by editor | Jul 10, 2019 | Renungan
KETIKA Sri Kresna menjadi duta Pandawa meminta kembalinya Kerajaan Indrapastha dan seluruh jajahannya gagal, ia memastikan perang Baratayuda antara Kurawa dan Pandawa tidak lama lagi akan pecah.
Ia akan pulang ke Wirata untuk melaporkan kegagalan misinya kepada para Pandawa. Tetapi ia berinisiatif singgah di Awangga menemui Adipati Karna.
Ia ingin mengajak Karna bergabung dengan Pandawa karena Karna sesungguhnya “satu kawah, satu rahim, satu kandang” dengan para Pandawa.
Karna adalah Putra Kunti yang tertua. Karna adalah domba yang tersesat masuk di kandang Kurawa. Namun bujukan Kresna juga gagal karena Karna “keukeh” berada di pihak Kurawa.
Kendati Karna lahir dari Kunti, tetapi ia tidak merasa Kunti menjadi ibunya karena sejak kecil Karna “dibuang” dan dipelihara oleh Adirata, kusir kerajaan. Menurut Kresna dan kebanyakan orang, Karna adalah domba yang tersesat. Ia berada di pihak lawan dan harus dikembalikan ke saudara-saudaranya yakni Pandawa.
Yesus memilih keduabelas rasul untuk membantu Dia mewartakan Kerajaan Allah. Kabar Gembira ini harus disampaikan kepada semua orang.
Duabelas muridNya diutus untuk membantu karya pewartaan Injil Kerajaan Allah. Pesan Yesus kepada mereka,
“Janganlah kalian menyimpang ke jalan bangsa lain, atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan wartakanlah, ‘Kerajaan Surga sudah dekat’.”
Para murid diutus untuk tidak terlalu jauh menyimpang ke bangsa lain. Tetapi mereka diutus untuk mencari domba-domba yang hilang di antara umat Israel sendiri.
Kresna itu masuk terlalu jauh ke bangsa Kurawa dan dia gagal mengingatkan mereka untuk mengembalikan Kerajaan Indraprasta.
Maka ia menyasar dan mendekati kalangan sendiri yakni saudara Para Pandawa. Ia pergi kepada Karna, domba yang hilang itu. Jika Karna bisa diajak kembali pastilah perang Baratayuda tidak akan terjadi.
Namun Karna punya keyakinan lain. Menumpas kejahatan tidak mungkin terjadi kalau yang membuat kejahatan tidak dimusnahkan.
Karna mau menjadi tumbal supaya Kurawa bisa dikalahkan. Kalau dia tidak di pihak Kurawa, orang-orang Astina itu tidak berani perang.
Domba yang hilang itu bisa ada di tengah keluarga kita sendiri. Mereka itu dulu yang harus kita selamatkan.
Anak-anak yang malas berdoa, pergi ke gereja, orangtua yang merasa paling benar sendiri, cuek terhadap sesama, merekalah yang harus lebih dahulu disapa dan diselamatkan.
Lingkungan keluarga kita sendiri dahululah yang harus kita perbaiki. Jangan kita terburu ingin memperbaiki keluarga orang lain.
Asam-asam rasanya mangga
Lebih enak makan daun pepaya
Perbaiki lebih dulu keluarga kita
Sebelum mau memperbaiki keluarga tetangga
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jul 9, 2019 | Renungan
TAHUN ini kami kehilangan dua imam yang dipanggil Tuhan. Mereka adalah Romo Wiyono dan Rm. Jonowasono.
Hari ini Rm. Ant. Suparyono dipanggil Tuhan. Semoga Tuhan menyambutmu di surga. Romo Wiyono mempunyai keahlian menjadi dalang wayang.
Selain itu juga ahli dalam karawitan. Beliau mendampingi anak-anak agar melestarikan budaya Jawa khususnya karawitan.
Romo Jono adalah formator di Tahun Rohani. Ia tekun mendampingi para calon imam. Kehilangan dua orang imam sangat terasa bagi karya pastoral gereja.
