Puncta 14.01.20 Markus 1:21b-28 / Sekolah Katolik Quo Vadis?

 

DALAM Konperensi pers di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,Uskup Agung Semarang, Mgr. Rubiyatmoko mengakatakan adanya kesulitan besar bagi sekolah-sekolah katolik dewasa ini untuk mengembangkan pendidikan.

Hal itu ditandai dengan menurunnya peserta didik dan beban finansial yang makin berat. Romo Darmin, Ketua MNPK mengatakan bahwa orangtua zaman sekarang tidak mementingkan kualitas sekolah tetapi mencari sekolah gratis dengan kualitas seadanya.

Menurut Uskup Semarang, sekolah katolik harus memiliki kekhasan dan keunggulan. Untuk itu perlu ambil resiko untuk berani melawan arus. Caranya ialah memberi perhatian besar pada pendidikan iman, kepribadian, karakter dan kompetensi.

Sedangkan Rektor USD, Eka Priyatma menawarkan strategy Good School Governance yakni membangun sekolah dengan prinsip transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi dan Fairness (TARIF).

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menjadi guru yang unggul dan berkarakter. “orang-orang takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”

Saya dulu punya dosen yang kalau mengajar hanya membaca diktat. Mahasiswanya pergi keluar kelas pun dia tidak tahu. Yesus mengajar dengan penuh kuasa. Orang-orang takjub dan memperbincangkanNya.

Sekolah katolik mestinya mencari kekhasan atau keunggulannya. Cara-cara lama sudah tidak laku lagi. Harus mencari terobosan baru sesuai dengan zamannya.

Yesus mengajar tidak seperti ahli-ahli Taurat. Berarti Dia mempunyai ciri khas sendiri, tidak meniru ahli-ahli Taurat.

Yesus mengajar penuh kuasa. “Guru ini berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun Ia perintah dan mereka taat kepadaNya.”

Kuasa disini berarti kata-katanya diikuti. Supaya bisa diikuti maka guru harus menjadi contoh teladan. Antara kata dan tindakannya sesuai.

Ahli-ahli Taurat itu tidak punya kuasa karena antara kata dan tindakan tidak sesuai. Mereka tidak bisa menjadi teladan.

Kalau gurunya bisa diteladani, punya kuasa, maka marketing akan berjalan dengan sendirinya. “Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus ke segala penjuru di seluruh daerah Galilea.”

Pasti banyak orang datang berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi muridNya. Nah, kita boleh bertanya Quo Vadis sekolah katolik? Bagaimana karakter para guru katolik?

Guru kencing berdiri
Murid kencing bergoyang-goyang
Apa sekolah katolik masih bisa berdiri
Kalau tidak punya keunggulan yang menjulang

Cawas, Mencari inspirasi
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 13.01.20 Markus 1: 14-20 / Mari Ikutlah Aku

 

PENDAFTARAN Murid baru sudah dimulai jauh-jauh hari. Sekolah-sekolah favorit biasanya sudah penuh kuotanya. Bahkan mereka sampai menolak siswa.

Banyak orangtua yang ingin anaknya bersekolah sekaligus asrama. Apalagi mereka yang berasal dari tempat-tempat jauh. Sekolah Katolik berasrama menjadi pilihan utama.

Tetapi mungkin hanya satu sekolah katolik berasrama yang tidak terlalu banyak peminatnya, yakni Seminari. Sekolah calon imam.

Mungkin karena prasyarat masuk sekolah ini adalah mereka-mereka yang ingin menjadi imam, bukan pemuda biasa, maka peminatnya tidak seperti sekolah katolik berasrama biasa lainnya. Harus menjadi pemikiran bersama supaya peminat ke Seminari dapat tumbuh makin banyak.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memilih murid-muridNya. Bukan murid-murid yang mendaftarkan diri, tetapi Yesus memilih mereka. Murid pertama adalah Simon dan Andreas.

Mereka sedang menebarkan jala di danau. Mereka dipanggil. Mereka langsung meninggalkan jalanya. Murid berikutnya adalah Yakobus dan Yohanes, kakak beradik.

