by editor | Sep 13, 2019 | Renungan
TIDAK hanya zaman sekarang, tetapi sudah sejak dahulu, berita tentang salib sudah menjadi kontroversi.
Ada banyak orang membicarakan salib. Ada yang mentertawakan. Ada yang mencemooh. Ada yang menghina dan mengejek.Tetapi tidak sedikit yang percaya bahwa salib adalah jalan keselamatan.
Pengalaman Paulus membuka mata kita bahwa dia yang dahulu membenci Kristus yang tersalib, kemudian berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pengikutNya. Bahkan dia bernazar, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Di Korintus Paulus berpolemik dengan orang Yahudi dan Yunani tentang salib yang kontroversial.
“Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.”
Hari ini adalah pesta penemuan salib suci. Pada abad ke empat St. Helena pergi ke Yerusalem untuk menemukan salib Tuhan Yesus.
Oleh Romawi, tiga kayu salib dibuang di sebuah sumur untuk disembunyikan dari orang Kristen. Untuk menentukan mana salib Kristus, Helena membawa seorang perempuan yang sakit parah hampir mati.
Ketika dia menyentuh salib Kristus, ia sembuh seketika. Salib itulah yang diyakini sebagai salib Kristus. Dengan ditemukannya salib Kristus, St. Helena membangun gereja di Betlehem dan Bukit Golgota.
Kendati salib menjadi kontroversi dunia, namun bagi yang percaya, salib adalah keselamatan. Dengan salib Kristus, kita ditebus dan dimeteraikan sebagai anak-anak Allah.
Pesta hari ini mau menjunjung setingginya karya keselamatan Allah bagi manusia. Sebagaimana doa St. Fransiskus Asissi,
“Kami memujiMu ya Kristus, sebab dengan salib suciMu, Engkau telah menebus dunia.” Kita diyakinkan bahwa salib Kristuslah yang telah meyelamatkan kita.
Kita diundang kepada salib Tuhan kita supaya diselamatkan. Maka serahkanlah dirimu kepada Kristus dan peluklah salib sebagai jalan keselamatan.
Daripada percaya pada batu ajaib
Lebih baik kita tekun berdoa
Di dalam Kristus yang mati tersalib
Kasih Allah nampak nyata bagi kita
Cawas, suatu pagi yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 12, 2019 | Renungan
ADA pepatah mengatakan “Gajah di pelupuk mata tiada tampak, jarum di seberang lautan tampak.”
Kiranya pepatah ini sama dengan yang dikatakan Yesus, “Mengapa engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui?”
Kita amat mudah melihat kekurangan orang lain. Tetapi kesalahan sendiri tak pernah kita lihat Memang manusia punya sifat negatif yaitu egois.
Kata “saya” lebih sering diucapkan daripada “kita” atau “anda”. Saya adalah yang paling benar.
Sedangkan anda, kamu adalah pihak yang sering disalahkan. Kesalahan orang lain sekecil apapun mudah sekali tampak.
Apalagi kalau dibumbui dengan rasa benci. Tak ada sesuatu pun yang benar dilakukan oleh orang lain.
Kalau orang lain melakukan kebaikan, tetap dilihat sebagai pencitraan, mencari muka. Selalu saja ditanggapi dengan “nyinyir.”
Ada nasehat bagus dari Sri Mangkunegara agar orang bersikap rendah hati. Ada tiga wejangan tingkat tinggi yang bisa direnungkan.
“Mulat sarira lan bisa rumangsa. Ambunen sikutmu dhewe dan Ngiloa githokmu dhewe.” Mulat sarira itu artinya bisa instrospeksi diri.
Bisa rumangsa artinya sadar diri, mampu menjajagi dirinya sendiri, tidak menyombongkan diri. Ambunen sikutmu dhewe artinya ciumlah sikumu sendiri.
Ngiloa githokmu dhewe itu artinya bercerminlah lewat tengkukmu sendiri. Dua hal terakhir ini secara harafiah mustahil dilakukan. Coba saja anda mencium siku sendiri.
Maksud yang terkandung di dalamnya adalah melihat kesalahan sendiri itu sulit, lebih mudah melihat kesalahan orang lain.
Yesus menasehatkan kita agar mengeluarkan lebih dahulu balok di mata kita. baru kemudian akan jelas selumbar di mata orang lain.
Begitu juga nasehat Sri Mangkunegara itu bertujuan mengajak orang introspeksi diri lebih dahulu. Mulat sarira dan bisa rumangsa.
Kalau ada orang dinasehati, “mbok ngilo githoke dewe” itu artinya lihatlah dirimu sendiri, apakah tindakan dan sikapmu sudah benar.
Jangan suka menyalahkan orang lain. Bercerminlah pada diri sendiri sebelum menilai orang lain.
Buah melinjo pohonnya tinggi
Melinjo dimasak jadi emping
Lebih baik introspeksi diri
Daripada menghakimi orang lain
Cawas, di sore hari
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 11, 2019 | Renungan
DALAM jejer pewayangan, ki dalang menggambarkan kemurahan hati sang raja yang memerintah rakyatnya.
