yordan, Yohanes memberi kesaksian. “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Yohanes mengantar Yesus untuk dikenal kepada dunia. Bahwa Dialah yang dinanti-nantikan oleh Israel sebagai Juruselamat.
Yohanes menolong orang banyak untuk mengenal Yesus Sang Mesias. Peristiwa di Sungai Yordan adalah pemakluman Yesus yang diurapi Allah.
Yohanes itu mirip seperti Jim Redmond yang menolong anaknya mencapai garis finish. Sikapnya yang membantu anaknya agar bisa menyentuh garis finish adalah sikap seorang yang berjiwa besar.
Yohanes dalam arti tertentu juga menolong Yesus agar Dialah yang dikenal sebagai Juruselamat, Mesias. Bukan Yohanes Pembaptis. Dia berkata, “Dia inilah Anak Domba Allah.”
Jim merasa lebih bangga kepada anaknya. Yohanes juga berkata, “Dia harus menjadi besar dan aku makin kecil.” Sikap jujur dan rendah hati Yohanes inilah yang menjadi teladan kita.
Apakah kita bisa menjadi bangga jika orang lain berhasil? Kita merasa senang jika menghantar orang menjadi berhasil? Beranikah kita menjadi orang di balik layar dari kesuksesan seseorang?
Siapkah kita menjadi orang yang tidak diperhitungkan dan dengan rendah hati berkata, “Biarlah dia menjadi besar dan aku menjadi kecil?”
Beli baju di Toko Laris
Diberi bonus bubur dan rempela ati
Santo Yohanes Pembaptis
Ajarilah kami sikap jujur dan rendah hati
Cawas, menunggu anggrek bulan
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 17, 2020 | Renungan
KETIKA saya menawari seorang bapak menjadi prodiakon, dia menjawab, “Saya gak pantas Mo, hidup saya jauh dari Tuhan. Besuk saja Romo kalau sudah cukup pantas.”
Begitu juga ketika saya meminta seorang bapak menjadi ketua lingkungan, “Maaf Romo,saya banyak cacatnya, belum sempurna kalau harus menjadi ketua.”
Betapa sulitnya mengajak orang untuk terlibat dalam pelayanan. Bahkan ada yang berseloroh, “Kalau ada gajinya mungkin ada orang berebut jadi ketua umat.”
Apakah pelayanan kepada Tuhan harus dihitung dengan berapa besar keuntungan yang didapat? Apakah Tuhan menghitung-hitung untung ruginya ketika memberi anugerah kepada kita?
Bacaan Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus memanggil seseorang tanpa menghitung apa untungnya. Yesus memanggil Lewi tidak harus menunggu Lewi menjadi sempurna.
Ketika Lewi menjadi pemungut cukai dan dianggap sebagai pendosa, Yesus memanggil menjadi muridNya. Yesus tidak memilih orang sempurna. Yesus memilih menurut kehendakNya.
Yesus sangat tahu bahwa tidak ada orang yang sempurna. Kita ini adalah orang berdosa. Tetapi Yesus memanggil dan mengajak kita menjadi pengikutNya.
Yesus memanggil orang bukan karena penilaian manusia. Menurut kita sendiri – atau juga menurut pandangan orang – kita tidak pantas dan berdosa.
Tetapi bagi Allah hal itu tidak diperhitungkanNya. Orang-orang Farisi itu mempertanyakan Yesus yang makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa.
Tetapi Yesus menjawab mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Penilaian kita sering terbalik dengan pandangan Allah. Kita harus sempurna dulu baru melayani Allah. Allah justru memanggil kita pada saat kita sebagai orang berdosa, tidak menunggu menjadi sempurna.
Kapan kita akan sempurna? Kita akan menjadi sempurna jika kita mau menanggapi kehendakNya. Seperti Lewi segera meninggalkan tugasnya dan mengikuti Yesus, kita juga harus berani menerima panggilanNya.
Meninggalkan zona aman itu memang berat. Tetapi kalau kita mau mencobanya, maka kita akan punya pengalaman-pengalaman rahmat yang luar biasa. Tidak usah kita menunggu sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah.