Mereka meninggalkan perahu, jala dan ayahnya serta orang-orang upahannya. Berarti Yakobus dan Yohanes ini termasuk keluarga berada karena punya perahu dan orang-orang upahan.

Mengapa mereka dengan segera meninggalkan semuanya untuk mengikuti Yesus? Mungkin bisa dilihat dari kata-kata Yesus sendiri.

Tawaran Yesus itu sesuatu yang lain dan menantang. “Mari ikutlah Aku. Kalian akan Kujadikan penjala manusia.”

Ajakan Yesus ini adalah sesuatu yang baru dan menantang. Menjadi penjala manusia. Kalau kita menawarkan sebuah produk, namun tidak ada nilai yang baru dan menantang, orang tidak akan tertarik.

Selain nilai yang ditawarkan, pasti pribadi yang menawarkan itu sangat penting. Menjadi petugas marketing namun tidak mempunyai kualitas daya tarik, ya tidak akan laku. Kualitas pribadi Yesus pastilah seorang yang bukan guru biasa. sabdaNya penuh wibawa.

Bisakah kita melihat pribadi Yesus seperti para murid yang dipanggil itu? Sehingga ketika kita dipanggil juga langsung meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus?

Atau mungkin kita belum sebagaimana Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes melihat pribadi Yesus. Karena kita belum berani meninggalkan semuanya seperti mereka.

Beli baju tidak teliti
Ternyata tidak ada kancingnya
Ikut Yesus harus berani
Meninggalkan segala-galanya

Cawas, pengin minyak kayu putih
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 12.01.20 HR. Pembaptisan Tuhan Matius 3:13-17 / Martabat Sakramen Baptis

 

Hari ini gereja merayakan Pembaptisan Tuhan Yesus di sungai Yordan oleh Yohanes. Peristiwa ini mau menyatakan tentang ketaatan Yesus kepada kehendak Allah dan pemaklumanNya sebagai Putera Allah.

Ketaatan Yesus pada kehendak Allah dinyatakan dalam dialog antara Yohanes dan Yesus. Yohanes merasa tidak pantas membaptis Yesus dengan berkata, “Akulah yang mesti dibaptis olehMu! Masakan Engkau yang datang kepadaku!”

Yohanes menyadari dan tahu diri siapakah dirinya itu. Bahkan untuk membuka tali kasutNya pun, dia tidak layak. Tetapi Yesus meneguhkan bahwa taat pada kehendak Allah jauh lebih utama daripada soal layak dan tidak layak.

Yesus datang untuk menggenapi kehendak Allah. “Biarlah itu terjadi karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yesus mengajarkan kepada kita untuk mentaati kehendak Allah.

Dengan pembaptisan itu, Allah memaklumkan bahwa Yesus adalah PuteraNya yang terkasih. Hal itu dinyatakan dalam rupa Roh Allah yang turun seperti burung merpati ke atasNya.

Dan suara dari Surga yang menegaskan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” Dengan pembaptisan ini, Yesus dinyatakan sebagai Putera Allah yang taat kepada kehendak BapaNya.

Kita pun diingatkan akan martabat pembaptisan kita. Pembaptisan menyadarkan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kalau kita anak, maka kita pun ahli waris surgawi.

Martabat baru sebagai anak Allah itulah yang kita peroleh dengan pembaptisan. Kita bisa menerima itu karena kita disatukan dengan Yesus Kristus dalam pembaptisan.

Status sebagai anak Allah itu akan menjadi sempurna jika kita mampu meneladan Yesus yang taat pada kehendak Allah.

Martabat sebagai anak Allah disertai dengan tanggungjawab untuk setia dan taat menjalankan kehendak Bapa.

Inilah panggilan kita sebagai orang-orang yang sudah dibaptis. Mari kita menjadi anak Allah dengan taat melaksanakan kehendakNya, bukan kehendak kita sendiri.

Baptis tidak menjamin orang masuk surga kalau hidupnya tidak sesuai dengan martabat baptisannya.