Banyak karya pelayanan yang membutuhkan kehadiran para gembala. Aneka bidang kehidupan memerlukan pelayan atau gembala yang “mumpuni” atau kompeten.
Walaupun Bulan Juni ada tahbisan imam, namun kebutuhan tenaga gereja tetap saja masih kurang.
Setelah Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan, Ia berkeliling ke semua desa dan kota. Ia mengajar dan mewartakan Injil Kerajaan Allah dan menyembuhkan berbagai penyakit.
Karena begitu banyak orang yang harus dilayani, maka Yesus berkata kepada murid-muridNya,
“Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”
Yesus membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk terlibat dalam mewartakan Injil Kerajaan Allah. Tuaian adalah dunia dan seluruh ciptaan di dalamnya.
Pemilik tuaian adalah Allah sendiri. Pekerja-pekerja adalah kita yang dipanggil untuk membantuNya. Sang pemilik ingin menyelamatkan dunia. Ia memanggil kita untuk terlibat di dalamnya.
Allah ingin bekerjasama dengan manusia. Maka undangan itu terbuka untuk siapa saja. “Mintalah supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”
Panggilan menjadi pekerja tidak terbatas menjadi imam, bruder atau suster. Apa pun posisi dan statusnya, kita dapat menyumbangkan talenta bagi karya keselamatan Allah.
Melalui karya-karya kita dimana pun, kita boleh terlibat menggarami dan menyejahterakan dunia.
Marilah membuat dunia sekitar kita menjadi lebih baik dan bermartabat mulia sebagaimana Allah menghendakiNya.
Membeli kain di Pasar Lama
Harganya mahal melambung naik
Talenta sekecil apapun akan berguna
Untuk menciptakan dunia menjadi lebih baik
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jul 9, 2019 | Renungan
SETIAP KALI berkeliling membawa Sakramen Mahakudus dalam perarakan adorasi, banyak umat, tua muda, besar kecil, kaya miskin menyembah dan berusaha mendekat untuk menjamah jubah romo atau velum yang dipakai.
Mereka ada yang sujud sampai menyentuh tanah. Ada pula yang berusaha mencium jumbai velum yang dipakai romo.
Pernah seorang ibu bercerita bahwa dia sudah lama menikah tetapi belum diberi anak.
Dia dengan keyakinan penuh ikut misa tiap Jum’at pertama. Dia selalu mendekat dan berusaha dapat menyentuh romo yang berkeliling mengarak Sakramen Mahakudus.
Pada putaran ke tujuh misa Jum’at pertama itu, dia datang dengan suka cita dan penuh syukur mengatakan bahwa dia sudah hamil. Dia makin bersemangat mengikuti perayaan ekaristi.
Dalam bacaan Injil hari ini, ada seorang wanita yang sakit pendarahan sudah duabelas tahun lamanya. Perjalanan waktu yang tidak sebentar.
Dia tak pernah berhenti berharap akan belas kasih Allah. Segala daya upaya dilakukan agar sembuh dari penyakitnya. Dia berkeyakinan, “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.”
Jubah adalah salah satu sarana rohani untuk memuliakan Tuhan. Ada banyak sarana-sarana rohani yang disediakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ekaristi dan Devosi kepada Sakramen Mahakudus adalah sarana rohani agar kita dapat menyentuh Tuhan dan memohon belas kasihNya.
Ibu itu yakin dan percaya, dengan menggunakan sarana rohani yang disediakan oleh Gereja, ia dapat memohon belaskasih Tuhan.
Marilah kita gunakan kesempatan dan sarana rohani yang disediakan Tuhan dalam perayaan-perayaan liturgis Gereja.
Misalnya, Ekaristi, devosi Sakramen Mahakudus, Adorasi, rosario, doa-doa khusus yang ada akan sangat membantu kita. seperti wanita yang sudah lama berharap pertolongan Tuhan itu, kita pun bisa mengandalkan kebaikanNya.
Tuhan selalu menolong tepat pada waktunya. Ia tidak akan terburu-buru, juga tidak akan terlambat bertindak untuk kebaikan kita.