Ada anggrek berbunga tiga
Padahal hanya disemprot sesaat saja
Jangan menunggu harus jadi sempurna
Tuhan justru memanggil orang-orang berdosa
Cawas, Hari ini cerah sekali
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 17, 2020 | Renungan
ADA pepatah mengatakan “Jangan melemparkan sebongkah berlian kepada sekumpulan babi.” Sia-sia belaka.
Babi-babi itu akan menginjak-injak berlian itu. Mereka tidak mengerti berlian itu barang yang sangat berharga. Tidak ada gunanya bagi mereka.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mempertanyakan kepada ahli-ahli Taurat yang menyalahkan Yesus karena berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai anakKu,dosamu sudah diampuni.”
Ahli-ahli Taurat itu menuduh Yesus menghojat Allah. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain Allah sendiri. Pandangan itu benar.
Tetapi Yesus mau menjelaskan kepada ahli-ahli Taurat itu bagaimana menghadapi orang lumpuh. Banyak orang berpandangan bahwa orang sakit (lumpuh, buta, bisu,kusta,miskin) itu karena dikutuk oleh Allah.
Mereka dikutuk karena mereka berdosa. Maka untuk mengatasi masalah itu, Yesus mengampuni dosa si lumpuh ini.
Maka Yesus bertanya, “Manakah lebih mudah mengatakan kepada orang lumpuh itu, “Dosamu sudah diampuni,” atau mengatakan “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah?”
Kalau mengatakan bangunlah kepada si lumpuh itu pasti lebih sulit karena dia tak mampu apa-apa. Bahkan berjalan saja tidak bisa dan harus digotong oleh empat orang temannya.
Bagi dia jelas itu sia-sia belaka. Sama seperti melempar berlian di kawanan babi. Tetapi kalau mengatakan,”dosamu sudah diampuni.” P
Pasti si lumpuh itu bisa mempunyai harapan dan membangkitkan semangat untuk sembuh.
Tetapi Yesus melakukan lebih dari apa yang diharapkan si lumpuh. Ia mengampuni dosa dan menyembuhkan penyakitnya.
Ia bisa berjalan dan mengangkat tilamnya. Ia menjadi bersih dari dosanya juga. Hal seperti itu mentakjubkan banyak orang. Mereka semua takjub dan memuliakan Allah. “Yang seperti ini belum pernah kita lihat.”
Tidak pernah apa yang kita harapkan kepada Tuhan itu gagal. Tuhan selalu memberi lebih dari harapan-harapan kita.
Syaratnya adalah percaya dan berusaha. Seperti orang lumpuh itu, ia percaya dan berusaha. bahkan teman-temannya membantu memapahnya.
Doa dan usaha itu yang mendatangkan berkat bagi kita. jangan pernah berhenti melakukannya.
Sate kambing empuk rasanya
Jangan lupa irisan bawang merahnya
Tak lelah kita berdoa dan berusaha
Tuhan akan menggenapinya
Cawas, seperti mimpi rasanya
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 15, 2020 | Renungan
MEMAHAMI kondisi orang yang sakit kusta; Mereka dianggap najis karena penyakitnya itu. Mereka dikucilkan dari tengah-tengah masyarakat.
Tinggal di pinggir agak jauh dari kampung. Mereka tidak boleh mendekat ke orang lain. Mereka minder, takut, terkucil, dijauhi dan dianggap orang yang dihukum Allah.
Mereka dijauhi dan dicap sebagai pendosa. Ketika orang kusta itu datang memohon kepada Yesus, dia berkata, “Kalau Engkau mau. Engkau dapat mentahirkan aku.”
Di satu sisi dapat diterjemahkan sebagai ungkapan orang yang hanya bisa pasrah. Orang yang sudah terlalu lama mengalami keputus-asaan karena sakit fisiknya, tetapi juga lebih-lebih kondisi psikisnya yang dicampakkan oleh masyarakat.
Beban yang ditanggungnya sangat berat, tak punya harapan lagi. Maka dia hanya bisa memohon, “Kalau Engkau mau.”
Di sisi lain, orang ini percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan penyakitnya. Orang yang percaya tidak akan memaksakan kehendak. Ia percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkannya.