Setiap pagi hujan gerimis
Siapkan payung dan jas hujannya
Setiap orang yang sudah dibaptis
Dipanggil mewujudkan kasih kepada sesama

Cawas, saat menanti hujan reda
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 11.01.20 Yohanes 3:22-30 / Perguruan Argakilasa

 

BEGAWAN Drona sangat mengkawatirkan dengan adanya Pandita baru di Gunung Argakilasa. Pandita ini bernama Begawan Bima Suci. Banyak murid Begawan Drona yang lari berguru kepada Pandita di Argakilasa ini.

Drona minta kepada Raja Duryudana untuk mengusir Pandita Bima Suci. Maka dia mengutus murid-muridnya para Kurawa untuk membubarkan perguruan baru di Argakilasa ini.

Begawan Bima Suci mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup. Ini adalah ilmu kebajikan hidup mulia.

Maka banyak murid-murid berguru padanya. Termasuk juga Anoman dan putra-putra Pandawa ikut berguru ke Bima Suci.

Takut kewibawaannya hilang, Begawan Drona bersama Adipati Karna ingin menghancurkan Perguruan Argakilasa. Tetapi mereka tidak mampu mengalahkan Anoman dan murid-murid Bima Suci.

Persaingan antar perguruan nampaknya juga terjadi antara murid-murid Yohanes Pembaptis dan Yesus.

Para murid Yohanes melaporkan kepada gurunya bahwa orang yang dulu dibaptis di Sungai Yordan dan kepadaNya Yohanes bersaksi, kini mulai membaptis dan mempunyai murid yang banyak.

Hal itu jelas mengkawatirkan bagi murid-murid Yohanes. Tetapi pandangan Sang Guru berbeda dengan muridnya. Yohanes justru merasa bahagia karena Yesus mulai tampil ke depan. Yohanes tidak merasa tersaingi, tetapi justru merasa bersukacita.

Kerendahan hati dan keikhlasan Yohanes menunjukkan betapa mulia hatinya. Ini dikatakan kepada murid-muridnya, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Dalam dunia yang penuh dengan persaingan ini, orang atau kelompok lain dianggap sebagai musuh. Homo Homini Lupus. Manusia yang satu adalah serigala bagi lainnya.

Orang tidak suka jika ada temannya berhasil, sukses, melambung ke puncak. Kalau bisa dijegal, dihambat, dihalangi atau dijatuhkan.

Mari belajar dari Yohanes Pembaptis. Dia tidak berpikir egoistik, demi dirinya sendiri. Dia justru bersukacita jika orang lain menjadi besar, tumbuh berkembang dalam kemuliaan.

Inilah kerendahan hati yang sungguh mulia. Maukah kita dengan ikhlas dan rela, memberi kesempatan orang lain untuk menjadi besar dan berhasil?

Ataukah kita suka menjegal atau menusuk dari belakang kalau ada orang lain yang berhasil? Jika demikian kita perlu belajar dari Yohanes Pembaptis.

Hujan tiada henti menerjang sejak pagi hari
Siap siaga kalau terjadi banjir di gereja
Yohanes Pembaptis adalah contoh kerendahan hati
Membiarkan orang lain tampil menjadi terkemuka

Cawas, berlatih yoga biar bisa menggunting awan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 10.01.20 Lukas 5:12-16 / “Date Rape”

 

KITA mengenal istilah “Date Rape” karena kasus Raynhard Sinaga yang mencuat menjadi berita heboh di seantero Inggris, bahkan mendunia.

Ia harus menghadapi 190 kasus perkosaan. Ini kasus terbesar di Inggris, bahkan mungkin di dunia. Seorang pemuda Indonesia yang terpelajar, kaya, sukses, namun harus menghadapi ancaman hukuman seumur hidup di Manchester.

Raynhard melakukan date rape yakni meminta, memohon dan merayu dengan pura-pura menolong si korban yang sedang teler, mabuk, diputus pacarnya, bingung karena pulang kemalaman, tak ada taxi, tak ada tempat menginap.

Ia membawa mereka ke apartemennya seperti berkencan. Tetapi ujung-ujungnya adalah pemerkosaan.

Dalam bacaan Injil hari ini, seorang kusta memberi pelajaran kerendahan hati, keikhlasan, dan kepasrahan. Ia tersungkur datang kepada Yesus dan memohon, ”Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Dia berkata, “jika Tuan mau.” Dia sangat santun memohon dan tidak memaksa. Dia percaya Tuhan bisa menyembuhkannya, tetapi dia tidak mau memaksa Tuhan.