Gegap gempita lihat lomba lari cepat
Hampir finis banyak yang jatuh terjerembab
Tuhan mempunyai waktu yang tepat
Untuk menolong kita yang selalu berharap
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jul 7, 2019 | Renungan
PADA tanggal 28 Juni 2019 Keuskupan Agung Semarang menuai pekerja-pekerja dengan ditahbiskannya 4 imam baru.
Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengatakan bahwa jumlah imam diosesan KAS sekarang ada 222 imam. Seiring dengan itu jumlah umat makin bertambah dengan dibukanya paroki-paroki baru.
Selain dibutuhkan di paroki, karya kategorial juga makin terbuka. Karya misi di luar KAS dan study di luar negeri juga harus dipersiapkan.
Dalam kotbahnya di Seminari Tinggi Kentungan, Bapak Uskup masih meminta keluarga-keluarga untuk mendorong putra-putranya menjadi imam.
Gereja masih sangat membutuhkan orang-orang muda menanggapi panggilan Tuhan. “Apakah bapak ibu siap merelakan putra-putranya menjadi imam?”
Umat menjawab dengan lantang, “Siaaapp.”
“Betul?”. “Betuuull” jawab umat serempak. “Tenan lho yaaa, nanti saya tagih lho yaaaa.”
Bacaan hari ini, Tuhan menunjuk 70 murid untuk diutus pergi berdua-dua. Mereka diminta mempersiapkan kedatanganNya.
KataNya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit! Sebab itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, agar ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu.”
Mewartakan Kabar Gembira adalah tugas kita bersama. Gereja adalah kita. kita adalah Gereja. Imam berasal dari keluarga-keluarga.
Penguatan kepada keluarga sangat diperlukan agar semangat misioner juga dimiliki oleh keluarga.
Keluarga misioner berarti keluarga yang rela dan berani menyumbangkan anak-anaknya menjadi imam, bruder, suster bagi perutusan gereja. Bu Tardi – tetangga saya – menyumbangkan 3 anaknya menjadi romo dan suster.
Rm. Kusmartono SCY itu punya 3 saudara masuk anggota Dehonian (SCY). Romo Sutadi Pr itu adiknya menjadi Uskup di Pangkal Pinang.
Di Sedayu keluarga Ibu Hardjodisastro (alm) mempersembahkan 4 anaknya; Rm. Suitbertus (alm), Mgr. Suharyo, Sr. Chatarine FMM, Sr. Magda.
Keluarga misioner adalah keluarga yang ikut memikirkan perutusan gereja.
Baik kiranya ajakan Yesus itu menjadi doa dalam keluarga, “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu.”
Apakah dalam doa bersama di keluarga, kita pernah meminta kepada Tuhan? Jangan-jangan kita berdoa bagi anak orang lain, tetapi enggan merelakan anak-anak kita dipakai Tuhan untuk bekerja di ladangNya.
Marilah kita tanamkan mental misioner ini di dalam keluarga kita.
Makan nasi dengan peyek teri
Campur gudeg dibikin dari gori
Mintalah maka akan diberi
Berilah maka akan makin dilimpahi
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jul 5, 2019 | Renungan
BULAN September hingga November adalah musim kawin (rut) bagi rusa-rusa jantan.
Mereka berkumpul di antara para betina. Mereka memamerkan keindahan, kekuatan, kepiawian tanduk-tanduknya yang menjulang.
Para betina akan melihat dan memilih siapa di antara mereka yang akan menjadi jodohnya. Para rusa jantan dengan sukacita mencari kesempatan agar dipilih.
Mereka lari kesana kemari mencuri perhatian si betina. Suasana sukacita mewarnai musim kawin bagi rusa-rusa itu. Anehnya rusa adalah binatang yang punya perilaku poliandri.
Yesus memberi jawab kepada murid-murid Yohanes bahwa ada saatnya orang akan berpuasa. Yaitu pada saat mempelai laki-laki tidak ada bersama degan mereka.
Mempelai itu akan diambil dari mereka dan pada saat itulah mereka akan berpuasa. Sahabat-sahabat mempelai berkumpul dengan sukacita saat mempelai bersama dengan mereka.