Orang mati saja bisa dibangkitkan, apalagi dia yang hanya sakit kusta. Percaya dan pasrah itu dua hal yang menyatu. Orang kusta itu percaya dan pasrah kepada Yesus Sang Juru selamat.
Hati Yesus yang maharahim itu tergerak oleh belaskasihan. Ia mengulurkan tangan dan menjamah orang kusta itu, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Yesus tidak “wigah-wigih” mendekati, menjamah orang kusta itu. Ia tidak sungkan-sungkan mengulurkan tangan kepada orang yang disingkirkan masyarakat.
Kadang kita takut-takut bergaul dengan orang yang dicap sebagai pelacur, gay, banci, narkoba, penderita AIDS/HIV atau penderita penyakit sosial lainnya.
Bahkan kita pusing melihat darah bercucuran. Lalu cepat-cepat menjauh. Dengan berbagai alasan kita menjauhi mereka.
Dalam kutipan ini, Yesus mengajak kita untuk datang mendekati,mengulurkan dan menjamah mereka. Bukan saja secara fisik tetapi juga dengan hati yang berbelaskasih.
Marilah kita meniru Yesus yang mudah berbelaskasih kepada orang sakit, mereka yang lemah, menderita, disingkirkan dan dikucilkan.
Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi orang-orang kecil ini, engkau mengasihi Aku.”
Pergi ke hutan melihat kancil
Ternyata di belakangnya ada singa
Di dalam diri orang-orang yang kecil Yesus menampakkan diriNya
Cawas, pengin punya anggrek
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 14, 2020 | Renungan
KEBUTUHAN dasar manusia yang paling tinggi adalah dihargai. Orang mengejar popularitas supaya bisa dihargai atau dihormati.
Kadang orang menggunakan segala cara agar bisa terkenal. Kita semua tahu bagaimana Michael Jackson, King of Pop dunia mencapai puncak popularitasnya.
Kabar kematiannya yang mendadak menggemparkan jagad musik pop. Diketahui belakangan bahwa raja pop dunia itu over dosis obat penenang.
Begitu pula yang dialami oleh Whitney Houston, teman seprofesi Sang Raja Pop itu. Ketenaran dikejar sampai harus mati karena beban berat dari tuntutan para penggemarnya.
Orang tidak berani mundur karena dituntut terus berjaya oleh fans beratnya. Orang sampai kehilangan karakter aslinya karena harus mengikuti tuntutan kemauan followernya.
Karena tidak tahan menanggung beban berat itu, maka obat adalah pelariannya. Obat juga yang membuat semuanya finished.
Di Kapernaum, tempat ibu mertua Simon, Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang sakit. Ia menyembuhkan mereka sampai menjelang malam.
Banyak orang sakit, dan mereka yang kerasukan setan, disembuhkanNya. Seluruh penduduk kota “ambyuk” di depan pintu.
NamaNya makin dikenal orang banyak. Bahkan setan-setan pun mengenali siapa Dia. Maka Yesus tidak memperbolehkan mereka berbicara.
Orang banyak takjub akan pengajaran dan mukjijatNya. Mereka semua mengikuti Yesus kemana pun Dia pergi.
Ketika pagi-pagi buta, saat Dia masih sembahyang seorang diri, Simon dan kawan-kawannya menyusul dan berkata, “Semua orang mencari Engkau.”
Yesus menjadi bintang baru di antara guru-guru spiritual pada zamannya. Banyak pengikutNya. Banyak orang mencariNya.
Tetapi Yesus tidak mabuk popularitas. Yesus tidak gila hormat. Ia tidak memburu pujian atau prestise. Yesus berkata kepada Simon,
“Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana Aku juga memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”
Yesus tidak berhenti pada popularitas, tetapi Ia fokus pada tugas perutusanNya yakni memberitakan Injil kepada semua orang.
Yesus tidak mencari popularitas pribadi, tetapi Ia datang untuk memberitakan Kabar Gembira yang menyelamatkan.
Apakah yang kita cari dalam hidup kita ini? Popularitas semu yang menipu? Atau Kerajaan Allah yang memerdekakan?
Tenggorokan gatal
Sakit menelan air liur
Mari kumpulkan bekal
Untuk perjalanan abadi para sedulur
Cawas, Jurus meredam tongkat ajian
Rm. A. Joko Purwanto Pr