Ia mengucapkan janturan, “Lelabuhane sang nata paring kudhung kang kodanan, paring payung kang kepanasan, paring teken wong kaluyon, paring boga wong kaluwen, paring sandang wong kawudan, maluyakaken sesakit miwah karya sukaning para prihatin.”
Kemurahan hati raja itu digambarkan dengan sifat-sifatnya yang baik yakni memberi tempat berteduh bagi yang kehujanan, memberi payung bagi yang kepanasan, memberi tongkat bagi yang berjalan di tempat licin, memberi makan yang lapar, memberi pakaian bagi yang telanjang, menyembuhkan yang sakit dan memberikan kebahagiaan bagi yang hidupnya prihatin.
Yesus mengajak murid-muridNya untuk meniru sikap Bapa yang murah hati. :Hendaknya kamu murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya.”
Bertindak murah hati itu tidak sekedar mengikuti arus umum. Murah hati berarti bertindak lebih dari sekedar kewajiban semata.
Kalau kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian, apakah jasamu? Kalau kalian memberi pinjaman kepada orang-orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu daripadanya, apakah jasamu?
Biasanya orang mengasihi karena dikasihi. Orang memberi karena telah diberi. Orang menolong karena ditolong.
Namun kemurahan hati lebih daripada itu. Ia memberi tanpa pamrih. Ia akan memberi tanpa mengharapkan balasannya. Ia memberi karena hatinya hanya ingin memberi.
Yesus mengajarkan kemurahan hati, “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan balasan, maka ganjaranmu besar dan kamu akan menjadi anak Allah di surga.”
Sulit? Ya memang sulit, karena yang menjadi tolok ukur adalah Bapa di surga. Tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Allah akan memberi sarana bagi mereka yang mau melakukannya.
Di mata Allah selalu ada jalan untuk kebaikan. Ada banyak teladan yakni orang-orang kudus.
Mereka telah berhasil meniru kemurahan hati Allah. Jangan berkata sulit, sebelum anda mencobanya.
Kutilang hinggap di pohon tinggi
Melayang-layang burung tekukur
Belajar untuk murah hati
Diawali dengan hati yang selalu bersyukur
Cawas, suatu sore
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 11, 2019 | Renungan
DALAM retret pesta perak di Toraja, kami dicerahkan pada kesadaran bahwa segalanya adalah karena kebaikan dan kesetiaan Allah semata.
Dalam perayaan pesta perak imamat kemarin, hal itu ditegaskan lagi oleh sharing Rm. Agus bahwa siapalah kami para imam ini?
Kadang kami salah mengartikan bagaimana menjadi murid Yesus. Kadang kami membanggakan diri dengan prestasi.
Senang dipuja-puji, bangga bisa membangun gereja dan kapel, pandai berkotbah, pinter mengorganisir aneka kegiatan, punya banyak fasilitas, ahli memberi retret dan macam-macam kebanggaan pribadi.
Kami mengejar popularitas, kekayaan, hiburan dan pujian. Kami disadarkan bahwa menjadi murid itu pertama-tama harus menyertai Dia dan mau merwartakan InjilNya. Setia dalam doa dan ekaristi. Itulah menyertai Dia.
Sabda Yesus hari ini bukan hanya ditujukan kepada kepada umat, tetapi juga ditujukan kepada imam-imamNya.
Celakalah kalian imam-imam yang memperkaya diri, karena dengan kekayaanmu kalian telah memperoleh hiburan.
Mana ada imam yang miskin zaman sekarang? Kemana-mana naik mobil, gadgetnya keluaran terbaru dan sangat mahal.
Celakalah kalian para imam yang kenyang, karena kalian akan menderita kolesterol tinggi, sakit jantung, ginjal dan diabetes.
Tidak ada imam yang kelaparan. Kalau kurang gizi ada. Celakalah kalian para imam yang selalu tertawa karena akan ada saatnya kalian akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kalian para imam, jika semua orang memuji kalian, karena dengan demikianlah orang-orang memuji nabi-nabi palsu.
Sabda Yesus ini menyadarkan kami yang merayakan perak imamat ini, bahwa mengikuti panggilanNya bukan pertama-tama mencari kekayaan, pujian, hiburan, prestasi diri, kebanggaan semu.
Mengikuti Yesus adalah setia menyertai Dia untuk menjadi pewarta InjilNya. Yesuslah yang harus diwartakan bukan diri pribadi para imam dengan segala prestasi dirinya.
Kami diajak untuk melakukan “conselatio memoriae”, menghapus segala kenangan tentang kebanggaan diri, kesuksesan bikin monumen, mercu suar di paroki-paroki, kehebatan berpastoral dan puji-pujian semu.
Kini saatnya mulai mengendapkan diri, menjadi “menep” dalam kehidupan. Mempersilahkan Allah yang di depan dan kita mengikutiNya dari belakang.
Jangan sampai kata-kata “Celakalah….” itu diarahkan kepada kita. Sebaiknya kata-kata itu menyadarkan kita untuk introspeksi diri.