Saat itu mereka sedang bersukacita. Mereka tidak berpuasa karena suasananya adalah pesta mempelai.
Orangtua sering memberi nasehat kepada anaknya agar bisa “empan papan angon mangsa.”
Maksudnya adalah agar kita bijak tahu saat yang tepat dan mampu menempatkan diri dengan benar.
Tidak “srogal-srogol” atau asal tabrak urusan belakang. Ada sopan santun dan tatakrama dalam pergaulan. Pandai menempatkan diri supaya bisa menghormati sesama.
Perumpamaan Yesus tentang menambal kain koyak dan tempat anggur baru menguatkan hal itu.
Anggur yang baru tidak bisa ditaruh di kantong kulit yang sudah tua. Anggur yang baru harus disimpan pada kantong kulit yang baru pula.
Janganlah menilai seseorang hanya dengan kacamatanya sendiri. Murid-murid Yohanes itu menilai kesucian seseorang hanya karena ikut puasa mereka.
Kalau tidak ikut berpuasa dengan mereka berarti tidak sah, jelek, najis, harus dijauhi atau diusir dari kelompok. Yesus tidak ingin murid-muridNya jatuh pada egoisme kelompok seperti itu.
Penilaian sempit seperti itu membatasi belas kasih Allah. Allah yang maha mengetahui dan mahaadil pasti tidak akan menilai sesempit itu. Marilah kita bisa “empan papan” terhadap siapa pun.
Rusa jantan kumpul di ladang
Musim kering makannya kertas
Jangan mudah menilai seseorang
Karena kita makhluk terbatas
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jul 5, 2019 | Renungan
TAHUN 1985 banyak warga Kedungombo digusur demi pembangunan sebuah waduk. Mereka tidak mendapat ganti rugi yang layak.
Bahkan mereka yang berjuang menuntut haknya dicap sebagai PKI. Romo Mangunwijaya mengambil sikap tegas, berdiri di pihak mereka.
Ketika warga Kali Code akan digusur, Romo Mangun ikut membela mereka. Ia tinggal bersama mereka di bantaran sungai dan mendampingi warga.
Yesus memanggil Matius seorang pemungut cukai. Bagi kebanyakan orang, Matius dipandang sebelah mata.
Pekerjaan sebagai pemungut pajak dicibir oleh masyarakat karena dia anteknya penjajah Romawi. Ia dianggap pengkhianat bangsanya.
Maka para pemungut cukai dijauhi dan disingkiri masyarakat. Ia dianggap sebagai pendosa.
Yesus tidak demikian. Matius adalah seorang pribadi yang pantas dihargai dan diterima. Yesus bisa memisahkan antara pribadi dan pekerjaan.
Ia memanggil Matius menjadi muridNya. Ia menerima Matius sebagai pribadi yang dikasihi Allah sama seperti yang lainnya.
Maka Yesus bergaul akrab dengannya. Yesus makan bersama dengan mereka.
Tentu saja tindakan ini menimbulkan pro dan kontra. Orang-orang menganggap Matius berdosa.
Mereka juga melihat Yesus sebagai guru yang suci, yang datang dari Allah. Mereka tidak bisa menerima yang suci bersatu dengan yang berdosa.
“Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Yesus menjawab pertanyaan mereka. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Aku datang bukannya untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Jawaban ini menunjukkan dengan jelas kedatangan Yesus untuk menyelamatkan. KeberpihakanNya kepada orang berdosa, tersingkir dan dikucilkan sangat nampak di sini. Ia berdiri di pihak mereka.
Jangan mudah mengikuti omongan atau penilaian banyak orang karena belum tentu benar. Yesus dengan tegas menunjukkan sikapnya.
Ia tidak ikut-ikutan menghakimi seperti kebanyakan orang. Ia berdiri pada posisi yang tegas dan tak terbantahkan.
Beranikah kita mengambil sikap tegas dalam membela orang lain? Ataukah kita lebih mengikuti omongan orang banyak karena takut?
Berdiri di pinggir jalan
Menanti mobil jemputan
Membela orang yang dikucilkan
Kita juga akan jadi korban
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr