Puncta 16.07.19 Matius 11:20-24 / Siapa Menabur

 

Ketika Kresna bertapa tidur, para Kurawa dan Pandawa berusaha membangunkannya. Duryudana berebut untuk bisa membangunkan yang pertama.

Dengan kata-kata yang sopan Duryudana membujuk Kresna supaya bangun dari tidurnya. Tetapi karena tidak digubrisnya, duryudana marah besar.

Dia merasa terhina, seorang maharaja datang hanya untuk membangunkan orang tidur. Duryudana menghunus keris dan diarahkan ke betis Kresna.

Seketika seperti ada daya keluar dari tubuh Kresna yang terbujur membuat Duryudana terjengkang ke tanah. Kresna berbicara,

“Duryudana raja yang jahat, kelak dalam perang baratayuda, engkau akan dipukul oleh gada di tulang betismu. Itulah tempat kelemahanmu.”

Yesus mengecam dan mengutuk tiga kota; Korazim, Betsaida dan Kapernaum. Di tempat itu Yesus mengajar dan banyak membuat mukjijat. Tetapi mereka tidak mau bertobat.

Mereka tidak mau mendengar pengajaran Yesus. Mereka menolak untuk percaya bahwa Yesus datang membawa keselamatan.

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika Tirus dan Sidon terjadi mukjijat-mukjijat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”

Seperti Duryudana dikutuk oleh Kresna karena dia tidak mau mendegarkan kata-katanya. Kelak Duryudana akan mati dipukul betisnya oleh gada rujak polo milik Bima.

Kalau kita menanam kebaikan, pastilah hasilnya baik. Tetapi kalau kita menanam kejahatan, maka kelak kehancuran dan kematianlah yang jadi akibatnya. Marilah kita bertobat, agar boleh mendapat keselamatan.

Besi dipanaskan akan memuai
Akan dicetak menjadi alat peraga
Barangsiapa menabur dia akan menuai
Berbuatlah baik pasti banyak sahabatnya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 15.07.19 Matius 10:34-11:1 / Berani Kehilangan

 

Ketika Arjuna didatangi seorang resi untuk mengabulkan permintaannya, Arjuna memohon supaya Pandawa lima menang dalam perang Baratayuda.

Resi itu mengabulkan permohonannya. Namun saat Kresna bertanya kepada Arjuna, apa yang dimintanya? Arjuna menjawab;

Pandawa lima tetap utuh hidup selamanya. Kresna kecewa karena yang diminta hanya lima bersaudara.

Kresna lalu bertanya, “Lalu anak-anak para Pandawa bagaimana? Mereka tidak kau mintakan tetap hidup?”

Arjuna kaget setengah mati. Ia menyesal mengapa yang dimintanya hanya lima bersaudara. Apalah artinya hidup bahagia kalau anak dan keturunanya tidak bisa ikut menikmatinya.

Yesus memberikan syarat-syarat bagaimana mengikutiNya. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Dan barangsiapa mengasihi putranya atau putrinya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu.”

Arjuna dan Para Pandawa lainnya harus merelakan anak-anak mereka mati gugur di awal perang Baratayuda.

Gatotkaca, Abimanyu, Ontoseno dan Wisanggeni, Irawan mendahaului mereka mati sebelum Baratayuda selesai.

Kemenangan hanya bisa dinikmati berlima saudara saja. Mereka harus mengorbankan harta yang paling berharga yakni anak-anak mereka.

Untuk bisa mengikuti Yesus kita mesti berani berkorban meninggalkan segalanya. “Barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan memperoleh kembali.”

Bahkan jika kita bisa memberi secangkir air saja kepada orang yang menderita, Yesus akan memberiya ganjaran yang besar. Mau memberi dan berbagi demi sesama itulah cara kita mengikutiNya.

Mau berkorban sebagaimana Yesus yang merelakan hidupNya untuk kita itulah pola hidup seorang kristiani.

Marilah pengorbanan Yesus itu kita jadikan habitus dalam hidup kita setiap hari.

Naik kereta ke Surabaya
Bawa oleh-oleh dari Majalengka
Kasih Yesus luar biasa
Kita selamat karena pengorbananNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 14.07.19 Minggu Biasa XV Lukas 10:25-37 / Miserecordia

 

Yudistira atau Puntadewa terlahir dengan darah putihnya. Itu hanya mau menunjukkan hidupnya yang suci dan saleh.

Kebaikannya diberikan kepada siapa saja. Kresna pernah berkata kepadanya, “Paduka bersikap baik kepada orang yang baik, bersikap welas asih dengan orang yang tidak baik.” Siapa pun dikasihinya tanpa pandang bulu.

Dalam Film “Les Miserables”, tokoh Jean Valjean digambarkan sebagai tokoh yang penuh belas kasih. Ia suka menolong kepada sesamanya, lebih-lebih mereka yang lemah dan menderita.

Fontaine yang punya anak di luar nikah dan terpaksa menjadi pelacur demi menghidupi anaknya, ditolong oleh Valjean. Ia pelihara anak itu dengan penuh cinta.

Kemurahan hati Valjean dipicu oleh kebaikan seorang pastor ketika dia dibebaskan dari penjara. Ia menjadi manusia baru karena dikasihi Allah.

Hari ini Yesus memberi perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Orag Samaria itu dibandigkan dengan seorang imam dan orang Lewi.

Mereka itu mempunyai status tinggi dalam masyarakat. Ia sangat dihormati dan dihargai oleh orang banyak. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa untuk orang yang dirampok itu.

Status orang tidak mempengaruhi perbuatannya. Tetapi orang Samaria – yang dipandang oleh kebayakan orang sebagai “kafir”, justru menolong korban perampokan itu dengan tulus ikhlas.

Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Status seserag tidak menjadi jaminan bahwa orang itu baik. Perbuatanlah yang akan menentukan.

Orang Samaria itu, kendati dicap “kafir” namun ia menolong sesamanya. Kita pantas meneladan si Samaria ini. Walaupun para imam dan kaum Lewi adalah kaum terhrmat.

Tetapi perilaku mereka tidak pantas untuk diteladani. Marilah berbuat baik, kendati orang menilai kita buruk. Teruslah berbuat baik dengan tulus hati.

Ke Gunung Merapi kita akan naik
Dari Plawangan kita akan mulai
Marilah terus berbuat baik
Dari kebaikanlah kita akan dinilai

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 13.07.19 Matius 10:24-33 / Kekawatiran

 

Para Kurawa kawatir kalau-kalau Pandawa meminta Negara Indraprasta kembali menjadi milik mereka.

Durna membuat tipu muslihat agar bisa menghancurkan Bima dan saudara-saudaranya. Mereka membuat balai-balai yang mudah terbakar.

Lalu mereka mengundang Pandawa untuk berpesta ria. Ketika mereka mabuk oleh minuman yang sudah diramu, dan para Pandawa terpedaya, maka Kurawa membakar balai-balai itu sampai ludes.

Kekawatiran mampu membutakan seseorang sampai ia rela membinasakan saudaranya.

Yesus menasehatkan kepada para muridnya untuk tidak takut dan kawatir. “Janganlah kalian takut kepada mereka yang memusuhimu. Jadi janganlah kalian takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak dapat membunuh jiwa. Tetapi takutilah Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”

Rasa kawatir memang dapat membunuh semangat hidup. Kekawatiran membinasakan gairah dan keberanian.

Yang pada awalnya kita bersemangat dan berani, tetapi ketika kekawatiran mulai muncul, maka ia tak mampu berbuat apa-apa.

Bahkan karena kekawatiran yang berlebihan, muncul sifat destruktif ingin membinasakan.

Seperti para Kurawa itu yang sangat kawatir negaranya direbut, maka mereka membuat tipu daya supaya orang lain binasa.

Tuhan meneguhkan supaya kita tidak kawatir. Segalanya sudah diatur oleh Tuhan sendiri. Tuhan tidak akan merelakan kita menanggung beban berat tanpa kita mampu mengatasinya.

Bahkan sehelai rambut pun sudah diperhitungkan oleh Allah. Jadi tak perlu ada kekawatiran yang berlebihan.

Seperti syair lagu ini: “Tiap langkahku diatur oleh Tuhan dan tangan kasihNya membimbingku.” Karena itu tak perlulah kekawatiran membelenggu kita sampai kita tak mampu melangkah atau membuat keputusan.

Tuhan telah mengatur sesuai dengan rencanaNya. Dia akan datang menolong kita tepat pada waktunya.

Di atas puncak desa Kumitir
Ada pemandangan alam yang mempesona
Jangan takut dan kawatir
Tuhan selalu mendampingi kita

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 12.07.19 / Sun Tzu Ahli Strategi yang Cerdik

 

Kresna dikenal sebagai perancang strategi yang cerdik ketika mengatur para Pandawa maju dalam peperangan melawan Kurawa.

Semua langkah dipikir secara masak-masak. Ketika Bisma maju berperang di pihak Kurawa, Kresna justru menyuruh Srikandi, senopati perempuan untuk menandinginya.

Ketika Pandita Durna jadi senopati, Kresna menyebarkan berita bohong bahwa anaknya, Aswatama mati, untuk melumpuhkan semangatnya.

Sun Tzu adalah ahli strategi perang. Ada banyak strategi yang cerdik yang dia buat. Perdaya langit untuk melewati samudera. Serang Wei untuk menyelamatkan Zhao.

“nabok nyilih tangan” artinya memukul lawan dengan pinjam kekuatan lain. “Hit and Run” buat musuh terlena hingga bisa pukul kelemahannya.

Buatlah kebakaran untuk merampok harta bendanya. Kagetkan ular dengan memukul rumput sekitarnya. Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan jiwanya.

Giring macan untuk meninggalkan sarangnya. Pada saat menangkap, lepaskan satu orang. Lemparkan batu bata untuk mendapatkan giok. Kalahkan musuh dengan tangkap pimpinannya.