Ada pelawak namanya Lesus
Punya teman namanya Basuki
Sungguhkah kita mewartakan Yesus
Ataukah kita mewartakan diri sendiri?
Cawas, suatu pagi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 10, 2019 | Renungan
PREAMBULE Undang-Undang Dasar 1945 dalam alinea ketiga dikatakan, “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Sebelum menyatakan kemerdekaan Indonesia, Para pendiri bangsa ini berdoa dan mohon petunjuk bagi peristiwa penting bangsa yakni kemerdekaan Indonesia.
Mereka adalah insan pendoa yang percaya bahwa kemerdakaan terjadi berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan keinginan Bangsa Indonesia.
Tetapi diyakini yang pertama adalah berkat rahmat Allah. Pastilah ini semua bisa muncul karena religiusitas para pendiri bangsa kita sangat tinggi.
Sebelum membuat keputusan penting menyangkut seluruh bangsa, mereka berdoa kepada Allah yang maha kuasa.
Dalam Injil hari ini, Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
Yesus mencari tempat khusus, sepi, jauh dari keramaian. Ia pergi ke bukit. Doanya tidak cuma satu dua jam, tetapi semalam-malaman.
Beda dengan kita, pergi ziarah tetapi doanya hanya setengah jam. Yang banyak adalah pikniknya, acara shoping dan kulinernya.
Yesus pergi ke bukit. Kita pergi ke mall. Yesus berdoa. Kita belanja.
Kita diingatkan oleh Yesus. Sebelum membuat keputusan-keputusan penting, hendaknya diawali dengan doa.
Yesus mau memilih murid-muridNya. Ia mengawalinya dengan pergi menyepi dan berdoa. Ia berdialog degan Allah BapaNya.
Pilihan Yesus atas murid-muridNya sungguh tepat. Semua muridNya, kecuai Yudas Iskariot, adalah murid yang militan. Mereka semua menjadi martir dalam mengikuti Yesus.
Sebagaimana para pendiri bangsa ini juga menyakini bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi karena berkat rahmat Allah, kita pun diajak melibatkan Allah dalam seluruh kehidupan kita.
Jangan lupa selalu mengawali seluruh aktivitas dan keputusan hidup kita dengan doa.
Jalan-jalan di pagi hari
Menikmati indahnya sawah
Doa itu ibarat sebuah kunci
Dengannya kita bisa memasuki rumah
Cawas, sekali waktu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 8, 2019 | Renungan
PERNAH dalam suatu sarasehan Kitab Suci di lingkungan, saya ditanya oleh seorang bapak yang anaknya menjadi romo lulusan luar negeri, “Apakah romo pernah belajar di Roma?”
Lalu meluncurlah pertanyaan-pertanyaan yang menurut kacamata awam adalah pertanyaan mahasiswa teologi tingkat akhir. Bapak itu memang terhormat dan disegani.
Saya menjawab, “Maaf Pak, ijasah saya bukan dari Roma. Saya hanya lulusan “Romasan” (Plesetan dari Promasan sebuah paroki di lereng Perbukitan Menoreh, daerah Sendangsono).
“Saya dulu sekelas dengan Mgr. Haryo di Kentungan. Hanya bedanya, saya duduk di bangku belakang. Mgr, Haryo berdiri di depan kelas.”
Ada banyak tipe orang bertanya. Ada yang ingin mencobai. Dia sebenarnya sudah tahu jawaban yang ditanyakan. Ada yang ingin menjatuhkan dengan pertanyaan yang sulit-sulit.
Ada pula yang memang ingin meminta jawaban karena tidak tahu. Ada pula yang hanya ingin menyombongkan diri merasa tahu segala-galanya dengan cerita diri yang “muluk-muluk”, malah lupa apa yang ditanyakan.
Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang merasa paling tahu tentang hukum Taurat dan merasa paling benar.
Mereka mengamat-amati gerak gerik Yesus pada hari Sabat. Kalau-kalau mereka bisa mencari alasan untuk menyalahkan Dia.
Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah penjaga hukum. Mereka melaksanakan aturan sekecil-kecilnya. Meraka merasa gelisah jika ada orang melanggar aturan.
Yesus mengkritik cara hidup mereka yang mencari kesalahan orang. Hukum bukan untuk menindas atau menyalahkan orang lain.
Hukum itu untuk kebaikan bukan malah menyengsarakan orang. Manusia lebih utama daripada aturan. Menyelamatkan orang lebih penting daripada taat buta terhadap aturan.
Yesus menyembuhkan orang lumpuh tangannya. Kemanusiaan di atas segala aturan. Contohnya, mobil ambulans yang membawa orang sakit boleh menerobos aturan “bangjo” di jalan.
Apakah anda berani berjuang demi kemanusiaan, kendati harus menghadapi berbagai tantangan?
Minum tuak yang dibikin dari beras ketan
Sebotol dibagi bertiga
Bagaimana orang bilang mencintai Tuhan
Kalau tidak bisa mencintai sesamanya?
Cawas, di suatu sore
Rm. A. Joko Purwanto Pr