Kadang kita itu baru punya kedudukan atau kekayaan sedikit aja, langsung main perintah ini, main kuasa kepada orang lain. “Aja Dumeh” atau jangan sok.

Raynhard itu punya segalanya. Ia punya uang dan kekayaan. Ia pandai, sedang mengambil doktoralnya di Inggris. Ia menggunakan semuanya itu hanya untuk menindas orang lain demi kepuasannya sendiri.

Orang kusta itu datang memohon, bahkan dengan tersungkur, tetapi ia tidak memaksa Yesus harus melakukannya. Yesus jatuh belaskasihanNya kepada orang kusta itu dan Ia berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Yesus ingin agar orang kusta itu datang kepada imam. Imamlah yang berwenang mengeluarkan pernyataan bahwa ia sudah tahir. Dan disuruh mempersembahkan kurban untuk pentahiran.

Tetapi orang kusta itu justru menyiarkan kesembuhannya kepada orang banyak, sehingga tersiar kabar tentang Yesus.

Yesus tidak mencari pujian, hormat atau popularitas. Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat sunyi dan berdoa.

Marilah kita meniru orang kusta itu, yang dengan rendah hati dan tidak memaksa Tuhan. Tuhan itu mahakuasa. Dia paling tahu apa yang kita butuhkan.

Beli gorengan
Dapatnya menjes
Percaya pada Tuhan
Semuanya akan beres

Cawas, hujan gerimis
Rm.A.Joko Purwanto Pr

Puncta 09.01.20 Lukas 4: 14-22a / Visi dan Misi

 

SEBELUM membangun rumah, pasutri akan duduk bersama dan berdialog tentang keluarga macam apa yang akan dibangun dan dicita-citakan.

Keluarga kecil yang tentram, damai, rukun dan bahagia sebagai cita-cita itu akan menentukan bentuk dan model rumah sebagai wadahnya.

Pasutri mendialogkan visi misi keluarga bersama-sama. Rumah atau tempat yang dibangun akan mendukung cita-cita keluarga yang kecil, tentram, damai dan bahagia itu.

Menentukan visi misi keluarga itu penting sebelum membangun rumah tangga. Visi misi itu akan menjadi cita-cita, arah pedoman atau rel yang mengarahkan keluarga menuju ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan.

Ketika Yesus datang ke Nasaret, setelah Ia berpuasa ( retret pribadi ) selama empat puluh hari di padang gurun, Ia masuk ke rumah ibadat dan mengajar di sana.

Ia menemukan nas kitab Nabi Yesaya. “Roh Yuhan ada padaKu oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Visi Yesus adalah menghadirkan Kerajaan Allah yang menyelamatkan. Cita-cita itu dicapai dengan memberitakan kabar baik kepada orang miskin, pembebasan kepada orang tawanan dan tertindas, memberi penglihatan kepada orang buta dan mengabarkan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Yesus menegaskan,”Hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Rahmat Tuhan itu datang pada hari ini,saat ini, ketika kita mendengar dan percaya kepada Yesus. Dialah yang menggenapi kehendak Allah yang mau menyelamatkan manusia.

Kita perlu belajar seperti Yesus. kita harus menentukan hidup kita ini mau diarahkan kemana? Apa tujuan atau cita-cita kehidupan kita ini?

Kita harus bisa menentukan visi dan misi hidup kita. Kalau visi kita itu mencapai keselamatan kekal, bagaimana caranya kita dapat memperolehnya?

Atau kalau ingin hidup damai dan bahagia, bagaimana cara kita mencapai ke sana? Apakah anda sudah menentukan visi dan misi hidup anda?

Kalau tidak, anda hanya seperti daun kering tertiup angin dan tidak tahu kemana arah tujuannya.

Hidup tanpa arah tujuan
Seperti layang-layang putus dari benangnya
Mari kita hidup selaras kehendak Tuhan
Pasti kita akan memperoleh bahagia

Cawas, hujan rintik
Rm. A. Joko Purwanto Pr