Memancing di air keruh. Buatlah keonaran dan padamkan seolah anda pahlawannya. Dan masih banyak lagi.

Yesus hari ini memaparkan perumpamaan agar kita “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Mengapa ular dipandang sebagai binatang yang cerdik? Bisa jadi karena badannya yang lentur merayap kemana saja sehingga bisa menjelajah segala medan.

Ular juga bisa “nglungsungi” atau berganti kulit untuk meremajakan dirinya. Dalam menangkap mangsa, ia sabar menanti lawannya terlena.

Tulus seperti merpati. Ada ungkpan mengatakan merpati tak pernah ingkar janji. Merpati adalah binatang yang setia. Mereka berpasangan secara monogam.

Sekali memilih jodoh, mereka setia selamanya. Mereka tidak seperti ayam atau bebek. Satu jantan untuk sekian banyak betina.

Ketika mengerami telurnya, merpati saling bergantian menolong satu sama lain.

Mereka mampu bekerjasama dengan pasangannya. Ketulusan cinta yang mau memberi diri itulah yang patut diteladani.

Yesus meminta murid-muridNya mencontoh karakter kedua binatang itu. Dalam menghadapi serigala yang buas, mereka harus cerdik dan tulus.

Cerdik berarti “menang tanpa ngasorake” atau menang tanpa merendahkan. Tulus berarti berani tetap mencintai dan menghormati kendati dibenci dan disakiti.

Tulus berarti juga mau berkorban dan siap mengampuni kendati ditentang, dilawan, dicaci dan dicurigai.

Menjadi pewarta kebaikan di jaman sekarang tidak mudah. Maka kita mesti memakai strategi yang dibuat Yesus.

Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tuhan yang mengutus. Tuhan pula yang akan mengurus. Marilah kita tetap fokus.

Ke Parangtritis pergi piknik
Pengin nonton parade layang-layang
Kita mesti tulus dan cerdik
Menghadapi badai dan gelombang

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 11.07.19 Matius 10:7-15 / Menangkap Kelinci

 

KALAU berpiknik dengan para suster, bekal makanan dan minuman itu penuh sesak saking banyaknya.

Apalagi kalau masing-masing punya kesukaan makanan yang berbeda-beda. Ibaratnya seperti swalayan berjalan.

Saya yang pegang stir ditawari aneka cemilan dan minuman. “Biar romo gak ngantuk” katanya. Karena banyak minum, saya kebelet pipis.

Cari pom bensin jauh. Warung makan tidak ada. Kami melewati kebun sawit yang berbukit-bukit. Akhirnya karena tidak tahan, saya “mblusuk” ke kebun sawit.

“Kenapa berhenti di sini romo?” tanya seorang suster. “Maaf suster, mau nangkap kelinci dulu” kata saya sambil berlari keluar mobil.

“Saya mau lihat kelincinya romo.” Suster itu berlari mengejar di belakang saya. Waduh muka saya merah padam. “Suster, maaf ya saya mau kencing.”

Saya bilang terus terang pada suster itu karena sudah tidak tahan lagi. “Waaaaaaahhhh… romoo…” Dia langsung balik kanan lari sekencang-kencangnya kembali ke mobil.

Itulah gara-gara kebanyakan bawa bekal. Bahkan seringkali bekal itu dibawa pulang kembali karena tidak habis dimakan. Pemborosan dan tidak berani percaya pada kemurahan Tuhan.

Hari ini Yesus mengutus keduabelas muridNya untuk pergi dan mewartakan Kerajaan Allah.

PesanNya jelas, “Janganlah kalian membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kalian membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kalian membawa baju dua helai, kasut atau tongkat.”

Mengapa Yesus melarang mereka membawa bekal dalam perjalanan? Para murid diajak percaya pada penyelenggaraan Tuhan.

Tuhan yang mengutus, Tuhan yang mengurus. Tidak usah kawatir, semua akan diselenggarakan oleh Tuhan. Fokus saja pada tugas yang diberikan Tuhan.

“Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kalian telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berilah pula dengan cuma-cuma.”

Kalau kita terus berbuat baik, maka kebaikan Tuhan juga akan mengikuti kita. Orang-orang baik, kemudahan, kelancaran, pertolongan, semua itu akan diurus Tuhan.

Tuhan sudah mengurus segalanya, maka tak perlu kuatir untuk itu. Bahkan jika kebaikan kita ditolak pun, Tuhan menasehatkan untuk terus berbuat baik, sebab kebaikan itu akan kembali kepada kita tetap sebagai kebaikan, tidak berkurang sedikit pun.

Oleh karena itu, sekali lagi janganlah kuatir kalau kita bermisi untuk kebaikan Tuhan.

Menangkap kelinci di kebun sawit
Gagal dipegang kelincinya lari-lari
Janganlah kita terlalu pelit-pelit
Berbuatlah baik dengan murah hati

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr